<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071</id><updated>2011-07-31T01:46:39.913-07:00</updated><category term='::Puisi Abi::'/><title type='text'>menjemput ilmu</title><subtitle type='html'>“Sesungguhnya orang yang musyrik kepada Allah maka Allah mengharamkan surga baginya dan tempat tinggalnya adalah neraka dan tidak ada seorang penolongpun bagi orang-orang yang zalim.” (Terj. Al-Ma’idah: 72)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>YAHYA AL BUNY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00500596638645663569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SMnoh7LksdI/AAAAAAAAAAM/HWHohIDKDrg/S220/ais+ami+jenggot.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>41</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071.post-2433682659656687368</id><published>2010-10-10T01:56:00.000-07:00</published><updated>2010-10-10T01:57:37.389-07:00</updated><title type='text'>Menilik Makna Yang Benar Dari “Laa Ilaaha Illallah” Dengan Kaidah Bahasa Arab</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/TLF_8IdwQ2I/AAAAAAAAAK8/3m2bN-LVZCY/s1600/Cabo.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/TLF_8IdwQ2I/AAAAAAAAAK8/3m2bN-LVZCY/s320/Cabo.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5526338888801469282" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menilik Makna Yang Benar Dari “Laa Ilaaha Illallah” Dengan Kaidah Bahasa Arab [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana masyhur di kalangan masyarakat muslim Indonesia, bahwa kalimat tauhid laa ilaaha illallah (لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ) diartikan dengan “tiada Tuhan selain Allah”. Namun, benarkah terjemahan kalimat tauhid tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang semoga Allah Ta’ala merahmati Anda, tentunya kita tahu bahwa kalimat tauhid tersebut adalah kalimat dalam bahasa Arab. Ketahuilah, pemahaman yang benar tentang kalimat laa ilaaha illallah tergantung pada benarnya pemahaman kita terhadap asal kalimat ini yaitu dari sisi bahasa Arab. Oleh karena itu, jika kita ingin mengetahui terjemahan dan makna yang benar dari kalimat tersebut, mau tidak mau kita harus menggunakan kaidah-kaidah bahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita lihat bagaimanakah terjemahan dan makna yang benar dari kalimat laa ilaaha illallah. I’rob kata laa ilaaha illallah yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ: لاَ النَّافِيَةُ لِلْجِنْسِ تَعْمَلُ عَمَلَ إنَّ وَهِيَ تَنْصِبُ الإِسْمَ وَتَرْفَعُ الْخَبَرَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laa: laa naafiyah liljinsi (menafikan semua jenis) beramalan inna yaitu memanshubkan isimnya dan memarfu’kan khobarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِلهَ: اِسْمَ لاَ مَبْنِيٌّ عَلَى الْفَتْحِ فِي مَحَلِّ نَصْبٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilaah: isim laa yang mabni (tetap) atas fathah, menempati kedudukan nashob.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal kata “ilaah” adalah dari kata alaha (أَلَهَ) yang bersinonim dengan kata ‘abada (عَبَدَ) yang artinya menyembah/beribadah, wazannya fa’ala-yaf’alu (فَعَلَ – يَفْعَلُ) sehingga tashrif isthilahinya menjadi alaha-ya’lahu-ilaahan (أَلَهَ – يَعْلَهُ – إِلاهًا). “Ilaah” adalah isim mashdar, yaitu kata yang menunjukkan atas suatu makna yang tidak terikat oleh waktu, dan mashdar adalah asal dari fi’il (kata kerja) dan asal dari semua isim musytaq (kata jadian).[3] Isim mashdar terkadang dapat bermakna fa’il (subjek/yang melakukan suatu perbuatan) dan dapat bermakna maf’ul bih (objek/yang dikenai suatu perbuatan). Berikut ini contoh suatu mashdar yang dapat bermakna fa’il dan dapat bermakna maf’ul bih, diambil dari hadits riwayat Muslim tentang larangan berbuat bid’ah: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Man ‘amila ‘amalan laisa ‘alaihi amruna fahuwa roddun“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata “roddun” (رَدٌّ) adalah mashdar. Terdapat beberapa penjelasan ulama tentang apakah makna “roddun” di sini. Sebagian ulama menjelaskan bahwasanya mashdar “roddun” di sini bermakna fa’il, yaitu “rooddun” (رَادٌّ) yang artinya “orang yang menolak”. Sehingga makna hadits menjadi “Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami maka dia adalah orang yang menolak.” Maksudnya adalah menolak syari’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan ulama yang lain memaknai “roddun” dengan makna maf’ul bih, yaitu “marduudun” (مَرْدُوْدٌ) yang artinya “sesuatu yang ditolak”. Sehingga makna hadits menjadi “Barangsiapa siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami maka amal itu ditolak.” Maksudnya adalah amalan tersebut tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala karena tidak memenuhi syarat diterimanya amal [4].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kembali ke “ilaah“, apakah “ilaah” dalam kalimat tauhid bermakna fa’il atau maf’ul bih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata “ilaah” di sini ada yang mengartikannya sebagai mashdar bermakna fa’il, dan ini adalah makna yang keliru yang didukung dengan bukti-bukti yang sangat banyak yang membantah kekeliruan makna tersebut. Ada yang memaknai “ilaah” dengan makna maf’ul bih, dan inilah makna yang benar. Mengapa demikian? Mari kita lihat makna “ilaah” sebagai fail dan sebagai maf’ul bih, sehingga kita tahu makna yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang memaknai “ilaah” dengan makna fa’il mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “laa ilaaha illallah” adalah “laa khooliqo illallah” (لَا خَالِقَ إِلَّا اللهُ) yaitu “tidak ada pencipta selain Allah” atau “laa robba illallah” (لَا رَبَّ إِلَّا اللهُ) yaitu “tidak ada pengatur alam semesta selain Allah” atau “laa rooziqo illallah” (لَا رَازِقَ إِلَّا اللهُ) yaitu “tidak ada pemberi rizki selain Allah” dan makna-makna yang lain yang merupakan makna rububiyyah[5]. Ini adalah makna yang sangat bathil, karena kalau “ilaah” di sini dimaknai sebagai fa’il maka makna seperti ini telah diyakini dan disetujui oleh kaum musyrikin Arab pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kaum musyrikin Arab meyakini  bahwa yang menciptakan, yang memberi rizki, dan yang mengatur urusan alam semesta dan sisi-sisi rububiyyah yang lain adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Banyak ayat Al Qur’an yang menunjukkan bahwa orang-orang musyrikin Arab itu beriman kepada rububiyyah Allah Subhanahu wa Ta’ala, di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sungguh jika engkau tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah”…” (QS. Luqman:25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ والأَبْصَارَ وَمَنيُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَاللّهُ فَقُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah, “Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab, “Allah.” Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (QS. Yunus: 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi pengakuan tersebut tidaklah memasukkan mereka ke dalam agama Islam. Buktinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerangi mereka, menghalalkan harta dan darah mereka. Sehingga kalau “ilaah” ini dimaknai dengan fa’il maka konsekuensinya kaum musyrikin Arab adalah orang-orang muslim. Namun, tidaklah demikian. Mengapa? Karena mereka hanya beriman kepada sifat-sifat rububiyyah saja, tetapi mereka menyekutukan Allah dalam beribadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu makna yang benar untuk “ilaah” adalah mashdar bermakna maf’ul bih, “ilaah” bermakna “ma’luuh” (مَأْلُوْهٌ) atau sinonimnya yaitu “ma’buud” (مَعْبُوْدٌ) yang artinya adalah “sesuatu yang disembah/diibadahi”. Sehingga makna “laa ilaaha” adalah “laa ma’buuda“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi disebutkan bahwa laa beramalan memanshubkan isimnya dan memarfu’kan khobarnya. Lantas, di mana khobar dari laa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَخَبَرُ لاَ مَحْذُوْفٌ تَقْدِيْرُهُ حَقٌ أَوْ بِحَقٍّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khobar laa dibuang (mahdzuuf), dan takdirnya adalah “haqqun” atau “bihaqqin“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa khobar laa dibuang? Suatu kata boleh dibuang jika makna kalimat sudah dapat diketahui meskipun ada kata yang dibuang dari kalimat tersebut. Saya ambilkan contoh dalam bahasa Indonesia agar lebih mudah dimengerti. Misalkan ada orang yang bertanya, “Siapa Nabimu?” maka jawabannya adalah “Muhammad”. Di sini tentu sudah diketahui maksud dari jawaban yang sangat ringkas tersebut, yang hanya terdiri dari satu kata “Muhammad” saja, yang mana kalimat lengkapnya yaitu “Nabi saya adalah Muhammad.” Meskipun ringkas tetapi kita dapat menangkap maksud dari kalimat tersebut. Suatu kalimat yang ringkas tetapi dapat dipahami maknanya tentu lebih efisien daripada kalimat yang panjang. Nah, demikian juga dalam bahasa Arab. Maka khobar laa pada kalimat tauhid dibuang karena orang-orang Arab pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah dapat memahami maknanya, karena mereka adalah orang-orang yang fasih dalam bahasa Arab. Oleh karena itu pulalah orang-orang musyrik Arab zaman dulu tidak mau mengucapkan kalimat laa ilaaha illallah meskipun mereka mengakui bahwa Allah adalah robb mereka, karena mereka paham akan makna dan konsekuensi dari kalimat tauhid tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang mentakdirkan bahwa khobar laa yang dibuang itu takdirnya adalah “maujuudun” (مَوْجُوْدٌ) yang artinya “ada”, sehingga mereka memaknai “laa ilaaha illallah” dengan “laa ilaaha maujuudun illallahu” (لَا إِلهَ مَوْجُوْدٌ إِلَّا اللهُ) artinya “tidak ada sesembahan yang ada kecuali Allah”. Jika demikian maka ada beberapa konsekuensi yang fatal, di antaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Kalau khobar laa yang dibuang ditakdirkan dengan “maujuudun” maka hal ini tidaklah sesuai dengan realita yang sesungguhnya. Karena realita menunjukkan bahwasanya selain Allah masih banyak sesembahan yang lain. Ada orang yang menyembah matahari dan bulan, ada yang menyembah orang shalih, malaikat, patung, dewa, dan sebagainya.&lt;br /&gt;   2. Kalau dimaknai dengan “laa ilaaha maujuudun illallah” maka konsekuensinya semua sesembahan yang ada di dunia ini pada hakikatnya adalah Allah. Contoh: karena patung berhala adalah sesembahan kaum musyrikin Arab dulu maka patung berhala adalah Allah, karena Yesus adalah sesembahan kaum Nasrani maka Yesus adalah Allah, karena ‘Uzair adalah sesembahan Yahudi maka ‘Uzair adalah Allah, karena dewa-dewa adalah sesembahan orang Hindu maka dewa-dewa adalah Allah. Tentunya tidak demikian bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, yang benar adalah mentakdirkan khobar laa yang dibuang dengan “haqqun” atau “bihaqqin“. Sehingga kalimat tauhid yang lengkap sebenarnya adalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَا إِلهَ حَقٌّ إِلَّا اللهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;laa ilaaha haqqun illallahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan maknanya yang benar yaitu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَا مَعْبُوْدَ حَقٌّ إِلَّا اللهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;laa ma’buuda haqqun illallahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَا مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ إِلَّا اللهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;laa ma’buuda bihaqqin illallahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maknanya adalah “tidak ada sesembahan yang haq selain Allah” atau “tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah”. Hanya Allah-lah satu-satunya yang berhak untuk disembah dengan benar. Hanya kepada Allah-lah kita menujukan semua amal ibadah kita, bukan kepada selain-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِلاَّ: أَدَاة الإِسْتِثْنَاءِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Illa: alat istitsna (untuk mengecualikan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَفْظُ الْجَلاَلَةِ “اللهُ” : بَدَلٌ مِنْ خَبَرِ لاَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lafadz jalalah “Allah” sebagai badal (pengganti) dari khobar laa yang dibuang. Karena sebagai badal, maka i’rob lafadz jalalah “Allah” adalah sesuai dengan mubdal minhu (yang digantikan)nya yaitu khobar laa. Ingat, khobar laa mempunyai i’rob marfu’, maka badalnya yakni lafadz jalalah “Allah” juga ikut marfu’, yang mana lafadz jalalah “Allah” ini adalah isim mufrod (kata tunggal) yang marfu’ dengan tanda dhommah sehingga berbunyi “Allahu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara badal dengan mubdal minhu bendanya adalah sama. Maka khobar laa yaitu “haqqun” digantikan dengan “Allah” menunjukkan bahwa yang haq itu ialah Allah, Allah itulah yang haq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنََّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ الْبَاطِلُ وَأَنََّ اللَّهَ هُوَالْعَلِيُّ الْكَبِيرُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq, dan apa saja yang mereka seru selain Allah adalah bathil. Dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Luqman: 30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, semoga apa yang kami sampaikan dapat membantu kita dalam memahami kalimat tauhid yang sangat agung ini. Betapa suatu kenikmatan yang sangat besar jika kita dapat memahami makna kalimat laa ilaaha illallah dan mengamalkannya, sehingga berbuah surga-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang mati dalam keadaan dia mengilmui bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, maka dia akan masuk surga.”[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush sholihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wal ‘ilmu ‘indallaah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai disusun di wisma ceRIa, 12 April 2010 pukul 3:13 a.m.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang selalu membutuhkan ampunan dari Rabb-nya&lt;br /&gt;[1] Kami mendapatkan faidah yang agung ini dari Ust. M. Saifuddin Hakim hafizhohullah pada saat pelajaran baca kitab “Minhaj Al-Firqotu An-Najiyah wa Ath-Thoifatu Al-Manshuroh” Ma’had al-’Ilmi Akhowat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Karena “ilaah” adalah isim nakiroh mufrod dan bukan mudhof atau syibhul mudhof, maka hukumnya sebagai isim laa adalah mabni atas tanda nashobnya, yaitu fathah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Lihat Mulakhkhosh Qowa’idu Al-Lughoti Al-’Arobiyyati (1/30-31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Syarat diterimanya amal adalah ikhlas dan ittiba’ (mengikuti tata cara yang dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Adapun pada hadits ini, amalan tersebut ditolak karena tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penjelasan lebih lengkap bisa dilihat di Syarah Hadits Arba’in. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Yang berkaitan dengan perbuatan Allah seperti mencipta, mengatur alam semesta, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] HR. Muslim (26), Ahmad (464), An Nasa’I dalam “Al Kubra” (109252), Al Bazzar (4150, dan Ibnu Hibban (201).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://pengenkemadinah.wordpress.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8859049449550037071-2433682659656687368?l=alfirqotunnajiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/2433682659656687368'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/2433682659656687368'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/2010/10/menilik-makna-yang-benar-dari-laa.html' title='Menilik Makna Yang Benar Dari “Laa Ilaaha Illallah” Dengan Kaidah Bahasa Arab'/><author><name>YAHYA AL BUNY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00500596638645663569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SMnoh7LksdI/AAAAAAAAAAM/HWHohIDKDrg/S220/ais+ami+jenggot.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/TLF_8IdwQ2I/AAAAAAAAAK8/3m2bN-LVZCY/s72-c/Cabo.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071.post-4743991223716431314</id><published>2009-06-30T17:15:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T17:23:12.776-07:00</updated><title type='text'>Pemimpin yang Zholim</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SkqsZVYbSRI/AAAAAAAAAKs/iVrq9IbW06k/s1600-h/450px-Petra-Ray3.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SkqsZVYbSRI/AAAAAAAAAKs/iVrq9IbW06k/s320/450px-Petra-Ray3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5353280658319558930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan demikianlah kami jadikan sebagian orang yang zalim sebagai pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan amal yang mereka lakukan.” (Qs Al An’am: 129)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang makna ‘nuwalli‘ yang ada dalam ayat di atas ada empat pendapat ahli tafsir:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Kami jadikan sebagian orang yang zalim sebagai kekasih bagi sebagian yang lain. Pendapat ini diriwayatkan oleh Said dari Qotadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Sebagian orang yang zalim itu kami jadikan mengiringi yang lain di neraka disebabkan amal yang mereka lakukan. Pendapat ini diriwayatkan oleh Ma’mar dari Qotadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Kami jadikan orang yang zalim sebagai penguasa bagi yang lain. Pendapat ini diungkapkan oleh Ibnu Zaid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, Kami pasrahkan sebagian orang yang zalim kepada yang lain dalam artian tidak kami tolong. Pendapat ini disebutkan oleh al Mawardi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan yang di maksud dengan ‘amal‘ dalam ayat di atas adalah berbagai bentuk maksiat (Zadul Masir fi ‘Ilmi Tafsir karya Ibnul Jauzi 3/124, cetakan ketiga Al Maktab Al Islamy tahun 1984/1404)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu ‘Asyur mengatakan, “Ayat tersebut bisa dipahami mencakup seluruh orang yang zalim. Sehingga ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah akan menjadikan seorang yang zalim akan dikuasai dan dizalimi oleh orang selainnya. Inilah penafsiran yang diberikan oleh Abdullah bin Zubair, salah seorang shahabat Nabi, saat beliau berkuasa di Mekkah. Ketika Ibnu Zubair mendengar bahwa Abdul Malik bin Marwan membunuh ‘Amr bin Said al Asydaq setelah ‘Amr memberontak terhadap Abdul Malik, beliau naik ke atas mimbar. Di sana Ibnu Zubair berkata, “Ketahuilah bahwa Ibnu Zarqa’-yaitu Abdul Malik bin Marwan. Marwan diberi gelar Azraq dan Zarqa’ yang berarti biru karena kedua matanya berwarna biru- telah membunuh Lathim Syaithan (orang yang ditampar oleh setan yaitu ‘Amr bin Said)” kemudian Ibnu Zubair membaca ayat di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lathim Syaithon adalah gelar ejekan yang diberikan untuk Amr bin Said disebabkan dua ujung mulutnya tidak simetris. Banyak pihak yang mengatakan bahwa hal itu disebabkan setan pernah menamparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, ada orang yang mengatakan bahwa jika orang yang zalim itu tidak menghentikan kezalimannya maka dia akan ditindas oleh orang zalim yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakhruddin Ar Razi mengatakan, “Jika rakyat ingin terbebas dari penguasa yang zalim maka hendaklah mereka meninggalkan kezaliman yang mereka lakukan.” (Tafsir At Tahrir wat Tanwir karya Ibnu Asyur 8/74 cetakan Dar Tunisiah 1984)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Tafsirnya yang sebagiannya telah dikutip oleh Ibnu Asyur di atas, Ar Razi mengatakan, “Ayat di atas adalah dalil yang menunjukkan jika rakyat suatu negara itu zalim (baca: gemar maksiat, korupsi dll) maka Allah akan mengangkat untuk mereka penguasa yang zalim semisal mereka. Jika mereka ingin terbebas dari kezaliman penguasa yang zalim maka hendaknya mereka juga meninggalkan kemaksiatan yang mereka lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayat di atas juga menunjukkan bahwa di tengah-tengah suatu komunitas manusia harus ada yang menjadi penguasa. Jika Allah tidak membiarkan orang-orang yang zalim tanpa pemimpin meski juga sesama orang yang zalim maka tentu Allah tidak akan membiarkan orang-orang shalih tanpa pemimpin yang mendorong rakyatnya agar semakin shaleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali bin Abi Thalib berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لا يصلح للناس إلا أمير عادل أو جائر ، فأنكروا قوله : أو جائر فقال : نعم يؤمن السبيل ، ويمكن من إقامة الصلوات ، وحج البيت&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidaklah baik bagi suatu masyarakat jika tanpa pemimpin, baik dia adalah orang yang shalih ataupun orang yang zalim.” Ada yang menyanggah beliau terkait dengan kalimat ‘ataupun orang yang zalim’. Ali menjelaskan, “Memang dengan sebab penguasa yang zalim jalan-jalan terasa aman, rakyat bisa dengan tenang mengerjakan shalat dan berhaji ke Ka’bah.” (Tafsir Al Kabir wa Mafatih Al Ghaib karya Muhammad ar Razi 13/204 cetakan Dar al Fikr 1981/1401)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah kita semua bertaubat dan meninggalkan berbagai bentuk maksiat dan kezhaliman hingga Allah datangkan pemimpin yang adil?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ustadz Aris Munandar&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8859049449550037071-4743991223716431314?l=alfirqotunnajiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/4743991223716431314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/4743991223716431314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/2009/06/pemimpin-yang-zholim.html' title='Pemimpin yang Zholim'/><author><name>YAHYA AL BUNY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00500596638645663569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SMnoh7LksdI/AAAAAAAAAAM/HWHohIDKDrg/S220/ais+ami+jenggot.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SkqsZVYbSRI/AAAAAAAAAKs/iVrq9IbW06k/s72-c/450px-Petra-Ray3.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071.post-3352992534459024515</id><published>2009-06-14T18:23:00.000-07:00</published><updated>2009-06-14T18:29:35.515-07:00</updated><title type='text'>Adab menjadi seorang Penuntut Ilmu</title><content type='html'>Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ‘ala Rosulillah amma ba’du:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui Kadar dan Kedudukan Para Ulama&lt;br /&gt;serta bagaimana menyikapi mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak disangkal bahwa para ulama adalah pewaris para Nabi keutamaan mereka sesuai dengan kadar ilmu yang mereka bawa, dalil yang memperkuat kedudukan mereka sangatlah banyak diantaranya adalah perintah Allah Ta’ala untuk mentaati mereka Allah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah, taatilah Rosul shallallaahu’alaihi wasallam, dan juga para pemimpin diantara kalian. [An Nisa: 59]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat ” ulil amri ” mencakup para ulama lihat tafsir ibnu katsir juz: 8 hal: 492, tafsir at thobari juz: 8 hal: 501&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mentaati mereka adalah karena apa yang mereka bawa dari agama Allah, bukan taat kepada dzat mereka tanpa sebab. Hal ini sebagaimana yang disebutkan didalam ayat diatas: ketika Allah memerintahkan taat kepada_Nya menyebutkan kalimat “athi’u” yang artinya taatilah secara tersendiri begitu pula ketika memerintahkan untuk taat kepada Rosul_Nya menyebutkan kalimat “athi’u” yang artinya taatilah secara tersendiri, hal ini menunjukkan ketaatan yang mutlaq kepada keduanya, berbeda halnya ketika Allah memerintahkan mentaati ulil amri Allah tidak mengulang kalimat ” athi’u “/ taatilah yang mana ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada para ulama terbatas kepada apa yang mereka bawa dari perintah Allah serta Rosul_Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil yang kedua : Perintah Allah untuk bertanya kepada mereka, Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Maka bertanyalah engkau kepada orang yang berilmu jika engkau sekalian tidak tahu.[An Nahl: 43]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil yang ketiga : Allah membedakan kedudukan mereka dari kedudukan selainnya, Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Katakanlah: “Apakah sama orang-orang yang mengetahui (berilmu) dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. [Az Zumar: 9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini adalah istifham ingkari yaitu pertanyaan yang tujuannya adalah untuk mengingkari kesaman antara orang yang berilmu (ulama) dengan selainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalil yang ke empat: Keselamatan manusia tergantung pada keberadaan mereka, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ النَّاسِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَتْرُكْ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan sebenar benarnya mencabut dari manusia akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama sehingga jika tidak tersisa lagi seorang ulama’ pun maka manusia akan menjadikan orang yang tidak berilmu sebagai peminpin kemudian mereka bertanya -tentang perkara agama maupun dunia pen.- kepadanya, maka kemudian diapun memberikan fatwanya tanpa bersandar kepada ilmu sehingga dia tersesat dan bahkan menyesatkan manusia yang tadi bertanya kepadanya. [Hadits muttafaq 'alaihi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bila demikian maka hak para ulama’ untuk dimulyakan sangatlah besar karena memulyakan mereka pada hakekatnya adalah memulyakan Allah dan agama_Nya. sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam sunannya:&lt;br /&gt;إِنَّ مِنْ إِجْلاَلِ اللَّهِ إِكْرَامَ ذِى الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِى فِيهِ وَالْجَافِى عَنْهُ وَإِكْرَامَ ذِى السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Sungguh diantara bentuk mengagungkan Allah adalah dengan cara memulyakan seorang syekh yang besar (ulma’ besar) muslim -di dalam majelisnya, dan bersikap lemah lembut kepadanya juga mencintainya lihat ‘aunul ma’bud juz: 10 hal: 365- demikian pula kepada para hafiz (orang yang hafal) al qur’an tanpa merlebihan dalam memulyakan mereka juga tanpa mengurangi hak-hak mereka, memulyakan pemimpin terlebih yang adil dalam kepemimpinanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan disebutkan dalam sebuah hadits marfu’ (sampai sanadnya kepada Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam) yang diriwayatkan oleh ibnu ‘Abbas dan dishohihkan ibnu Hibban dan hadits ini juga mempunyai penguat&lt;br /&gt;لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَلَمْ يُوَقِّرْ كَبِيْرَنَا وَيَأْمُرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَ عَنْ الْمُنْكَرِ وَ يَعْرِفُ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Tidak termasuk golongan kita -orang mukmin- orang yang tidak mengasihi anak kecil, dan menghormati orang tua, memerintahkan kebaikan dan mencegah perbuatan mungkar dan tidak tahu hak-hak seorang ‘alim -yaitu tidak memberikan hak-hak orang yang berilmu dengan cara memulyakannya pen-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memulyakan ulama adalah bagian dari sunnah dan bahkan bagian dari ajaran agama, Thowus mengatakan: ” Termasuk bagian dari sunnah (ajaran Islam) memulyakan empat orang:  seorang ‘alim (orang yang berilmu), orang yang sudah tua, penguasa dan kedua orang tua. Perhatikan contoh-contoh para ulama terdahulu memulyakan seorang ‘alim (orang yang berilmu) sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma anak dari paman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memegang tali kekang kendaraan yang ditunggangi oleh Zaid bin Tsabit seraya mengatakan: ” demikianlah kami diperintahkan oleh Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk memulyakan para ulama dan orang yang lebih tua. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma juga pernah berkata: Aku senang mencari perkara agama, dan aku selalu mencari tahu siapa diantara para sahabat Rosulullaah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang mempunyai jawaban berupa riwayat dari Rosulullaah shallallaahu ‘alaihi wasallam namun ketika aku sampai didepan rumahnya sedang beliau dalam keadaan tidur qoilulah (yaitu tidur sebelum sholat dluhur) maka aku bentangkan selendangku di sisi depan pintu rumah beliau sampai beliau keluar dari rumahnya menuju ke masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah Ibnu ‘Abbas tidak mengetok pintu sehingga membangunkan sahabat tersebut yang dianggapnya ‘alim, ini adalah adab beliau terhadap para ulama, perbuatannya ini disandarkan kepada firman Allah Ta’ala dalam surat Al Hujurat ayat yang kelima yang mana sebelumnya Allah mengatakan: Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu (Nabi shallallahu’alaihi wasallam) dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak berakal, lalu Allah berfirman:&lt;br /&gt;وَلَوْ أَنَّهُمْ صَبَرُوا حَتَّى تَخْرُجَ إِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka sesungguhnya itu lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah komentar dari sahabat tersebut ketika melihat Ibnu ‘Abbas tidur di depan pintu rumahnya: “wahai anak paman Rosulullah shallallaahu’alaihi wasallam kenapa engkau melakukannya, tidakkah lebih baik engkau mengutus seorang utusan menjemputku untuk menemuimu dan menyampaikan hadits yang aku dengar dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam kepadamu ?” apa gerangan jawaban dari Ibnu ‘Abbas: ” Akulah yang semestinya datang menemuimu karena aku adalah tholibul ilmi (penuntut ilmu dan engkau adalah seorang ‘Alim”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama telah menulis kitab yang berbicara mengenai adab seorang ‘alim dan penuntut ilmu, diantaranya kitab Al Jami’ li akhlaqir raawi wa aadabis sami’ , Al Faqih Wal Mutafaqqih yang keduanya dikarang oleh Al Khotib Al Baghdadi dan kitab Jaami’u bayaanil ‘Ilmi wa fadhlih yang dikarang oleh Ibnu ‘Abdil Barr, dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara perkataan ulama’ yang berbicara mengenai masalah ini adalah perkataan sahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang disebutkan didalam kitab Al Faqih Wal Mutafaqqih dan Jaami’ul Ahadiits : ” Diantara hak seorang Ulama’ adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Engkau tidak memperbanyak bertanya kepadanya.&lt;br /&gt;- Engkau tidak mendebat jawaban yang diberikannya.&lt;br /&gt;- Engkau tidak memaksanya jika ia enggan menjawab pertannyaanmu.&lt;br /&gt;- Engkau tidak menarik bajunya untuk memaksanya duduk menjawab pertanyaanmu bila ia handank bangun berdiri dari majelis.&lt;br /&gt;- Engkau tidak menceritakan sebuah rahasia kepadanya.&lt;br /&gt;- Engkau tidak mengghibhi seseorang dihadapannya.&lt;br /&gt;- Engkau tidak duduk didepannya (membelakanginya pen.) .&lt;br /&gt;- Bila engkau menemuinya engkau ucapkan kata penghormatan khusus untuknya -seperti salam dan menanyakan kesehatannya-&lt;br /&gt;- Lalu engkau lanjutkan mengucapkan salam kepada orang-orang yang berada disekitarnya.&lt;br /&gt;- Engkau menjaga rahasianya selama ia menjaga perintah Allah.&lt;br /&gt;- Engkau tidak mencari cari kesalahanya dan seandainya engkau dapati darinya kesalahan maka engkau menerima udhurnya.&lt;br /&gt;- Seandainya ia mempunyai kebutuhan maka engkau adalah orang yang pertama memenuhi kebutuhannya.&lt;br /&gt;- Seorang ‘Alim seperti pohon Kurma yang mana engkau menunggu buahnya jatuh dengan sendirinya&lt;br /&gt;- Seorang ‘Alim lebih utama dari seorang yang tengah berpuasa atau tengah mengerjakan sholat atau bahkan tengah berperang dijalan Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga apa yang diriwayatkan dalam ayat-ayat, hadits-hadits, maupun atsar-atsar dari para sahabat dapat memberikan gambaran bagaimana semestinya seorang penuntut ilmu beradab dan menghiasi dirinya dengan akhlaq sebelum menuntut ilmu dihadapan seorang ‘alim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis oleh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subkhan Khadafi Lc&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keterangan tambahan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seluruh maroji’ diambil dari maktabah syamilah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8859049449550037071-3352992534459024515?l=alfirqotunnajiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/3352992534459024515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/3352992534459024515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/2009/06/adab-menjadi-seorang-penuntut-ilmu.html' title='Adab menjadi seorang Penuntut Ilmu'/><author><name>YAHYA AL BUNY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00500596638645663569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SMnoh7LksdI/AAAAAAAAAAM/HWHohIDKDrg/S220/ais+ami+jenggot.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071.post-671779810248316569</id><published>2009-05-03T08:28:00.000-07:00</published><updated>2009-05-03T08:31:31.166-07:00</updated><title type='text'>Al Wala’ Wal Baro’: Kunci Sempurnanya Tauhid</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/Sf24y-05TsI/AAAAAAAAAKk/kpTK02W5C2k/s1600-h/4-keys.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 218px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/Sf24y-05TsI/AAAAAAAAAKk/kpTK02W5C2k/s320/4-keys.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331620719874363074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ummu ‘Abdirrahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ‘Azza wa Jalla telah menetapkan kebahagiaan hakiki bagi orang yang mengikuti dan melaksanakan agama Islam dengan sungguh-sungguh sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla telah menetapkan kesengsaraan dan kehinaan bagi orang yang memerangi agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya pokok agama Islam adalah kalimat tauhid Laa ilaha illallah, tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah. Dengan mengucapkan dan mengamalkan kalimat inilah dibedakan muslim dan kafir, dipaparkan keindahan surga dan panasnya neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidaklah tauhid seseorang sempurna sampai ia mencintai karena Allah dan membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah. Inilah yang disebut al wala’ wal baro’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenal Al Wala’ dan Al Baro’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Wala’ secara bahasa berarti dekat, sedangkan secara istilah berarti memberikan pemuliaan penghormatan dan selalu ingin bersama yang dicintainya baik lahir maupun batin. Dan al baro’ secara bahasa berarti terbebas atau lepas, sedangkan secara istilah berarti memberikan permusuhan dan menjauhkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudariku, ketahuilah bahwa seorang muslimah yang mencintai Allah dituntut untuk membuktikan cintanya kepada Allah yaitu dengan mencintai hal yang Allah cintai dan membenci hal yang Allah benci. Hal yang dicintai Allah adalah ketaatan terhadap perintah Allah dan orang-orang yang melakukan ketaatan, sedangkan hal yang dibenci Allah adalah kemaksiatan (pelanggaran terhadap larangan Allah) dan orang-orang yang melakukan kemaksiatan dan kesyirikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, hendaklah engkau wala’ terhadap ketaatan dan orang-orang yang melakukan ketaatan dan baro’ terhadap maksiat dan kesyirikan dan orang-orang yang mempraktekkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang Berhak Mendapatkan Wala’ dan Baro’ ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Orang yang mendapat wala’ secara mutlak, yaitu orang-orang mukmin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menjalankan kewajiban dan meninggalkan larangan di atas tauhid.&lt;br /&gt;   2. Orang yang mendapat wala’ dari satu segi dan mendapat baro’ dari satu segi, yaitu muslim yang bermaksiat, menyepelekan sebagian kewajiban dan melakukan sebagian yang diharamkan.&lt;br /&gt;   3. Orang yang mendapat baro’ secara mutlak, yaitu orang musyrik dan kafir serta muslim yang murtad, melakukan kesyirikan, meninggalkan shalat wajib dan pembatal keislaman lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian Tanda Al Wala’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Hijrah, yaitu pindah dari lingkungan syirik ke lingkungan islami, dari lingkungan maksiat ke lingkungan orang-orang yang taat.&lt;br /&gt;   2. Wajib mencintai saudara muslim sebagaimana mencintai diri sendiri dan senang kebaikan ada pada mereka sebagaimana senang kebaikan ada pada diri sendiri serta tidak dengki dan angkuh terhadap mereka.&lt;br /&gt;   3. Wajib memprioritaskan bergaul dengan kaum muslimin.&lt;br /&gt;   4. Menunaikan hak mereka: menjenguk yang sakit, mengiring jenazah, tidak curang dalam muamalah, tidak mengambil harta dengan cara yang bathil, dsb.&lt;br /&gt;   5. Bergabung dengan jama’ah mereka dan senang berkumpul bersama mereka.&lt;br /&gt;   6. Lemah lembut  dan berbuat baik terhadap kaum muslimin, mendoakan dan memintakan ampun kepada Allah bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Antara Tanda Al Baro’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Membenci kesyirikan dan kekufuran serta orang yang melakukannya, walau dengan menyembunyikan kebencian tersebut.&lt;br /&gt;   2. Tidak mengangkat orang-orang kafir sebagai pemimpin dan orang kepercayaan untuk menjaga rahasia dan bertanggungjawab terhadap pekerjaan yang penting.&lt;br /&gt;   3. Tidak memberikan kasih sayang kepada orang kafir, tidak bergaul dan bersahabat dengan mereka.&lt;br /&gt;   4. Tidak meniru mereka dalam hal yang merupakan ciri dan kebiasaan mereka baik yang berkaitan dengan keduniaan (misalnya cara berpakaian, cara makan) maupun agama (misalnya merayakan hari raya mereka).&lt;br /&gt;   5. Tidak boleh menolong, memuji dan mendukung mereka dalam menyempitkan umat Islam.&lt;br /&gt;   6. Tidak memintakan ampunan kepada Allah bagi mereka dan tidak bersikap lunak terhadap mereka.&lt;br /&gt;   7. Tidak berhukum kepada mereka atau ridha dengan hukum mereka sementara mereka meninggalkan hukum Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah Al Wala’ wal Baro’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mendapatkan kecintaan Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah berfirman, “Telah menjadi wajib kecintaanKu bagi orang-orang yang saling mencintai karena Aku.” (HR. Malik, Ahmad, Ibnu Hibban, Hakim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 Mendapatkan naungan ‘Arsy Allah pada hari kiamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah berfirman pada hari kiamat: ‘Mana orang-orang yang saling mencintai karena kemuliaan-Ku? Hari ini Aku lindungi mereka di bawah naunganKu pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Ku.” (Hadits Qudsi riwayat Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Meraih manisnya iman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Barangsiapa yang ingin meraih manisnya iman, hendaklah dia mencintai seseorang yang mana dia tidak mencintainya kecuali karena Allah.‘ (HR. Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Masuk surga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidaklah kalian masuk surga sehingga kalian beriman dan tidaklah kalian beriman sehingga kalian saling mencintai.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Menyempurnakan iman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang mencintai dan membenci, memberi dan menahan karena Allah maka telah sempurnalah imannya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, Hadits Hasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Al Wala’ wal Baro’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Seorang muslimah yang memiliki orang tua kafir hendaknya tetap berbuat baik pada orang tua. Dan tidak diperbolehkan menaati orang tua dalam meninggalkan perintah Allah dan melanggar larangan-Nya.&lt;br /&gt;   2. Diharamkan bagi muslimah untuk menikah dengan laki-laki kafir karena agama seorang wanita mengikuti agama suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji:&lt;br /&gt;Loyalitas dalam Islam (Syaikh Sholeh Fauzan)&lt;br /&gt;Al Wala’ wal Bara’ (Ustadz Afifi Abdul Wadud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.muslimah.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8859049449550037071-671779810248316569?l=alfirqotunnajiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/671779810248316569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/671779810248316569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/2009/05/al-wala-wal-baro-kunci-sempurnanya.html' title='Al Wala’ Wal Baro’: Kunci Sempurnanya Tauhid'/><author><name>YAHYA AL BUNY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00500596638645663569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SMnoh7LksdI/AAAAAAAAAAM/HWHohIDKDrg/S220/ais+ami+jenggot.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/Sf24y-05TsI/AAAAAAAAAKk/kpTK02W5C2k/s72-c/4-keys.gif' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071.post-6210724289666595076</id><published>2009-04-26T21:11:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T21:26:00.522-07:00</updated><title type='text'>MAKNA BERMUHAMMADIYAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SfUzsKvzTvI/AAAAAAAAAKc/sB_JhYBdsmE/s1600-h/muhammadiyah-4.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 279px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SfUzsKvzTvI/AAAAAAAAAKc/sB_JhYBdsmE/s320/muhammadiyah-4.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329222567954960114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAKNA BERMUHAMMADIYAH*)&lt;br /&gt;KH. S. Ibnu Juraimi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, ketika saya pertama kali memangku tugas selaku Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, sekitar dua tahun yang lalu, telah dapat dilaksanakan ‘proyek’ Rihlah Dakwah tahap I yang ketika itu dimulai dari Magelang, Temanggung, Banjarnegara, Purwokerto dan Tegal.&lt;br /&gt;Program ini merupakan suatu terobosan dari Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, yaitu model kajian selama satu hari satu malam, menggunakan pendekatan spiritual dan intelektual. Selama 2 tahun itu, sekitar 215 PDM sudah sempat dikunjungi untuk melaksanakan pengajian ini. Bahkan ada yang sudah sampai 3 kali, karena mereka minta dilaksanakan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema yang diangkat dalam kajian satu hari satu malam ini adalah “Meningkatkan Kualitas Kepribadian Pimpinan agar Berakidah yang Benar, Memiliki Kemampuan Berpikir Bayani, Burhani dan Irfani, serta Dapat Menjadi Uswah Hasanah”. Sebuah tema yang luar biasa. Kalau dilaksanakan dengan waktu hanya kira-kira 1,5 jam, harapannya tidak&lt;br /&gt;mungkin akan tercapai. Sebab, pengajian model ini memerlukan proses. Dan, proses yang paling tepat itu kalau pengajian ini diprogram mulai dari pukul 4 sore sampai pukul 6 pagi esok hari. Pengajian ini dulu sudah pernah dicoba oleh PDM Temanggung dengan sasaran peserta para pimpinan. Para pimpinan Muhammadiyah ini dituntut menjadi pribadi yang berkualitas, sanggup berfikir bayani, burhani dan irfani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materi kajian dibagi dua. Karena menyangkut pimpinan Muhammadiyah, yang saya angkat pertama kali adalah tentang makna bermuhammadiyah. Jangan-jangan setelah sekian tahun bermuhammadiyah, ternyata kita tidak tahu apa sebenarnya bermuhammadiyah itu. Kira-kira setahun yang lalu, PWM DIY mengadakan kegiatan pembinaan Daerah. Saya mendapat tugas untuk melakukan Konsolidasi Ideologi. Saya angkat tema “Bagaimana seharusnya kita bermuhammadiyah”. Ada lima hal pokok di dalam kita bermuhammadiyah. Nampaknya, acara itu dianggap menarik. Sehingga pada tiga tempat yang menjadi tugas saya dalam Konsolidasi Ideologi ini, saya mengangkat tema ini. Setelah itu, insya Allah, baru kita bisa memposisikan diri sebagai pimpinan Muhammadiyah, dan apa yang perlu dilakukan sebagai&lt;br /&gt;pimpinan Muhammadiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengamatan, saya menjumpai di beberapa Daerah/PDM, ada Pimpinan Daerah yang diangkat menjadi pimpinan langsung dari Pimpinan Ranting, bahkan menduduki jabatan sebagai Ketua PDM. Padahal dia tidak tahu seluk beluk Muhammadiyah, tidak kenal apa itu Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, tidak tahu apa itu MKCH, apalagi Kepribadian Muhammadiyah. Hanya karena kebetulan dia pinter bicara, ketika diselenggarakan Musyawarah Daerah, ia kelihatan menonjol, lalu terpilih menjadi ketua PDM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, bisa kita saksikan juga bahwa banyak orang tertarik dengan Muhammadiyah. Rupanya dengan aktif di Muhammadiyah itu bisa menjadi jembatan untuk, misalnya, menjadi anggota Dewan (wakil rakyat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, saya tidak tahu pasti, di Jawa Tengah, kini sedang ramai-ramainya orang Muhammadiyah berupaya untuk bisa menjadi calon anggota Dewan. Padahal tidak semua dari mereka itu bisa terangkat menjadi anggota Dewan, sehingga kemudian terjadi masalah. Di antara mereka sendiri saling padu, konflik antar sesama teman sendiri.&lt;br /&gt;Memperhatikan hal yang demikian, maka kita perlu faham bagaimana sebenarnya bermuhammadiyah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna Bermuhammadiyah: Pertama, Bermuhammadiyah adalah Berislam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna bermuhammadiyah yang pertama dan paling utama serta sangat mendasar adalah berislam. Bagaimana maknanya berislam itu? Mengungkap hal ini, saya akan membuka lembaran sejarah yang sudah amat jarang diketahui oleh para pimpinan Muhammadiyah. Alhamdulillah, saya beruntung, mendapat rahmat ketika saya bisa nginthil, mengikuti guru saya, seorang ulama besar di Jogjakarta, Bapak K.H.R. Hadjid. Beliau dijuluki sebagai Asyaddul Muhammadiyah, Jago Tua Muhammadiyah, sekretaris Badan Penasehat PP Muhammadiyah. Gara-gara saya ditendang dari IAIN, saya justru sempat berguru kepada beliau selama tidak kurang dari 10 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat mendengar kisah yang dialami beliau. Beliau termasuk murid termuda K.H. Ahmad Dahlan. Nampaknya, beliau satu-satunya murid yang mencatat pelajaran Kiyai Haji Ahmad Dahlan. Kami sempat beberapa kali menerbitkan Buku Pelajaran Kyai Ahmad Dahlan itu dalam bentuk stensilan. Terakhir, diterbitkan oleh Depag Jawa Tengah, dibagi secara&lt;br /&gt;gratis untuk PDM-PDM se Jateng. Buku itu adalah Himpunan Ayat-ayat Alquran yang Difahami oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan.&lt;br /&gt;Buku itu berisi tentang bagaimana cara memahami, bagaimana cara mengajarkan, dan bagaimana pula cara  mengamalkannya. Semua itu terungkap dalam Buku Pelajarannya Kyai Haji Ahmad Dahlan yang ditulis oleh KHR Hadjid. Generasi sekarang ini barangkali tidak banyak mengenalnya. Yang dikenal mungkin malah putra tertuanya yang juga&lt;br /&gt;terkenal, Bapak R.H. Haiban Hadjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua pertanyaan Kyai Ahmad Dahlan; Muhammadiyah Urung Menjadi Partai Politik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1921, ada Sidang Hoofdbestuur Muhammadiyah (PP Muhammadiyah). Di situ para assabiqunal awwalun Muhammadiyah berkumpul, para pendiri dan generasi pertama pimpinan dan aktivis Muhammadiyah. Yang menarik,&lt;br /&gt;dalam pertemuan itu ada tokoh yang tidak pernah kita kenal sebagai orang atau aktivis Muhammadiyah. Yang menarik adalah beliau bisa tampil meyakinkan dalam forum para pembesar, pimpinan Muhammadiyah generasi pertama berkumpul. Orang itu adalah Haji Agus Salim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haji Agus Salim punya gagasan untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai partai politik. Kalau pada masa Orde Baru Muhammadiyah disebut orsospol, dan beberapa pimpinan Muhammadiyah menjadi anggota Dewan.&lt;br /&gt;Ternyata, menjelang akhir hayat Kiyai Haji Ahmad Dahlan, sudah muncul juga “ambisi” menjadikan Muhammadiyah sebagai parpol. Sidang dipimpin oleh Kiyai Ahmad Dahlan. Diketahui, Haji Agus Salim adalah seorang jurnalis, politisi dan diplomat yang hebat. Tidak ada yang bisa mengalahkannya dalam berdebat. Dalam sidang Hoofdbestuur, argumentasi yang disampaikan Haji Agus Salim membuat seluruh yang hadir terpukau, terkesima dan setuju untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai partai politik. Kyai Dahlan, karena menjadi pimpinan sidang, tidak berpendapat.&lt;br /&gt;Setelah Kyai Dahlan melihat bahwa nampaknya yang hadir sepakat dengan gagasan Haji Agus Salim, Kyai Haji Ahmad Dahlan yang memimpin sidang dengan duduk, lalu berdiri sambil memukul meja. Saya tidak sempat bertanya kepada guru saya, Kiyai Hadjid, apakah Kyai Dahlan memukul mejanya keras apa tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kyai Ahmad Dahlan mengajukan dua pertanyaan yang sangat sederhana dan sangat mudah. Dan kalau dijawab, sebenarnya juga gampang. Pertama, apa saudara-saudara tahu betul apa agama Islam itu? Kedua, apa saudara berani beragama Islam?&lt;br /&gt;Tidak ada satu pun dari yang hadir yang sanggup menjawab pertanyaan itu, termasuk Haji Agus Salim sendiri. Bukannya tidak bisa, sebab mana mungkin ditanya soal Islam begitu saja tidak tahu. Tapi, ketika ditanya “Beranikah kamu beragama Islam?”. Mereka tahu persis yang ditanyakan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu. Pak Hadjid muda, bercerita kepada saya, “Bukan main tulusnya pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan itu”. Sebenarnya pertanyaan itu sederhana, tapi tidak ada yang sanggup menjawab. Akhirnya gagasan Haji Agus Salim tidak kesampaian. Muhammadiyah urung jadi partai politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan itu, sekarang baru terjawab satu. Yaitu pada waktu Muktamar Muhammadiyah ke-40 di Surabaya tahun 1978. Jawaban itu berupa keputusan tentang Ideologi Islam, Pokok-Pokok Pikiran tentang Dienul Islam, yang konsepnya dari Bapak H. Djindar Tamimy. Jadi, setelah kira-kira 56 tahun baru terjawab satu&lt;br /&gt;pertanyaan.&lt;br /&gt;Sedangkan pertanyaan yang kedua, sampai sekarang ini belum ada yang berani menjawab. Tahun 1960, kebetulan saya masih sering mendengar, ada ungkapan Kyai Dahlan yang menarik, “Durung Islam temenan, nek durung wani mbeset kuliti dewe” (Belum Islam sungguh-sungguh, kalau belum berani mengelupas kulitnya sendiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang akan saya ungkap di sini, kaitannya dengan pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan tadi, apa Islam itu, bisa dibuka pada Pelajaran Kiyai Haji Ahmad Dahlan. Bagi KHR Hadjid, Kyai Dahlan dalam mengungkap ayat itu menarik sekali. Ayat yang diungkap adalah ayat yang sudah populer. Bahkan menjadi bacaan harian mereka yang membaca doa iftitah shalat menggunakan hadis riwayat Imam Muslim (Wajjahtu wajhiya….).Buku itu mengungkap dan mengajarkan bagaimana Islam itu. Ternyata, setelah sekian tahun bermuhammadiyah Kyai Dahlan baru sanggup mengaplikasikan dan merealisir ajaran Alquran tidak lebih dari 50 ayat. Dua ayat diantaranya ada dalam surat Al An’am. Qul inna shalati wa-nusuqi wa mahyaaya, wa mamaati lillaahi rabbil alamin. Laa syarikalah wa bidzalika umirtu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam salah satu kitab tafsir diungkap bahwa ayat ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim AS. Kata-kata dalam ayat Alquran yang menyebut aslama-yuslimu-aslim, muncul dari Nabi Ibrahim AS. Jadi, awwalul muslimin itu Ibrahim, sedang wa ana minal muslimin itu Rasulullah Saw.&lt;br /&gt;Maka di dalam doa Iftitah yang diucapkan dalam bacaan shalat tadi&lt;br /&gt;boleh dipilih antara awwalul muslimin atau wa ana minal muslimin.&lt;br /&gt;Qul, katakanlah (Muhammad), inna shalati, sungguh shalatku; wa nusuqi,&lt;br /&gt;dan pengorbananku; wa mahyaya, dan kiprah hidupku; wa mamati, dan&lt;br /&gt;tujuan matiku; lillah, hanya untuk dan karena Allah; raabil alamin,&lt;br /&gt;pengatur alam semesta. Laa syariikalah, tidak ada sekutu bagi-Nya; wa&lt;br /&gt;bidzaalika umirtu, dan dengan itu aku diperintah; wa ana awwalul&lt;br /&gt;muslimin, dan aku orang yang pertama, pasrah, setia tunduk kepada&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wataala. Amin ya rabbal alamin.&lt;br /&gt;Itu makna yang populer, kecuali kata nusuq yang saya terjemahkan&lt;br /&gt;menjadi pengorbananku. Pada hampir semua terje-mahan, nusuq diartikan&lt;br /&gt;ibadah.&lt;br /&gt;Mengenai tafsirnya, kebetulan tidak sempat saya catat tapi saya punya&lt;br /&gt;kitabnya, nusuq bukan berarti ibadah. Yang berarti ibadah adalah&lt;br /&gt;nasaqun. Nusuq artinya menyembelih kurban. Maka saya artikan, nusuqi&lt;br /&gt;adalah pengorbananku. Jadi, “shalatku, pengorbananku, hidup matiku,&lt;br /&gt;lillahi rabbil alamin”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kyai Bakir Sholeh, seorang ulama besar Jogja yang dikenal sebagai&lt;br /&gt;kamus berjalan, memaknai dengan liman kana yarju…… “Sungguh, shalatku,&lt;br /&gt;pengorbananku, hidup dan matiku hanya untuk Allah”. Dalam terjemah&lt;br /&gt;Miftah Farid masih kelihatan biasa. Tetapi untuk terjemahan ini orang&lt;br /&gt;bisa tertegun, “Hanya karena untuk Allah rabbil alamin.”&lt;br /&gt;Laa syarikalah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Pengertian ini oleh Kyai&lt;br /&gt;R.H. Hadjid, yang telah mendengar pelajarannya langsung dari Kiyai&lt;br /&gt;Dahlan dengan terjemahan tafsir  “itu tidak untuk selain Allah”.&lt;br /&gt;Karena syarikat bermakna sekutu. Sekutu itu apa saja bisa dianggap&lt;br /&gt;sekutu.&lt;br /&gt;Lalu ayat tadi bermakna apa? “Shalatku, pengorbananku, hidup dan&lt;br /&gt;matiku hanya untuk Allah pengatur alam semesta”. Laa syarikalah, tidak&lt;br /&gt;ada sekutu selain Allah. “Aku diperintah untuk hidup dengan model cara&lt;br /&gt;yang seperti itu. Tidak untuk maksud-maksud yang lain. Tidak untuk&lt;br /&gt;anak istriku. Tidak untuk orang tuaku, juga tidak untuk bangsa dan&lt;br /&gt;tanah airku”. Tanah dan air itu kalau jadi satu namanya blethokan.&lt;br /&gt;Hidupku tidak untuk itu.&lt;br /&gt;Pertanyaannya, lalu untuk apa? “Bela hakmu, perjuangkan hakmu. Membela&lt;br /&gt;tanah air adalah sabilillah. Membela tanah air bukan karena kemauan&lt;br /&gt;tanah air, tetapi karena Allah”. Di sini lalu maknanya, “berbuat&lt;br /&gt;baiklah kamu kepada orang tuamu”. Bedanya dengan ihsan, tidak sekedar&lt;br /&gt;karena naluri, atau karena punya naluri berbakti kepada orang tua,&lt;br /&gt;tetapi begitu lengkap. Sebab itu karena perintah Allah, dari kata&lt;br /&gt;“wa-ahsinuu, …..birrul walidaini”.&lt;br /&gt;Jadi jelas sekarang ini. Lalu ditutup dengan “wa ana awwalul muslimin.&lt;br /&gt;O, ini to karepe (maksudnya) Islam itu. Islam, maksudnya, mendidik&lt;br /&gt;kita untuk hidup model seperti itu. Tidak pakai tiru-tiru model yang&lt;br /&gt;lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam setiap langkah selalu berusaha dan berkarya, tidak bisa yang&lt;br /&gt;namanya hidup kecuali semuanya dalam bentuk kepasrahan, niat yang&lt;br /&gt;tulus berbakti kepada Allah, apapun yang dilakukan. Sebagaimana ayat&lt;br /&gt;yang populer, wamaa khalaqtul jinna wal-insaan illa liya’buduun.&lt;br /&gt;Manusia ini hidup diciptakan oleh Allah, tidak lain, (satu kalimat&lt;br /&gt;yang dimulai dengan nafi, yang di belakang ada illa itu, merupakan&lt;br /&gt;satu doktrin kepastian) hidup ini hanya untuk beribadah, tidak lain.&lt;br /&gt;Maka, semua aktivitas hidup kita harus punya nilai dan nafas ibadah.&lt;br /&gt;Di situlah makna hakekat dari Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat ini, beliau yang memang orang alim dan orang-orang generasi&lt;br /&gt;pertama, bisa menangkap pertanyaan ini, walaupun tidak sanggup&lt;br /&gt;menjawab.&lt;br /&gt;Maaf, jika orang sudah bicara politik, hampir bisa dipastikan yang&lt;br /&gt;dicari hanyalah kursi. Dulu, ketika sama-sama jadi mubaligh, sama-sama&lt;br /&gt;aktif, masih bisa. Tapi, ketika sudah sampai pada soal kampanye,&lt;br /&gt;jangan tanya. Disitulah letak bahayanya politik kalau tidak disinari&lt;br /&gt;oleh Islam. Sehingga, rasa-rasanya, kita ini sepertinya tidak punya&lt;br /&gt;panutan, siapa politikus kita yang bisa membawa amanah Islam. Rasanya&lt;br /&gt;jauh sekali dengan para pendahulu kita. Seperti Pak Muhammad Natsir,&lt;br /&gt;yang kalau mau sidang ke DPR hanya naik becak, tidak mau dijemput&lt;br /&gt;mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermuhammadiyah adalah berislam. Ungkapan ini memang cukup tandas.&lt;br /&gt;Masyarakat/umat Islam ketika itu di dalam berislam sudah bukan main&lt;br /&gt;trampilnya. Seperti diungkap dalam sabda Nabi yang bernilai ramalan&lt;br /&gt;itu, “Akan datang kepada kamu sekalian, suatu jaman dimana Alquran&lt;br /&gt;tidak kekal lagi, Islam tidak tegak lagi kecuali hanya nama. Memang&lt;br /&gt;banyak orang mengaku dirinya muslim, tapi perilaku dan tindakannya&lt;br /&gt;jauh sekali dari Islam. Masjid-masjidnya makmur, banyak jamaah, tapi&lt;br /&gt;sepi dari kebaikan. Orang-orang yang paling dalam ilmu agamanya&lt;br /&gt;menjadi orang yang paling jahat di kolong langit. Dari mereka keluar&lt;br /&gt;fitnah”. Tetapi fitnah itu kembali kepada orang-orang tadi. Jika hal&lt;br /&gt;ini disebut oleh Rasulullah, ini yang jelas terjadinya sepeninggal&lt;br /&gt;Rasululah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, hampir 100 tahun yang lalu, fenomena ini terjadi, yakni di&lt;br /&gt;jaman sekitar hidup Kiyai Haji Ahmad Dahlan. Bagaimana Alquran yang&lt;br /&gt;punya bobot yang luar biasa, kekuatan dahsyat, lau anzalnya haadzal&lt;br /&gt;qur’ana ala jabalin………min khasyatillah (Seandainya kami turunkan&lt;br /&gt;Alquran kepada gunung, kamu akan tahu Muhammad, gunung itu akan&lt;br /&gt;menolak, tunduk, hancur lumat karena takutnya kepada Allah. Itulah&lt;br /&gt;kekuatan dahsyat dari Alquran), tapi tidak diamalkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini, berapa juta kali Alquran dibaca setiap hari. Ratusan&lt;br /&gt;karya tafsir yang menjelaskan dari kata maupun kalimat untuk&lt;br /&gt;menjelaskan ayat-ayat Alquran, berapa pula diangkat di dalam seminar,&lt;br /&gt;simposium, diskusi, namun tetap juga sulit untuk mendapatkan pembaca&lt;br /&gt;Alquran itu yang meneteskan air mata. Sudah susah kita menemui orang&lt;br /&gt;sesenggukan membaca Alquran. Dan amat sukar kita dapati orang yang&lt;br /&gt;terisak-isak karena mendengarkan peringatan ayat-ayat Alquran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada orang yang tersungkur karena mendengar ayat-ayat Alquran,&lt;br /&gt;kecuali tersungkurnya karena sujud tilawah itu saja. Masih mending,&lt;br /&gt;kita masih mau setia mengikuti sunnah Nabi. Setiap Jum’at Shubuh, Nabi&lt;br /&gt;selalu membaca surat As-Sajdah di rakaat pertama, dan surat Al-Insan&lt;br /&gt;di rakaat kedua. Yang seperti ini sekarang di Jogja hampir tidak ada.&lt;br /&gt;Kita perlu mengelus dada (prihatin) melihat hal ini. Dibaca saja tidak&lt;br /&gt;apalagi diamalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula, Islam hanya tinggal namanya. Secara minoritas, orang&lt;br /&gt;Indonesia, khususnya orang Jawa, Islamnya cuma dalam tiga hal.&lt;br /&gt;Berislam ketika tetak (khitan), ketika menikah, dan saat prosesi&lt;br /&gt;kematiannya. Kalau sudah ditetaki (dikhitan) sudah marem. Anakku wis&lt;br /&gt;diislami (anakku sudah diislami), begitu batinnya. Kemudian kalau mau&lt;br /&gt;menikah, mereka sudah mantap mengundang Pak Naib. Dan ketika meninggal&lt;br /&gt;mengundang ahli tahlil. Dengan ketiga hal itu, sudah dianggap lengkap&lt;br /&gt;Islamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, diantara orang-orang  yang beragamanya hanya tiga kali seumur&lt;br /&gt;hidup itu, malah ada yang diangkat menjadi amirul haj Indonesia. Ini&lt;br /&gt;sungguh-sungguh pernah terjadi. Tidak hanya cara berislamnya yang&lt;br /&gt;merusak tatanan Islam yang sebenarnya, bahkan dia juga termasuk&lt;br /&gt;perusak dan pemecah belah ummat Islam. Sampai seperti ini yang terjadi&lt;br /&gt;di Indonesia yang memang, katakanlah, sedikit atau banyak bersifat&lt;br /&gt;gado-gado.&lt;br /&gt;Ketika belum ada agama yang masuk, orang Indonesia masih primitif,&lt;br /&gt;membakar kemenyan menjadi kebiasaan. Ketika datang ajaran Hindu,&lt;br /&gt;diterima. Lalu ketika datang ajaran Budha, juga diterima, datang Islam&lt;br /&gt;juga diterima, dan terakhir, Kristen juga diterima. Semuanya bergabung&lt;br /&gt;menjadi satu, Pancasila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang kita lihat di sekitar kita, wajah keberagamaan umat Islam.&lt;br /&gt;Masih lumayan, masih ada sekelompok (besar) orang, yang beranggapan&lt;br /&gt;kalau sudah berhaji itu sudah lengkap Islamnya. Hal ini bisa dilihat&lt;br /&gt;kalau, misalnya, ada satu orang berangkat haji, rombongan bis yang&lt;br /&gt;mengantar bisa sampai tujuh buah, disebabkan oleh penghormatan kepada&lt;br /&gt;orang yang mau berangkat haji yang demikian besarnya. Bahkan ketika&lt;br /&gt;mengantar sampai di Bandara pun menangisnya bisa sampai sesenggukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang bagus dan elok bisa pergi berhaji. Tapi dengan beribadah haji&lt;br /&gt;itu belum tuntas kewajibannya sebagai muslim. Sebenarnya ibadah haji&lt;br /&gt;masih dalam tataran pondasi. Buniyal islamu ala khomsin…. Islam itu&lt;br /&gt;dibangun di atas lima perkara, yang kita kenal dengan rukun Islam.&lt;br /&gt;Lima perkara itu adalah syahadat, shalat, puasa, zakat, dan berhaji,&lt;br /&gt;itu baru pondasi. Untuk membangun Keluarga Sakinah memang harus lima&lt;br /&gt;perkara itu dulu yang ditata. Sebab, ada orang yang berhaji&lt;br /&gt;berkali-kali, tapi ternyata keluarganya tidak juga kunjung menjadi&lt;br /&gt;keluarga sakinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ini merupakan catatan penting untuk dakwah Muhammadiyah,&lt;br /&gt;bagaimana umat ini dikenalkan dengan berislam yang sebenarnya. Saya&lt;br /&gt;tidak menyinggung lebih jauh lagi apa kemudian pedomannya,&lt;br /&gt;pelatihannya, dan sebagainya, bukan sekarang saatnya untuk mengungkap&lt;br /&gt;masalah ini.&lt;br /&gt;Kita bermuhammadiyah yang paling mendasar adalah berislam. Itulah yang&lt;br /&gt;dituntutkan kepada kita. Bagaimana kita punya sikap hidup setia dan&lt;br /&gt;pasrah dengan tatanan aturan hidup Islam. Termasuk yang dulu juga&lt;br /&gt;pernah diungkap Kyai Haji Ahmad Dahlan, saya kurang tahu persis&lt;br /&gt;kalimat itu, hanya mendengar sepintas, “Hidup sepanjang kemauan&lt;br /&gt;Islam”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah semangat muhammadiyyin tempo dulu, bagaimana hidup ini dijalani&lt;br /&gt;menurut kemauan Islam. Bukan menurut kemauan adat, bukan pula menurut&lt;br /&gt;kemauan nenek moyang ataupun tradisi, tapi menurut kemauan Islam. Ini&lt;br /&gt;yang menjadi semboyan para pendahulu kita. Saya hanya sempat&lt;br /&gt;mendengar-dengar pada awal tahun 1960. Inilah makna pertama dari&lt;br /&gt;bermuhammadiyah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pimpinan dan aktivis Muhammadiyah dituntut untuk tahu dan faham&lt;br /&gt;apa makna berislam itu. Tahu dan faham, tidak boleh hanya tahu saja.&lt;br /&gt;Doa yang dituntunkan dari Alquran, Rabbi zidni ilma war zuqni fahma.&lt;br /&gt;Pertama, tentang ilmunya sendiri, kuncinya memang harus tahu. Tapi,&lt;br /&gt;tahu saja belum bisa melaksanakan, sehingga diikuti dengan yang kedua,&lt;br /&gt;warzuqni fahma, memohon diberikan kefahaman. Dengan faham itu baru ada&lt;br /&gt;jalan untuk meraih kebaikan, sebagaimana sabda Nabi man yurudillahu&lt;br /&gt;khairan yufaqqihhu fiddin, siapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka&lt;br /&gt;orang tadi difahamkan  agamanya oleh Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal tahu ini, dengan hanya sekali mendengar saja orang sudah bisa&lt;br /&gt;tahu. Sekali mendengar ceramah sudah bisa tahu. Tetapi untuk bisa&lt;br /&gt;faham, tidak cukup dengan sekali mendengar. Maka, Nabi mesti mengulang&lt;br /&gt;sesuatu sampai tiga kali. Hal ini kita dapati pada kitab&lt;br /&gt;Riyadush-shalihin. Setiap kali men-datangi suatu kaum Rasulullah&lt;br /&gt;mengucapkan salam sampai tiga kali. Sementara, banyak di anatara kita&lt;br /&gt;yang malas mengucap salam diulang sampai tiga kali. Malahan mungkin&lt;br /&gt;kuatir disebut sebagai orang NU, karena biasanya orang NU itu yang&lt;br /&gt;mengamalkan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Bermuhammadiyah adalah Berdakwah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit mengenang orang-orang tua kita, mengenang bagaimana semangat&lt;br /&gt;mereka dalam “wa-tawashau bil haq”.  Ada sebutan yang cukup populer&lt;br /&gt;pada waktu itu, yaitu mubaligh cleleng. Cleleng adalah sebutan untuk&lt;br /&gt;jangkrik, yang kalau diberi makan daun kecubung ngengkriknya&lt;br /&gt;berkurang, tapi kalau diadu walaupun kakinya sudah patah dua-duanya&lt;br /&gt;nggak mau mengalah, kalau perlu sampai mati. Nah, mubaligh yang&lt;br /&gt;seperti itu disebut mubaligh cleleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk salah satu yang disebut sebagai mubaligh cleleng ini adalah&lt;br /&gt;Prof. Abdul Kahar Muzakkir. Ceritanya, beliau ini jarang ketemu dengan&lt;br /&gt;mahasiswanya. Ketika suatu kali mahasiswa menemui beliau dengan&lt;br /&gt;mengucap salam, “Selamat pagi, Pak!”. Beliau bertanya, “Kamu siapa?”&lt;br /&gt;“Saya mahasiswa Bapak”, katanya. “Kembali sana, ucapkan dulu&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum”.&lt;br /&gt;Suatu kali ada orang bertamu ke rumah beliau. Mengucap salam dengan&lt;br /&gt;“kulonuwun“. Berkali-kali diucapkannya salam itu, tidak dijawab,&lt;br /&gt;padahal beliau ada di rumah dan tahu kalau ada tamu. Karena&lt;br /&gt;berkali-kali salam tidak dibukakan pintu, tamu itu akhirnya bermaksud&lt;br /&gt;pergi. Sebelum sampai orang itu pergi, pintu dibuka oleh Prof. Kahar&lt;br /&gt;Muzakkir sambil berkata, “Kibir kamu ya?” “Kenapa?” tanya orang itu.&lt;br /&gt;Al-kibru umsibunnas wa jawahul–haq. Kibir itu meremehkan orang Islam&lt;br /&gt;dan tidak mau memakai aturan Islam. Sudah jelas ada tuntunannya&lt;br /&gt;mengucap salam “Assalamu’alaikum” kalau bertamu ke rumah orang koq&lt;br /&gt;malah “kulonuwun”. Inilah contohnya mubaligh cleleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi anggota Muhammadiyah itu tidak sekedar hanya menjadi anggota&lt;br /&gt;saja. Kalau anda pernah tinggal di sekitar kampung Suronatan, dan&lt;br /&gt;kalau masih ingat, ada yang namanya Haji Khamdani. Saya masih sempat&lt;br /&gt;kenal orangnya, ketua Cabang Muhammadiyah Ngampilan. Pekerjaannya&lt;br /&gt;tukang kayu. Beliau termasuk orang yang telah mendapatkan&lt;br /&gt;sentuhan-sentuhan dari Kyai Ahmah Dahlan. Padahal, Pak Khamdani ini&lt;br /&gt;tidak termasuk orang terpelajar. Sekolahnya paling hanya sampai&lt;br /&gt;sekolah Ongko Loro. Beliau juga tidak termasuk orang kaya. Tetapi&lt;br /&gt;karena terkena sentuhan Kyai Ahmad Dahlan, merasa mau bertabligh nggak&lt;br /&gt;bisa, mau berdakwah pakai uang juga nggak ada uangnya, lalu beliau&lt;br /&gt;mengumpulkan tukang kayu, menyumbang untuk Muhammadiyah lewat&lt;br /&gt;keahliannya sebagai tukang kayu ketika sedang dibangun SR Muhammadiyah&lt;br /&gt;I (sekarang SD Muhammadiyah Suronatan). Ini adalah SD Muhammadiyah&lt;br /&gt;yang didirikan Kyai Haji Ahmad Dahlan berkat orang-orang yang punya&lt;br /&gt;ghiroh, diantaranya mujahid kayu tersebut.&lt;br /&gt;Jadi, apa yang bisa disumbangkan kepada Muhammadiyah, disumbangkannya&lt;br /&gt;sesuai dengan kemampuan masing-masing. Yang bisa bertabligh dengan&lt;br /&gt;kemampuan bertablighnya. Sampai-sampai, walaupun ilmu agamanya masih&lt;br /&gt;minim, ada mubaligh yang membaca saja pating pletot. Rabbil ’alamin&lt;br /&gt;dibaca rabbil ngalamin. Bismillah dibaca semillah. Laa haula walaa&lt;br /&gt;quwwata illa billah dibaca walawalabila, nekat untuk bertabligh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah, karena sentuhan dakwah Kyai Haji Ahmad Dahlan, walaupun cara&lt;br /&gt;membacanya belum fasih, tapi berani bertabligh. Mubaligh yang demikian&lt;br /&gt;ini sekarang ini memang sering dicibir oleh orang-orang NU. Membaca&lt;br /&gt;Quran saja nggak bisa koq berani bertabligh. Oleh Kyai pasti dijawab,&lt;br /&gt;“Dari pada kamu, bisa baca Quran tapi nggak berani bertabligh. Inilah&lt;br /&gt;wajah Muhammadiyah yang kedua, yaitu bermuhammadiyah itu adalah&lt;br /&gt;bertabligh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah mengakui bagaimana penampilan anggun dakwah Muhammadiyah.&lt;br /&gt;Dosennya Pak Amien Rais di Fisipol UGM, Pak  Usman Tampubolon, orang&lt;br /&gt;Batak, beliau aktif di Dewan Dakwah  Islamiyah (DDI), tinggal di&lt;br /&gt;Jogjakarta. Disertasinya tentang adat Jawa. Beliau mengorek tentang&lt;br /&gt;adat Jawa yang hal itu bisa sangat menyinggung orang-orang Jawa.&lt;br /&gt;Promotornya tidak mau, mengembalikannya dan menyuruh Pak Usman&lt;br /&gt;Tampubolon untuk merubahnya. Pak Usman tidak mau merubah, “Wong saya&lt;br /&gt;sendiri yang menyusun koq disuruh merubah”, kata Pak Usman.&lt;br /&gt;Pak Usman berkomentar tentang Kyai Haji Ahmad Dahlan. Aneh, katanya,&lt;br /&gt;dalam sejarah, ketika bangkit gerakan modern di Timur Tengah, dengan&lt;br /&gt;tampilnya Syeh Muhammad Abdul Wahab, yang karya paling terkenalnya&lt;br /&gt;kitab tauhid, “Al Ushulust-tsalasah”,30) ketika ajarannya diambil,&lt;br /&gt;mesti ada perang dan darah yang mengalir. Kuburan-kuburan di tanah&lt;br /&gt;Arab yang sudah begitu rupa, oleh Syeh Abdul Wahab diratakan. Maka,&lt;br /&gt;yang namanya Syeh Abdul Wahab ini, di Indonesia juga sangat ditakuti.&lt;br /&gt;Tentu kita juga ingat perjuangan Imam Bonjol dengan perang Paderinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata Kyai Haji Ahmad Dahlan yang lahir di Kauman, dan bahkan&lt;br /&gt;menjadi pegawai Keraton, koq bisa tenang, rukun dan asyik duduk&lt;br /&gt;bersama orang Kraton yang masih mempercayai nenek moyang dengan agama&lt;br /&gt;jahiliyahnya. Tidak ada sruduk-srudukan di antara mereka. Hal ini&lt;br /&gt;membuat Pak Usman Tampubolon heran. Sosiologi apa yang dimiliki Kyai&lt;br /&gt;Haji Ahmad Dahlan. Seandainya Kyai Haji Ahmad Dahlan lahir dan&lt;br /&gt;mendirikan Muhammadiyah di Sumatera Barat, maka Muhammadiyah hanya ada&lt;br /&gt;di sana. Keadaan ini menarik. Fenomena apa ini, koq Kyai Haji Ahmad&lt;br /&gt;Dahlan tenang–tenang saja, mengapa tidak terjadi benturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sisi lain, kita juga menyadari adanya kepercayaan tradisi yang&lt;br /&gt;masih melekat di kalangan aktifis Muhammadiyah, terutama soal&lt;br /&gt;kematian. Memang Muhammadiyah telah membersihkan hal-hal bid’ah.&lt;br /&gt;Tetapi nampaknya masalah ini sekarang mulai bermunculan lagi.&lt;br /&gt;Dihidupkan lagi tradisi lama. Apalagi Sidang Tanwir di Bali yang lalu&lt;br /&gt;membicarakan topik Dakwah Kultural. Orang belum tahu persis koq sudah&lt;br /&gt;melangkah lebih lanjut.&lt;br /&gt;Jujur saja, dan harus kita akui, bahwa Muhammadiyah yang tadinya cukup&lt;br /&gt;anggun, dengan jasa besarnya yang telah ikut mencerdaskan bangsa ini,&lt;br /&gt;selama lebih kurang 93 tahun berdakwah, ternyata belum dan tidak&lt;br /&gt;sanggup menggoyang kekuatan Nyai Roro Kidul. 93 tahun bukan waktu yang&lt;br /&gt;singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan masalah yang serius, sebab kekuatan kaum itu sedemikian&lt;br /&gt;besarnya. Mereka punya seragam khusus dan punya pos-pos ribuan&lt;br /&gt;banyaknya. Yang kita kaget ketika Pemilu tahun 1999 kemarin, kekuatan&lt;br /&gt;mereka seperti itu. Itulah barangkali yang melatar-belakangi Sidang&lt;br /&gt;Tanwir membicarakan masalah dakwah kultural. Hampir-hampir&lt;br /&gt;Muhammadiyah tidak menyadari tentang adanya  budaya-budaya itu.&lt;br /&gt;Masalah bagai-mana menari yang Islami, Muhammadiyah tidak bisa&lt;br /&gt;menjawab.&lt;br /&gt;Kalau saya ada jawaban lain kenapa perlu ada dakwah kultural. Saya&lt;br /&gt;lebih cenderung memakai alat yang lain. Apa Kyai Ahmad Dahlan waktu&lt;br /&gt;itu memakai dakwah kultural? Tidak. Yang memakai itu kan Walisongo,&lt;br /&gt;Sunan Kalijogo. Lalu, apa rahasianya Kyai Ahmad Dahlan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu keunggulan Muhammadiyah yang tidak dimiliki oleh yang  lain,&lt;br /&gt;adalah adanya karya amal Muhammadiyah. Kyai Haji Ahmad Dahlan sanggup&lt;br /&gt;menampilkan Islam yang bisa dilihat dan dinilai bermanfaat oleh ummat.&lt;br /&gt;Tidak tanggung-tanggung, Muhammadiyah telah melahirkan dua presiden,&lt;br /&gt;terlepas dari presidennya itu seperti apa. Bung Karno dan Soeharto&lt;br /&gt;adalah anak didik Muhammadiyah. Inilah jasa besar Muhammadiyah di&lt;br /&gt;bidang  pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berada di Boyolali dalam tugas Rihlah Dakwah, di sebuah panti&lt;br /&gt;asuhan yang gedungnya berlantai dua, sangat megah, saya diberitahu&lt;br /&gt;bahwa yang membangun gedung itu adalah seorang pensiunan dari Jakarta.&lt;br /&gt;Ia datang ke Boyolali mencari-cari orang Muhammadiyah. Ia mengakui&lt;br /&gt;dulunya lulusan SMP Muhammadiyah Nogosari Boyolali. Setelah lama&lt;br /&gt;menjadi pegawai di Jakarta kemudian ia ingat kembali Muhammadiyah.&lt;br /&gt;Sementara, kadang-kadang, kita kalau sudah jadi pegawai tidak kober&lt;br /&gt;lagi mikir Muhammadiyah, karena sibuk mikirin duit terus. Apalagi kita&lt;br /&gt;ini termasuk sebagai pewaris falsafah “sendu” (seneng duit), merasa&lt;br /&gt;senang dengan hal itu. Harus secara jujur kita akui bahwa kita memang&lt;br /&gt;senang terhadap duit.&lt;br /&gt;Nah, pensiunan dari Jakarta tadi punya tabungan dan ingin&lt;br /&gt;menyumbangkannya kepada Muhammadiyah. Semua tukang yang bekerja&lt;br /&gt;membangun panti itu ia yang bayar. Inilah salah satu contoh bagaimana&lt;br /&gt;pengaruh pendidikan Muhammadiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga bisa merasakan bagaimana sentuhan-sentuhan darah kita yang&lt;br /&gt;memang belum bisa dicerna dan baru sedikit sekali. Kalau kita lihat ke&lt;br /&gt;sekretariat PP Muham-madiyah, anggota Muhammadiyah sekarang sudah&lt;br /&gt;mencapai jumlah deretan 6 angka, tapi angka pertama baru 8. Artinya,&lt;br /&gt;belum ada 1 juta orang, itu pun masih dikurangi lagi dengan yang sudah&lt;br /&gt;meninggal. Inilah wajah Muhammadiyah yang kedua, wajah dari&lt;br /&gt;Muhammadiyah sebagai Gerakan Dakwah yang perlu dibenahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Bermuhammadiyah adalah Berorganisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman KHA. Dahlan terhadap Alquran surat Ali Imran ayat 104 telah&lt;br /&gt;melahirkan pergerakan Muhammadiyah. Tidak bisa dibayangkan bagaimana&lt;br /&gt;ulama pendahulu kita itu bisa menangkap isyarat-isyarat Alquran,&lt;br /&gt;sehingga memilih organisasi sebagai alat dakwah. Sebab, sebelum itu,&lt;br /&gt;organisasi yang ada sifatnya masih sederhana. SDI atau SI yang muncul&lt;br /&gt;sebelumnya karena kebutuhan yang  mendesak. SDI muncul untuk&lt;br /&gt;mengim-bangi perdagangan Cina. Sedang kelahiran SI tidak lepas dari&lt;br /&gt;pengaruh  politik. Kita tahu, di dunia politik ada dua rayuan, rayuan&lt;br /&gt;surga dan rayuan kursi. Sedang, di Majelis Tabligh yang ada cuma surga&lt;br /&gt;saja yang menjadi harapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berorganisasi, oleh beliau-beliau ini, walaupun  saat itu belum ada&lt;br /&gt;Majelis Tabligh, tapi di benak para pemimpin kita itu sudah jauh&lt;br /&gt;sekali yang dijangkau untuk nanti bagaimana rencana ke depannya.&lt;br /&gt;Mengapa begitu yakin? Sebab tidak mungkin tegaknya Islam, izzul Islam&lt;br /&gt;wal muslimin, itu ditangani oleh orang per-orang. Saya  tidak tahu&lt;br /&gt;persis, penduduk Indonesia saat itu berapa jumlahnya. Saya hanya ingat&lt;br /&gt;ada sekitar 77 jutaan penduduk Indonesia di tahun 1960-an. Jadi, pada&lt;br /&gt;jaman Kyai Dahlan itu kira-kira ada 30 jutaan penduduk Indonesia, pada&lt;br /&gt;saat lahirnya Muhammadiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dihadapi Rasulullah pada jaman beliau, menurut Pak AR, hanya&lt;br /&gt;sekitar 700 ribu. Perkiraan ini didasarkan pada perhitungan bahwa saat&lt;br /&gt;Haji Wada’ jumlah jama’ah yang hadir ada 140 ribu. Jika setiap orang&lt;br /&gt;punya lima anggota keluarga, maka jumlahnya sekitar 700 ribu.&lt;br /&gt;Dibulatkan lagi, misalnya, menjadi  1 juta. Ummat yang sekitar 700&lt;br /&gt;ribu sampai 1 juta itu bisa ditangani karena ada figur Nabi Muhammad&lt;br /&gt;SAW, ada Abu Bakar, ada Umar bin Khattab, dan lain-lainya. Dan yang&lt;br /&gt;kita kenal lainnya, ada sepuluh sahabat Nabi yang dijamin bakal masuk&lt;br /&gt;surga sebelum Rasullah meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini, kita kesulitan menentukan orang-orang yang seperti itu.&lt;br /&gt;Kalau toh ada hanya segelintir. Katakanlah, kalau saya membuat contoh&lt;br /&gt;tentang uswah hasanah, jujur saja, siapa orang Jogja yang layak&lt;br /&gt;menjadi uswah hasanah, kita kesulitan mencarinya. Belum lagi di&lt;br /&gt;Temanggung, siapa yang layak menjadi uswatun hasanah. Padahal&lt;br /&gt;Muhammadiyah telah berkembang sedemikian luas. Ini baru dari sisi soal&lt;br /&gt;uswah hasanah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Kyai Dahlan menyampaikan pengajian di Pekajangan Pekalongan,&lt;br /&gt;ada audien/peserta pengajian itu, yang memper-hatikan betul terhadap&lt;br /&gt;Kyai  Dahlan. Rupanya orang ini adalah orang alim dan orang saleh. Ia&lt;br /&gt;memperhatikan secara seksama wajah Kyai Haji Ahmad Dahlan. Diawasinya&lt;br /&gt;ekspresi wajah dan mimik Kyai Haji Ahmad Dahlan. Apalagi Kyai Dahlan&lt;br /&gt;waktu itu mengaku sebagai pimpinan Persyarikatan yang didirikan di&lt;br /&gt;Jogjakarta. Hanya dengan melihat wajah, orang saleh ini bisa&lt;br /&gt;menentukan apakah seseorang itu saleh, jujur, dan sebagainya. Ia tahu&lt;br /&gt;hal itu tentang Kyai Haji Ahmad Dahlan, tapi ia merasa  tidak puas&lt;br /&gt;dengan hanya melihat penampilan Kyai Dahlan waktu itu.&lt;br /&gt;Ketika Kyai Haji Ahmad Dahlan  pulang ke Jogja orang tadi mengikuti.&lt;br /&gt;Sampai di Jogja ia bertanya kepada orang, di masjid mana Kyai Dahlan&lt;br /&gt;sholat. Ia tidak bertanya tentang apa, tapi cukup bertanya tentang&lt;br /&gt;sholatnya Kyai Haji Ahmad Dahlan. Setengah jam sebelum adzan shubuh,&lt;br /&gt;orang itu sudah datang ke masjid, maksudnya mau menunggu jam berapa&lt;br /&gt;Kyai Haji Ahmad Dahlan datang. Ia tertegun karena orang yang&lt;br /&gt;ditunggunya sudah ada di Masjid itu. Lalu komentarnya, “Pantas kalau&lt;br /&gt;Kyai Haji Ahmad Dahlan mengaku sebagai pemimpin Muhammadiyah”. Orang&lt;br /&gt;itu tidak lain adalah Buya A.R. Sutan Mansur muda. Beliau  adalah&lt;br /&gt;saudara dari Sutan Ismail, seorang mubaligh terkenal di Pekalongan,&lt;br /&gt;yang berasal dari negeri Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi cerita tentang Pak AR Fahruddin. Di mata saya beliau adalah&lt;br /&gt;orang yang paling zuhud di Muhammadiyah, satu-satunya ketua PP&lt;br /&gt;Muhammadiyah yang tidak punya rumah sendiri. Tempat tinggalnya di&lt;br /&gt;Jalan Cik di Tiro adalah milik persyarikatan Muhammadiyah. Ketika&lt;br /&gt;beliau meninggal, istrinya kemudian ikut salah seorang anaknya,&lt;br /&gt;Sukriyanto AR. Sekarang, bekas rumah beliau itu telah dipugar dan&lt;br /&gt;dibangun gedung berlantai tiga yang menjadi  kantor PP Muhammadiyah&lt;br /&gt;Jogjakarta yang baru, yang juga baru diresmikan pada 1 Muharram yang&lt;br /&gt;lalu.&lt;br /&gt;Namun bukan ini persoalannya. Para pengurus PP Muhammadiyah kalau&lt;br /&gt;sakit biasanya memang dilayani oleh Rumah Sakit Muhammadiyah. Seperti&lt;br /&gt;RSU PKU di Jogja atau RSI di Jakarta. Lukman Harun ketika sakit,&lt;br /&gt;sebelum meninggal, juga dilayani oleh Muhammadiyah di RSI Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Pak AR kebetulan sakit dan mau operasi karena sakit, tidak ada&lt;br /&gt;satupun orang Muhammadiyah yang tahu. Pak AR sendiri juga tidak ingin&lt;br /&gt;diberi fasilitas. Tapi, sebuah kelompok pengajian kecil yang tidak&lt;br /&gt;jauh dari kediaman Pak AR tahu kalau Pak AR sakit dan mau operasi.&lt;br /&gt;Mereka tahu betul bagaimana keadaan Pak AR itu, seorang pensiunan&lt;br /&gt;pegawai Penerangan Agama Jawa Tengah yang gaji pensiunannya hanya 80&lt;br /&gt;ribu, bukan ratusan ribu. Kelompok  pengajian tadi lalu menyebarkan&lt;br /&gt;warta, dan terkumpullah uang sebanyak 600 ribu yang kemudian&lt;br /&gt;diserahkan kepada keluarga Pak AR untuk biaya berobat.&lt;br /&gt;Namun, setelah Pak AR sembuh, pengurus kelompok pengajian itu diundang&lt;br /&gt;Pak AR. Pak AR mengucapkan terima kasih atas bantuan tersebut,&lt;br /&gt;kemudian Pak AR memberikan bingkisan. Supaya puas, pengurus tadi&lt;br /&gt;membuka bingkisan itu. Di dalamnya ada uang 300 ribu. Pengurus&lt;br /&gt;kelompok pengajian itu kaget dan berkata bahwa mereka telah ihlas. Pak&lt;br /&gt;AR menjelaskan bahwa operasinya hanya menghabiskan biaya 300 ribu,&lt;br /&gt;maka sisanya dikembalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba, apa ada sekarang orang yang seperti Pak AR itu. Yang ada malah&lt;br /&gt;sebaliknya, ada mubaligh yang sampai menawar harga untuk sekali&lt;br /&gt;ceramahnya. Saya pernah pergi ke Sulawesi, berdampingan dengan&lt;br /&gt;seseorang yang bercerita bahwa ia pernah sekali mengundang penceramah&lt;br /&gt;dari Jakarta. Amplopnya mesti 6 juta, belum termasuk tiket pesawatnya,&lt;br /&gt;dan ini harga mati. Begitulah. Tapi, kalau kita aktif di Muhammadiyah&lt;br /&gt;tidak boleh seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kita garap sekarang ini adalah ummat yang jumlahnya lebih dari&lt;br /&gt;200 juta. Jika pada masa Kyai Haji Ahmad Dahlan itu kira-kira ada 30&lt;br /&gt;juta ummat yang juga  sudah memerlukan kekuatan untuk berdakwah, dan&lt;br /&gt;kekuatan itu berupa organisasi, maka sehebat-hebatnya Zainuddin MZ,&lt;br /&gt;yang dikenal sebagai da’i sejuta ummat, beliau tidak sanggup membangun&lt;br /&gt;ummat. Di Jogja juga ada mubaligh terkenal. Tapi, paling-paling beliau&lt;br /&gt;juga cuma bisa dikenal. Tidak akan bisa membangun ummat, karena untuk&lt;br /&gt;membangun ummat  diperlukan kekuatan massa, dan kita harus mau serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cukup tajam untuk menggugat tentang masalah pendidikan&lt;br /&gt;Muhammadiyah di sini. Saya buat global saja, baik UMS, UMM, UMY,&lt;br /&gt;UHAMKA dan sekitar 130  PTM, ditambah puluhan ribu sekolah&lt;br /&gt;Muham-madiyah, 90% siswa atau mahasiswanya adalah bukan putra&lt;br /&gt;Muhammadiyah. Termasuk di UMY, ketika saat itu ada training untuk&lt;br /&gt;mahasiswa baru, rata–rata sholatnya memakai usholli. Memang ada&lt;br /&gt;sedikit yang berasal dari IPM/IRM.&lt;br /&gt;Gugatan saya, baik yang di sekolah maupun yang di PTM, kalau mereka&lt;br /&gt;masuk di lembaga pendidikan Muhammadiyah, masuk dengan usholli dan&lt;br /&gt;keluar tetap usholli, maka Muhammadiyah sudah gagal dalam&lt;br /&gt;menyelenggarakan pendidikannya. Sehebat apapun sekolah Muhammadiyah,&lt;br /&gt;koq setelah sholat malah yasinan.&lt;br /&gt;Yang lebih ngeri lagi, karena kita tidak memikirkan hal itu, setiap&lt;br /&gt;tahun kita meluluskan sekitar 40 ribu siswa/mahasiswa. Dari sebanyak&lt;br /&gt;itu, berapa yang kemudian menjadi mujahid dakwah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah berbicara dengan Pak Umar Anggoro Jenie (mantan Ketua&lt;br /&gt;Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah), ketika menjelang Muktamar di&lt;br /&gt;Jakarta tentang hal ini. Siapa di antara alumni perguruan Muhammadiyah&lt;br /&gt;itu, yang tampil menjadi mujahid dakwah, pada hal mereka, kurang lebih&lt;br /&gt;lima tahun, di tangan kita, merah hijaunya para sarjana itu kita yang&lt;br /&gt;membuatnya. Juga yang di sekolah-sekolah Muhammadiyah itu, paling&lt;br /&gt;tidak selama tiga tahun mereka kita didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PKI, waktu itu, tidak punya lembaga pendidikan, tapi mereka mampu&lt;br /&gt;melahirkan kader-kader yang militan. Sedangkan di Muhammadiyah, siapa&lt;br /&gt;di antara kita yang pantas di sebut sebagai kader militan. Ini perlu&lt;br /&gt;menjadi PR kita, bagaimana mengurus Muhammadiyah secara serius.&lt;br /&gt;Jangan-jangan di Muhammadiyah ini malah cuma sekedar mencari&lt;br /&gt;penghidupan saja. Apakah kalimat semboyan “Hidup-hidupilah&lt;br /&gt;Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah” masih relevan?&lt;br /&gt;Padahal, waktu itu semboyan ini sangat terkenal dan biasa ditulis di&lt;br /&gt;majalah dan di dinding-dinding gedung amal usaha Muhammadiyah.&lt;br /&gt;Bagaimana kita menjawab pertanyaan ini, dan bagaimana reaksi kita atas&lt;br /&gt;ungkapan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, alhamdulillah, dapat kita perkembangan Muhammadiyah saat ini&lt;br /&gt;sudah sebegitu pesat. Kita mungkin tidak tahu, yang namanya sholat Ied&lt;br /&gt;di lapangan pada waktu itu belum ada di kota Jogjakarta. Sebab saat&lt;br /&gt;itu sholat Ied hanya ada di Masjid Besar Kauman. Oleh Pak Sultan,&lt;br /&gt;tidak boleh shalat Ied di Alun-alun, kalau ingin shalat Ied di&lt;br /&gt;lapangan disuruh cari tempat sendiri, sehingga Muhammadiyah membeli&lt;br /&gt;lapangan Asri di Wirobrajan. Dan sekarang ini sudah menyebar ke&lt;br /&gt;mana-mana kalau sholat Ied itu diseleng-garakan di lapangan, sesuai&lt;br /&gt;dengan sunnah Nabi. Memang ada 9 hadis tentang masalah ini, tapi hanya&lt;br /&gt;ada satu hadis yang menyebut shalat Ied di masjid dan itu pun hadis&lt;br /&gt;dhoif.&lt;br /&gt;Kalau kita lihat di masjid-masjid, jika ada garis shaf yang miring&lt;br /&gt;tidak sejajar dengan bangunan masjid (karena menyesuaikan arah&lt;br /&gt;kiblat), itu adalah hasil dari perjuangan Kyai Dahlan. Dulu, untuk&lt;br /&gt;memperjuangkan lurusnya arah kiblat ini, langgar Kyai Dahlan di Kauman&lt;br /&gt;dirobohkan oleh tentara Kraton, karena Kyai Dahlan membetulkan arah&lt;br /&gt;kiblat di Masjid Besar Kauman. Itu adalah salah satu contoh&lt;br /&gt;pengorbanan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tidak tahu bagaimana jasa-jasa Kyai Haji Ahmad Dahlan. Termasuk&lt;br /&gt;dalam hal qurban yang dilaksanakan di kantor-kantor,&lt;br /&gt;sekolahan-sekolahan, dan lain-lainnya. Semua itu adalah jasa Kyai&lt;br /&gt;Ahmad Dahlan. Sekarang, dapat kita lihat sudah merebak di mana-mana,&lt;br /&gt;misalnya di kantor bupati menyembelih qurban seekor lembu, gubernur&lt;br /&gt;juga seekor lembu, dan sebagainya. Padahal menyembelih qurban di&lt;br /&gt;kantor dan sekolahan itu tidak ada nashnya. Alasanya hanya satu, yaitu&lt;br /&gt;latihan. Dan masih banyak lagi amal usaha Muhammadiyah yang dengan itu&lt;br /&gt;orang menjadi tahu Islam yang sebenarnya, melalui karya-karya Islami&lt;br /&gt;Muhammadiyah tersebut.&lt;br /&gt;Yang namanya surat Al-Maun, dulu hanya menjadi hafalan orang saja.&lt;br /&gt;Tapi di benak Kyai Dahlan, jadilah pengamalan dari surah itu,&lt;br /&gt;panti-panti asuhan, rumah sakit-rumah sakit, yang merupakan pemahaman&lt;br /&gt;beliau atas surat Al-Maun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah keberhasilan dakwah Muhammadiyah dapat dilihat. Tanpa ada&lt;br /&gt;benturan yang berarti ia menjadi  diminati oleh ummat. Cuma, sekarang&lt;br /&gt;masalahnya terletak pada diri kita sendiri, karena kita ini sudah&lt;br /&gt;menjadi pewaris amal usaha Kyai Haji Ahmad Dahlan. Pertanyaannya,&lt;br /&gt;untuk apa amal usaha yang telah diwariskan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu.&lt;br /&gt;Mau diapakan, misalnya, anak-anak asuh panti asuhan yang hidup, makan,&lt;br /&gt;dan semuanya dicukupi Muhammadiyah, mau diapakan lagi mereka ini kalau&lt;br /&gt;tidak kita jadikan kader kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat dan Kelima, Bermuhammadiyah adalah Berjuang dan Berjihad serta&lt;br /&gt;Berkorban.&lt;br /&gt;Yang keempat, bermuhammadiyah itu berjuang dan berjihad.&lt;br /&gt;Yang kelima, bermuhammadiyah adalah berkorban.&lt;br /&gt;Untuk dua hal yang terakhir ini belum sempat saya angkat. Sebenarnya&lt;br /&gt;mau saya sampaikan karena waktunya belum ada, maka saya minta maaf.::&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Transkrip Ceramah Ustadz Ibnu Juraimi dalam Pengajian di PDM&lt;br /&gt;Temanggung Jawa Tengah. Ditranskrip oleh Arief Budiman Ch.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8859049449550037071-6210724289666595076?l=alfirqotunnajiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/6210724289666595076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/6210724289666595076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/2009/04/makna-bermuhammadiyah.html' title='MAKNA BERMUHAMMADIYAH'/><author><name>YAHYA AL BUNY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00500596638645663569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SMnoh7LksdI/AAAAAAAAAAM/HWHohIDKDrg/S220/ais+ami+jenggot.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SfUzsKvzTvI/AAAAAAAAAKc/sB_JhYBdsmE/s72-c/muhammadiyah-4.gif' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071.post-2299620150147395373</id><published>2009-04-14T21:34:00.000-07:00</published><updated>2009-04-14T21:42:44.237-07:00</updated><title type='text'>KOMITMEN DAKWAH MUHAMMADIYAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SeVln1Kg_yI/AAAAAAAAAKU/bg0lBXG1UHM/s1600-h/Opened_Qur%27an.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 294px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SeVln1Kg_yI/AAAAAAAAAKU/bg0lBXG1UHM/s320/Opened_Qur%27an.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5324773869395967778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Drs. H. Syamsul Hidayat, M.A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu, di Universitas Muhammadiyah Malang diselenggarakan Kolokium Pemikiran Islam. Acara dimaksudkan untuk menyoroti perkembangan pemikiran Islam di lingkungan Muhammadiyah, sekaligus memberikan kontribusi pemikiran kepada Muhammadiyah sebagai gerakan Islam modern di Indonesia. Tentu acara ini memiliki maksud-maksud dan tujuan yang mulia bagi perkembangan dan pengembangan Muhammadiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. Dr. M. Dien Syamsuddin, M.A. yang hadir memberkan keynote speech menegaskan bahwa Muhammadiyah, khususnya dalam masalah aqidah, ubudiyah dan akhlak adalah berpaham salafi. Dalam suatu kesempatan workshop Pemikiran Islam yang diselenggaran Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah di Universtas Muhammadiyah Surakarta empat tahun silam (2004) beliau menjelaskan tentang kesalafian Muhammadiyah ini dengan menunjukkan komitmen Muhamamdiyah untuk al-ruju ila al-Quran wal Sunnah dan manhaj salafush shalih. Akan tetapi dalam visi sosial dan muamalah dunyawiyyah, masih kata Dien,Muhammadiyah mengambil posisi tengahan. Artinya berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Muhammadiyah akan bergerak aktif mengikuti perkembangan iptek sekaligus memberikan arah perubahan dan perkembangan itu dengan pandangan hidup Islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya tidak salah apabila, Prof. Azyumardi Azra menyebut Muhamamdiyah itu menganut salafisme moderat (salafiyyah wasatiyah). Beliau mendorong agar Muhammadiyah tetap istiqamah dalam manhaj salafush shalih (merujuk kepada generasi awal Islam/: shahabat, tabi’in dan tabi’in yang shalih) dalam masalah keagamaan yang bersifat baku (al-tsawabit), tetapi selalu dinamis sesuai jiwa ajaran Islam dalam masalah keagamaan yang memungkinkan perubahan dan pengembangan (al-mutaghayyirat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan sederhana ini ingin menunjukkan bahwa sungguh-sungguh Muhammadiyah ini lahir sebagai bagian dari gerakan dakwah salafiyah. Dakwah Pemurnian Islam sesuai dengan manhaj salafus shalih, tetapi mengikuti perkembangan peradaban manusia dan memberikan arah perubahan itu dengan manhaj Islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjanjikan Madu tetapi Menyebarkan Racun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada acara kolokium di UMM di atas, yang dalam proposalnya menjanjikan untuk memberikan kotribusi bagi Muhammadiyah, tetapi ternyata dalam perjalannya justru terlontar pikiran-pikiran liar dan liberal yang tentu saja tidak akan dapat memberikan kontribusi positif bagi Muhammadiyah, akan tetapi sebaliknya malah meracuni Muhamamdiyah dengan pikiran-pikiran liberal yang ”menyesatkan”. Hal ini dibuktikan oleh lontaran pikiran nyeleneh dari salah satu pembicara yang menyatakan bahwa perubahan kiblat yang dilakukan Rasulullah dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram (Ka’bah) bukan perintah wahyu. Tetapi hasil riset politik Nabi, sehingga perubahan itu hanya merupakan kebijakan politik Nabi. Ini adalah lontaran pemikiran yang jauh menyimpang dari manhaj salafus shalih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih berat lagi adalah usulan dari seorang pembicara, Nurkholis Setiawan, yang hadir menggantikan Prof Amin Abdullah. Ia mengusulkan agar Muhammadiyah mengadopsi pemikiran Syahrur dan Arkoun dalam menafsirkan Al-Quran, karena tafsir konvensional yang ada sekarang ini dipandang tidak memadai dan tidak relevan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam makalahnya, Nurkholis banyak merujuk kepada Syahrur dalam persoalan pidana. Katanya, “Untuk persoalan pidana, tidak berlebihan jika kita melihat proposal pemikirah Syahrur, yang menitik beratkan kepada teori batas.” Menurut Syahrur kasus pemidanaan tidak harus di-amar-kan sesuai dengan bunyi leterlijk. Melainkan diselaraskan dengan peradapan komunitas yang menjalankannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurut model pemikiran Syahrur, masyarakat Muslim Indonesia memiliki ruangan yang cukup untuk memberikan kontribusi sekaligus ‘memberdayakan’ tafsir sebagai salah satu bangunan metodologis melahirkan ketetapan hukum,” tulis Nur Kholis dalam makalahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diketahui bahwa Syahrur sebenarnya bukan seorang ahli dalam hukum Islam. Setelah lulus dari sekolah menengahnya di lembaga pendidikan ‘Abd al-Rahman al-Kawakibi, Damaskus tahun 1957 ia mendapatkan beasiswa pemerintah untuk studi teknik sipil (handasah madaniyah) di Moskow, Uni Sovyet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berhasil meraih gelar Diploma dalam teknik sipil pada 1964 dan kemudian bekerja sebagai dosen Fakultas Teknik Universitas Damaskus. Syahrur lantas dikirim oleh pihak Universitas ke Irlandia ‘Ireland National University’ untuk memperoleh Master dan Doktoralnya dalam spesialisasi Mekanika Pertanahan dan Fondasi( 1969). Dan gelar doktornya di jurusan yang sama dia selesaikan tahun 1972.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insinyur pertanahan ini mendadak terkenal setelah menolak hijab dan jilbab. Di beberapa tulisannya, apalagi dalam bukunya yang berjudul Nahwa Ushul Jadid li Al-Fiqh al-Islami (Menuju Metode Baru dalam Fiqih Islam) sangat menentang hijab. Bukunya, Al-Kitab wa al-Qur’an: Qira’ah Mu’ashirah, yang sangat kontroversial tiba-tiba membuat namanya menjadi terangkat. Bahkan dipuja-puja kaum liberal di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, doktor yang banyak dirujuk kaum liberal ini juga membolehkan ‘kumpul kebo’. Pada bulan Januari, situs Al-Arabiya menanyakan masalah pergaulan bebas yang banyak menjangkiti para remaja Suriah, Syahrur mengatakan bahwa apa yang dilakukan para remaja itu, jika hal itu sesuai dengan kemauan mereka, tanpa akad, atau tanpa didampingi seorang syekh atau tanpa mendapat izin, maka hal itu halal, katanya. Dan tokoh seperti inilah yang ingin dijadikan sandaran kaum liberal untuk mengkaji Al-Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurlah, pada sessi ini ditampilkan juga Ustadz Muammal Hamidy, dari PWM Jawa Timur. Dalam makalahnya, Muammal yang juga pengasuh Ma’had Aly Manarul Islam Lil Fiqh wal-Da’wah Bangil ini, mengungkap peringatan Rasulullah saw, bahwa ”Siapa yang menafsiri Al-Quran dengan ra’yunya, maka siap-siaplah untuk menempati tempat duduknya di neraka.” Ia pun menyitir hadits lain: ”Akan datang suatu masa menimpa umatku, yaitu banyak orang yang ahli baca Al-Quran tetapi sedikit sekali yang memahami hukum, dicabutnya ilmu dan banyak kekacauan. Menyusul akan datang suatu masa, ada sejumlah orang yang membaca Al-Quran tetapi Al-Quran itu tidak melampaui tenggorokannya. Kemudian menyusul satu masa ada orang musyrik membantah orang mukmin tentang Allah (untuk mempertahankan kesyirikannya) dengan bahasa yang sama (HR Thabrani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz Muammal Hamidy kemudian menyimpulkan: (1) Al-Quran jangan ditafsiri sesuai selera, (2) Pemahaman terhadap Al-Quran hendaknya didasari dengan ilmu, (3) Ilmu untuk memahami hukum-hukum Al-Quran harus dikuasai dengan baik, (4) Membaca Al-Quran minimal hendaknya disertai dengan pengertiannya, dan (5) Ummat Islam harus mewaspadai orang-orang yang mempergunakan dalil Al-Quran dan Sunnah untuk kepentingan yang tidak Islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adian Husaini, anggota MTDK PP Muhammadiyah dalam catatan akhir pekan di hidayatullah.com, menegaskan, peringatan tokoh senior Muhammadiyah Jawa Timur ini kiranya perlu kita perhatikan. Sebab, umat Islam di Indonesia saat ini banyak dijejali dengan beragam model penafsiran yang ditawarkan oleh sebagian kalangan cendekiawan yang isinya justru mengacak-acak Al-Quran, seperti penafsiran yang menghalalkan perkawinan homoseksual dan perkawinan muslimah dengan laki-laki non-Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah penafsiran Al-Quran, menurut Adian adalah masalah yang sangat mendasar dalam Islam. Sebab, melalui ilmu inilah, umat Islam memahami firman Allah SWT. Karena itu, dalam Mukaddimah Tafsirnya, Ibn Katsir memaparkan, bagaimana hati-hatinya para sahabat Nabi saw dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Jika mereka tidak paham terhadap makna suatu ayat, maka mereka bertanya kepada sahabat lain yang dipandang lebih ahli dalam masalah tersebut. Ibn Katsir menasehatkan, jika tidak ditemukan penafsiran Al-Quran dalam Al-Quran, as-Sunnah, dan pendapat sahabat, maka carilah penafsiran itu dalam pendapat para tabi’in.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. dengan tawadhu’nya pernah menyatakan: “Bumi manakah yang akan menyanggaku dan langit manakah yang akan menaungiku jika aku mengatakan sesuatu yang tidak aku ketahui tentang Kitabullah?” Ibn Katsir juga mengutip hadits Rasulullah saw: “Barangsiapa yang mengucapkan (sesuatu) tentang Al-Quran berdasarkan ra’yunya atau berdasarkan apa yang tidak dipahaminya, maka bersiap-siaplah untuk menempati neraka.” (HR Tirmidzi, Abu Daud, Nasa’i). Abu Ubaid pernah juga memperingatkan: “Hati-hatilah dalam penafsiran, sebab ia merupakan pemaparan tentang Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap hati-hati inilah yang mendorong lahirnya para ulama Tafsir yang serius. Para mufassir Al-Quran harus sangat berhati-hati, sebab tanggung jawab mereka di hadapan Allah SWT sangatlah berat. Bagi yang bukan mufassir pun wajib memperhatikan masalah ini, dan berhati-hati dalam memilih tafsir. Jangan sampai memilih tafsir Al-Quran yang dibuat sesuai dengan selera dan hawa nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai satu organisasi Islam yang besar, tentu Muhammadiyah wajib memiliki banyak Ahli Tafsir Al-Quran. Kita menyambut baik setiap upaya ijtihad yang dilakukan oleh para ulama atau pemikir Muslim mana pun. Namun, kita juga perlu berhati-hati dalam soal penafsiran. Tidak setiap ”kilasan pemikiran” bisa dikatakan ijtihad. Setiap lontaran pemikiran yang baru tentang Tafsir Al-Quran, sebaiknya dikaji dengan seksama terlebih dahulu secara terbatas di kalangan pakar Tafsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kekacauan dan pengacauan tafsir Quran yang sempat dilontarkan dalam kolokium di UMM itu adalah ”teori batas” dari Syahrur yang diajukan Nur Kholish adalah batas dalam soal waris. Pola 2:1 bagi laki-laki dan wanita, menurut Syahrur, adalah formula batas atas dan batas bawah. Jadi, menurut formula itu, batas atas bagi laki-laki adalah 66,6 persen dan batas bawah bagi wanita adalah 33,33 persen. Jadi, bisa dilakukan ijtihad baru, seorang laki-laki mendapatkan warisan 60 persen dan seorang wanita mendapatkan 40 persen. Aspek lokalitas turut memberikan warna dalam pergeseran 66,6 banding 33,3 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekacauan Teori Batas ini bisa dilihat dalam kasus pakaian laki-laki. Syahrur berpendapat bahwa batas bawah (batas minimal) aurat laki-laki yang harus ditutup hanyalah kemaluannya. ”Karena keadaan cuaca berbeda-beda pada tiap penduduk bumi dari panas yang terik sampai dingin yang menggigit. Maka batas minimal pakaian yang diberikan bagi laki-laki adalah menutup kemaluan.” Karena itu, kata Syahrur, laki-laki boleh berenang hanya dengan mengenakan celana renang saja. Yang dilarang adalah melihat laki-laki dalam keadaan telanjang bulat. (Lihat, Muhammad Syahrur, Islam dan Iman: Aturan-sturan Pokok, (Terj.) (Yogya: Jendela, 2002), hal. 71.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 6 September 2004, situs JIL pernah menurunkan sebuah artikel yang membahas tentang Teori Batas Syahrur, ditulis oleh seorang dosen di Jurusan Tafsir-Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ditulis di situ, bahwa dalam soal pakaian wanita (libâs al-mar’ah), Syahrur berpendapat bahwa batas minimum pakaian perempuan adalah satr al-juyûb (Q.S al-Nur: 31) atau menutup bagian dada (payudara), kemaluan, dan tidak bertelanjang bulat. Batas maksimumnya adalah menutup sekujur anggota tubuh, kecuali dua telapak tangan dan wajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa melihat, betapa absurdnya teori semacam ini. Dengan ”Teori Batas” ala Syahrur ini, maka boleh saja wanita mengenakan bikini di depan umum, yang penting dia sudah menutupi batas minimal, yakni kemaluan, payudara, dan tidak telanjang bulat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan model penafsiran yang sangat ”fleksibel” seperti itu, kita paham, mengapa sebagian kalangan sangat menyukai metode tafsir al-Quran yang disebut ”Teori Batas” ala Syahrur ini. Meskipun model tafsir al-Quran semacam ini yang ditawarkan dalam acara Kolokium Nasional Pemikiran Islam di Unmuh Malang, kita berharap, Majelis Tarjih Muhammadiyah, tidak tergoda untuk memungutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali Ke Missi Ahmad Dahlan dengan Dakwah Salafiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah dakwah Islam di Indonesia, KH. Ahmad Dahlan adalah salah satu tokoh penting dari gerakan salafiyah, yakni gerakan pemurnian Islam seperti dirintis oleh Imam Ahmad ibn Hanbal, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Muhammad ibn Abdul Wahhab, Muhammad Rasyid Ridha dan seterusnya. Di Indonesia sendiri dakwal salafiyyah dipelopori oleh tokoh yang dikenal dengan pemimpin kaum Paderi, yakni Imam Bonjol, yang selanjutnya diteruskan oleh gerakan Sumatera Tawalib. Itulah sebabnya, ketika Dakwah Muhammadiyah merambah ke Sumatera Barat, sambutannya begitu dahsyat, dan banyak tokoh Tawalib yang bergabung dengan Muhammadiyah, dan Muhammadiyah Sumatera Barat menjadi daerah kantong Muhammadiyah dengan kualitas dan kuantitas anggota yang sangat spektakuler, bahkan melebihi Yogyakarta tempat kelahirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ideologi Salafiyah” yang menjadi manhaj KH. Ahmad Dahlan memang benar-benar merujuk kepada para ulama yang dikenal memiliki kommitmen terhadap manhaj salaf. Beliau membaca buku-buku Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim, seperti kitab ”al-Tawassul wal Wasilah, Madarij al-Salikin, Al-Aqidah al-Wasitiyyah, juga membaca Kitab Tauhid Ibnu Wahhab, serta buku-buku Rasyid Ridha. Bahkan ada riwayat yang menyebutkan bahwa Ahmad Dahlan sempat berjumpa dengan Syaikh Rasyid Ridha tersebut di Mekkah saat beliau bermukim di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita baca buku ”Pelajaran KHA Dahlan: 7 Falsafah Ajaran dan 17 Kelompok Ayat Al-Quran” yang dihimpun oleh KHR. Hajid, sangat terasa sentuhan manhaj salaf, yang sangat tegas dan dalam memurnikan aqidah, ibadah dan penguatan akan tazkiyatun nafs, sebagaimana banyak diajarkan oleh ulama-ulama salaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, sangat tidak berlebihan, kalau warga Muhammadiyah kembali mengkaji falsafat dan ajaran KH Ahmad Dahlan, yang benar-benar menanamkan jiwa berjuang yang tinggi untuk menegakkan syari’at agama Islam secara kaffah dan murni. Bersih dari takhayyul, bid’ah, churafat (TBC) dan kemusyrikan, baik syirk asghar maupun syirk akbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat aneh apabila ada Pimpinan atau anggauta Muhammadiyah yang ingin menghidupkan amalan bid’ah dan khurafat, seperti yasinan, tahlilan untuk orang mati pada hari ke 3, 7, 40, 100, dan seterusnya. Juga getol menghidupkan ruwatan, dan sejenisnya, yang semuanya itu dilakukan dengan mengatasnamakan dakwah kultural. Sementara banyak kita jumpai, para santri dan beberapa kyai yang selama ini getol menghidupkan TBC, dan menggukanakannya sebagai media dakwah, justru telah menyadari kekeliruannya, kemudian diteruskan dengan menulis buku-buku yang menguraikan kebid’ahaan dan penyimpangan ritual-ritual seperti tahlilan, manakiban, yasinan dan istighasahan dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bersyukur atas kembalinya para kyai dan santri kepada dakwah salafiyah, dakwah pemurnian aqidah, ibadah dan akhlak, dengan pengendalian muamalah agar sesuai dengan prinsip muamalah Islam dengan mengikuti perkembangan jaman. Kita berharap mereka bisa gayung bersambut membantu Muhammadiyah dalam menguatkan dan menyebarkan dakwah salafiyah, dakwah yang bijak dan santun kepada setiap mad’u. Dakwah yang membimbing umat kepada jalan yang benar sesuai pesan-pesan al-Quran dan al-Sunnah, sejalan dengan manhaj salafush shalih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di sisi lain kita juga menyesalkan beberapa kalangan da’i atau mubaligh, terlebih-lebih yang mengklaim dirinya sebagai ”da’i salafi” mencemooh dan mencecar Muhammadiyah telah bergelimang dengan berbagai prraktek bid’ah. Mestinya malah memberikan dukungan dan bantuan agar Muhammadiyah selalu di jalan manhaj salafush shalih, meskipun tampil dengan wajah modern, seperti dengan kemajuan dalam pendidikan dan ilmu pengetahuan, serta sistem organisasi dan amal usaha yang variatif. Sementara itu para pimpinan dan warga Muhammadiyah sebagaimana manhaj tarjih, dituntut bersikap terbuka, dan siap terus belajar. Siap menerima koreksi dari siapa pun selama sesuai dengan dasar Al-Quran dan al-Sunnah. Juga tidak boleh merasa cukup ilmu, padahal masih sangat jauh kekurangannya. Ibarat kata di dalam tempurung. Ilmu-ilmu Islam begitu luas dan dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga Muhammadiyah wajib mengapresiasi putusan-putusan para ulamanya yang terhimpun dalam Majelis Tarjih dan Tajdid, terutama HPT (Himpunan Putusan Tarjih), tetapi tetap harus membuka wawasan bahwa diluar HPT, masih banyak yang harus dikaji dan diamalkan. Artinya warga Muhammadiyah tidak boleh berhenti belajar dengan menganggap HPT adalah segala-galanya. Insyaallah dengan beginilah kita meneguhkan identitas dan ideologi persyarikatan. Istilahnya Pak Amien Rais kader dan anggota Muhammadiyah haruslah memiliki komitmen dan wawasan dalam bermuhammadiyah. KH. Ahmad Dahlan pun pernah aktif dalam Sarekat Islam dan Budi Utomo, juga bergaul akrab dengan tokoh Al-Irsyad, seperti Ahmad Syurkati. Beliau belajar kepada para ulama yang bermanhaj Salaf, seperti Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim lewat kitab-kitabnya, juga Muhammad bin Abdul Wahhab, Rahmatullah al-Hind, dan Rasyid Ridha. Tetapi juga mengambil semangat pembaharuan terutama dalam urusan ilmu, pendidikan dan urusan duniawi, misalnya Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini dapat dimengerti bahwa teguhnya ideologi Muhammadiyah tidak dengan menutup diri dan fanatik buta, Tetapi justru harus membuka diri untuk menerima kebenaran dari siapa pun selama sejalan dengan Al-Quran dan Al-Sunnah sesuai dengan pemahaman salafush shalih. Nasrun minallah wa fathun qarib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Wakil Ketua MTDK Muhammadiyah)&lt;br /&gt;di 16:59 0 komentar&lt;br /&gt;Rabu, 2008 April 23&lt;br /&gt;Pendidikan S2 Studi Islam di UMS&lt;br /&gt;Program S2 Studi Islam (Magister Studi Islam) UMS, baik kelas regular maupun kelas internasional masih membuka pendaftaran mahasiswa baru hingga Jumat, 25 April 2008 (sebelum Jumat).&lt;br /&gt;Program ini akan melahirkan intelektual dan profesional dalam ilmu keislaman yang berangkat dan berdasar pada Islamic Worldview. Artinya belajar Islam secara Islam, sehingga menambah ilmu dan iman-taqwa seseorang.&lt;br /&gt;Program ini akan membendung arus pembaratan (westrnisasi) yang dilancarkan secara sistematis dan sistemik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8859049449550037071-2299620150147395373?l=alfirqotunnajiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/2299620150147395373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/2299620150147395373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/2009/04/komitmen-dakwah-muhammadiyah.html' title='KOMITMEN DAKWAH MUHAMMADIYAH'/><author><name>YAHYA AL BUNY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00500596638645663569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SMnoh7LksdI/AAAAAAAAAAM/HWHohIDKDrg/S220/ais+ami+jenggot.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SeVln1Kg_yI/AAAAAAAAAKU/bg0lBXG1UHM/s72-c/Opened_Qur%27an.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071.post-5807646101484365899</id><published>2009-04-13T00:01:00.000-07:00</published><updated>2009-04-13T00:05:43.702-07:00</updated><title type='text'>SOMBONG VS TAWADLU</title><content type='html'>Sifat sombong adalah sesuatu yang sangat tercela. Karena Al Qur’an dan As Sunah mencelanya dan mengajak kita untuk meninggalkannya. Bahkan orang yang mempunyai sifat ini diancam tidak masuk ke dalam surga. Sebaliknya, di dalam Al Qur’an Allah memuji hamba-hamba-Nya yang rendah hati dan tawadhu’ kepada sesama. Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati dan apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. Al Furqaan: 63)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celaan Terhadap Kesombongan dan Pelakunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala juga berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تِلْكَ الدَّارُ الْآَخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah negeri akhirat yang Kami sediakan bagi orang-orang yang tidak berambisi untuk menyombongkan diri di atas muka bumi dan menebarkan kerusakan.” (QS. Al Qashash: 83)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adz Dzahabi rahimahullah berkata, “Kesombongan yang paling buruk adalah orang yang menyombongkan diri kepada manusia dengan ilmunya, dia merasa hebat dengan kemuliaan yang dia miliki. Orang semacam ini tidaklah bermanfaat ilmunya untuk dirinya. Karena barang siapa yang menuntut ilmu demi akhirat maka ilmunya itu akan membuatnya rendah hati dan menumbuhkan kehusyu’an hati serta ketenangan jiwa. Dia akan terus mengawasi dirinya dan tidak bosan untuk terus memperhatikannya. Bahkan di setiap saat dia selalu berintrospeksi diri dan meluruskannya. Apabila dia lalai dari hal itu, dia pasti akan terlempar keluar dari jalan yang lurus dan binasa. Barang siapa yang menuntut ilmu untuk berbangga-banggaan dan meraih kedudukan, memandang remeh kaum muslimin yang lainnya serta membodoh-bodohi dan merendahkan mereka, sungguh ini tergolong kesombongan yang paling besar. Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sekecil dzarrah (anak semut), la haula wa la quwwata illa billah.” (lihat Al Kaba’ir ma’a Syarh Ibnu ‘Utsaimin, hal. 75-76 cet. Darul Kutub ‘Ilmiyah. Sayangnya di dalam kitab ini saya menemukan kesalahan cetak, seperti ketika menyebutkan ayat dalam surat An Nahl di atas, di sana tertulis An Nahl ayat 27 padahal yang benar ayat 23. Wallahul muwaffiq)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu Menumbuhkan Sifat Tawadhu’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Salah satu tanda kebahagiaan dan kesuksesan adalah tatkala seorang hamba semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah pula sikap tawadhu’ dan kasih sayangnya. Dan semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya. Setiap kali bertambah usianya maka semakin berkuranglah ketamakan nafsunya. Setiap kali bertambah hartanya maka bertambahlah kedermawanan dan kemauannya untuk membantu sesama. Dan setiap kali bertambah tinggi kedudukan dan posisinya maka semakin dekat pula dia dengan manusia dan berusaha untuk menunaikan berbagai kebutuhan mereka serta bersikap rendah hati kepada mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau melanjutkan, “Dan tanda kebinasaan yaitu tatkala semakin bertambah ilmunya maka bertambahlah kesombongan dan kecongkakannya. Dan setiap kali bertambah amalnya maka bertambahlah keangkuhannya, dia semakin meremehkan manusia dan terlalu bersangka baik kepada dirinya sendiri. Semakin bertambah umurnya maka bertambahlah ketamakannya. Setiap kali bertambah banyak hartanya maka dia semakin pelit dan tidak mau membantu sesama. Dan setiap kali meningkat kedudukan dan derajatnya maka bertambahlah kesombongan dan kecongkakan dirinya. Ini semua adalah ujian dan cobaan dari Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya. Sehingga akan berbahagialah sebagian kelompok, dan sebagian kelompok yang lain akan binasa. Begitu pula halnya dengan kemuliaan-kemuliaan yang ada seperti kekuasaan, pemerintahan, dan harta benda. Allah ta’ala meceritakan ucapan Sulaiman tatkala melihat singgasana Ratu Balqis sudah berada di sisinya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini adalah karunia dari Rabb-ku untuk menguji diriku. Apakah aku bisa bersyukur ataukah justru kufur.” (QS. An Naml: 40).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali beliau memaparkan, “Maka pada hakikatnya berbagai kenikmatan itu adalah cobaan dan ujian dari Allah yang dengan hal itu akan tampak bukti syukur orang yang pandai berterima kasih dengan bukti kekufuran dari orang yang suka mengingkari nikmat. Sebagaimana halnya berbagai bentuk musibah juga menjadi cobaan yang ditimpakan dari-Nya Yang Maha Suci. Itu artinya Allah menguji dengan berbagai bentuk kenikmatan, sebagaimana Allah juga menguji manusia dengan berbagai musibah yang menimpanya. Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ . وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ . كَلَّا …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya dengan memuliakan kedudukannya dan mencurahkan nikmat (dunia) kepadanya maka dia pun mengatakan, ‘Rabbku telah memuliakan diriku.’ Dan apabila Rabbnya mengujinya dengan menyempitkan rezkinya ia pun berkata, ‘Rabbku telah menghinakan aku.’ Sekali-kali bukanlah demikian…” (QS. Al Fajr : 15-17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya tidaklah setiap orang yang Aku lapangkan (rezekinya) dan Aku muliakan kedudukan (dunia)-nya serta Kucurahkan nikmat (duniawi) kepadanya adalah pasti orang yang Aku muliakan di sisi-Ku. Dan tidaklah setiap orang yang Aku sempitkan rezkinya dan Aku timpakan musibah kepadanya itu berarti Aku menghinakan dirinya.” (Al Fawa’id, hal. 149)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketawadhu’an ‘Umar bin Al Khaththab radhiyallahu’anhu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan di dalam Al Mudawwanah Al Kubra, “Ibnul Qasim mengatakan, Aku pernah mendengar Malik membawakan sebuah kisah bahwa pada suatu ketika di masa kekhalifahan Abu Bakar ada seorang lelaki yang bermimpi bahwa ketika itu hari kiamat telah terjadi dan seluruh umat manusia dikumpulkan. Di dalam mimpi itu dia menyaksikan Umar mendapatkan ketinggian dan kemuliaan derajat yang lebih di antara manusia yang lain. Dia mengatakan: Kemudian aku berkata di dalam mimpiku, ‘Karena faktor apakah Umar bin Al Khaththab bisa mengungguli orang-orang yang lain?” Dia berkata: Lantas ada yang berujar kepadaku, ‘Dengan sebab kedudukannya sebagai khalifah dan orang yang mati syahid, dan dia juga tidak pernah merasa takut kepada celaan siapapun selama dirinya tegak berada di atas jalan Allah.’ Pada keesokan harinya, laki-laki itu datang dan ternyata di situ ada Abu Bakar dan Umar sedang duduk bersama. Maka dia pun mengisahkan isi mimpinya itu kepada mereka berdua. Ketika dia selesai bercerita maka Umar pun menghardik orang itu seraya berkata kepadanya, “Pergilah kamu, itu hanyalah mimpi orang tidur!” Lelaki itupun bangkit meninggalkan tempat tersebut. Ketika Abu Bakar telah wafat dan Umar memegang urusan pemerintahan, maka beliau pun mengutus orang untuk memanggil si lelaki itu. Kemudian Umar berkata kepadanya, “Ulangi kisah mimpi yang pernah kamu ceritakan dahulu.” Lelaki itu menjawab, “Bukankah anda telah menolak cerita saya dahulu?!” Umar mengatakan, “Tidakkah kamu merasa malu menyebutkan keutamaan diriku di tengah-tengah majelis Abu Bakar sementara pada saat itu dia sedang duduk di tempat itu?!” Syaikh Abdul Aziz As Sadhan mengatakan, “Umar radhiyallahu ‘anhu tidak merasa ridha keutamaan dirinya disebutkan sementara di saat itu Ash Shiddiq (Abu Bakar) -dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu jelas lebih utama dari beliau- hadir mendengarkan kisah itu. walaupun sebenarnya dia tidak perlu merasa berat ataupun bersalah mendengarkan hal itu, akan tetapi inilah salah satu bukti kerendahan hati beliau radhiyallahu ‘anhu.” (lihat Ma’alim fi Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 103-104)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8859049449550037071-5807646101484365899?l=alfirqotunnajiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/5807646101484365899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/5807646101484365899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/2009/04/sombong-vs-tawadlu.html' title='SOMBONG VS TAWADLU'/><author><name>YAHYA AL BUNY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00500596638645663569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SMnoh7LksdI/AAAAAAAAAAM/HWHohIDKDrg/S220/ais+ami+jenggot.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071.post-9040464080686581055</id><published>2009-04-06T07:54:00.000-07:00</published><updated>2009-04-06T08:30:34.794-07:00</updated><title type='text'>Fatwa Syaikh Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani Tentang Pemilu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SdofujPwXbI/AAAAAAAAAKM/DT5sdpLb6WY/s1600-h/logo-pemilu.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 174px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SdofujPwXbI/AAAAAAAAAKM/DT5sdpLb6WY/s320/logo-pemilu.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321600794287431090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Fatwa Syaikh Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani Tentang Pemilu&lt;br /&gt;Kategori: Manhaj Salaf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya (Abdullah bin Taslim): Sehubungan dengan Pemilu untuk memilih presiden yang sebentar lagi akan diadakan di Indonesia, dimana Majelis Ulama Indonesia mewajibkan masyarakat Indonesia untuk memilih dan mengharamkan golput, bagaimana sikap kaum muslimin dalam menghadapi masalah ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Malik: Segala puji bagi Allah, serta salawat, salam dan keberkahan semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada keluarga dan para sahabatnya, serta orang-orang yang setia mengikuti jalannya, amma ba’du:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini mayoritas negara-negara Islam menghadapi cobaan (berat) dalam memilih pemimpin (kepala negara) mereka melalui cara pemilihan umum, yang ini merupakan (penerapan) sistem demokrasi yang sudah dikenal. Padahal terdapat perbedaan yang sangat jauh antara sistem demokrasi dan (syariat) Islam (dalam memilih pemimpin), yang ini dijelaskan oleh banyak ulama (ahlus sunnah wal jama’ah). Untuk penjelasan masalah ini, saudara-saudaraku (sesama ahlus sunnah) bisa merujuk kepada sebuah kitab ringkas yang ditulis oleh seorang ulama besar dan mulia, yaitu kitab “al-’Adlu fil Islaam wa laisa fi dimokratiyyah al maz’uumah” (Keadilan yang hakiki ada pada syariat Islam dan bukan pada sistem demokrasi yang dielu-elukan), tulisan guru kami syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-’Abbaad al-Badr –semoga Allah menjaga beliau dan memanjangkan umur beliau dalam ketaatan kepada-Nya –.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Ala kulli hal, pemilihan umum dalam sistem demokrasi telah diketahui, yaitu dilakukan dengan cara seorang muslim atau kafir memilih seseorang atau beberapa orang tertentu (sebagai calon presiden). Semua perempuan dan laki-laki juga ikut memilih, tanpa mempertimbangkan/membedakan orang yang banyak berbuat maksiat atau orang shaleh yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ini (jelas) merupakan pelanggaran terhadap (syariat) Islam. Sesungguhnya para sahabat yang membai’at (memilih) Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu (sebagai khalifah/pemimpin kaum muslimin sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) di saqiifah (ruangan besar beratap tempat pertemuan) milik (suku) Bani Saa’idah, tidak ada seorang perempuan pun yang ikut serta dalam pemilihan tersebut. Karena urusan siyasah (politik) tidak sesuai dengan tabiat (fitrah) kaum perempuan, sehingga mereka tidak boleh ikut berkecimpung di dalamnya. Dan ini termasuk pelanggaran (syariat Islam), padahal Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan laki-laki tidaklah seperti perempuan.” (Qs. Ali ‘Imraan: 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bagaimana kalian (wahai para penganut sistem demorasi) menyamakan antara laki-laki dan perempuan, padahal Allah yang menciptakan dua jenis manusia ini membedakan antara keduanya?! Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya, sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka.” (Qs. al-Qashash: 68)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir). Mengapa kamu (berbuat demikian); bagaimanakah kamu mengambil keputusan?” (Qs. al-Qalam: 35 - 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kalian (wahai para penganut sistem demokrasi) menyamakan antara orang muslim dan orang kafir?! Maka ini tidak mungkin untuk…(kalimat yang kurang jelas). Masalah ini (butuh) penjelasan yang panjang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi (bersamaan dengan itu), sebagian dari para ulama zaman sekarang berpendapat bolehnya ikut serta dalam pemilihan umum dalam rangka untuk memperkecil kerusakan (dalam keadaan terpaksa). Meskipun mereka mengatakan bahwa (hukum) asal (ikut dalam pemilihan umum) adalah tidak boleh (haram). Mereka mengatakan: Kalau seandainya semua orang diharuskan ikut serta dalam pemilu, maka apakah anda ikut memilih atau tidak? Mereka berkata: anda ikut memilih dan pilihlah orang yang paling sedikit keburukannya di antara mereka (para kandidat yang ada). Karena umumnya mereka yang akan dipilih adalah orang-orang yang memasukkkan (mencalonkan) diri mereka dalam pemilihan tersebut. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah radhiallahu ‘anhu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah engkau (berambisi) mencari kepemimpinan, karena sesungguhnya hal itu adalah kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat nanti.” (Gabungan dua hadits shahih riwayat imam al-Bukhari (no. 6248) dan Muslim (no. 1652), dan riwayat Muslim (no. 1825))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka orang yang terpilih dalam pemilu adalah orang yang (berambisi) mencari kepemimpinan, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang (berambisi) mencari kepemimpinan maka dia akan diserahkan kepada dirinya sendiri (tidak ditolong oleh Allah dalam menjalankan kepemimpinannya).” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan lain-lain, dinyatakan lemah oleh syaikh al-Albani dalam “adh-Dha’iifah” (no. 1154). Lafazh hadits yang shahih Riwayat al-Bukhari dan Muslim: “Jika engkau menjadi pemimpin karena (berambisi) mencarinya maka engkau akan diserahkan kepadanya (tidak akan ditolong oleh Allah).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah akan meninggalkannya (tidak menolongnya), dan barangsiapa yang diserahkan kepada dirinya sendiri maka berarti dia telah diserahkan kepada kelemahan, ketidakmampuan dan kesia-siaan, sebagaimana yang dinyatakan oleh salah seorang ulama salaf – semoga Allah meridhai mereka–.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Ala kulli hal, mereka berpendapat seperti ini dalam rangka menghindari atau memperkecil kerusakan (yang lebih besar). Ini kalau keadaannya memaksa kita terjeremus ke dalam dua keburukan (jika kita tidak memilih). Adapun jika ada dua orang calon (pemimpin yang baik), maka kita memilih yang paling berhak di antara keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi jika seseorang tidak mengatahui siapa yang lebih baik (agamanya) di antara para kandidat yang ada, maka bagaimana mungkin kita mewajibkan dia untuk memilih, padahal dia sendiri mengatakan: aku tidak mengetahui siapa yang paling baik (agamanya) di antara mereka. Karena Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.” (Qs. al-Israa’: 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menipu/mengkhianati kami maka dia bukan termasuk golongan kami.” (HSR Muslim (no. 101)). Jika anda memilih orang yang anda tidak ketahui keadaannya maka ini adalah penipuan/pengkhianatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula, jika ada seorang yang tidak merasa puas dengan kondisi pemilu (tidak memandang bolehnya ikut serta dalam pemilu) secara mutlak, baik dalam keadaan terpaksa maupun tidak, maka bagaimana mungkin kita mewajibkan dia melakukan sesuatu yang tidak diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ‘ala kulli hal, kita meyakini bahwa Allah Ta’ala Dialah yang memilih untuk umat ini pemimpin-pemimpin mereka. Kalau umat ini baik maka Allah akan memilih untuk mereka pemimpin-pemimpin yang baik pula, (sabaliknya) kalau mereka buruk maka Allah akan memilih untuk mereka pemimpin-pemimpin yang buruk pula. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضاً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (Qs. al-An’aam: 129)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka orang yang zhalim akan menjadi pemimpin bagi masyarakat yang zhalim, demikianlah keadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau demikian, upayakanlah untuk menghilangkan kezhaliman dari umat ini, dengan mendidik mereka mengamalkan ajaran Islam (yang benar), agar Allah memberikan untuk kalian pemimpin yang kalian idam-idamkan, yaitu seorang pemimpin yang shaleh. Karena Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Dalam ayat ini) Allah tidak mengatakan “…sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada pemimpin-pemimpin mereka”, akan tetapi (yang Allah katakan): “…sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku telah menulis sebuah kitab tentang masalah ini, yang sebenarnya kitab ini khusus untuk para juru dakwah, yang mengajak (manusia) ke jalan Allah Ta’ala, yang aku beri judul “Kamaa takuunuu yuwallaa ‘alaikum” (sebagaimana keadaanmu maka begitupulalah keadaan orang yang menjadi pemimpinmu). Aku jelaskan dalam kitab ini bahwa watak para penguasa selalu berasal dari watak masyarakatnya, maka jika masyarakatnya (berwatak) baik penguasanya pun akan (berwatak) baik, dan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka orang-orang yang menyangka bahwa (yang terpenting dalam) masalah ini adalah bersegera untuk merebut kekuasaan, sungguh mereka telah melakukan kesalahan yang fatal dalam hal ini, dan mereka tidak mungkin mencapai hasil apapun (dengan cara-cara seperti ini). Allah Ta’ala ketika melihat kerusakan pada Bani Israil disebabkan (perbuatan) Fir’aun, maka Allah membinasakan Fir’aun dan memberikan kepada Bani Israil apa yang mereka inginkan, dengan Allah menjadikan Nabi Musa ‘alaihissalam sebagai pemimpin mereka. (Akan tetapi) bersamaan dengan itu, kondisi (akhlak dan perbuatan) mereka tidak menjadi baik, sebagaimana yang Allah kisahkan dalam al-Qur’an. Mereka tidak menjadi baik meskipun pemimpin mereka adalah kaliimullah (orang yang langsung berbicara dengan Allah Ta’ala), yaitu Nabi Musa ‘alaihissalam, sebagaimana yang sudah kita ketahui. Bahkan sewaktu Allah berfirman (menghukum) sebagian dari Bani Israil:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadilah kamu kera yang hina.” (Qs. al-Baqarah: 65)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian ini bukanlah di zaman kekuasaan Fir’aun. Akan tetapi hukuman Allah ini (menimpa) sebagian mereka (karena mereka melanggar perintah Allah) ketika mereka di bawah kepemimpinan Nabi Musa ‘alaihissalam dan para Nabi Bani Israil ‘alaihimussalam sepeninggal Nabi Musa ‘alaihissalam, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Bani Israil selalu dipimpin oleh para Nabi ‘alaihimussalam, setiap seorang Nabi wafat maka akan digantikan oleh Nabi berikutnya.” (HSR al-Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hanya Allah-lah yang mampu memberikan taufik (kepada manusia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madinah Nabawiyyah, 15 Rabi’ul awal 1430 H / 11 Maret 2009 M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Abdullah bin Taslim al-Buthani, Lc.&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8859049449550037071-9040464080686581055?l=alfirqotunnajiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/9040464080686581055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/9040464080686581055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/2009/04/fatwa-syaikh-abdul-malik-bin-ahmad.html' title='Fatwa Syaikh Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani Tentang Pemilu'/><author><name>YAHYA AL BUNY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00500596638645663569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SMnoh7LksdI/AAAAAAAAAAM/HWHohIDKDrg/S220/ais+ami+jenggot.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SdofujPwXbI/AAAAAAAAAKM/DT5sdpLb6WY/s72-c/logo-pemilu.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071.post-8452299473242834193</id><published>2009-03-22T23:44:00.000-07:00</published><updated>2009-03-22T23:46:07.669-07:00</updated><title type='text'>Mengokohkan Pijakan Keislaman</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SccwJQWoObI/AAAAAAAAAKE/yXBsLwN_Kxw/s1600-h/tauhid-cover2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 226px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SccwJQWoObI/AAAAAAAAAKE/yXBsLwN_Kxw/s320/tauhid-cover2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316270820700993970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah. Amma ba’du…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Abu Ja’far Ath Thahawi rahimahullah berkata di dalam kitab Aqidah Thahawiyah, “Pijakan keislaman (seseorang) tidak akan pernah kokoh kecuali apabila dibangun di atas pondasi ketundukan dan penyerahan diri.” Imam Bukhari meriwayatkan dari Imam Muhammad bin Syihab yang terkenal dengan julukan Az Zuhri rahimahullah bahwa beliau mengatakan, “Sumber risalah adalah Allah. Kewajiban Rasul adalah menyampaikan. Sedangkan kewajiban kita adalah bersikap pasrah dan tunduk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perumpamaan antara dalil akal dengan dalil naqli adalah seperti orang awam yang muqallid (hanya mengikuti orang lain) bersama seorang alim yang mujtahid. Apabila orang awam ini mengetahui ada orang awam lain yang lebih tahu daripadanya maka dia pun bertanya tentang suatu perkara kepadanya. Kemudian orang awam tadi menunjukkannya supaya bertanya kepada seorang alim ahli fatwa. Kemudian ternyata pendapat yang disampaikan oleh temannya yang awam itu berbeda dengan fatwa dari ahli fatwa tersebut. Kalau seandainya temannya yang sama-sama awam itu mengatakan, “Yang benar adalah pendapatku, bukan pendapat si ahli fatwa. Karena akulah engkau bisa tahu bahwa dia adalah seorang ahli fatwa. Sehingga apabila engkau lebih mengedepankan pendapatnya daripada pendapatku maka itu artinya engkau telah merusak kaidah dasar yang menjadi pijakanmu untuk bisa mengerti bahwa dia adalah seorang ahli fatwa. Oleh sebab itulah maka hukum cabang yang kau tetapkan juga keliru.” Maka temannya yang awam itu mengatakan, “Ketika engkau persaksikan dan tunjukkan kepadaku bahwa dia adalah seorang ahli fatwa maka itu berarti aku pun turut mempersaksikan kewajiban untuk mengikutinya bukan mengikutimu. Sehingga persetujuanku denganmu dalam hal ilmu itu tidak memberikan konsekuensi aku harus mengikuti pendapatmu dalam semua masalah. Dan kekeliruanmu dalam persoalan yang bertentangan dengan jawaban si ahli fatwa yang lebih berilmu darimu juga tidak melahirkan konsekuensi kalau pengetahuanmu bahwasanya dia adalah ahli fatwa menjadi salah.” Masya Allah!! kalau para muqallid masa kini bisa berpikir sebagaimana muqallid ini maka tenteramlah dunia ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akal yang sehat tentu mengetahui bahwasanya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang ma’shum (selalu terjaga dari salah) dalam hal informasi yang disampaikannya dari Allah ta’ala, sehingga sabda beliau tidak mungkin salah. Oleh karena itulah wajib bagi kita untuk bersikap pasrah dan tunduk serta melaksanakan perintah-perintah beliau. Sebagai umat Islam, kita pun sudah sama-sama mengetahui secara pasti bahwasanya Al Quran telah menegaskan kebenaran sabda-sabda Rasul. Oleh sebab itu apabila Rasul memberikan informasi atau ketetapan tentang suatu perkara maka wajib bagi kita untuk menerima dan melaksanakannya. Kita tidak bisa menolaknya sembari beralasan bahwa apa yang beliau sampaikan itu adalah sesuatu yang tidak masuk akal atau bertentangan dengan rasio kita. Sebab pada dasarnya akal dan rasio kita telah yakin seratus persen bahwa semua yang beliau sabdakan adalah kebenaran. Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan dia tidaklah berbicara dari dorongan hawa nafsunya, akan tetapi ucapannya tiada lain adalah wahyu yang disampaikan kepadanya.” (QS. An Najm: 3-4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tidak mungkin diperbolehkan ada orang yang mengatakan, “Wahai Nabi, sesungguhnya akal kami telah memastikan bahwa sabda-sabda Anda adalah benar. Akan tetapi seandainya kami menerima semua berita Anda maka itu akan menyebabkan terjadinya pertentangan antara akal kami dengan apa yang anda sampaikan.” Ini berarti orang yang mengucapkan pernyataan seperti ini pada hakikatnya belumlah beriman secara penuh terhadap ajaran yang dibawa oleh Rasul, dan Rasul pun tidak akan ridha dengan sikapnya itu. Karena sesungguhnya akal dan rasio yang dimiliki oleh manusia itu berbeda-beda, sementara kerancuan pemahaman/syubhat yang menghinggapi pikiran manusia sangatlah banyak jumlahnya. Terlebih lagi syaitan terus menerus berupaya membisikkan berbagai was-was dan keragu-raguan kepada telinga manusia. Lalu apa jadinya jika setiap orang diperkenankan untuk mengatakan sebagaimana perkataan orang tadi; menolak sebagian sabda Nabi dengan alasan tidak masuk akal?! Duhai, alangkah mengerikan akibatnya, karena seluruh sendi ajaran Islam akan hilang dan runtuh seketika gara-gara ulah akal-akal manusia yang rusak dan tidak menyadari keterbatasan pikirannya!!! Laa haula wa laa quwwata illa billaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tidaklah kewajiban Rasul melainkan sekedar menyampaikan.” (QS. An Nuur: 54)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala juga berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلاَّ الْبَلاغُ الْمُبِينُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah ada kewajiban bagi Rasul selain memberikan keterangan yang gamblang?” (QS. An Nahl: 35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللّهُ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tidaklah Kami mengutus seorang Rasul pun kecuali dengan bahasa kaumnya, agar dia menjelaskan (wahyu) bagi mereka. Sehingga Allah berhak menyesatkan orang yang dikehendaki-Nya serta memberikan petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (QS. Ibrahim: 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ayat-ayat yang berbicara tentang hal ini sangat banyak jumlahnya. Bahkan generasi terbaik umat ini pun telah turut serta mempersaksikan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar telah menunaikan amanah dan menyampaikan risalah dengan sempurna dan gamblang. Sehingga ajaran Islam telah terang benderang, malamnya sebagaimana siangnya, tiada yang menyimpang darinya kecuali orang yang binasa. Beliau telah meminta persaksian para sahabat dalam sebuah perhelatan akbar pada saat haji wada’ di tengah padang Arafah. Dan para sahabat radhiallahu ‘anhum pun mengiakan dan mempersaksikannya. Barang siapa yang mendakwakan bahwa ada salah satu sendi ajaran agama apalagi itu termasuk prinsip dan landasannya kemudian hal itu tidak diterangkan oleh Nabi dengan keterangan yang gamblang dan sempurna maka pada hakikatnya dia telah berdusta atas nama beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, Wallaahul musta’aan (disadur dari Syarh ‘Aqidah Thahawiyah cet Darul ‘Aqidah, hal. 161-163 dengan beberapa penambahan dan pengurangan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda Nabi Adalah Wahyu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Amr mengatakan, “Dahulu aku menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (karena) aku ingin menghafalkannya. Maka orang-orang Quraisy pun menghalang-halangiku. Mereka mengatakan, “Sesungguhnya kamu telah menulis segala sesuatu yang kamu dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia biasa. Beliau terkadang berbicara dalam keadaan marah.” Maka aku (Abdullah bin Amr) menghentikan diri dari menulis (hadits-hadits Nabi). Kemudian kejadian itu aku laporkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bersabda, “Tulislah! Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Tidaklah keluar dariku melainkan al haq (kebenaran).” (Hadits Shahih, dishahihkan Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 1196, lihat Tafsir Ibnu Katsir VII/340, cet. Maktabah At Taufiqiyah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mengatakan di dalam kitab tafsirnya, “[Dan (Muhammad) tidaklah berbicara menurut kemauan hawa nafsunya] Artinya tidaklah ucapan beliau muncul dari dorongan hawa nafsunya. [Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya]. Artinya, beliau tidak mengikuti sesuatu kecuali apa yang diwahyukan Allah kepadanya, yaitu berupa petunjuk dan ketakwaan. Baik yang terkait dengan dirinya sendiri maupun orang lain. Ayat ini juga menunjukkan bahwasanya As Sunnah (hadits) adalah wahyu dari Allah kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana firman Allah ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَنزَلَ اللّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Allah telah menurunkan kepadamu (Muhammad) Al Kitab dan Al Hikmah (As Sunnah)” (QS. An Nisaa’: 113)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga menunjukkan bahwa beliau itu terpelihara dari salah (ma’shum) dalam semua berita yang dikabarkannya dari Allah ta’ala dan juga terjaga syariatnya. Perkataan beliau tidak muncul dari hawa nafsu, namun perkataan beliau itu lahir dari wahyu yang diwahyukan kepadanya…” (Taisir Karimir Rahman cet Mu’assasah Ar Risalah, hal. 818)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Husain Al Jizani hafizhahullah mengatakan, “Bila ditilik dari sisi sumbernya, maka tidak diragukan lagi bahwa Al Quran dan As Sunnah berada dalam kedudukan yang sama, karena masing-masing merupakan wahyu dari Allah…” kemudian beliau menyebutkan ayat An Najm di atas (Ma’alim Ushul Fiqih ‘inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hal. 138). Beliau juga mengatakan, “As Sunnah (hadits) itulah yang dimaksud dengan Al Hikmah (yang tercantum dalam ayat, red). Apabila terdapat kata Al Hikmah di dalam Al Quran yang disebutkan secara beriringan dengan kata Al Quran maka yang dimaksud (Al Hikmah di situ) adalah As Sunnah dengan kesepakatan (ijma’/konsensus) ulama Salaf (lihat Al Faqih wal Mutafaqih (1/87,88), Majmu’ Fatawa (3/366, 19/82,175), Mukhtashar Shawa’iq (443), Tafsir Ibnu Katsir (1/190,201,567) dan Wasilatul Hushul (9))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini seperti yang tercantum dalam firman Allah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَنزَلَ اللّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ وَكَانَ فَضْلُ اللّهِ عَلَيْكَ عَظِيماً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Allah telah menurunkan kepadamu (Muhammad): Al Kitab dan Al Hikmah, dan Dia telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan karunia Allah adalah sangat besar atasmu.” (QS. An Nisaa’: 113)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Yang kudengar dari keterangan para ulama Al Quran, mereka mengatakan bahwa Al Hikmah adalah Sunnah (hadits) Rasulullah.” (Ar Risalah, 78) (dinukil dengan sedikit perubahan dari Ma’alim Ushul Fiqih ‘inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hal. 122)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Pelajaran Menarik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Katsir membawakan kisah berikut ini di dalam kitab Tafsirnya. Ibnu Mas’ud berkata (menyampaikan isi hadits Nabi, red), “Allah melaknat wanita yang membuat tato dan wanita yang minta ditato, wanita yang mengerik alis dan wanita yang meratakan gigi demi kecantikan sehingga mengubah ciptaan Allah ‘azza wa jalla.” Perkataan Ibnu Mas’ud itu pun terdengar oleh seorang wanita dari Bani Asad yang bernama Ummu Ya’qub. Mendengar hal itu maka Ummu Ya’qub mendatangi Ibnu Mas’ud dan mengatakan, “Telah sampai kabar kepadaku bahwa kau mengatakan demikian dan demikian?” Ibnu Mas’ud menjawab, “Apa yang menghalangiku untuk tidak melaknat orang yang sudah dilaknat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan larangan itu juga tercantum di dalam Kitabullah ta’ala (Al Quran).” Setelah mendengar jawaban Ibnu Mas’ud itu maka wanita itu berkata, “Sungguh aku telah membaca (Al Quran) yang ada di antara dua sampul ini (dari depan sampai belakang). Dan aku tidak menemukan adanya larangan tentang hal itu.” Kemudian Ibnu Mas’ud mengatakan, “Sungguh, jika engkau benar-benar membacanya niscaya engkau akan menemukannya. Tidakkah engkau pernah membaca,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa saja yang diberikan Rasul maka ambillah, dan apa saja yang dilarang Rasul maka tinggalkanlah.” (QS. Al Hasyr: 7)? Maka wanita itu menjawab, “Iya (aku pernah membacanya).” Maka Ibnu Mas’ud mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang hal itu…” (lihat Tafsir Ibnu Katsir, VIII/53).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ِAda Iman Tanpa Ketundukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demi Tuhanmu, sekali-kali mereka tidaklah beriman sampai mereka berhakim kepadamu dalam segala yang mereka perselisihkan kemudian mereka tidak mendapati rasa berat di dalam diri mereka atas apa yang kau putuskan dan mereka pun menerimanya dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisaa’: 65)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin mengatakan, “Artinya (mereka tidaklah beriman) hingga mau menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam menyelesaikan perselisihan yang terjadi di antara mereka…” Beliau jelaskan, “Dan itu artinya sampai mereka mau menjadikan engkau saja (Muhammad) sebagai pemberi keputusan (hakim) dalam menyelesaikan persengketaan yang ada di antara mereka, dalam urusan-urusan agama maupun urusan-urusan dunia. Dalam urusan agama misalnya apabila ada dua orang yang berselisih dalam menentukan hukum suatu permasalahan syariat. Seorang di antara mereka berdua berkata, “Itu adalah haram.” Sedangkan orang kedua berkata, “Itu halal.” Maka untuk mencari keputusan hukumnya adalah kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka tidaklah seorang pun di antara mereka berdua (yang berselisih tadi) dinyatakan beriman sampai mau berhakim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula seandainya orang-orang berselisih dalam urusan dunia di antara mereka…” Beliau melanjutkan, “Yang jelas seseorang tidaklah dinyatakan beriman (dengan benar) hingga pencarian keputusannya dalam urusan agama maupun dunia adalah kepada (keputusan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Kalau ada yang bertanya, “Bagaimanakah berhakim kepada Rasul sesudah beliau wafat?” Syaikh Al ‘Utsaimin mengatakan, “Maka jawabannya ialah, berhakim kepada beliau sesudah wafatnya ialah dengan cara berhakim kepada Sunahnya shallallahu ‘alaihi wa sallam…” (Syarh Riyadhush Shalihin, I/587)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga menjelaskan bahwa berdasarkan ayat di atas ada 3 syarat yang harus dipenuhi di dalam diri seseorang agar benar keimanannya, yaitu: Pertama, berhakim kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedua, dia tidak boleh merasa sempit di dalam hatinya terhadap keputusan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketiga, dia harus tunduk menerima sepenuhnya dan pasrah secara total terhadap beliau. Beliau mengatakan, “Maka dengan ketiga syarat inilah dia bisa menjadi mukmin. Apabila syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi maka bisa jadi dia keluar dari keimanan secara keseluruhan atau bisa juga menjadi menyusut keimanannya. Wallaahul muwaffiq.” (Syarh Riyadhush Shalihin, I/589)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami Dengarkan dan Kami Taati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya ucapan orang-orang yang beriman apabila diajak untuk kembali kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul itu memberikan keputusan hukum di antara mereka hanyalah dengan mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat.” Dan hanya merekalah orang-orang yang berbahagia.” (QS. An Nuur: 51)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdurrahman bin Naashir As Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa sesungguhnya sifat orang yang benar-benar beriman (yaitu yang imannya dibuktikan dengan amalan) apabila diajak untuk kembali kepada Allah dan Rasul-Nya supaya Rasul memberikan keputusan di antara mereka niscaya mereka akan mengatakan, “Kami dengarkan dan kami taati”, sama saja apakah keputusan tersebut dirasa cocok ataupun tidak oleh hawa nafsu mereka. Artinya mereka mendengarkan keputusan hukum Allah dan Rasul-Nya serta memenuhi panggilan orang yang mengajak mereka untuk itu. Mereka taat dengan sepenuhnya tanpa menyisakan sedikit pun rasa keberatan. Hakikat kebahagiaan adalah bisa meraih perkara yang diinginkan dan selamat dari bahaya yang ditakutkan. Dan Allah pun membatasi kebahagiaan hanya ada pada orang-orang seperti mereka. Sebab orang tidak akan pernah berbahagia tanpa berhukum kepada Allah dan Rasul-Nya serta taat kepada Allah dan Rasul-Nya (lihat Taisir Karim Ar Rahman, hal. 572)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالاً مُّبِيناً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tidaklah pantas bagi seorang mukmin maupun mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara kemudian mereka memiliki pilihan lain dalam urusan mereka.” (QS. Al Ahzab: 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Ayat ini berlaku umum untuk semua urusan. Yaitu apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sebuah keputusan maka tidak diperbolehkan bagi siapa pun untuk menyelisihi hal itu. Dan tidak ada lagi pilihan bagi siapa pun di sini (artinya agama tidak membiarkan dia bebas memilih antara mengikuti Rasul atau tidak, red), tidak ada lagi pendapat atau perkataan yang lain…” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, VI/257). Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Abu Muslih Ari Wahyudi&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8859049449550037071-8452299473242834193?l=alfirqotunnajiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/8452299473242834193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/8452299473242834193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/2009/03/mengokohkan-pijakan-keislaman.html' title='Mengokohkan Pijakan Keislaman'/><author><name>YAHYA AL BUNY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00500596638645663569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SMnoh7LksdI/AAAAAAAAAAM/HWHohIDKDrg/S220/ais+ami+jenggot.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SccwJQWoObI/AAAAAAAAAKE/yXBsLwN_Kxw/s72-c/tauhid-cover2.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071.post-2584717551585978450</id><published>2009-03-10T03:34:00.000-07:00</published><updated>2009-03-10T03:37:42.496-07:00</updated><title type='text'>Rekomendasi Tanwir Muhammadiyah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SbZC2HWihFI/AAAAAAAAAJ8/ob7J3Iy6qO4/s1600-h/tanwir.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SbZC2HWihFI/AAAAAAAAAJ8/ob7J3Iy6qO4/s320/tanwir.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5311506307984032850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandar Lampung - Usai sudah perhelatan Tanwir Muhammadiyah II tahun 2009 yang dilaksanakan di Bandar Lampung. Sejumlah agenda Tanwir telah selesai dibahas, termasuk harapan warga Persyarikatan atas berbagai hal, yang tertuang dalam Rekomendasi Tanwir Muhammadiyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah Rekomendasi Tanwir Muhammadiyah II tahun 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Visi dan Karakter Bangsa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammadiyah mengajak segenap komponen bangsa untuk membangun karakter bangsa yang berkepribadian kuat berdasarkan nilai keimanan, ketaatan beribadah, akhlak mulia/budi pekerti luhur sebagai landasan untuk menuju Indonesia yang adil, makmur, berdaulat, maju dan kuat dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika;&lt;br /&gt;Muhammadiyah mendesak pemerintah dan pejabat negara agar menggunakan wewenang dan jabatannya sesuai dengan amanah yang diberikan untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat dan meminta pemerintah untuk menindak tegas pejabat negara yang melakukan praktik nepotisme, korupsi, dan manipulasi; &lt;br /&gt;Muhammadiyah menuntut para pengelola negara untuk menjadikan NKRI sebagai Negara-Pelayan (the servant state) yang menjalankan fungsi pemerintahan yang sepenuhnya bertanggungjawab  untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagaimana cita-cita kemerdekaan;&lt;br /&gt;Muhammadiyah mendesak pemerintah (pusat dan daerah) dan mengajak segenap elemen bangsa untuk mengoptimalkan konsolidasi demokrasi dengan membangun kultur demokrasi yang berkeadaban, egaliter, menghargai keberagaman, menjunjung tinggi meritokrasi, saling menghormati dan menjunjung tinggi hukum untuk mewujudkan kualitas hidup bangsa;&lt;br /&gt;Muhammadiyah mendesak pemerintah untuk menerapkan paradigma pembangunan berkelanjutan yang bermakna (sustainable development with meaning) dengan prinsip pembangunan  yang  memanfaatkan sumberdaya alam secara eko-demokratis, kebijakan politik ekonomi yang berpihak kepada kepentingan rakyat, serta menjunjung tinggi  moralitas dan kedaulatan bangsa;&lt;br /&gt;Muhammadiyah mendesak pemerintah (pusat dan daerah) untuk menyelamatkan aset negara serta mengelola kekayaan dan sumberdaya alam dengan memprioritaskan kepentingan jangka panjang, keseimbangan lingkungan hidup, dan memanfaatkannya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat; &lt;br /&gt;Mengusulkan kepada Pemerintah RI  agar K.H. Ahmad Dahlan ditetapkan sebagai tokoh Bapak Pendidikan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Politik dan Pemilu 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammadiyah mendesak partai politik dan seluruh komponen bangsa untuk tidak menjadikan Pemilu 2009 sebagai ajang perebutan kursi kekuasaan (power struggle) belaka yang menjurus pada pragmatisme dan menghalalkan segala cara. Akan tetapi Pemilu harus dijadikan momentum untuk menghasilkan anggota legislatif, presiden dan wakil presiden yang bertanggungjawab dalam menjalankan amanat rakyat, mengurus negara/pemerintahan dengan benar, menghasilkan kebijakan-kebijakan yang pro-rakyat kecil, menjunjung tinggi nilai-nilai kebajikan dan etika publik, membangun kepercayaan, serta tidak menggunakan  aji mumpung dalam melaksanakan kekuasaan yang dimilikinya;&lt;br /&gt;Muhammadiyah menyerukan kepada segenap komponen bangsa untuk memilih pemimpin nasional pada Pemilu 2009,  yang:&lt;br /&gt;Memiliki visi dan karakter yang kuat sebagai negarawan yang mengutamakan kepentingan bangsa dan negara ketimbang kepentingan  partai politik, diri sendiri, keluarga, kroni dan lainnya; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berani mengambil berbagai keputusan penting dan strategis yang menyangkut hajat hidup rakyat dan kepentingan negara, mampu menyelesaikan persoalan-persoalan krusial bangsa secara tegas, serta melakukan penyelamatan aset dan kekayaan negara; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mampu menjaga kewibawaan dan kedaulatan nasional dari berbagai ancaman di dalam dan luar negeri, serta mampu mewujudkan good governance termasuk melakukan pemberantasan korupsi tanpa pandang bulu;&lt;br /&gt;Melepaskan jabatan di partai politik apapun dan berkonsentrasi dalam memimpin bangsa dan negara.&lt;br /&gt;Muhammadiyah menyeru dan mengajak segenap warga negara yang memiliki hak pilih untuk menggunakan hak politiknya dalam Pemilu 2009 secara cerdas dan kritis. Penggunaan hak politik tersebut merupakan wujud tanggungjawab berdemokrasi untuk perbaikan dan penyempurnaan kehidupan berbangsa dan bernegara;&lt;br /&gt;Muhammadiyah mengajak segenap kekuatan politik, elite, dan warga masyarakat untuk menjauhkan diri dari segala bentuk politik uang dan cara-cara yang kotor dalam berpolitik pada Pemilu 2009, sebab tindakan seperti itu selain tidak benar juga dapat merusak tatanan kehidupan politik nasional dan meruntuhkan moral bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Internasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammadiyah menyeru Dunia Islam, terutama negara-negara kaya di Asia Barat, untuk membangun jaringan solidaritas kongkrit bagi penanganan masalah konflik dan kemiskinan di negara-negara yang mayoritas beragama Islam;&lt;br /&gt;Muhammadiyah mengajak semua kekuatan umat Islam di Indonesia dan di seluruh dunia untuk tetap memperkuat solidaritas dan keberpihakan bagi umat Islam dan negara-negara Muslim yang tertindas seperti Palestina, Irak, Sudan, dan sebagainya;&lt;br /&gt;Muhammadiyah mendesak Pemerintah untuk membentuk Atase Agama di Kedubes Republik Indonesia di negara-negara yang menjadi tujuan pekerja Indonesia di luar negeri untuk kepentingan pembinaan keagamaan;&lt;br /&gt;Muhammadiyah mengajak negara-negara maju dan berkembang untuk membangun Tata Dunia baru yang lebih beradab dan mampu mengembangkan prinsip-prinsip demokrasi secara mondial, tidak standar ganda, mengedepankan dialog, dan saling menghormati kedaulatan tiap negara dalam semangat keadilan dan kesetaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandar Lampung, 8 Maret 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8859049449550037071-2584717551585978450?l=alfirqotunnajiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/2584717551585978450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/2584717551585978450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/2009/03/rekomendasi-tanwir-muhammadiyah.html' title='Rekomendasi Tanwir Muhammadiyah'/><author><name>YAHYA AL BUNY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00500596638645663569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SMnoh7LksdI/AAAAAAAAAAM/HWHohIDKDrg/S220/ais+ami+jenggot.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SbZC2HWihFI/AAAAAAAAAJ8/ob7J3Iy6qO4/s72-c/tanwir.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071.post-6292407309599058434</id><published>2009-03-10T02:39:00.000-07:00</published><updated>2009-03-10T02:40:32.222-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;object width="640" height="505"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/Rxc2SlsvlOU&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;color1=0x234900&amp;color2=0x4e9e00"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/Rxc2SlsvlOU&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;color1=0x234900&amp;color2=0x4e9e00" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="640" height="505"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8859049449550037071-6292407309599058434?l=alfirqotunnajiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/6292407309599058434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/6292407309599058434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/2009/03/blog-post.html' title=''/><author><name>YAHYA AL BUNY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00500596638645663569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SMnoh7LksdI/AAAAAAAAAAM/HWHohIDKDrg/S220/ais+ami+jenggot.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071.post-1945542813607848751</id><published>2009-03-09T00:18:00.000-07:00</published><updated>2009-03-09T00:24:05.092-07:00</updated><title type='text'>BANGGA TERHADAP KETURUNAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SbTD-gooy6I/AAAAAAAAAJw/7rOX8E8Sq8Q/s1600-h/image24.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 120px; height: 120px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SbTD-gooy6I/AAAAAAAAAJw/7rOX8E8Sq8Q/s320/image24.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5311085339256343458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa kelompok manusia, garis keturunan atau nasab memiliki pengaruh yang sangat penting. Ketika seseorang yang masih memiliki garis keturunan yang mulia dan terhormat seperti; keturunan bangsawan, keturunan habib, darah biru, ningrat dan keraton serta 'titel-titel' lainnya yang disematkan padanya mereka dengan sombong akan membangga-banggakannya di hadapan manusia.&lt;br /&gt;Bagaimana hukum membanggakan garis keturunan dalam syariat Islam. Berikut penjelasan Syekh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin, ketika beliau ditanya,&lt;br /&gt;Ada sebagian orang yang berpandangan bahwa berbangga dengan nasab itu merupakan sesuatu yang terpuji dan mereka berdalil dengan firman Allah,&lt;br /&gt;"Dan Dia telah mengangkat sebagian kamu di atas sebagian yang lain beberapa derajat " &lt;br /&gt;(al-An' am: 165).&lt;br /&gt; Dan juga dengan sabda Rasulullah,&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah telah memilih Ismail dari anak Nabi Ibrahim, memilih Bani Kinanah dari anak Ismail, memilih Quraisy dari Bani Kinanah, memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan memilihku dari Bani (anak anak cucu) Hasyim."(Riwayat Ahmad dan Tirmidzi)&lt;br /&gt;Apa pendapat Syekh dalam hal ini? Fatwakanlah kepada kami, semoga Allah membalas Syekh dengan pahala dari-Nya.&lt;br /&gt;Syekh menjawabnya,&lt;br /&gt;ltu tidak benar sepenuhnya, sebab berbangga-bangga hanya dengan sekadar keturunan itu tidak boleh. Rasulullah telah bersabda,&lt;br /&gt;"Hendaklah semua kaum berhenti membangga-banggakan moyang mereka yang telah mati, atau jika tidak, niscaya mereka akan menjadi lebih hina bagi Allah daripada bajing yang mengorek kotoran (tahi) dengan hidungnya."(Riwayat Tirmidzi)&lt;br /&gt;Jadi, berbangga-bangga dengan keturunan itu termasuk perilaku jahiliyah, dan Rasulullah  telah bersabda,&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kalian belenggu Jahiliyah dan kebanggaannya dengan moyang mereka, sesungguhnya (yang ada adalah) seorang Mukmin yang bertakwa atau seorang durhaka yang sengsara. Manusia semuanya adalah anak cucu Adam, sedang Adam diciptakan dari tanah." (Riwayat Abu dawud dan Tirmidzi)&lt;br /&gt;Beliau juga bersabda,&lt;br /&gt;"Ada empat perkara yang masih ada pada umatku yang termasuk perilaku Jahiliyah yang tidak akan mereka tinggalkan, yaitu membanggakan nenek moyang, mencela kerabat, meminta hujan dengan bintang dan meratapi kematian." (Riwayat Muslim)&lt;br /&gt;Ini adalah cercaan (dari Rasulullah) terhadap membangga-banggakan keturunan (nasab). Yang demikian itu karena sesungguhnya manusia menjadi mulia hanya karena amal perbuatannya, tidak akan berguna baginya kemulian bapak-bapak mereka terdahulu. Maka seorang ahli syair berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Jika Anda berbangga-bangga dengan suatu kaum yang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    mempunyai kemuliaan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    maka kami katakan: Anda benar, akan tetapi sungguh amat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    buruk sekali anak-cucu mereka. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah n bersabda,&lt;br /&gt;"Barangsiapa yang amalnya lambat karena dia, maka nasabnya tidak akan cepat dengannya" (Riwayat Muslim)&lt;br /&gt;Sedangkan maksud derajat yang disebut di dalam ayat suci di atas adalah keutamaan-keutamaan yang tampak, seperti ilmu, zuhud, ibadah, kedermawanan, keberanian dan lain-lain yang serupa dengannya, sebab Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang memiliki keutamaan­-keutamaan tersebut di dunia dan di akhirat, sebagaimana firman-Nya,&lt;br /&gt;"Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. "(Al-Mujadilah: 11)&lt;br /&gt;Sedangkan yang dimaksud oleh hadits di atas adalah bahwasanya Nabi Muhammad telah dipilih oleh Allah dari keturunan orang-orang Arab yang paling mulia dan paling terkenal, sehingga spiritualnya menjadi lebih mantap dan gampang untuk dibenarkan dan diikuti ajarannya apabila ia dikenal berasal dari suatu qabilah yang mempunyai nama dan kedudukan yang tinggi. Semua itu akan lebih mudah untuk menjadi manusia yang dipercaya. &lt;br /&gt;Namun demikian, kemuliaan tersebut tidak ada gunanya bagi anggota qabilah beliau lainnya, seperti paman-paman mereka yang tidak mengikuti ajaran beliau, yang di antaranya adalah Abu Lahab yang disebut oleh Allah dalam firman-Nya,&lt;br /&gt;"Celakalah kedua tangan Abu Lahab dan dia pun celaka. "(al-Lahab: 1)&lt;br /&gt;Seorang sastrawan berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     "Sungguh, manusia itu tidak berarti kecuali karena agamanya, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Maka jangan engkau abaikan takwa karena bersandar kepada nasab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sesungguhnya Islam telah mengangkat (martabat) Salman AI­-Farisi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dan Kesyirikan benar-benar telah membuat hina abu lahab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a'lam. Semoga shalawat serta salam Allah curahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.&lt;br /&gt;Kesimpulan:&lt;br /&gt;Membangga-banggakan hanya dengan sekadar keturunan tidak boleh sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasulullah n dan berbangga-bangga dengan keturunan itu termasuk perilaku jahiliyah. Sesungguhnya manusia menjadi mulia hanya karena amal perbuatannya, tidak akan berguna baginya kemulian bapak-bapak mereka terdahulu. Wallahu a'lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;majalah Nikah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8859049449550037071-1945542813607848751?l=alfirqotunnajiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/1945542813607848751'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/1945542813607848751'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/2009/03/bangga-terhadap-keturunan.html' title='BANGGA TERHADAP KETURUNAN'/><author><name>YAHYA AL BUNY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00500596638645663569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SMnoh7LksdI/AAAAAAAAAAM/HWHohIDKDrg/S220/ais+ami+jenggot.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SbTD-gooy6I/AAAAAAAAAJw/7rOX8E8Sq8Q/s72-c/image24.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071.post-3588941032776367841</id><published>2009-02-17T15:47:00.000-08:00</published><updated>2009-02-17T16:04:09.580-08:00</updated><title type='text'>Nasehat dan Ajakan Bagi Para Uskup Kepada Islam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SZtP_-EI7EI/AAAAAAAAAJo/tVg4aapUVkU/s1600-h/HagiaSophia1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 215px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SZtP_-EI7EI/AAAAAAAAAJo/tVg4aapUVkU/s320/HagiaSophia1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303920946569604162" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Asy Syaikh Rabi' Ibn Haadi al Madkhali hafidhahullah&lt;br /&gt;.: :.&lt;br /&gt;Nasehat dan Ajakan Bagi Para Uskup Kepada Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بسم الله الرحمن الرحيم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحمد الله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه أما بعد:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji milik Allah, semoga shalawat dan salam tercurah ke haribaan Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya serta semua yang mengikuti petunjuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amma ba`du:&lt;br /&gt;Telah tersiar di media massa baik elektronik maupun cetak dan di situs-situs internet bahwa Paus Vatikan Benedictus XVI telah menghina Islam dan Rasulullah Muhammad - Shallallahu`alaihi wa sallam - juga menuduh beliau serta risalahnya dengan sifat jahat dan tidak rasional ! Alangkah anehnya tuduhan ini dan mencengangkan serta bertentangan dengan nalar, akal dan hakekat Islam yang cemerlang. Islam - yang dengannya Allah Ta’ala keluarkan manusia dari kegelapan menuju kepada cahaya dan dari kedzaliman segenap agama yang ada (non Islam, red), menuju kepada keadilan Islam, yang telah diakui oleh musuh-musuh (Islam sendiri, red) yang berakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini saya tidak akan berpanjang lebar dalam memuji Islam dan Rasul Islam, karena sesungguhnya pujian tersebut telah memenuhi penjuru dunia dan memenuhi perpustakaan-perpustakaan, namun aku akan ringkaskan sebagaimana berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah (Utusan Allah) - shallallahu`alaihi wa sallam - yang benar-benar yang Allah utus sebagai rahmat (kasih sayang) bagi alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala mengutus beliau sebagai pembawa kabar gembira dan pembawa peringatan, sebagai juru dakwah kepada jalan Allah serta sebagai pelita yang terang-benderang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau - Shallallahu`alaihi wa sallam - datang dengan ajaran menghormati para Nabi dan kitab-kitab mereka, bahkan (beliau mengajarkan, red) cinta kepada para Nabi dan iman kepada kenabian mereka serta kitab-kitab mereka. Allah berfirman:&lt;br /&gt;امَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ&lt;br /&gt;“Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya... " [QS Al-Baqarah: 285]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah berfirman memerintah Nabi-Nya dan umatnya:&lt;br /&gt;قُولُوا ءَامَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ&lt;br /&gt;“Katakanlah (hai orang-orang mu'min): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya`qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". [QS Al Baqoroh: 136]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ ءَامَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَالنَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ&lt;br /&gt;Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma`il, Ishaq, Ya`qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, `Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri." [QS Ali 'Imran: 84]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad - Shallallahu`alaihi wa sallam - datang dengan keadilan dan kebaikan, melarang dari perbuatan keji dan mungkar serta dari perbuatan jahat :&lt;br /&gt;إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. [QS An Nahl: 90]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Rasulullah) datang dengan ajaran jihad untuk meninggikan kalimat Allah Ta’ala dan untuk menghilangkan kekafiran, kesyirikan dan kerusakan. Dan telah mendahuluinya kepada ajakan ini, nabi Musa - `alaihis salam - dan para nabi Bani Isra`il setelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau (Rasulullah) datang dengan syari`at qishash dan hukum had demi menjaga keutuhan agama, jiwa, kehormatan dan harta benda. Dan telah mendahuluinya dalam hal itu, Nabi Musa - `alaihis salam - dan para Nabi Bani Isra`il setelahnya. Dan itu merupakan kebaikan dan pemeliharaan terhadap kehormatan, harta benda dan…dst, dan dalam rangka menebarkan rasa aman dan mendatangkan kebaikan serta mengantisipasi kerusakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidak ada yang menuduh Muhammad – Shallallahu ‘alaihi wassalam - dan risalahnya dengan sifat jahat, kecuali pendusta lagi sangat kafir (menentang, red) serta (berarti juga) mencela Musa dan risalahnya juga para nabi bani Isra`il beserta risalah mereka yang datang setelah Nabi Musa yang berhukum dengan kitab Taurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ فَلاَ تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلاَ تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلاً وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴿٤٤﴾ وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالأَنْفَ بِالأَنْفِ وَالأُذُنَ بِالأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ فَمَنْ تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ&lt;br /&gt;[44] Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. [45] Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. [QS Al Maaidah: 44 - 45]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلْيَحْكُمْ أَهْلُ الإِنْجِيلِ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فِيهِ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ&lt;br /&gt;Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. [Al-Maidah:47]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh Yahudi serta Nashrani telah kafir terhadap kitab Taurat dan Injil, dimana mereka tidak mengamalkan apa yang ada di dalam keduanya dari aqidah maupun hukum, serta mereka tidak mengimani Muhammad - Shallallahu`alaihi wa sallam - yang datang dengan membenarkan para Nabi dan kitab-kitab mereka dan diantaranya adalah kitab Taurat dan Injil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka kafir terhadap Muhammad – Shallallahu 'alaihi wassalam - dan apa yang dikandung dalam risalahnya berupa pembenaran terhadap para nabi seluruhnya, dan apa yang yang ada dalam kitab Taurat dan Injil serta apa yang ada dalam keduanya dalam bidang aqidah dan hukum, kecuali yang telah dihapus oleh Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga mereka memerangi Muhammad – Shallallahu 'alaihi wassalam - dengan peperangan yang sangat sengit, terutama para pendeta, rahib-rahib (ahli ibadah) dan uskup-uskup (pastur-pastur) mereka, disebabkan kesombongan, keangkuhan dan iri dengki mereka, setelah mereka menyelewengkan kitab-kitab mereka dan mempermainkan ayat-ayatnya, dan mereka ubah apa yang ada di dalamnya dari mulai aqidah, iman dan tauhid menjadi syirik, dan kekafiran, serta menolak hukum-hukum yang ada di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila demikian sikap mereka terhadap kitab mereka sendiri yang mereka mengaku mengimaninya, maka tidak aneh bila mereka akan kufur kepada Muhammad – Shallallahu 'alaihi wassalam - dan apa yang ia bawa berupa Al-Quran yang tidak mengandung kebatilan, baik di muka maupun di belakangnya (dari segala sisi, red) !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Ahli Kitab, bertaubatlah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya taubat dan ikutilah Muhammad – Shallallahu ‘alaihi wassalam - yang telah diberitakan oleh kitab suci kalian sendiri serta diberitakan oleh Isa - `alaish-shalatu wassalam - dimana beliau mengatakan:&lt;br /&gt;إِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَابَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ&lt;br /&gt;Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)" Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata". [QS Ash Shoff: 6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ يَاأَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللَّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ&lt;br /&gt;Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". [QS Ali 'Imran: 64]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَاأَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui? [QS Ali 'Imran: 71]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ يَاأَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ ءَامَنَ تَبْغُونَهَا عِوَجًا وَأَنْتُمْ شُهَدَاءُ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ&lt;br /&gt;Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan?" Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. [QS Ali 'Imran: 99]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai - yang disebut Paus Vatikan -, masuk Islamlah engkau, niscaya engkau akan selamat, dan Allah akan memberimu pahala dua kali lipat, tapi kalau kamu menolak, niscaya engkau akan memikul dosa para pengikutmu dari kalangan Nashrani Eropa dan luar Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk Islamlah engkau dan pengikut agamamu, niscaya Allah akan masukan kalian ke dalam surga - yang luasnya seluas langit-langit dan bumi - yang telah disiapkan untuk orang-orang yang bertaqwa para pengikut rasul dengan benar-benar. Berimanlah dengan Al-Quran yan agung ini, yang telah memelihara semua risalah dan membawa keyakinan yang benar dan hukum yang adil, yang didukung oleh akal sehat dan fitrah yang suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berimanlah engkau dan para pengikutmu dengan Al-Quran ini yang mengandung apa yang saya sebutkan kepada kalian dan telah mencapai tingkatan i`jaz (kemukjizatan) yang dicapai oleh i`jaz materi ataupun maknawi (tak tertandingi, red).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala menantang segenap manusia dan jin untuk membuat yang serupa dengannya, dan mereka tidak akan mampu untuk menirunya, bahkan mereka tidak mampu untuk mendatangkan misalnya sepuluh surat darinya, bahkan mereka tidak mampu untuk mendatangkan satu surat saja sepertinya. Mereka tidak mampu, mereka tidak mampu, mereka tidak mampu kendati mereka saling-membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kenyataan ini sudah cukup untuk mengajak para uskup dan pengikut mereka untuk beriman, seandainya mereka sedikit memakai akal mereka dan mau berpikir serta bersikap adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk Islamlah - wahai para uskup - dan raihlah Surga - yang luasnya seluas langit dan bumi-, kalau tidak, maka yakinilah bahwa siksa yang sangat keras dan kekal yaitu Neraka - yang Allah siapkan untuk orang-orang kafir - akan menimpa kalian, apinya sangat panas dan sangat dalam. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Quran yang agung dan kitab-Nya yang hikmah:&lt;br /&gt;إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ سَلاَسِلَ وَأَغْلاَلاً وَسَعِيرًا&lt;br /&gt;Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala. [QS Al Insaan: 4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah Ta’ala berfirman dalam kitabnya yang agung:&lt;br /&gt;وَذَرْنِي وَالْمُكَذِّبِينَ أُولِي النَّعْمَةِ وَمَهِّلْهُمْ قَلِيلاً ﴿١١﴾ إِنَّ لَدَيْنَا أَنْكَالاً وَجَحِيمًا ﴿١٢﴾ وَطَعَامًا ذَا غُصَّةٍ وَعَذَابًا أَلِيمًا ﴿١۳﴾ يَوْمَ تَرْجُفُ الأَرْضُ وَالْجِبَالُ وَكَانَتِ الْجِبَالُ كَثِيبًا مَهِيلاً ﴿١٤﴾&lt;br /&gt;[11] Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar. [12] Karena sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat dan neraka yang bernyala-nyala, [13] dan makanan yang menyumbat di kerongkongan dan azab yang pedih. [14] Pada hari bumi dan gunung-gunung bergoncangan, dan menjadilah gunung-gunung itu tumpukan-tumpukan pasir yang beterbangan. [QS Al Muzzammil: 11 - 14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para uskup, janganlah kalian terperdaya oleh kehidupan dunia dan jangan kalian tertipu - dengan berbagai macam penipuan - sehingga melalaikan Allah Ta'ala. Ketahuilah bahwa para pendahulu kalian telah menyelewengkan kitab-kitab kalian serta merusak agama kalian, dan mereka menjadikan tuhan selain Allah Ta'ala dari kalangan manusia, dan mereka menganggap bahwa `Isa adalah anak Allah atau yang ketiga dari yang tiga (trinitas, red). Maha Suci Allah dari itu dari yang mereka tuduhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah mengatakan dalam kitabnya yang mulia, yang terjaga dari penyelewengan dan perubahan:&lt;br /&gt;قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿۳﴾ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ ﴿٤﴾&lt;br /&gt;[1] Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, [2] Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. [3] Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, [4] dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia". [QS Al Ikhlaash: 1 - 4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah berfirman dalam kitabnya yang mulia :&lt;br /&gt;لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا ﴿۸۹﴾ تَكَادُ السَّمَوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا ﴿۹۰﴾ أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا ﴿۹١﴾ وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا ﴿۹٢﴾ إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ إِلاَّ ءَاتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا ﴿۹۳﴾ لَقَدْ أَحْصَاهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا ﴿۹٤﴾ وَكُلُّهُمْ ءَاتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا&lt;br /&gt;Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, [90] hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, [91] karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. [92] Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. [93] Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. [94] Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. [95] Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. [QS Maryam: 89 - 95]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai ahlul kitab dan wahai para uskup, sungguh semua rasul datang dengan membawa tauhid dan memerangi syirik, diantara mereka adalah Isa - `alaihis salam-, Allah Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَابَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ&lt;br /&gt;Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu" Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. [QS Al Maaidah: 72]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Allah Ta’ala perintahkan `Isa - `alaihis salam - untuk beribadah kepada Allah - satu-satunya - dan menegaskan bahwa Allahlah Rabbnya dan Rabb lawan bicara `Isa - yang `Isa diutus kepadanya - dan bahwa siapa yang menyekutukan Allah, sungguh Allah telah mengharamkan baginya Surga dan tempatnya di Neraka. Allah Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;قَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلاَثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلاَّ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ&lt;br /&gt;Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga", padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. [QS Al Maaidah: 73]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka berhentilah - wahai orang-orang Nasrani dan para uskup- dalam hal yang Allah peringatkan kalian darinya, yaitu menuhankan `Isa – 'alaihis salam - dan makhluk-makhluk Allah lainnya. Kalau tidak, berarti kalian berada dalam kekafiran dan kesyirikan dan balasannya adalah Allah haramkan kalian dari surga serta menjadikan tempat kalian di Neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah kalian terperdaya dengan apa yang kalian dapatkan dari apa para pendahulu kalian, dari para baba (uskup/pendeta) kalian, serta para rahib kalian, karena mereka - demi Allah - berada di atas kebatilan dan kekafiran dan sungguh mereka telah merubah isi kitab Taurat dan Injil sebagaimana telah saya sebutkan pada kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jangan kalian sangka bahwa `Isa - 'alaihis salam - akan membela kalian atau memasukan kalian ke dalam Surga, serta menyelamatkan kalian dari Neraka, karena urusan ini bukan ditangannya. Serta karena kalian sendiri telah menyelisihinya serta menyelisihi aqidahnya dan menyelisihi aqidah tauhid serta kalian telah menjadikannya sebagai tuhan. Sementara Nabi `Isa sendiri mengkafirkan orang yang melakukan demikian dan beliau akan berlepas diri dari kalian, dari kesesatan kalian serta dari perbuatan kalian, ketika menjadikan `Isa - 'alaihis salam - dan ibunya sebagai sesembahan selain Allah.&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَاعِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ ءَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلاَ أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ﴿١١٦﴾ مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلاَّ مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ ﴿١١٧﴾ إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ&lt;br /&gt;[116] Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai `Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?" `Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib". [117] Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan) nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. [118] Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [QS Al Maaidah: 116 - 118]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah `Isa – alaihis salam- berlepas diri dari aqidah orang-orang Nashrani dan keyakinan mereka yang bathil tentang nabi `Isa - 'alaihis salam - dan ibunya yaitu sebagai sesembahan selain Allah. Dan `Isa - 'alaihis salam - menegaskan di hadapan Allah bahwa beliau tidak memerintahkan manusia kecuali apa yang Rabb-nya perintahkan kepadanya, “Beribadahlah kalian kepada Rabbku dan Rabb kalian”. Kalau begitu, maka Allah-lah Rabb-nya dan Rabb sekalian manusia, dan mustahil beliau mengklaim dirinya dan ibunya sebagai sesembahan dan memerintahkan manusia untuk berbuat syirik/menyekutukan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kalian (wahai pendeta) mendustakan apa yang terkandung dalam surat ini berupa fakta-fakta, lalu kalian mendebat dalam hal itu, maka aku mengajak kalian untuk bermubahalah [1] sebagaimana Allah perintahkan Rasul-Nya yang jujur dan terpercaya dimana Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;مَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ&lt;br /&gt;Siapa yang membantahmu tentang kisah `Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): "Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. [QS Ali 'Imran: 61]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Muhammad - shallallahu`alaihi wa sallam adalah tauladan bagiku dan bagi setiap muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والسلام على من اتبع الهدى&lt;br /&gt;Semoga keselamatan tercurah kepada orang yang mengikuti petunjuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis oleh Rabi` bin Hadi Al-Madkhali&lt;br /&gt;24 Sya`ban 1427 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Diterjemahkan oleh al Ustadz Qomar Zainuddin, Lc, dari tulisan Asy Syaikh Rabi' Ibn Haadi al Madkhali dari situs Sahab.net http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=338784)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan asli dalam bahasa Arab&lt;br /&gt;------------------------------------------ --------------------- -----------------&lt;br /&gt;نصيحة ودعوة للبابوات إلى الإسلام&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بسم الله الرحمن الرحيم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحمد الله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه أما بعد:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فقد أذيع وأشيع في وسائل الإعلام من إذاعات وصحف ومواقع فضائية بأن بابا الفاتيكان – بنديكت السادس عشر- قد طعن في الإسلام ورسول الله محمد عليه الصلاة والسلام ووصفه ورسالته بالشر ومجافاة العقل ! وهذا أمر عجيب ومذهل ومصادم للمنطق والعقل ولحقيقة الإسلام الناصعة ذلكم الإسلام الذي أخرج الله به البشرية من الظلمات إلى النور ومن جور الأديان إلى عدل الإسلام الذي شهد به عقلاء الأعداء ولا أطيل في مدح الإسلام ورسول الإسلام فإنه قد امتلأت به الدنيا وزخرت به المكتبات واختصر فأقول :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إن محمدًا رسول الله حقًا وصدقا أرسله الله رحمة للعالمين .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أرسله بشيراً ونذيراً وداعياً إلى الله وسراجاً منيراً .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;جاء باحترام الأنبياء وكتبهم, بل جاء بحبهم والإيمان بهم وبكتبهم .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال تعالى {آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ } . (البقرة 285)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال تعالى آمراً محمداً صلى الله عليه وسلم وأمته {قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ }. (البقرة 136)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال تعالى {قُلْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ عَلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَالنَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ } . (آل عمران 84 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;جاء محمد صلى الله عليه وسلم بالعدل والإحسان ناهياً عن الفحشاء والمنكر والبغي {إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ } . (النحل 90 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;جاء بالجهاد لإعلاء كلمة الله وللقضاء على الكفر والشرك والفساد .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقد سبقه إلى ذلك موسى عليه الصلاة والسلام وأنبياء بني إسرائيل من بعده .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وجاء بشرعية القصاص والحدود لحفظ الدين والأنفس والأعراض والأموال .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقد سبقه إلى ذلك موسى وأنبياء بني إسرائيل من بعده, وذلك خير وإحسان وحفظ للأعراض والأموال .. الخ . ولإشاعة الأمن والأمان وجلب المصالح ودرء المفاسد .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولا يصف محمداً ورسالته بالشر إلا كاذب كَفََّّار طاعن في موسى ورسالته وطاعن في الأنبياء بعده الذين كانوا يحكمون بالتوراة .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال تعالى {إِنَّا أَنزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُواْ لِلَّذِينَ هَادُواْ وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُواْ مِن كِتَابِ اللّهِ وَكَانُواْ عَلَيْهِ شُهَدَاء فَلاَ تَخْشَوُاْ النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلاَ تَشْتَرُواْ بِآيَاتِي ثَمَناً قَلِيلاً وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ . وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالأَنفَ بِالأَنفِ وَالأُذُنَ بِالأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ فَمَن تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَّهُ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ } . (المائدة 44-45) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال تعالى {وَلْيَحْكُمْ أَهْلُ الإِنجِيلِ بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فِيهِ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ } . (المائدة 47)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقد كفر اليهود والنصارى بالتوراة والإنجيل فلم يعملوا بما فيهما من عقائد وأحكام .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وكذبوا محمداً صلى الله عليه وسلم الذي جاء مصدقاً للأنبياء وكتبهم ومنها التوراة والإنجيل .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كفروا بمحمد وما تضمنته رسالته من تصديق للأنبياء جميعاً وتصديق لما في التوراة والإنجيل وما فيهما من عقائد وأحكام إلا ما نسخه الإسلام .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وحاربوه أشد الحرب ولا سيما أحبارهم ورهبانهم وبابواتهم كبراً وبطراً وحسداً وبغياً بعد أن حرفوا كتبهم وتلاعبوا بنصوصها وحولوا ما فيها من عقائد وتوحيد وإيمان إلى شرك وكفران وعطلوا ما فيها من أحكام !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فإذا كان هذا موقفهم من كتبهم التي يدَّعون الإيمان بها فكيف يصعب عليهم الكفر بمحمد وبما جاء به من قرآن لا يأتيه الباطل من بين يديه ولا من خلفه ؟!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يا أهل الكتاب توبوا إلى الله توبة نصوحا واتبعوا محمداً الذي بشرت به كتبكم وبشر به عيسى عليه الصلاة والسلام حيث قال {وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّراً بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءهُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ } . (الصف 6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْاْ إِلَى كَلَمَةٍ سَوَاء بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئاً وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضاً أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللّهِ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُولُواْ اشْهَدُواْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ } . (آل عمران 64)&lt;br /&gt;{يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ } (آل عمران 71 ) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللّهِ مَنْ آمَنَ تَبْغُونَهَا عِوَجاً وَأَنتُمْ شُهَدَاء وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ } . (آل عمران 99)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يا من يُسمَّى ببابا الفاتيكان أَسْلِم تَسْلِم يؤتك الله الأجر مرتين فإن أبيت فإنما عليك إثم أتباعك من النصارى الأوربيين وغير الأوربيين .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أسلم وليسلم أهل ملتك, يدخلكم الله جنة عرضها السماوات والأرض أعدت للمتقين, أتباع الرسل الصادقين . آمِنْ بهذا القرآن العظيم الذي هيمن على كل الرسالات وجاء بالعقائد الصحيحة والأحكام العادلة التي تؤيدها العقول الراجحة والفطر السليمة .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;آمن أنت وأتباعك بهذا القرآن الذي تضمن ما ذكرت لكم وبلغ مرتبة من الإعجاز لا يلحقه إعجاز مادي ولا معنوي .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تحدّى الله الجن والإنس أن يأتوا بمثله فعجزوا أن يأتوا بمثله, بل عجزوا أن يأتوا بعشر سور من مثله بل عجزوا أن يأتوا بسورة من مثله .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عجزوا وعجزوا وعجزوا ولو كان بعضهم لبعض ظهيراً .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وفي هذا وحده ما يدعوا البابوات وأتباعهم إلى الإيمان لو كان عندهم حظ من العقل والتعقل والإدراك والإنصاف .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أسلموا أيها البابوات تسلموا وتغنموا جنة عرضها السماوات والأرض, وإلا فأيقنوا بالعذاب الشديد الخالد من نار أعدها الله للكافرين, حرها شديد, وقعرها بعيد, قال تعالى في القرآن العظيم وكتابه الحكيم { إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ سَلاسِلا وَأَغْلالاً وَسَعِيراً } . (الإنسان 4) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال تعالى في كتابه العظيم {وَذَرْنِي وَالْمُكَذِّبِينَ أُولِي النَّعْمَةِ وَمَهِّلْهُمْ قَلِيلاً إن لدينا أنكالا وجحيما وطعاما ذا غصة وعذابا أليما يوم يوْمَ تَرْجُفُ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ وَكَانَتِ الْجِبَالُ كَثِيباً مَّهِيلاً . إنا أرسلنا إليكم رسولا شاهداً عليكم كما أرسلنا إلى فرعون رسولا فعصى فرعون الرسول فأخذناه أخذا وبيلا} . (المزمل 11-14) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أيها البابوات لا تغرنكم الحياة الدنيا ولا يغرنكم بالله الغرور, واعلموا أن أسلافكم قد حرفوا كتبكم وأفسدوا ملتكم وجعلوا من البشر آلهةً من دون الله وادعوا أن عيسى ابن الله أو ثالث ثلاثة تعالى الله عن ذلك علوا كبيرا .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال الله في كتابه الخالد المعجز المحفوظ من التحريف والتبديل ( قل هو الله أحد الله الصمد لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا أحد ) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال تعالى في هذا الكتاب العظيم المعجز ( لقد جئتم شيئاً إدا تكاد السماوات يتفطرن منه وتنشق الأرض وتخر الجبال هدا أن دعوا للرحمن ولدا وما ينبغي للرحمن أن يتخذ ولداً إن كل من في السماوات والأرض إلا آتي الرحمن عبداً لقد أحصاهم وعدهم عدا وكلهم آتيه يوم القيامة فرداً ) . ( مريم 89-95)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يا أهل الكتاب ويا أيها البابوات لقد جاء كل الرسل بالتوحيد وحاربوا الشرك ومنهم عيسى عليه الصلاة السلام , قال تعالى {لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ } . (المائدة 72) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فأمر عليه السلام بعبادة الله وحده وصرح بأن الله ربه ورب من خاطبهم وأُرْسِل إليهم, وأن من يشرك بالله فقد حرم الله عليه الجنة ومأواه النار .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال تعالى {لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ ثَالِثُ ثَلاَثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَـهٍ إِلاَّ إِلَـهٌ وَاحِدٌ وَإِن لَّمْ يَنتَهُواْ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ } . (المائدة 73) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فانتهوا أيها النصارى والبابوات عما حذركم الله من تأليه عيسى وغيره من المخلوقات وإلا فأنتم على الكفر والشرك, وجزاء ذلك أن يحرم الله عليكم الجنة وأن يجعل مأواكم النار .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولا تغتروا بما وجدتم عليه أسلافكم وبابواتكم ورهبانكم فإنهم والله على الباطل والكفر ولقد حرفوا التوراة والإنجيل كما أسلفت لكم .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولا تظنوا أن عيسى سيشفع لكم أو يدخلكم الجنة وينجيكم من النار؛ لأن هذا ليس بيده, ولأنكم قد خالفتموه وخالفتم عقيدته عقيدة التوحيد واتخذتموه إلها وهو يُكفّر من بفعل ذلك وسيتبرأ منكم ومن ضلالكم ومن اتخاذكم إياه وأمه إلهين من دون الله .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال تعالى {وَإِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَـهَيْنِ مِن دُونِ اللّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلاَ أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ . مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلاَّ مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيداً مَّا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ . ِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِن تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ } ( المائدة 116-118 ) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فهذا عيسى يتبرأ من عقيدة النصارى واعتقادهم الباطل فيه وفي أمه أنهما إلهان من دون الله , ويصرح أمام الله أنه ما أمر الناس إلا بما أمره به ربه ( أن اعبدوا الله ربي وربكم ), فالله ربه ورب الناس وأنه من المستحيل أن يدّعي لنفسه ولأمه الإلهية وأن يأمر الناس بالشرك بالله .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فإن كذبتم بما تضمنه هذا الخطاب من حقائق وحاججتم وجادلتم في ذلك فإنني أدعوكم إلى المباهلة كما أمر الله رسوله الصادق الأمين فقال له {فَمَنْ حَآجَّكَ فِيهِ مِن بَعْدِ مَا جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْاْ نَدْعُ أَبْنَاءنَا وَأَبْنَاءكُمْ وَنِسَاءنَا وَنِسَاءكُمْ وَأَنفُسَنَا وأَنفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَل لَّعْنَةَ اللّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ } (آل عمران 61)&lt;br /&gt;ولي ولكل مسلم في ذلك أسوة حسنة بمحمد صلى الله عليه وسلم .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والسلام على من اتبع الهدى .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كتبها&lt;br /&gt;الشيخ ربيع بن هادي عمير المدخلي&lt;br /&gt;24/شعبان/1427هـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------------------------ ---------------------&lt;br /&gt;Footnote :&lt;br /&gt;1. Mubahalah artinya:sama-sama bersumpah bahwa yang berdusta diantara mereka dialah yang mendapatkan laknat Allah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8859049449550037071-3588941032776367841?l=alfirqotunnajiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/3588941032776367841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/3588941032776367841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/2009/02/nasehat-dan-ajakan-bagi-para-uskup.html' title='Nasehat dan Ajakan Bagi Para Uskup Kepada Islam'/><author><name>YAHYA AL BUNY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00500596638645663569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SMnoh7LksdI/AAAAAAAAAAM/HWHohIDKDrg/S220/ais+ami+jenggot.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SZtP_-EI7EI/AAAAAAAAAJo/tVg4aapUVkU/s72-c/HagiaSophia1.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071.post-6616897951999446531</id><published>2009-02-15T22:54:00.000-08:00</published><updated>2009-02-15T23:00:34.586-08:00</updated><title type='text'>6 Kerusakan Valentine’s Day</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SZkOqX9fhGI/AAAAAAAAAJQ/JBRQxIcmfH0/s1600-h/corazon.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SZkOqX9fhGI/AAAAAAAAAJQ/JBRQxIcmfH0/s320/corazon.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303286157354697826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;6 Kerusakan Valentine’s Day&lt;br /&gt;Kategori: Manhaj Salaf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillahilladzi hamdan katsiron thoyyiban mubarokan fih kama yuhibbu robbuna wa yardho. Allahumma sholli ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kalangan pasti sudah mengenal hari valentine (bahasa Inggris: Valentine’s Day). Hari tersebut dirayakan sebagai suatu perwujudan cinta kasih seseorang. Perwujudan yang bukan hanya untuk sepasang muda-mudi yang sedang jatuh cinta. Namun, hari tersebut memiliki makna yang lebih luas lagi. Di antaranya kasih sayang antara sesama, pasangan suami-istri, orang tua-anak, kakak-adik dan lainnya. Sehingga valentine’s day biasa disebut pula dengan hari kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cikal Bakal Hari Valentine&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ada banyak versi yang tersebar berkenaan dengan asal-usul Valentine’s Day. Namun, pada umumnya kebanyakan orang mengetahui tentang peristiwa sejarah yang dimulai ketika dahulu kala bangsa Romawi memperingati suatu hari besar setiap tanggal 15 Februari yang dinamakan Lupercalia. Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan dijadikan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika agama Kristen Katolik menjadi agama negara di Roma, penguasa Romawi dan para tokoh agama katolik Roma mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Book Encyclopedia 1998).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaitan Hari Kasih Sayang dengan Valentine&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” yang dimaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan Tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan daripada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (The World Book Encyclopedia, 1998).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi lainnya menceritakan bahwa sore hari sebelum Santo Valentinus akan gugur sebagai martir (mati sebagai pahlawan karena memperjuangkan kepercayaan), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis “Dari Valentinusmu”. (Sumber pembahasan di atas: http://id.wikipedia.org/ dan lain-lain)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Valentine’s Day berasal dari upacara keagamaan Romawi Kuno yang penuh dengan paganisme dan kesyirikan.&lt;br /&gt;   2. Upacara Romawi Kuno di atas akhirnya dirubah menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day atas inisiatif Paus Gelasius I. Jadi acara valentine menjadi ritual agama Nashrani yang dirubah peringatannya menjadi tanggal 14 Februari, bertepatan dengan matinya St. Valentine.&lt;br /&gt;   3. Hari valentine juga adalah hari penghormatan kepada tokoh nashrani yang dianggap sebagai pejuang dan pembela cinta.&lt;br /&gt;   4. Pada perkembangannya di zaman modern saat ini, perayaan valentine disamarkan dengan dihiasi nama “hari kasih sayang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh ironis memang kondisi umat Islam saat ini. Sebagian orang mungkin sudah mengetahui kenyataan sejarah di atas. Seolah-olah mereka menutup mata dan menyatakan boleh-boleh saja merayakan hari valentine yang cikal bakal sebenarnya adalah ritual paganisme. Sudah sepatutnya kaum muslimin berpikir, tidak sepantasnya mereka merayakan hari tersebut setelah jelas-jelas nyata bahwa ritual valentine adalah ritual non muslim bahkan bermula dari ritual paganisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya kita akan melihat berbagai kerusakan yang ada di hari Valentine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusakan Pertama: Merayakan Valentine Berarti Meniru-niru Orang Kafir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Islam telah melarang kita meniru-niru orang kafir (baca: tasyabbuh). Larangan ini terdapat dalam berbagai ayat, juga dapat ditemukan dalam beberapa sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hal ini juga merupakan kesepakatan para ulama (baca: ijma’). Inilah yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Iqtidho’ Ash Shiroth Al Mustaqim (Ta’liq: Dr. Nashir bin ‘Abdil Karim Al ‘Aql, terbitan Wizarotusy Syu’un Al Islamiyah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kita menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لاَ يَصْبُغُونَ ، فَخَالِفُوهُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang Yahudi dan Nashrani tidak mau merubah uban, maka selisihlah mereka.” (HR. Bukhari no. 3462 dan Muslim no. 2103) Hadits ini menunjukkan kepada kita agar menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani secara umum dan di antara bentuk menyelisihi mereka adalah dalam masalah uban. (Iqtidho’, 1/185)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits lain, Rasulullah menjelaskan secara umum supaya kita tidak meniru-niru orang kafir. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [hal. 1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaiman dalam Irwa’ul Gholil no. 1269). Telah jelas di muka bahwa hari Valentine adalah perayaan paganisme, lalu diadopsi menjadi ritual agama Nashrani. Merayakannya berarti telah meniru-niru mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusakan Kedua: Menghadiri Perayaan Orang Kafir Bukan Ciri Orang Beriman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala sendiri telah mencirikan sifat orang-orang beriman. Mereka adalah orang-orang yang tidak menghadiri ritual atau perayaan orang-orang musyrik dan ini berarti tidak boleh umat Islam merayakan perayaan agama lain semacam valentine. Semoga ayat berikut bisa menjadi renungan bagi kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan perbuatan zur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon [25]: 72)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Jauziy dalam Zaadul Maysir mengatakan bahwa ada 8 pendapat mengenai makna kalimat “tidak menyaksikan perbuatan zur”, pendapat yang ada ini tidaklah saling bertentangan karena pendapat-pendapat tersebut hanya menyampaikan macam-macam perbuatan zur. Di antara pendapat yang ada mengatakan bahwa “tidak menyaksikan perbuatan zur” adalah tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Inilah yang dikatakan oleh Ar Robi’ bin Anas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ayat di atas adalah pujian untuk orang yang tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Jika tidak menghadiri perayaan tersebut adalah suatu hal yang terpuji, maka ini berarti melakukan perayaan tersebut adalah perbuatan yang sangat tercela dan termasuk ‘aib (Lihat Iqtidho’, 1/483). Jadi, merayakan Valentine’s Day bukanlah ciri orang beriman karena jelas-jelas hari tersebut bukanlah hari raya umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusakan Ketiga: Mengagungkan Sang Pejuang Cinta Akan Berkumpul Bersamanya di Hari Kiamat Nanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika orang mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan mendapatkan keutamaan berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَتَّى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا أَعْدَدْتَ لَهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tersebut menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلاَةٍ وَلاَ صَوْمٍ وَلاَ صَدَقَةٍ ، وَلَكِنِّى أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain di Shohih Bukhari, Anas mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَمَا فَرِحْنَا بِشَىْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - « أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ » . قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas pun mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandingkan, bagaimana jika yang dicintai dan diagungkan adalah seorang tokoh Nashrani yang dianggap sebagai pembela dan pejuang cinta di saat raja melarang menikahkan para pemuda. Valentine-lah sebagai pahlawan dan pejuang ketika itu. Lihatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas: “Kalau begitu engkau bersama dengan orang yang engkau cintai”. Jika Anda seorang muslim, manakah yang Anda pilih, dikumpulkan bersama orang-orang sholeh ataukah bersama tokoh Nashrani yang jelas-jelas kafir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang mau dikumpulkan di hari kiamat bersama dengan orang-orang kafir[?] Semoga menjadi bahan renungan bagi Anda, wahai para pengagum Valentine!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusakan Keempat: Ucapan Selamat Berakibat Terjerumus Dalam Kesyirikan dan Maksiat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Valentine” sebenarnya berasal dari bahasa Latin yang berarti: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. (Dari berbagai sumber)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu disadari atau tidak, jika kita meminta orang menjadi “To be my valentine (Jadilah valentineku)”, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun telah kemukakan di awal bahwa hari valentine jelas-jelas adalah perayaan nashrani, bahkan semula adalah ritual paganisme. Oleh karena itu, mengucapkan selamat hari kasih sayang atau ucapan selamat dalam hari raya orang kafir lainnya adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama (baca: ijma’ kaum muslimin), sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah (1/441, Asy Syamilah). Beliau rahimahullah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal atau selamat hari valentine, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya. Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusakan Kelima: Hari Kasih Sayang Menjadi Hari Semangat Berzina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang. Na’udzu billah min dzalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal mendekati zina saja haram, apalagi melakukannya. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”&lt;/span&gt; (QS. Al Isro’ [17]: 32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Tafsir Jalalain dikatakan bahwa larangan dalam ayat ini lebih keras daripada perkataan ‘Janganlah melakukannya’. Artinya bahwa jika kita mendekati zina saja tidak boleh, apalagi sampai melakukan zina, jelas-jelas lebih terlarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusakan Keenam: Meniru Perbuatan Setan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang hari Valentine-lah berbagai ragam coklat, bunga, hadiah, kado dan souvenir laku keras. Berapa banyak duit yang dihambur-hamburkan ketika itu. Padahal sebenarnya harta tersebut masih bisa dibelanjakan untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat atau malah bisa disedekahkan pada orang yang membutuhkan agar berbuah pahala. Namun, hawa nafsu berkehendak lain. Perbuatan setan lebih senang untuk diikuti daripada hal lainnya. Itulah pemborosan yang dilakukan ketika itu mungkin bisa bermilyar-milyar rupiah dihabiskan ketika itu oleh seluruh penduduk Indonesia, hanya demi merayakan hari Valentine. Tidakkah mereka memperhatikan firman Allah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27). Maksudnya adalah mereka menyerupai setan dalam hal ini. Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan yang keliru.” &lt;/span&gt;(Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebagian kerusakan yang ada di hari valentine, mulai dari paganisme, kesyirikan, ritual Nashrani, perzinaan dan pemborosan. Sebenarnya, cinta dan kasih sayang yang diagung-agungkan di hari tersebut adalah sesuatu yang semu yang akan merusak akhlak dan norma-norma agama. Perlu diketahui pula bahwa Valentine’s Day bukan hanya diingkari oleh pemuka Islam melainkan juga oleh agama lainnya. Sebagaimana berita yang kami peroleh dari internet bahwa hari Valentine juga diingkari di India yang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Alasannya, karena hari valentine dapat merusak tatanan nilai dan norma kehidupan bermasyarakat. Kami katakan: “Hanya orang yang tertutup hatinya dan mempertuhankan hawa nafsu saja yang enggan menerima kebenaran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, kami ingatkan agar kaum muslimin tidak ikut-ikutan merayakan hari Valentine, tidak boleh mengucapkan selamat hari Valentine, juga tidak boleh membantu menyemarakkan acara ini dengan jual beli, mengirim kartu, mencetak, dan mensponsori acara tersebut karena ini termasuk tolong menolong dalam dosa dan kemaksiatan. Ingatlah, Setiap orang haruslah takut pada kemurkaan Allah Ta’ala. Semoga tulisan ini dapat tersebar pada kaum muslimin yang lainnya yang belum mengetahui. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shollallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggang, Gunung Kidul, 12 Shofar 1430 H&lt;br /&gt;Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8859049449550037071-6616897951999446531?l=alfirqotunnajiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/6616897951999446531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/6616897951999446531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/2009/02/6-kerusakan-valentines-day.html' title='6 Kerusakan Valentine’s Day'/><author><name>YAHYA AL BUNY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00500596638645663569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SMnoh7LksdI/AAAAAAAAAAM/HWHohIDKDrg/S220/ais+ami+jenggot.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SZkOqX9fhGI/AAAAAAAAAJQ/JBRQxIcmfH0/s72-c/corazon.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071.post-1211818012397386475</id><published>2009-01-30T18:52:00.000-08:00</published><updated>2009-01-30T19:30:57.035-08:00</updated><title type='text'>APA ITU WAHABI?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SYPCNQmLzkI/AAAAAAAAAJE/xRiqOjPueus/s1600-h/air2.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 277px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SYPCNQmLzkI/AAAAAAAAAJE/xRiqOjPueus/s320/air2.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297291119767047746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dewasa ini telah di munculkan lagi istilah dakwah yang dulu pernah juga sangat populer di tuduhkan pada para ulama pembaharu seperti Kiayi Ahmad Dahlan pediri Muhammadiyah.. tuduhan itu bernama WAHABI.. untu lebih lanjut mengrti tenang apa itu yang di sebut Wahabi. silahkan membaca&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بسم الله الرحمن الرحيم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسانٍ إلى يوم الدين.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فإن أصدقَ الحديث كتاب الله وخيرَ الهدي هديُ محمد صلى الله عليه وسلم وشرَّ الأمور محدثاتها وكلَّ محدثة بدعة وكلَّ بدعة ضلالة وكلَّ ضلالة في النار، أما بعد ؛&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama dan utama sekali kita ucapkan puji syukur kepada Allah subhaanahu wa ta’ala, yang senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita, sehingga pada kesempatan yang sangat berbahagia ini kita dapat berkumpul dalam rangka menambah wawasan keagamaan kita sebagai salah satu bentuk aktivitas ‘ubudiyah kita kepada-Nya. Kemudian salawat beserta salam buat Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang telah bersusah payah memperjuangkan agama yang kita cintai ini, untuk demi tegaknya kalimat tauhid di permukaan bumi ini, begitu pula untuk para keluarga dan sahabat beliau beserta orang-orang yang setia berpegang teguh dengan ajaran beliau sampai hari kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya tak lupa ucapan terima kasih kami aturkan untuk para panitia yang telah memberi kesempatan dan mempercayakan kepada kami untuk berbicara di hadapan para hadirin semua pada kesempatan ini, serta telah menggagas untuk terlaksananya acara tabliq akbar ini dengan segala daya dan upaya semoga Allah menjadikan amalan mereka tercatat sebagai amal saleh di hari kiamat kelak, amiin ya Rabbal ‘alamiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan yang penuh berkah ini, panitia telah mempercayakan kepada kami untuk berbicara dengan topik: Apa Wahabi Itu?, semoga Allah memberikan taufik dan inayah-Nya kepada kami dalam mengulas topik tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang amat singkat di atas membutuhkan jawaban yang cukup panjang, jawaban tersebut akan tersimpul dalam beberapa poin berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Keadaan yang melatar belakangi munculnya tuduhan wahabi.&lt;br /&gt;    * Kepada siapa ditujukan tuduhan wahabi tersebut diarahkan?.&lt;br /&gt;    * Pokok-pokok landasan dakwah yang dicap sebagai wahabi.&lt;br /&gt;    * Bukti kebohongan tuduhan wahabi terhadap dakwah Ahlussunnah Wal Jama’ah.&lt;br /&gt;    * Ringkasan dan penutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan Yang Melatar Belakangi Munculnya Tuduhan Wahabi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para hadirin yang kami hormati, dengan melihat gambaran sekilas tentang keadaan Jazirah Arab serta negeri sekitarnya, kita akan tahu sebab munculnya tuduhan tersebut, sekaligus kita akan mengerti apa yang melatarbelakanginya. Yang ingin kita tinjau di sini adalah dari aspek politik dan keagamaan secara umum, aspek aqidah secara khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi aspek politik Jazirah Arab berada di bawah kekuasaan yang terpecah-pecah, terlebih khusus daerah Nejd, perebutan kekuasaan selalu terjadi di sepanjang waktu, sehingga hal tersebut sangat berdampak negatif untuk kemajuan ekonomi dan pendidikan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penguasa hidup dengan memungut upeti dari rakyat jelata, jadi mereka sangat marah bila ada kekuatan atau dakwah yang dapat akan menggoyang kekuasaan mereka, begitu pula dari kalangan para tokoh adat dan agama yang biasa memungut iuran dari pengikut mereka, akan kehilangan objek jika pengikut mereka mengerti tentang aqidah dan agama dengan benar, dari sini mereka sangat hati-hati bila ada seseorang yang mencoba memberi pengertian kepada umat tentang aqidah atau agama yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi aspek agama, pada abad (12 H / 17 M) keadaan beragama umat Islam sudah sangat jauh menyimpang dari kemurnian Islam itu sendiri, terutama dalam aspek aqidah, banyak sekali di sana sini praktek-praktek syirik atau bid’ah, para ulama yang ada bukan berarti tidak mengingkari hal tersebut, tapi usaha mereka hanya sebatas lingkungan mereka saja dan tidak berpengaruh secara luas, atau hilang ditelan oleh arus gelombang yang begitu kuat dari pihak yang menentang karena jumlah mereka yang begitu banyak di samping pengaruh kuat dari tokoh-tokoh masyarakat yang mendukung praktek-praktek syirik dan bid’ah tersebut demi kelanggengan pengaruh mereka atau karena mencari kepentingan duniawi di belakang itu, sebagaimana keadaan seperti ini masih kita saksikan di tengah-tengah sebagian umat Islam, barangkali negara kita masih dalam proses ini, di mana aliran-aliran sesat dijadikan segi batu loncatan untuk mencapai pengaruh politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu di Nejd sebagai tempat kelahiran sang pengibar bendera tauhid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab sangat menonjol hal tersebut. Disebutkan oleh penulis sejarah dan penulis biografi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, bahwa di masa itu pengaruh keagamaan melemah di dalam tubuh kaum muslimin sehingga tersebarlah berbagai bentuk maksiat, khurafat, syirik, bid’ah, dan sebagainya. Karena ilmu agama mulai minim di kalangan kebanyakan kaum muslimin, sehingga praktek-praktek syirik terjadi di sana sini seperti meminta ke kuburan wali-wali, atau meminta ke batu-batu dan pepohonan dengan memberikan sesajian, atau mempercayai dukun, tukang tenung dan peramal. Salah satu daerah di Nejd, namanya kampung Jubailiyah di situ terdapat kuburan sahabat Zaid bin Khaththab (saudara Umar bin Khaththab) yang syahid dalam perperangan melawan Musailamah Al Kadzab, manusia berbondong-bondong ke sana untuk meminta berkah, untuk meminta berbagai hajat, begitu pula di kampung ‘Uyainah terdapat pula sebuah pohon yang diagungkan, para manusia juga mencari berkah ke situ, termasuk para kaum wanita yang belum juga mendapatkan pasangan hidup meminta ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun daerah Hijaz (Mekkah dan Madinah) sekalipun tersebarnya ilmu dikarenakan keberadaan dua kota suci yang selalu dikunjungi oleh para ulama dan penuntut ilmu. Di sini tersebar kebiasaan suka bersumpah dengan selain Allah, menembok serta membangun kubah-kubah di atas kuburan serta berdoa di sana untuk mendapatkan kebaikan atau untuk menolak mara bahaya dsb (lihat pembahasan ini dalam kitab Raudhatul Afkar karangan Ibnu Qhanim). Begitu pula halnya dengan negeri-negeri sekitar hijaz, apalagi negeri yang jauh dari dua kota suci tersebut, ditambah lagi kurangnya ulama, tentu akan lebih memprihatinkan lagi dari apa yang terjadi di Jazirah Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini disebut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitabnya al-Qawa’id Arba’: “Sesungguhnya kesyirikan pada zaman kita sekarang melebihi kesyirikan umat yang lalu, kesyirikan umat yang lalu hanya pada waktu senang saja, akan tetapi mereka ikhlas pada saat menghadapi bahaya, sedangkan kesyirikan pada zaman kita senantiasa pada setiap waktu, baik di saat aman apalagi saat mendapat bahaya”. Dalilnya firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka apabila mereka menaiki kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan agama padanya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, seketika mereka kembali berbuat syirik.” (QS. al-Ankabut: 65)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat ini Allah terangkan bahwa mereka ketika berada dalam ancaman bencana yaitu tenggelam dalam lautan, mereka berdoa hanya semata kepada Allah dan melupakan berhala atau sesembahan mereka baik dari orang sholeh, batu dan pepohonan, namun saat mereka telah selamat sampai di daratan mereka kembali berbuat syirik. Tetapi pada zaman sekarang orang melakukan syirik dalam setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan seperti di atas Allah membuka sebab untuk kembalinya kaum muslimin kepada Agama yang benar, bersih dari kesyirikan dan bid’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Rasulullah dalam sabdanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;« إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini pada setiap penghujung seratus tahun orang yang memperbaharui untuk umat ini agamanya“. (HR. Abu Daud no. 4291, Al Hakim no. 8592)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad (12 H / 17 M) lahirlah seorang pembaharu di negeri Nejd, yaitu: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Dari Kabilah Bani Tamim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pernah mendapat pujian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau: “Bahwa mereka (yaitu Bani Tamim) adalah umatku yang terkuat dalam menentang Dajjal.” (HR. Bukhari no. 2405, Muslim no. 2525)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tepatnya tahun 1115 H di ‘Uyainah di salah satu perkampungan daerah Riyadh. Beliau lahir dalam lingkungan keluarga ulama, kakek dan bapak beliau merupakan ulama yang terkemuka di negeri Nejd, belum berumur sepuluh tahun beliau telah hafal al-Qur’an, ia memulai pertualangan ilmunya dari ayah kandungnya dan pamannya, dengan modal kecerdasan dan ditopang oleh semangat yang tinggi beliau berpetualang ke berbagai daerah tetangga untuk menuntut ilmu seperti daerah Basrah dan Hijaz, sebagaimana lazimnya kebiasaan para ulama dahulu yang mana mereka membekali diri mereka dengan ilmu yang matang sebelum turun ke medan dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini juga disebut oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitabnya Ushul Tsalatsah: “Ketahuilah semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya wajib atas kita untuk mengenal empat masalah; pertama Ilmu yaitu mengenal Allah, mengenal nabinya, mengenal agama Islam dengan dalil-dalil”. Kemudian beliau sebutkan dalil tentang pentingnya ilmu sebelum beramal dan berdakwah, beliau sebutkan ungkapan Imam Bukhari: “Bab berilmu sebelum berbicara dan beramal, dalilnya firman Allah yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketahuilah sesungguhnya tiada yang berhak disembah kecuali Allah dan minta ampunlah atas dosamu.” Maka dalam ayat ini Allah memulai dengan perintah ilmu sebelum berbicara dan beramal”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beliau kembali dari pertualangan ilmu, beliau mulai berdakwah di kampung Huraimilak di mana ayah kandung beliau menjadi Qadhi (hakim). Selain berdakwah, beliau tetap menimba ilmu dari ayah beliau sendiri, setelah ayah beliau meninggal tahun 1153, beliau semakin gencar mendakwahkan tauhid, ternyata kondisi dan situasi di Huraimilak kurang menguntungkan untuk dakwah, selanjut beliau berpindah ke ‘Uyainah, ternyata penguasa ‘Uyainah saat itu memberikan dukungan dan bantuan untuk dakwah yang beliau bawa, namun akhirnya penguasa ‘Uyainah mendapat tekanan dari berbagai pihak, akhirnya beliau berpindah lagi dari ‘Uyainah ke Dir’iyah, ternyata masyarakat Dir’iyah telah banyak mendengar tentang dakwah beliau melalui murid-murid beliau, termasuk sebagian di antara murid beliau keluarga penguasa Dir’iyah, akhirnya timbul inisiatif dari sebagian dari murid beliau untuk memberi tahu pemimpin Dir’yah tentang kedatangan beliau, maka dengan rendah hati Muhammad bin Saud sebagai pemimpin Dir’iyah waktu itu mendatangi tempat di mana Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menumpang, maka di situ terjalinlah perjanjian yang penuh berkah bahwa di antara keduanya berjanji akan bekerja sama dalam menegakkan agama Allah. Dengan mendengar adanya perjanjian tersebut mulailah musuh-musuh Aqidah kebakaran jenggot, sehingga mereka berusaha dengan berbagai dalih untuk menjatuhkan kekuasaan Muhammad bin Saud, dan menyiksa orang-orang yang pro terhadap dakwah tauhid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada Siapa Dituduhkan Gelar Wahabi Tersebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hari demi hari dakwah tauhid semakin tersebar mereka para musuh dakwah tidak mampu lagi untuk melawan dengan kekuatan, maka mereka berpindah arah dengan memfitnah dan menyebarkan isu-isu bohong supaya mendapat dukungan dari pihak lain untuk menghambat laju dakwah tauhid tersebut. Diantar fitnah yang tersebar adalah sebutan wahabi untuk orang yang mengajak kepada tauhid. Sebagaimana lazimnya setiap penyeru kepada kebenaran pasti akan menghadapi berbagai tantangan dan onak duri dalam menelapaki perjalanan dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana telah dijelaskan pula oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitab beliau Kasyfus Syubuhaat: “Ketahuilah olehmu, bahwa sesungguhnya di antara hikmah Allah subhaanahu wa ta’ala, tidak diutus seorang nabi pun dengan tauhid ini, melainkan Allah menjadikan baginya musuh-musuh, sebagaimana firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demikianlah Kami jadikan bagi setiap Nabi itu musuh (yaitu) setan dari jenis manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada bagian yang lain perkataan indah sebagai tipuan.” (QS. al-An-’am: 112)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita membaca sejarah para nabi tidak seorang pun di antara mereka yang tidak menghadapi tantangan dari kaumnya, bahkan di antara mereka ada yang dibunuh, termasuk Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam diusir dari tanah kelahirannya, beliau dituduh sebagai orang gila, sebagai tukang sihir dan penyair, begitu pula pera ulama yang mengajak kepada ajarannya dalam sepanjang masa. Ada yang dibunuh, dipenjarakan, disiksa, dan sebagainya. Atau dituduh dengan tuduhan yang bukan-bukan untuk memojokkan mereka di hadapan manusia, supaya orang lari dari kebenaran yang mereka serukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini pula yang dihadapi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, sebagaimana yang beliau ungkapkan dalam lanjutan surat beliau kepada penduduk Qashim: “Kemudian tidak tersembunyi lagi atas kalian, saya mendengar bahwa surat Sulaiman bin Suhaim (seorang penentang dakwah tauhid) telah sampai kepada kalian, lalu sebagian di antara kalian ada yang percaya terhadap tuduhan-tuduhan bohong yang ia tulis, yang mana saya sendiri tidak pernah mengucapkannya, bahkan tidak pernah terlintas dalam ingatanku, seperti tuduhannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Bahwa saya mengingkari kitab-kitab mazhab yang empat.&lt;br /&gt;    * Bahwa saya mengatakan bahwa manusia semenjak enam ratus tahun lalu sudah tidak lagi memiliki ilmu.&lt;br /&gt;    * Bahwa saya mengaku sebagai mujtahid.&lt;br /&gt;    * Bahwa saya mengatakan bahwa perbedaan pendapat antara ulama adalah bencana.&lt;br /&gt;    * Bahwa saya mengkafirkan orang yang bertawassul dengan orang-orang saleh (yang masih hidup -ed).&lt;br /&gt;    * Bahwa saya pernah berkata; jika saya mampu saya akan runtuhkan kubah yang ada di atas kuburan Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;    * Bahwa saya pernah berkata, jika saya mampu saya akan ganti pancuran ka’bah dengan pancuran kayu.&lt;br /&gt;    * Bahwa saya mengharamkan ziarah kubur.&lt;br /&gt;    * Bahwa saya mengkafirkan orang bersumpah dengan selain Allah.&lt;br /&gt;    * Jawaban saya untuk tuduhan-tuduhan ini adalah: sesungguhnya ini semua adalah suatu kebohongan yang nyata. Lalu beliau tutup dengan firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman jika orang fasik datang kepada kamu membawa sebuah berita maka telitilah, agar kalian tidak mencela suatu kaum dengan kebodohan.” (QS. al-Hujuraat: 6) (baca jawaban untuk berbagai tuduhan di atas dalam kitab-kitab berikut, 1. Mas’ud an-Nadawy, Muhammad bin Abdul Wahab Muslih Mazlum, 2. Abdul Aziz Abdul Lathif, Da’awy Munaawi-iin li Dakwah Muhammad bin Abdil Wahab, 3. Sholeh Fauzan, Min A’laam Al Mujaddidiin, dan kitab lainnya)&lt;br /&gt;Pokok-Pokok Landasan Dakwah yang Dicap Sebagai Wahabi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokok landasan dakwah yang utama sekali beliau tegakkan adalah pemurnian ajaran tauhid dari berbagai campuran syirik dan bid’ah, terutama dalam mengkultuskan para wali, dan kuburan mereka, hal ini akan nampak jelas bagi orang yang membaca kitab-kitab beliau, begitu pula surat-surat beliau (lihat kumpulan surat-surat pribadi beliau dalam kita Majmu’ Muallafaat Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab, jilid 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah surat beliau kepada penduduk Qashim, beliau paparkan aqidah beliau dengan jelas dan gamblang, ringkasannya sebagaimana berikut: “Saya bersaksi kepada Allah dan kepada para malaikat yang hadir di sampingku serta kepada anda semua:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Saya bersaksi bahwa saya berkeyakinan sesuai dengan keyakinan golongan yang selamat yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dari beriman kepada Allah dan kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, kepada hari berbangkit setelah mati, kepada takdir baik dan buruk.&lt;br /&gt;    * Termasuk dalam beriman kepada Allah adalah beriman dengan sifat-sifat-Nya yang terdapat dalam kitab-Nya dan sunnah rasul-Nya tanpa tahriif (mengubah pengertiannya) dan tidak pula ta’tiil (mengingkarinya). Saya berkeyakinan bahwa tiada satupun yang menyerupai-Nya. Dan Allah itu Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Dari ungkapan beliau ini terbantah tuduhan bohong bahwa beliau orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk (Musabbihah atau Mujassimah))&lt;br /&gt;    * Saya berkeyakinan bahwa al-Qur’an itu adalah kalamullah yang diturunkan, ia bukan makhluk, datang dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.&lt;br /&gt;    * Saya beriman bahwa Allah itu berbuat terhadap segala apa yang dikehendaki-Nya, tidak satupun yang terjadi kecuali atas kehendak-Nya, tiada satupun yang keluar dari kehendak-Nya.&lt;br /&gt;    * Saya beriman dengan segala perkara yang diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang apa yang akan terjadi setelah mati, saya beriman dengan azab dan nikmat kubur, tentang akan dipertemukannya kembali antara ruh dan jasad, kemudian manusia dibangkit menghadap Sang Pencipta sekalian alam, dalam keadaan tanpa sandal dan pakaian, serta dalam keadaan tidak bekhitan, matahari sangat dekat dengan mereka, lalu amalan manusia akan ditimbang, serta catatan amalan mereka akan diberikan kepada masing-masing mereka, sebagian mengambilnya dengan tangan kanan dan sebagian yang lain dengan tangan kiri.&lt;br /&gt;    * Saya beriman dengan telaga Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;    * Saya beriman dengan shirat (jembatan) yang terbentang di atas neraka Jahanam, manusia melewatinya sesuai dengan amalan mereka masing-masing.&lt;br /&gt;    * Saya beriman dengan syafa’at Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Dia adalah orang pertama sekali memberi syafa’at, orang yang mengingkari syafa’at adalah termasuk pelaku bid’ah dan sesat. (Dari ungkapan beliau ini terbantah tuduhan bohong bahwa beliau orang yang mengingkari syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)&lt;br /&gt;    * Saya beriman dengan surga dan neraka, dan keduanya telah ada sekarang, serta keduanya tidak akan sirna.&lt;br /&gt;    * Saya beriman bahwa orang mukmin akan melihat Allah dalam surga kelak.&lt;br /&gt;    * Saya beriman bahwa Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup segala nabi dan rasul, tidak sah iman seseorang sampai ia beriman dengan kenabiannya dan kerasulannya. (Dari ungkapan beliau ini terbantah tuduhan bohong bahwa beliau orang yang mengaku sebagai nabi atau tidak memuliakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. bahkan beliau mengarang sebuah kitab tentang sejarah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan judul Mukhtashar sirah Ar Rasul, bukankah ini suatu bukti tentang kecintaan beliau kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.)&lt;br /&gt;    * Saya mencintai para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula para keluarga beliau, saya memuji mereka, dan mendoakan semoga Allah meridhai mereka, saya menutup mulut dari membicarakan kejelekan dan perselisihan yang terjadi antara mereka.&lt;br /&gt;    * Saya mengakui karamah para wali Allah, tetapi apa yang menjadi hak Allah tidak boleh diberikan kepada mereka, tidak boleh meminta kepada mereka sesuatu yang tidak mampu melakukannya kecuali Allah. (Dari ungkapan beliau ini terbantah tuduhan bohong bahwa beliau orang yang mengingkari karamah atau tidak menghormati para wali)&lt;br /&gt;    * Saya tidak mengkafirkan seorang pun dari kalangan muslim yang melakukan dosa, dan tidak pula menguarkan mereka dari lingkaran Islam. (dari ungkapan beliau ini terbantah tuduhan bohong bahwa beliau mengkafirkan kaum muslimin, atau berfaham khawarij, baca juga Manhaj syeikh Muhammad bin Abdul Wahab fi masalah at takfiir, karangan Ahmad Ar Rudhaiman)&lt;br /&gt;    * Saya berpandangan tentang wajibnya taat kepada para pemimpin kaum muslimin, baik yang berlaku adil maupun yang berbuat zalim, selama mereka tidak menyuruh kepada perbuatan maksiat. (dari ungkapan beliau ini terbantah tuduhan bohong bahwa beliau orang yang menganut faham khawarij (teroris))&lt;br /&gt;    * Saya berpandangan tentang wajibnya menjauhi para pelaku bid’ah, sampai ia bertaubat kepada Allah, saya menilai mereka secara lahir, adapun amalan hati mereka saya serahkan kepada Allah.&lt;br /&gt;    * Saya berkeyakinan bahwa iman itu terdiri dari perkataan dengan lidah, perbuatan dengan anggota tubuh dan pengakuan dengan hati, ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti Kebohongan Tuduhan Wahabi Tehadap Dakwah Ahlussunnah Wal Jama’ah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan membandingkan antara tuduhan-tuduhan sebelumnya dengan aqidah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang kita sebutkan di atas, tentu dengan sendirinya kita akan mengetahui kebohongan tuduhan-tuduhan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuduhan-tuduhan bohong tersebut disebar luaskan oleh musuh dakwah Ahluss sunnah ke berbagai negeri Islam, sampai pada masa sekarang ini, masih banyak orang tertipu dengan kebohongan tersebut. sekalipun telah terbukti kebohongannya, bahkan seluruh karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab membantah tuduhan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita ambil contoh kecil saja dalam kitab beliau “Ushul Tsalatsah” kitab yang kecil sekali, tapi penuh dengan mutiara ilmu, beliau mulai dengan menyebutkan perkataan Imam Syafi’i, kemudian di pertengahannya beliau sebutkan perkataan Ibnu Katsir yang bermazhab syafi’i jika beliau tidak mencintai para imam mazhab yang empat atau hanya berpegang dengan mazhab Hambali saja, mana mungkin beliau akan menyebutkan perkataan mereka tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan beliau dalam salah satu surat beliau kepada salah seorang kepala suku di daerah Syam berkata: “Saya katakan kepada orang yang menentangku, sesungguhnya yang wajib atas manusia adalah mengikuti apa yang diwasiatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka bacalah buku-buku yang terdapat pada kalian, jangan kalian ambil dari ucapanku sedikitpun, tetapi apabila kalian telah mengetahui perkataan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat dalam kitab kalian tersebut maka ikutilah, sekalipun kebanyakan manusia menentangnya.” (lihat kumpulan surat-surat pribadi beliau dalam kitab Majmu’ Muallafaat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, jilid 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ungkapan beliau di atas jelas sekali bahwa beliau tidak mengajak manusia kepada pendapat beliau, tetapi mengajak untuk mengikuti ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama dari berbagai negeri Islam pun membantah tuduhan-tuduhan bohong tersebut setelah mereka melihat secara nyata dakwah yang beliau tegakkan, seperti dari daerah Yaman Imam Asy Syaukani dan Imam As Shan’any, dari India Syekh Mas’ud An-Nadawy, dari Irak Syaikh Muahmmad Syukri Al Alusy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Syukri Al Alusy berkata setelah beliau menyebutkan berbagai tuduhan bohong yang disebar oleh musuh-musuh terhadap dakwah tauhid dan pengikutnya: “Seluruh tuduhan tersebut adalah kebohongan, fitnah dan dusta semata dari musuh-musuh mereka, dari golongan pelaku bid’ah dan kesesatan, bahkan kenyataannya seluruh perkataan dan perbuatan serta buku-buku mereka menyanggah tuduhan itu semua”. (al Alusy, Tarikh Nejd, hal: 40)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula Syaikh Mas’ud An-Nadawy dari India berkata: “Sesungguhnya kebohongan yang amat nyata yang dituduhkan terhadap dakwah Syaikh Muhammad bin Abdu Wahhab adalah penamaannya dengan wahabi, tetapi orang-orang yang rakus berusaha mempolitisir nama tersebut sebagai agama di luar Islam, lalu Inggris dan turki serta Mesir bersatu untuk menjadikannya sebagai lambang yang menakutkan, yang mana setiap muncul kebangkitan Islam di berbagai negeri, lalu orang-orang Eropa melihat akan membahayakan mereka, mereka lalu menghubungkannya dengan wahabi, sekalipun keduanya saling bertentangan.” (Muhammad bin Abdul Wahab Mushlih Mazhluum, hal: 165)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula Raja Abdul Aziz dalam sebuah pidato yang beliau sampaikan di kota Makkah di hadapan jamaah haji tgl 11 Mei 1929 M dengan judul “Inilah Aqidah Kami”: “Mereka menamakan kami sebagai orang-orang wahabi, mereka menamakan mazhab kami wahabi, dengan anggapan sebagai mazhab khusus, ini adalah kesalahan yang amat keji, muncul dari isu-isu bohong yang disebarkan oleh orang-orang yang mempunyai tujuan tertentu, dan kami bukanlah pengikut mazhab dan aqidah baru, Muhammad bin Abdul Wahab tidak membawa sesuatu yang baru, aqidah kami adalah aqidah salafus sholeh, yaitu yang terdapat dalam kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, serta apa yang menjadi pegangan salafus sholeh. Kami memuliakan imam-imam yang empat, kami tidak membeda-bedakan antara imam-imam; Malik, Syafi’i , Ahmad dan Abu Hanifah, seluruh mereka adalah orang-orang yang dihormati dalam pandangan kami, sekalipun kami dalam masalah fikih berpegang dengan mazhab hambaly.” (al Wajiz fi Sirah Malik Abdul Aziz, hal: 216)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini terbukti lagi kebohongan dan propaganda yang dibuat oleh musuh Islam dan musuh dakwah Ahlussunnah bahwa teroris diciptakan oleh wahabi. Karena seluruh buku-buku aqidah yang menjadi pegangan di kampus-kampus tidak pernah luput dari membongkar kesesatan teroris (Khawarij dan Mu’tazilah). Begitu pula tuduhan bahwa Mereka tidak menghormati para wali Allah atau dianggap membikin mazhab yang kelima. Pada kenyataannya semua buku-buku yang dipelajari dalam seluruh jenjang pendidikan adalah buku-buku para wali Allah dari berbagai mazhab. Pembicara sebutkan di sini buku-buku yang menjadi panduan di Universitas Islam Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Untuk mata kuliah Aqidah: kitab “Syarah Aqidah Thawiyah” karangan Ibnu Abdil ‘iz Al Hanafi, “Fathul Majiid” karangan Abdurahman bin Hasan Al hambaly. Ditambah sebagai penunjang, “Al Ibaanah“ karangan Imam Abu Hasan Al Asy’ari, “Al Hujjah” karangan Al Ashfahany Asy Syafi’i, “Asy Syari’ah” karangan Al Ajurry, Kitab “At Tauhid” karangan Ibnu Khuzaimah, Kitab “At Tauhid” karangan Ibnu Mandah, dll.&lt;br /&gt;    * Untuk mata kuliyah Tafsir: Tafsir Ibnu Katsir Asy Syafi’i, Tafsir Asy Syaukany. Ditambah sebagai penunjang: Tafsir At Thobary, Tafsir Al Qurtuby Al Maliky, Tafsir Al Baghawy As Syafi’i, dan lainnya.&lt;br /&gt;    * Untuk mata kuliyah Hadits: Kutub As Sittah beserta Syarahnya seperti: “Fathul Bary” karangan Ibnu Hajar Asy Syafi’i, “Syarah Shahih Muslim” karangan Imam An Nawawy Asy Syafi”i, dll.&lt;br /&gt;    * Untuk mata kuliyah fikih: “Bidayatul Mujtahid” karangan Ibnu Rusy Al maliky, “Subulus Salam” karangan Ash Shan’any. Ditambah sebagai penunjang: “al Majmu’” karangan Imam An Nawawy Asy Syafi”i, kitab “Al Mughny” karangan Ibnu Qudamah Al Hambali, dll. Kalau ingin untuk melihat lebih dekat lagi tentang kitab-kitab yang menjadi panduan mahasiswa di Arab Saudi silakan berkunjung ke perpustakaan Universitas Islam Madinah atau perpustakaan mesjid Nabawi, di sana akan terbukti segala kebohongan dan propaganda yang dibikin oleh musuh Islam dan kelompok yang berseberangan dengan paham Ahlussunnah wal Jama’ah seperti tuduhan teroris dan wahabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya kami mengajak para hadirin semua apabila mendengar tuduhan jelek tentang dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, atau membaca buku yang menyebarkan tuduhan jelek tersebut, maka sebaiknya ia meneliti langsung dari buku-buku Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab atau buku-buku ulama yang seaqidah dengannya, supaya ia mengetahui tentang kebohongan tuduhan-tuduhan tersebut, sebagaimana perintah Allah kepada kita:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman, bila seorang fasik datang kepadamu membawa sebuah berita maka telitilah, agar kamu tidak mencela suatu kaum dengan kebodohan, sehingga kamu menjadi menyesal terhadap apa yang kamu lakukan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena buku-buku Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bisa didapatkan dengan sangat mudah terlebih-lebih pada musim haji dibagikan secara gratis, di situ akan terbukti bahwa beliau tidak mengajak kepada mazhab baru atau kepercayaan baru yang menyimpang dari pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah, namun semata-mata ia mengajak untuk beramal sesuai dengan kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, sesuai dengan mazhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah, meneladani Rasulullah dan para sahabatnya serta generasi terkemuka umat ini, serta menjauhi segala bentuk bid’ah dan khurafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasan Dan Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Seorang da’i hendaklah membekali dirinya dengan ilmu yang cukup sebelum terjun ke medan dakwah.&lt;br /&gt;    * Seorang da’i hendaklah memulai dakwah dari tauhid, bukan kepada politik, selama umat tidak beraqidah benar selama itu pula politik tidak akan stabil.&lt;br /&gt;    * Seorang da’i hendaklah sabar dalam menghadapi berbagai rintangan dan tantang dalam menegakkan dakwah.&lt;br /&gt;    * Seorang da’i yang ikhlas dalam dakwahnya harus yakin dengan pertolongan Allah, bahwa Allah pasti akan menolong orang yang menolong agama-Nya.&lt;br /&gt;    * Tuduhan wahabi adalah tuduhan yang datang dari musuh dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dengan tujuan untuk menghalangi orang dari mengikuti dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.&lt;br /&gt;    * Muhammad bin Abdul Wahhab bukanlah sebagai pembawa aliran baru atau ajaran baru, tetapi seorang yang berpegang teguh dengan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.&lt;br /&gt;    * Perlunya ketelitian dalam membaca atau mendengar sebuah isu atau tuduhan jelek terhadap seseorang atau suatu kelompok, terutama merujuk pemikiran seseorang tersebut melalui tulisan atau karangannya sendiri untuk pembuktian berbagai tuduhan dan isu yang tersebar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup kami mohon maaf atas segala kekurangan dan kekeliruan dalam penyampaian materi ini, semua itu adalah karena keterbatasan ilmu yang kami miliki, semoga apa yang kami sampaikan ini bermanfaat bagi kami sendiri dan bagi hadirin semua, semoga Allah memperlihatkan kepada kita yang benar itu adalah benar, kemudian menuntun kita untuk mengikuti kebenaran itu, dan memperlihatkan kepada kita yang salah itu adalah salah, dan menjauhkan kita dari mengikuti yang salah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت وأستغفرك وأتوب إليك.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Penulis adalah Rektor Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafii,  Jember, Jawa Timur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8859049449550037071-1211818012397386475?l=alfirqotunnajiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/1211818012397386475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/1211818012397386475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/2009/01/apa-itu-wahabi.html' title='APA ITU WAHABI?'/><author><name>YAHYA AL BUNY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00500596638645663569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SMnoh7LksdI/AAAAAAAAAAM/HWHohIDKDrg/S220/ais+ami+jenggot.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SYPCNQmLzkI/AAAAAAAAAJE/xRiqOjPueus/s72-c/air2.jpeg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071.post-680942550633649308</id><published>2009-01-29T19:18:00.000-08:00</published><updated>2009-01-29T19:40:17.158-08:00</updated><title type='text'>PERANG BELUM BERHENTI........</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SYJ2cPqD3eI/AAAAAAAAAI8/UJX5RRMaJOk/s1600-h/074226p.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 298px; height: 225px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SYJ2cPqD3eI/AAAAAAAAAI8/UJX5RRMaJOk/s320/074226p.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5296926339352485346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah yang telah mengutus para Rasul dengan membawa hujjah yang nyata untuk mengajak umat manusia bangkit dari kebodohan dan keraguan menuju ilmu dan keyakinan, dari kegelapan syirik menuju cahaya tauhid, dari pahitnya kekafiran menuju manisnya iman. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan teladan akhir zaman Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan semoga kita termasuk golongan pengikut beliau yang berjihad dengan hati, lisan dan anggota badan kita untuk menaklukkan hawa nafsu, godaan syaithan serta rongrongan musuh-musuh dari kalangan manusia seperti kaum ahlul bida’ wal ahwaa’. Amma ba’du.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, semenjak iblis la’natullah ‘alaih membangkang perintah Allah untuk sujud kepada ayahanda kita Adam ‘alaihis salam maka sesungguhnya era peperangan antara hamba-hamba Ar-Rahman melawan iblis dan bala tentaranya sedang dikobarkan. Saudaraku, ingatkah engkau betapa pahit hukuman yang harus dirasakan oleh ayah dan ibu kita gara-gara ulah iblis dengan rayuan palsunya. Saudaraku, iblis tidak menawarkan sesuatu yang jelek dan menjijikkan kepada mereka berdua. Akan tetapi dia menawarkan keabadian dan kelezatan kepada mereka. Walaupun pada hakikatnya kesenangan yang ditawarkannya adalah kesenangan yang menipu. Saudaraku seperjuangan, tidak tanggung-tanggung, ternyata iblis sejak diusir dari surga sudah memancangkan tekad kuat dan berani bersumpah di hadapan Rabb tabaaroka wa ta’ala untuk bekerja keras menyesatkan seluruh umat manusia. Dengarkanlah apa yang dikatakannya, “Demi kemuliaan-Mu (ya Allah) sungguh aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas.” Duhai saudaraku, iblis sudah mengobarkan api peperangan kepada kita. Lalu mengapa kita masih terlena dengan kesenangan-kesenangan yang menipu. Waktu kita terbuang sia-sia, energi kita terforsir untuk hal-hal yang tidak bermakna, pikiran kita larut dalam buaian angan-angan kenikmatan semu yang akhirnya menyeret kita ke jurang dosa dan maksiat. Sehingga hari demi hari yang tercatat dari hati kita adalah maksiat, yang keluar dari lisan kita adalah kesia-siaan atau dosa, dan gerak-gerik tubuh kita pun demikian. Sehingga semua yang kita miliki tidak keluar dari empat kategori:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kita gunakan untuk beramal tapi tidak ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kita gunakan untuk hal-hal yang tidak berguna atau sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, kita gunakan untuk bermaksiat kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, kita gunakan untuk melakukan amal ikhlas dan sesuai petunjuk Nabi-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi Medan Sebenarnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SYJyp-ht9YI/AAAAAAAAAI0/__P9nH8DSRQ/s1600-h/torabora3d.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 219px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SYJyp-ht9YI/AAAAAAAAAI0/__P9nH8DSRQ/s320/torabora3d.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5296922177225749890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, di manakah posisi kita… Apakah kita termasuk orang yang selalu berada di barisan orang-orang yang beramal shalih dengan ikhlas dan sesuai petunjuk Nabi-Nya dalam setiap perjalanan waktu yang kita lalui???!!! Tanyakan kepada dirimu sendiri… Lihatlah waktumu yang berlalu dengan terbuang percuma. Di atas tempat tidurmu, di atas tempat dudukmu, di atas kendaraanmu, di depan komputermu, di dalam bilik warnet, di dalam kamarmu, di antara teman-teman sepergaulanmu, di antara orang-orang asing yang tidak mengenalimu. Wahai, saudaraku… detik demi detik berlalu sementara iblis dan bala tentaranya mengintaimu dari tempat yang tak tampak olehmu. Mereka lancarkan tipu daya, propaganda, bisikan dan ancaman untuk bisa menyeretmu ke jurang kehancuran dunia dan akhirat. Mereka ingin agar engkau condong dan larut dalam godaan syahwat. Mereka ingin agar engkau tenggelam dalam kerancuan pemikiran dan aqidah yang sesat. Mereka ingin agar engkau menjauh dari ilmu dan para ulama. Mereka ingin agar engkau malas menuntut ilmu agama. Mereka ingin agar engkau jauh dari kawan-kawan yang shalih. Mereka ingin agar engkau mengisi waktumu dengan maksiat dan kesia-siaan. Di atas tempat tidur engkau bermaksiat. Di atas kursi engkau bermaksiat. Di depan komputer engkau bermaksiat. Di dalam kendaraanmu kau pun bermaksiat. Dengan mata, engkau melihat perkara-perkara yang haram untuk dilihat. Dengan telinga, engkau nikmati suara-suara yang haram untuk didengar. Dengan lisanmu, engkau berkata-kata dengan pembicaraan yang haram dan mengundang dosa. Dengan kakimu engkau melangkah menuju arena maksiat. Dengan tanganmu engkau pun menyentuh sesuatu yang haram untuk kau jamah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, iblis dan bala tentaranya sama sekali tidak akan menaruh belas kasihan kepadamu. Hari demi hari mereka jalani dengan rencana-rencana baru. Waktu demi waktu korban berjatuhan. Hati demi hati manusia mereka jajah dan cabik-cabik. Peperangan belum usai, saudaraku…!!! Kapankah kita sadar dengan tipu daya dan makar setan kepada kita. Di tengah waktu sibuk kita, setan pun datang menggoda kita. Di waktu senggang kita, setan pun datang untuk merayu kita. Dia datang dari depanmu. Dia datang dari sebelah kananmu. Dia datang dari sebelah kirimu. Dan dia datang dari belakangmu. Gempuran bertubi-tubi telah mereka lancarkan kepadamu. Sementara engkau lalai dan tidak menyadari sekian banyak ‘rudal’ dan ‘peluru’ telah membumihanguskan daerah kekuasaanmu. Musuh bercokol di balik benteng pertahananmu. Sementara pandanganmu kabur oleh kabut dosa dan angan-angan semu. Sementara musuhmu terus merangsek, maju dan memperisapkan taktik dan strategi baru. Saudaraku, siapakah panglima kita? Manakah peta pertempuran kita? Apakah yang bisa kita gunakan untuk membalas serangan mereka? Siapakah teman seperjuangan kita? Siapakah penunjuk arah yang akan membantu kita menempuh rute-rute kemenangan kita? Siapakah antek-antek musuh kita supaya kita tidak tertipu oleh penampilan mereka? Persiapkanlah, persiapkanlah senjatamu, siapkanlah bekalmu, atur strategimu, kumpulkanlah bala tentaramu, mari kita hadapi musuh-musuh itu dengan semangat jihad berapi-api, jihad menundukkan hawa nafsu, jihad melawan syaitan, jihad menundukkan kepentingan dunia, jihad dengan hujjah wal bayan, jihad dengan sabar dan keyakinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jihad dan Hidayah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Allah ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang berjihad di jalan kami sungguh Kami akan menunjukkan kepadanya jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabuut: 69)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu mengaitkan petunjuk dengan jihad. oleh sebab itu orang yang paling sempurna petunjuknya adalah yang paling besar jihadnya. Dan jihad yang paling wajib adalah berjihad menundukkan diri, memerangi hawa nafsu, memerangi syaitan dan menundukkan dunia. Barang siapa yang berjihad melawan keempat hal ini di jalan Allah maka Allah memberikan petunjuk kepadanya jalan-jalan keridhaan-Nya yang akan mengantarkannya ke surga. Dan barang siapa yang meninggalkan jihad maka dia akan kehilangan petunjuk berbanding lurus dengan banyaknya jihad yang ditinggalkan. Al Junaid berkata, “Orang-orang yang berjuang menundukkan hawa nafsu mereka di jalan Kami dengan senantiasa bertaubat maka akan Kami tunjukkan kepadanya jalan-jalan menggapai keikhlasan. Tidak ada orang yang sanggup tegar melawan musuh secara fisik yang dihadapinya kecuali orang yang berhasil melawan musuh-musuh ini secara batin. Barang siapa yang mendapatkan pertolongan sehingga mampu mengalahkannya maka dia akan sanggup melawan musuh secara fisik. Akan tetapi barang siapa yang justru bertekuk lutut pada hawa nafsunya maka musuhnyalah yang akan mengalahkannya.” (Fawaa’idul Fawaa’id, hal. 177).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaitan, Musuhmu yang Nyata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaitan adalah musuh manusia, seperti yang difirmankan Allah ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuhmu maka jadikanlah dia sebagai musuh, sesungguhnya dia hanya akan menyeru golongannya untuk menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Faathir: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu juga berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلإنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS. Yusuf: 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permusuhan syaitan melawan manusia sudah berlangsung sejak dahulu kala yaitu semenjak Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam ‘alaihi salam; karena syaitan menyimpan kedengkian kepada Adam ‘alaihi salam dan dia enggan untuk sujud kepadanya sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla kepadanya dan dia berhasil mengelabuinya sehingga Adam terjatuh dalam kedurhakaan kepada Rabbnya dan akhirnya Adam dikeluarkan dari surga meskipun permusuhan antara syaitan dan manusia ini telah berlangsung sejak dahulu kala tapi ternyata kita dapatkan kebanyakan manusia telah melupakan permusuhan tersebut, dan mereka justru membenarkan syaitan, menyucikannya dan mencintainya dan menaatinya sebagai tandingan bagi Allah, bahkan mereka pun menyembahnya sebagai sekutu bagi Allah ‘azza wa jalla, sebagaimana yang difirmankan Allah yang artinya, “Bukankah Aku telah mengambil janjimu wahai anak keturunan Adam supaya kamu tidak menyembah syaithan, sesungguhnya dia adalah musuhmu yang nyata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sudah menjadi kewajiban bagi setiap hamba untuk terus menerus bersungguh-sungguh melawan syaitan dan memeranginya, dan menolak bisikan-bisikan serta bujuk rayunya dan jangan sampai dia bersamanya untuk berdamai atau memberikan loyalitas apapun, tetapi apabila dia telah terjerumus dalam tindakan menaatinya maka segeralah bertaubat, kembali kepada Allah dan meminta perlindungan kepada-Nya agar tidak terjerumus lagi ke dalamnya sebagaimana firman Allah ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. Al-A’raaf: 200). (dinukil dari ‘Isyruuna ‘uqbatan fii thariiqil muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkatan Jihad Melawan Syaitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Jihad melawan syaitan itu ada dua tingkatan, Tingkatan pertama, berjihad melawannya dengan cara menolak segala syubhat dan keragu-raguan yang menodai keimanan yang dilontarkannya kepada hamba. Tingkatan kedua, berjihad melawannya dengan cara menolak segala keinginan yang merusak dan rayuan syahwat yang dilontarkan syaitan kepadanya. Maka tingkatan jihad yang pertama akan membuahkan keyakinan sesudahnya. Sedangkan jihad yang kedua akan membuahkan kesabaran. Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka Kami jadikan di antara mereka para pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami karena mereka bisa bersabar dan senantiasa meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah: 24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah mengabarkan bahwasanya kepemimpinan dalam agama hanya bisa diperoleh dengan bekal kesabaran dan keyakinan. Kesabaran akan menolak rayuan syahwat dan keinginan-keinginan yang merusak, sedangkan dengan keyakinan berbagai syubhat dan keragu-raguan akan tersingkirkan.” (dinukil dari ‘Isyruuna ‘uqbatan fii thariiqil muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mintalah Pertolongan Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seorang hamba, sebagaimana dirinya senantiasa memerlukan Allah untuk memberikan pertolongan kepadanya, mengabulkan do’anya, memberikan permintaannya serta memenuhi segala kebutuhannya maka dia pun sangat membutuhkan Allah untuk membimbingnya untuk meraih hal-hal yang berguna baginya dan hal-hal yang ingin dicapai dan diharapkannya. Sesuatu yang harus didapatnya itu adalah perintah, larangan dan syariat. Karena jika seandainya kebutuhan yang dicari dan diinginkannya itu adalah sesuatu yang tidak berguna baginya maka tentunya hal itu justru mendatangkan bahaya baginya. Meskipun ketika dia merasakannya dia mendapatkan kenikmatan dan sedikit manfaat akan tetapi yang dijadikan patokan adalah manfaat yang murni atau yang lebih dominan. Hal ini telah disampaikan oleh Allah kepada hamba-hambaNya melalui perantara para Rasul dan Kitab-KitabNya. Para Rasul mengajarkan, menyucikan dan memerintahkan mereka dengan hal-hal yang berguna untuk mereka. Para Rasul pun melarang mereka dari hal-hal yang membahayakan diri mereka. Mereka menerangkan kepada umat bahwa sesungguhnya apa yang mereka cari dan harapkan serta sosok yang semestinya mereka ibadahi hanya Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebagaimana Allah semata Rabb dan Pencipta mereka, dan apabila mereka meninggalkan ibadah kepada-Nya atau mempersekutukan sesuatu dengan-Nya maka pastilah mereka akan mengalami kerugian yang sangat nyata dan sangat jauh tersesat. Meskipun mereka memiliki kekuatan, ilmu pengetahuan, kedudukan, harta dan lain sebagainya (meskipun dalam hal itu pun mereka juga sangat miskin di hadapan Allah, senantiasa butuh pertolongan Allah untuk bisa mendapatkannya dan mereka juga mengakui rububiyah-Nya) maka pada hakikatnya itu semua akan mengundang bahaya dan mereka kelak akan menempati seburuk-buruk tempat kembali dan rumah yang terjelek (neraka)…” (Majmu’ Fatawa, Islamspirit.com, freeprogram).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mintalah Petunjuk dari Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Seorang hamba senantiasa berhajat terhadap hidayah Allah menuju jalan yang lurus. Maka dari itu dia sangat memerlukan tercapainya maksud di balik doa ini. Karena sesungguhnya tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari azab dan bisa menggapai kebahagiaan kecuali dengan hidayah ini. Barang siapa yang kehilangan hidayah maka dia akan termasuk golongan orang yang dimurkai atau golongan orang yang sesat. Dan petunjuk ini tidak akan diraih kecuali dengan petunjuk dari Allah. Ayat ini pun (Ihdinash-shirathal mustaqim) menjadi salah satu senjata pembantah kesesatan mazhab Qadariyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pernyataan orang, “Sesungguhnya Allah telah memberikan hidayah kepada mereka (umat Islam) oleh sebab itu mereka tidak perlu meminta hidayah!!” beserta jawaban orang untuk pertanyaan itu bahwa “Yang dimaksud dengan ayat ini adalah permintaan agar hidayah itu terus menerus menyertai hamb”, maka itu semua merupakan ucapan orang yang tidak paham hakikat hukum sebab akibat dan tidak mengerti isi perintah Allah. Karena sesungguhnya hakikat jalan yang lurus (shirathal mustaqim) itu adalah seorang hamba melakukan perintah Allah yang tepat di setiap waktu yang dijalaninya baik hal itu ilmu maupun amal. Dan juga hendaknya dia tidak menerjang larangan Allah. Nah, hidayah semacam ini sangat diperlukan di setiap saat agar bisa berilmu dan beramal sebagaimana apa yang diperintahkan Allah serta meninggalkan larangan-Nya pada kesempatan tersebut. Dan hidayah itu pun dibutuhkan hamba agar bisa memiliki tekad yang bulat dalam rangka menjalankan perintah. Demikian pula halnya diperlukan rasa benci yang amat dalam agar bisa meninggalkan hal-hal yang dilarang. Apalagi ilmu dan tekad yang lebih spesifik ini sulit terbayang bisa dimiliki seseorang di saat yang sama. Bahkan pada setiap waktu hamba sangat membutuhkan pertolongan Allah untuk mengaruniakan ilmu dan tekad ke dalam hatinya sehingga dia akan bisa berjalan di atas jalan yang lurus.” (Majmu’ Fatawa, Islamspirit.com, freeprogram).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muslim Perlu Petunjuk [?]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar bahwa seorang muslim telah memperoleh petunjuk global yang menerangkan bahwa Al Quran adalah benar, Rasul pun benar dan agama Islam adalah benar. Anggapan itu memang benar. Akan tetapi petunjuk yang masih bersifat global ini belumlah cukup baginya apabila dia tidak mendapatkan petunjuk yang lebih rinci dalam menyikapi segala perkara parsial yang diperintahkan kepadanya dan dilarang darinya di mana mayoritas akal manusia mengalami kebingungan dalam hal itu. Sehingga hawa nafsu dan syahwat mengalahkan diri mereka dikarenakan hawa nafsu dan syahwat itu telah mendominasi akal-akal mereka. Pada asalnya manusia itu tercipta sebagai makhluk yang suka berbuat zalim lagi bodoh. Sehingga sejak dari permulaan manusia itu memang tidak punya ilmu dan cenderung melakukan hal-hal yang disenangi oleh hawa nafsunya yang buruk. Oleh sebab itu dia selalu membutuhkan ilmu yang lebih rinci untuk bisa mengikis kebodohan dirinya. Selain itu dia juga memerlukan sikap adil dalam mengendalikan rasa cinta dan benci, dalam mengendalikan ridha dan marah, dalam mengendalikan diri untuk melakukan dan meninggalkan sesuatu, dalam mengendalikan diri untuk memberikan dan tidak kepada seseorang, dalam hal makan dan minumnya, dalam kondisi tidur dan terjaga. Maka segala sesuatu yang hendak diucapkan atau dilakukannya membutuhkan ilmu yang menyingkap kejahilannya dan sikap adil yang menyingkirkan kezalimannya. Apabila Allah tidak menganugerahkan kepadanya ilmu serta sikap adil yang lebih rinci -sebab jika tidak demikian- maka di dalam dirinya tetap akan tersisa kebodohan dan kezaliman yang akan menyeretnya keluar dari jalan yang lurus. Allah ta’ala berfirman terhadap Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam sesudah terjadinya perjanjian Hudaibiyah dan Bai’at Ridhwan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحاً مُّبِيناً لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطاً مُّسْتَقِيماً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Kami telah memberikan kemenangan kepadamu dengan kemenangan yang nyata.” hingga firman-Nya,”Dan Allah menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (QS. Al-Fath: 1-2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau keadaan beliau di akhir hidupnya atau menjelang wafatnya saja seperti ini (tetap memerlukan hidayah-pent) lalu bagaimanakah lagi keadaan orang selain beliau? (Majmu’ Fatawa, Islamspirit.com, freeprogram).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaatkan Waktu Sebaik-Baiknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata, “Salah satu bukti kebijaksanaan takdir dan hikmah ilahiah yaitu barang siapa yang meninggalkan apa yang bermanfaat baginya, padahal memungkinkan baginya untuk memetik manfaat itu lantas dia tidak mau memetiknya, maka dia akan menerima cobaan berupa disibukkan dengan hal-hal yang mendatangkan madharat terhadap dirinya. Barang siapa meninggalkan ibadah kepada Ar Rahman, niscaya dia akan disibukkan dengan ibadah kepada berhala-berhala. Barang siapa meninggalkan cinta, harap dan takut kepada Allah maka niscaya dia akan disibukkan dalam kecintaan kepada selain Allah, berharap dan takut karenanya. Barang siapa tidak menginfakkan hartanya dalam ketaatan kepada Allah niscaya dia akan menginfakkannya dalam menaati syaitan. Barang siapa meninggalkan merendahkan diri dan tunduk kepada Rabb-nya niscaya dia akan dicoba dengan merendahkan diri dan tunduk kepada hamba. Barang siapa meninggalkan kebenaran niscaya dia akan dicoba dengan kebatilan.” (Tafsir surat Al Baqarah ayat 101-103, Taisir al-Karim ar-Rahman hal. 60-61).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bergegaslah wahai saudaraku kerahkan kesungguhanmu, singkirkan debu-debu kebiasaan banyak tidur dan tinggalkan bermalas-malasan, raihlah apa yang sudah luput darimu dengan menuntut ilmu dan beramal, bebaskanlah dirimu dari kelemahan akibat berbuat jahat dengan bertaubat, menyesali dosa dan beristighfar dengan tekad yang tulus demi melepaskan diri dari rintangan-rintangan ini, satu demi satu. Sampai tidak tersisa lagi di hadapan syaitan kecuali rintangan teror dan intimidasi musuh-musuhnya kepadamu, dan rintangan yang satu ini tidak akan pernah ada orang yang bisa selamat darinya kecuali dengan kesabaran dan keyakinan dan dengan senantiasa memohon pertolongan kepada Allah ‘azza wa jalla serta berjuang melawan musuhnya, dan apabila hal itu bisa kau raih maka niscaya engkau akan mendapat anugerah martabat yang mulia dan derajat yang tinggi di surga Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa tinggal di dalam taman-taman surga dan sungai-sungai di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang berkuasa.” (QS. Al Qamar: 54-55). (dinukil dari ‘Isyruuna ‘uqbatan fii thariiqil muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Abu Muslih Ari Wahyudi&lt;br /&gt;Murojaah: Ustadz Aris Munandar&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8859049449550037071-680942550633649308?l=alfirqotunnajiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/680942550633649308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/680942550633649308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/2009/01/perang-belum-berhenti.html' title='PERANG BELUM BERHENTI........'/><author><name>YAHYA AL BUNY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00500596638645663569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SMnoh7LksdI/AAAAAAAAAAM/HWHohIDKDrg/S220/ais+ami+jenggot.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SYJ2cPqD3eI/AAAAAAAAAI8/UJX5RRMaJOk/s72-c/074226p.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071.post-4938588307906486358</id><published>2009-01-22T18:30:00.000-08:00</published><updated>2009-01-22T18:41:44.951-08:00</updated><title type='text'>YAHUDI MENGGALI KUBURANNYA SENDIRI DI TANAH PALESTINA</title><content type='html'>&lt;em&gt;Wahai putera-putera kera dan babi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembunuh Rasul Alloh dan para Nabi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirikanlah terus dan bangunlah kehancuranmu di tanah muqoddas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau jemput kebinasaanmu dengan hujaman lemparan batu cadas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggikanlah bangunanmu sesuka hatimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya kehancuranmu akan menimpamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama lagi waktumu akan tiba untuk merana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketetapan Alloh pastilah terlaksana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk saudara-saudaraku yang terbakar oleh kemarahan karena Alloh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat saudara-saudara muslimin yang dibantai di bumi Alloh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh bangsa keturunan kera dan babi yang dilaknat oleh Alloh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersabarlah… karena sesungguhnya kemenangan itu ada di tangan Alloh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang akan diberikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang berjuang di jalan Alloh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nubuwat al-Qur’an tentang kebinasaan Bangsa Yahudi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin yang dimuliakan Alloh…&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Berbesar hatilah, karena Alloh Azza wa Jalla berfirman (yang artinya) : “Dan Telah kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi Ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”. Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, kami datangkan kepadamu hamba-hamba kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan Itulah ketetapan yang pasti terlaksana. Kemudian kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar. Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. Mudah-mudahan Tuhanmu akan melimpahkan rahmat(Nya) kepadamu; dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan) niscaya kami kembali (mengazabmu) dan kami jadikan neraka Jahannam penjara bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS al-Israa’ : 4-8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Syaikhuna Salim bin ‘Ied al-Hilaly Hafizhahullahu wa Nafa’allahu bihi mengenai ayat ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama : Ayat ini menegaskan terjadinya dua kerusakan yang dilakukan oleh Bani Israil. Sekiranya dua kerusakan yang dimaksud sudah terjadi pada masa lampau, maka sejarah telah mencatat bahwa Bani Israil telah berbuat kerusakan berkali-kali, bukan hanya dua kali saja. Akan tetapi yang dimaksudkan di dalam Al-Qur’an ini merupakan puncak kerusakan yang mereka lakukan. Oleh karena itulah Alloh mengirim kepada mereka hamba-hamba-Nya yang akan menimpakan azab yang sangat pedih kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua : Dalam sejarah tidak disebutkan kemenangan kembali Bani Israil atas orang-orang yang menguasai mereka terdahulu. Sedangkan ayat di atas menjelaskan bahwa Bani Israil akan mendapatkan giliran mengalahkan musuh-musuh yang telah menimpakan azab saat mereka berbuat kerusakan yang pertama. Alloh mengatakan : “Kemudian kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga : Sekiranya yang dimaksudkan dengan dua kerusakan itu adalah sesuatu yang telah terjadi, tentulah tidak akan diberitakan dengan lafazh idza, sebab lafazh tersebut mengandung makna zharfiyah (keterangan waktu) dan syarthiyah (syarat) untuk masa mendatang, bukan masa yang telah lalu. Sekiranya kedua kerusakan itu terjadi di masa lampau, tentulah lafazh yang digunakan adalah lamma bukan idza. Juga kata latufsidunna (Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan), huruf laam dan nuun berfungsi sebagai ta’kid (penegasan) pada masa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat : Demikian pula firman Alloh : “dan Itulah ketetapan yang pasti terlaksana” menunjukkan sesuatu yang terjadi pada masa mendatang. Sebab tidaklah disebut janji kecuali untuk sesuatu yang belum terlaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima : Para penguasa dan bangsa-bangsa yang menaklukan Bani Israil dahulu adalah orang-orang kafir dan penyembah berhala. Namun bukankah Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah mengatakan dalam ayat di atas : “kami datangkan kepadamu hamba-hamba kami yang mempunyai kekuatan yang besar”. Sifat tersebut mengisyaratkan bahwa mereka itu adalah orang-orang yang beriman, bukan orang-orang musyrik atau penyembah berhala. Pernyertaan kata “kami” dalam kalimat di atas sebagai bentuk tasyrif (penghormatan). Sementara kehormatan dan kemuliaan itu hanyalah milik orang-orang yang beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam : Dalam aksi pengerusakan kedua yang dilakukan oleh Bani Israil terdapat aksi penghancuran bangunan-bangunan yang menjulang tinggi (gedung pencakar langit). Sejarah tidak menyebutkan bahwa pada zaman dahulu Bani Israil memiliki bangunan-bangunan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan : Hakikat dan analisa ayat-ayat di atas menegaskan bahwa dua aksi pengerusakan yang dilakukan oleh Bani Israil akan terjadi setelah turunnya surat al-Israa’ di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realita : Sekarang ini bangsa Yahudi memiliki daulah di Baitul Maqdis. Mereka banyak berbuat kerusakan di muka bumi. Mereka membunuhi kaum wanita, orang tua, anak-anak yang tidak mampu apa-apa dan tidak dapat melarikan diri. Mereka membakar tempat isra’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan merobek-robek kitabullah. Mereka melakukan kejahatan di mana-mana hingga mencapai puncaknya. Mereka menyebarkan kenistaan, kemaksiatan, kehinaan, pertumpahan darah, pelecehan kehormatan kaum muslimin, penyiksaan dan pelanggaran perjanjian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, aksi pengerusakan yang kedua sedang berlangsung sekarang dan telah mencapai titik klimaks dan telah mencapai puncaknya. Sebab tidak ada lagi aksi pengerusakan yang lebih keji daripada yang berlangsung sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah aksi yang lebih keji daripada membakar rumah Alloh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah aksi pengerusakan yang lebih jahat daripada merobek-robek kitabullah dan menginjak-injaknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah aksi pengerusakan yang lebih sadis daripada membunuhi anak-anak, orang tua dan kaum wanita serta mematahkan tulang mereka dengan bebatuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah aksi pengerusakan yang lebih besar daripada pernyataan perang secara terang-terangan siang dan malam melawan Islam dan para juru dakwahnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh demi Alloh, itu semua merupakan aksi pengerusakan yang tiada tara!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Alloh Azza wa Jalla melanjutkan firman-Nya : “dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, hamba-hamba Alloh kelak akan meruntuhkan apa saja yang dibangun dan dikuasai oleh bangsa Yahudi. Mereka akan menggoyang benteng Yahudi dan meluluhlantakkan serta meratakannya dengan tanah. Sebelumnya, tidak pernah disaksikan bangunan-bangunan menjulang tinggi di tanah Palestina kecuali pada masa kekuasaan Zionis sekarang ini. Gedung-gedung pencakar langit dan rumah-rumah pemukiman dibangun di setiap jengkal tanah Palestina yang diberkahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami katakan kepada mereka : Dirikanlah terus wahai anak keturunan Zionis, tinggikan bangunan sesukamu! Sesungguhnya kehancuran kalian di situ dengan izin Alloh. Dan tak lama lagi kalian akan luluh lantah dan tertimpa bangunan kalian itu! Dan Alloh takkan memungkiri janjinya : “dan Itulah ketetapan yang pasti terlaksana”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasaan Masjidil Aqsha tidak disebutkan pada kali yang pertama dan disebutkan pada kali yang kedua. Sebab penguasaan Masjidil Aqsha oleh kaum muslimin akan berakhir. Kalaulah belum berakhir berarti penguasaan yang kedua merupakan lanjutan dari yang pertama. Akan tetapi berhubung penguasaan Masjidil Aqsha yang pertama akan berakhir, maka penguasaan untuk yang kedua kalinya merupakan peristiwa baru. Dan itulah realita yang terjadi! Penguasaan pertama telah berakhir sesudah bangsa Yahudi menguasai al-Quds serta beberapa wilayah tanah Palestina lainnya dalam satu serangan yang sangat sporadis pada tahun 1967, orang-orang menyebutnya tahun kekalahan. Sebelumnya pada tahun 1948 mereka sebut dengan tahun kemalangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasaan yang pertama berakhir disebutkan karena adanya faktor penghalang yang menghalangi kaum muslimin untuk menguasainya. Penghalang itu merupakan musuh bagi Islam dan kaum muslimin. Dan cukuplah Yahudi sebagai musuh bebuyutan yang sangat menentang Islam, kaum muslimin dan para pembela Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kita harus membebaskan tanah kita yang dirampas dan membuat perhitungan dengan mereka serta menyalakan api kebencian terhadap mereka!!! Sudah tergambar pada wajah mereka tanda-tanda kemalangan dan kehinaan. Kaum muslimin akan kembali menguasai Masjidil Aqsha –insya Alloh- sebagaimana kaum salafus shalih menguasainya pertama kali. Sebab kehancuran kedua yang telah dijanjikan oleh Alloh dalam firman-Nya : “dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sedang menanti peristiwa itu sebagai kebenaran janji Alloh dan kebenaran berita-berita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Pada hari itu kaum muslimin bergembira dengan pertolongan dari Alloh Azza wa Jalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nubuwat as-Sunnah ash-Shahihah tentang Kebinasaan Bangsa Yahudi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah mengabarkan bahwa kaum muslimin akan berperang melawan bangsa Yahudi, beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak akan tiba hari kiamat sehingga kaum muslimin berperang melawan Yahudi. Sampai-sampai apabila orang Yahudi bersembunyi di balik pepohonan atau bebatuan, maka pohon dan batu itu akan berseru, ‘wahai Muslim, wahai hamba Alloh, ini orang Yahudi ada bersembunyi di balikku, kemarilah dan bunuhlah ia.’ Kecuali pohon Ghorqod, karena ia adalah pohon Yahudi.” (Muttafaq ‘alaihi dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Syaikhaini (Bukhari dan Muslim) dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda : “Kalian benar-benar akan membunuhi kaum Yahudi, sampai-sampai mereka bersembunyi di balik batu, maka batu itupun berkata, ‘wahai hamba Alloh, ini ada Yahudi di belakangku, bunuhlah dia!’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama : Akan datang masa sebelum datangnya hari kiamat bahwa kaum muslimin dan bangsa Yahudi akan mengalami peperangan besar dan ini adalah suatu hal yang pasti akan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua : Bangsa Yahudi akan dibantai oleh kaum muslimin, dan hal ini terjadinya di bumi Palestina, dan saat itu seluruh pepohonan dan bebatuan yang dijadikan tempat persembunyian bangsa Yahudi akan berseru memanggil kaum muslimin untuk membunuh mereka, kecuali pohon Ghorqod.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga : Hal ini menunjukkan bahwa kemenangan berada di tangan Islam dan kehinaan akan meliputi bangsa Yahudi yang terlaknat dan terkutuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat : Berkaitan dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam yang diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma di atas, dimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda “latuqootilunna” (Kalian benar-benar akan membunuhi kaum Yahudi) yang disertai dengan lam dan nun sebagai ta’kid (penegasan) akan kepastian hal ini. Khithab (seruan) Nabi ini adalah kepada para sahabat, hal ini menunjukkan secara sharih bahwa masa depan adalah milik Islam saja –biidznillahi-, namun haruslah dengan metode para sahabat Nabi dan kaum salaf yang shalih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima : Berkaitan dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu di atas, dimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda tentang seruan batu dan pohon : “Wahai muslim, wahai hamba Alloh…” yang menunjukkan manhaj tarbawi (pendidikan) ishlahi (pembenahan) yang ditegakkan di atas manifestasi tauhid dan al-‘Ubudiyah (penghambaan) yang merupakan cara di dalam menegakkan syariat Islam di muka bumi dan melanggengkan kehidupan Islami berdasarkan manhaj nabawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipetik secara ringkas dan bebas dari artikel yang berjudul Haditsu Qitaali al-Yahuudi Riwaayatan wa Dirooyatan, karya Syaikh Ali Hasan al-Halabi, dalam Majalah al-Asholah, no. 30, th. V, hal. 7-8&lt;br /&gt;&lt;a href="http://abu-salma.co.cc/?p=136"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8859049449550037071-4938588307906486358?l=alfirqotunnajiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/4938588307906486358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/4938588307906486358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/2009/01/yahudi-menggali-kuburannya-sendiri-di.html' title='YAHUDI MENGGALI KUBURANNYA SENDIRI DI TANAH PALESTINA'/><author><name>YAHYA AL BUNY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00500596638645663569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SMnoh7LksdI/AAAAAAAAAAM/HWHohIDKDrg/S220/ais+ami+jenggot.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071.post-338529869615049388</id><published>2009-01-19T02:42:00.000-08:00</published><updated>2009-01-19T02:56:29.467-08:00</updated><title type='text'>GELANDANGN DI SEKITAR KITA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SXRbiBdZdDI/AAAAAAAAAIk/NwnswylBNzQ/s1600-h/gembelsr.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 293px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SXRbiBdZdDI/AAAAAAAAAIk/NwnswylBNzQ/s320/gembelsr.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5292956102132593714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?&lt;br /&gt;2.  Itulah orang yang menghardik anak yatim,&lt;br /&gt;3.  Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.&lt;br /&gt;4.  Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,&lt;br /&gt;5.  (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,&lt;br /&gt;6.  Orang-orang yang berbuat riya[1603],&lt;br /&gt;7.  Dan enggan (menolong dengan) barang berguna[1604].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1603]  &lt;em&gt;riya ialah melakukan sesuatu amal perbuatan tidak untuk mencari keridhaan Allah akan tetapi untuk mencari pujian atau kemasyhuran di masyarakat&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;[1604]  &lt;em&gt;sebagian Mufassirin mengartikan: enggan membayar zakat&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petiakan Surat al Maa’uun  telah mennguncang perasaan  sosok Muhammad Darwis ( Ahmad Dahlan ) pendiri persyarikatan Muhammadiyah untuk bergegas pergi ke jalan Malioboro dan ke pasar Beringharjo dan mengadvokasi anak-anak  yatim, gembel. Gelandangan, kere, tekyan dan orang-orang fakir untuk dilindungi dan di beri pelajaran dengan penuh kesabaran agar mereka dapat hidup secara layak. Di ajari mereka hidup wajar dengan ikut berdagang. Tak ada yang di cari oleh kiayi ini selain Ridho Alloh. Ahmad Dalan melakukan bukan karena ingin partainya di pilih, bukan karena ingin menjadi tokoh yang disegani masyarakat. Ahmad Dahlan hanya mengikuti apa perintah Alloh dalam Al Qur’an Surat al Maa’uun  dan takut akan ancaman Alloh.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SXRZ23_HnhI/AAAAAAAAAIc/Goa3cJ4utg4/s1600-h/up_DSC_2220_new.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 132px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SXRZ23_HnhI/AAAAAAAAAIc/Goa3cJ4utg4/s200/up_DSC_2220_new.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5292954261343673874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di zaman yang katanya modern dan pertumbuhan Ekonomi yang katanya meningkat ternyata masih saja terdapat kaum yang tidak beruntung dan tidak punya pembela. Entah apa kerjaan para Ekonom itu. Apa mereka hanya memikrkan kuntungan saja atu mereka yang mengakumulasi kapital hingga kaum gelandangan tidak mendapatkan bagian rizky yang di atur Alloh. Orang-orang seperti anak-anak  yatim, gembel. Gelandangan, kere tidak punya pelindung. Mereka di biarkan berkeliaran tanpa tujuan. Jika kita lihat di jalan-jalan banyak orang-orang gila tak berpakain dan berambut gimbal Ekstrim seolah meraka menjadi magna non carta  atau orang-orang yang tak punya ke warganegaraan dan nyaris tak berguna bagi siapapun. Mereka  adalah orang gila yang berkeliaran di jalan. Entah dari mana mereka datang apakah mereka mempunyai keluarga apakah mereka mempuyai tempat berteduh dari mana ia bisa makan, bagaimana dengan kesehatan mereka? Pasti hanya Alloh yang melinduginya. Jika kita lihat di kota-kota besar seperti kota Yogyakarta, surabaya, jakarta maka tak asing lagi melihat orang-orang gila dan gelandangan dan berkeliaran bahkan diantara mereka nyaris bugil dan ada yang benar-benar bugil di jalanan. Mungkin pemerintah sudah mengambil sikap walaupun kurang optimal dan tugas dari kaum muslimin untuk membantu penguasa jika perbuatan itu baik. Mari berbuat baik pada sesama umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – عَن النَّبِيِّ فِيْمَا يَرْوِي عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ ، قَالَ : قَالَ : إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئاَتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ، إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً . متفق عليه.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu ‘Abbas radhiallaahu 'anhuma dari Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam tentang apa yang diriwayatkan dari Rabb-nya ‘Azza Wa Jalla, Dia berfirman: Beliau bersabda: “sesungguhnya Allah mencatatkan seluruh kebaikan dan keburukan, kemudian (Dia Ta’ala) menjelaskan hal itu; barangsiapa yang berkeinginan untuk melakukan suatu kebaikan namun dia belum melakukannya (tidak jadi), maka Allah telah mencatat baginya satu kebaikan secara sempurna; jika dia berkeinginan untuk melakukannya, lantas dia (jadi) melakukannya, maka Allah telah mencatatkan baginya disisiNya sebanyak sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat, hingga berlipat-lipat; dan barangsiapa yang berkeinginan untuk melakukan suatu keburukan namun dia belum melakukannya (tidak jadi), maka Allah telah mencatatkan baginya disisiNya satu kebaikan secara sempurna; jika dia berkeinginan untuk melakukannya lantas dia (jadi) melakukannya maka Allah telah mencatatkan baginya satu keburukan”. (H.R.Muttafaqun ‘alaih)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8859049449550037071-338529869615049388?l=alfirqotunnajiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/338529869615049388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/338529869615049388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/2009/01/gelandangn-di-sekitar-kita.html' title='GELANDANGN DI SEKITAR KITA'/><author><name>YAHYA AL BUNY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00500596638645663569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SMnoh7LksdI/AAAAAAAAAAM/HWHohIDKDrg/S220/ais+ami+jenggot.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SXRbiBdZdDI/AAAAAAAAAIk/NwnswylBNzQ/s72-c/gembelsr.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071.post-9213706408914757599</id><published>2009-01-06T18:48:00.000-08:00</published><updated>2009-01-19T02:58:02.957-08:00</updated><title type='text'>Pelajaran dari Palestina</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SWl76NJpcMI/AAAAAAAAAIU/AmYBFdBsjbs/s1600-h/palestine+and+palestinians+cover.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 229px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SWl76NJpcMI/AAAAAAAAAIU/AmYBFdBsjbs/s320/palestine+and+palestinians+cover.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5289895477216112834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Dengan menyebut nama Allah yang Maha pemurah lagi Maha penyayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amma Ba’du&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya kejadian yang menimpa saudara-saudara kita sesama muslim di Gaza berupa pembunuhan, penghancuran, serta penjajahan atas mereka yang dilakukan oleh kaum Yahudi terlaknat, tentu dirasakan pedih dan sakit oleh setiap mukmin dan membuat hati mereka teriris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, alangkah murah dan sepele darah kaum muslimin [di mata mereka].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maha suci Allah, betapa menyakitkan gambaran mayat-mayat [orang-orang tak bersalah itu] di dalam hati orang-orang yang beriman. Alangkah banyak nyawa yang telah melayang, darah yang tertumpahkan, kaum wanita yang ternodai [kehormatannya], dan begitu banyak rumah-rumah yang dihancurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya kejahatan-kejahatan Yahudi di negeri Palestina yang terampas itu bukan perkara yang aneh dilakukan oleh orang-orang semacam mereka (baca: Yahudi). Lebih parah daripada itu, mereka adalah kaum yang berani mencela dan mengejek al-Bari (Allah) Yang Maha suci. Sebagaimana yang difirmankan oleh-Nya (yang artinya), “Orang-orang Yahudi berkata; ‘Tangan Allah terbelenggu’. Justru tangan-tangan mereka itulah yang terbelenggu dan mereka dilaknat akibat ucapan yang mereka lontarkan. Bahkan, kedua tangan Allah itu terbentang, Dia akan memberi bagaimanapun yang dia suka.” (QS. al-Maa’idah [5]: 64)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah para pembunuh nabi-nabi Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hal itu terjadi karena mereka senantiasa mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu terjadi akibat kedurhakaan mereka dan karena mereka selalu saja melampaui batas.” (QS. al-Baqarah [2]: 61)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah saudara kera-kera dan babi-babi yang berusaha untuk mengelabui Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tanyakanlah kepada Bani Israel tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.” (QS. al-A’raaf [7]: 163)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selaras dengan ikatan persaudaraan di atas keimanan, maka sudah semestinya setiap muslim memberikan bantuan sekuat kemampuannya dan memohon dengan sangat kepada Allah dengan doa yang diiringi rasa penuh harap kepada-Nya agar Allah berkenan segera menyingkirkan kesulitan dan musibah yang mencekam saudara-saudara kita [di sana]. Berkaitan dengan kejadian yang begitu memilukan ini, saya ingin mengingatkan kepada saudara-saudaraku kaum muslimin dengan beberapa pelajaran manhaj dari kejadian yang menimpa daerah Gaza Palestina:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran Pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya kejadian yang menyedihkan ini semakin menguatkan kebenaran berita yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala mengenai orang-orang kafir berupa permusuhan mereka yang sengit kepada kaum mukminin. Dan yang harus kita lakukan adalah memusuhi seluruh golongan orang kafir dari kalangan Yahudi, Nasrani, Majusi, dan lainnya, dikarenakan mereka adalah orang-orang kafir. Dan apabila mereka menyakiti dan memerangi kita, maka kebencian kita kepada mereka pun semakin memuncak. Hal ini tentu berbeda dengan apa yang dilontarkan oleh sebagian orang yang menganjurkan untuk tidak memberikan pertolongan yang mengatakan, “Sesungguhnya kita tidak akan memusuhi orang-orang kafir kecuali apabila mereka menyakiti dan memerangi kita.” Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah merasa puas/ridha kepada kalian sampai kalian mau mengikuti millah (ajaran agama) mereka.” (QS. al-Baqarah [2]: 120).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini menunjukkan bahwa permusuhan mereka kepada kita akan terus berlangsung sampai kita ikut menjadi kafir seperti mereka. Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya) “Sungguh telah terdapat suri teladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaumnya; Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari kalian dan telah tampak dengan jelas antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya, sampai kalian mau beriman kepada Allah semata.” (QS. al-Mumtahanah [60]: 4). Maka kita pun harus memusuhi dan membenci mereka untuk selama-lamanya dikarenakan mereka kafir, sampai mereka mau meninggalkan kekafiran mereka dan beriman kepada Allah semata. Jadi, permusuhan [kita] tidak hanya terbatas kepada orang yang memerangi kita di antara mereka, sebagaimana yang diserukan oleh sebagian da’i yang bersikap lembek [silakan dengar kajian berjudul ‘Surat-surat kepada gerakan HAMAS’ http://www.islamancient.com/lectures,item,346.html, yang disampaikan oleh Syaikh untuk menasihati mereka, pent]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala menegaskan kewajiban permusuhan kita kepada mereka karena mereka adalah orang-orang kafir. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidak akan kamu temukan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir justru berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan rasul-Nya, meskipun orang-orang itu adalah ayah-ayah mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, atau kerabat mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah ditetapkan Allah keimanan di dalam hati mereka.” (QS. al-Mujadilah [58]: 22)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara konsekuensi hal itu adalah kita tidak boleh menyerupai ciri khas mereka, baik dalam hal pakaian atau yang lainnya. Dan ini sekaligus merupakan ajakan kepada para pemuda kita, agar mereka meninggalkan pakaian-pakaian olah raga yang padanya terdapat nama-nama pemain (olah raga) yang kafir itu. Bahkan ini juga ajakan kepada segenap kaum muslimin untuk merasa mulia dan bangga dengan keislaman mereka. Agar kaum muslimin memandang kepada orang-orang kafir dengan pandangan permusuhan dan kerendahan, maka tidak benar perkataan bahwa orang kafir itu juga saudara kita sebagaimana yang dilontarkan oleh sebagian da’i yang lembek. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya, mereka bersikap keras kepada orang-orang kafir, dan berkasih sayang dengan sesama mereka.” (QS. al-Fath [48]: 29). Allah juga berfirman (yang artinya), “Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum, Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, berlemah lembut dengan orang-orang mukmin dan keras kepada orang-orang kafir.” (QS. al-Maa’idah [5]: 54)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu perkara yang sangat-sangat mengherankan yaitu anda dapat melihat sebagian orang yang dinisbatkan (disandarkan) kepada kalangan para da’i ila Allah -namun itu adalah penisbatan yang dusta- mereka itu tidak mau mengafirkan Yahudi dan Nasrani. Maka sungguh dia telah mendustakan al-Qur’an yang jelas-jelas telah mengafirkan mereka, maka orang seperti itu kafir berdasarkan ijma’ ulama sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Abdul Aziz bin Baz rahimahumallah. Sebagai tambahan, guru kami Ibnu Baz menyebutkan bahwa tidak benar menamai orang-orang Nasrani dengan istilah Masihiyyin (pengikut Isa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran Kedua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya tindakan melampaui batas yang berlangsung secara beruntun dan terus-menerus serta penghinaan atas nyawa kaum muslimin yang suci, [dirampasnya] harta dan kehormatan mereka yang bersih termasuk bencana dan musibah besar yang menimpa kita. Sungguh banyak kalangan aktivis di medan dakwah yang telah keliru dalam mendiagnosa penyakit ini. Dibangun di atasnya, mereka pun keliru dalam menempuh jalan penyembuhannya. Saya telah menerangkan hal itu di dalam mukadimah kitab saya ‘Muhimmat fi al-Jihad’ [http://www.islamancient.com/books,item,50.html].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intisari dari penyakit ini adalah kemaksiatan kepada Allah. Dan yang paling besar di antaranya adalah meninggalkan tauhid dan sunnah serta tersebarnya syirik dan bid’ah di antara barisan kaum muslimin yang dinamakan dengan istilah tasawuf dan lainnnya. Dan keadaan ini semakin bertambah parah ketika muncul berbagai kelompok dakwah yang menelantarkan dakwah tauhid dan melalaikan peringatan agar menjauhi kesyirikan serta mengikis aqidah al-Bara’ (kebencian kepada musuh Islam) yang seharusnya tertuju kepada bid’ah dan para penyebarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah: ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri’. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran [3]: 165). Allah juga berfirman (yang artinya), “Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan dikarenakan ulah tangan manusia, Allah ingin memberikan pelajaran dengan menimpakan sebagian akibat perbuatan mereka, semoga mereka mau kembali(ke jalan yang benar).” (QS. ar-Ruum [30]: 41). Maka kedua ayat tersebut dan ayat-ayat yang lainnya secara tegas menjelaskan bahwa semua musibah -di antaranya adalah berupa kelemahan dan dikuasai oleh orang-orang kafir- adalah akibat dari dosa-dosa yang kita perbuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatasi hal itu, maka obat dan penyembuhnya adalah dengan kembali kepada Allah, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ta’ala (yang artinya), “Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal salih, niscaya Allah akan menjadikan mereka benar-benar berkuasa di atas muka bumi ini, sebagaimana halnya Allah telah mengangkat orang-orang sebelum mereka menjadi pemimpin, Allah benar-benar akan meneguhkan untuk mereka agama mereka yang telah Allah ridhai bagi mereka, dan Allah akan menggantikan rasa takut yang mencekam mereka dengan keamanan; mereka senantiasa beribadah kepada-Ku dan tidak mempersekutukan-Ku sama sekali.” (QS. an-Nuur [24]: 55). Ini adalah janji dari Allah, sedangkan Allah tidak mungkin menyelisihi janji-Nya. “Itulah janji Allah, Allah tidak akan pernah menyelisihi janji-Nya. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. ar-Ruum [30]: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk kekeliruan yang sangat fatal dan dosa yang sangat buruk yaitu [usaha sebagian orang] untuk memberikan posisi bagi Syi’ah Rafidhah untuk berada di antara barisan Ahlus Sunnah; sehingga mereka dapat dengan leluasa menyebarkan ajaran kekafiran dan kesesatan mereka, dan pada akhirnya mereka pun membahayakan Ahlus Sunnah. Sungguh mengherankan! Bagaimana bisa dibenarkan bagi seorang da’i yang mengajak untuk ishlah (perbaikan) kok malah memberikan tempat bagi Rafidhah yang mengafirkan umat terbaik setelah Nabi-Nya yaitu para sahabat yang mulia seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman, mereka jugalah orang-orang yang berani menuduh ibunda kaum mukminin -sosok yang sangat dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istri beliau- telah melakukan perzinaan, mereka (baca: Syi’ah) juga melampaui batas dalam mengangkat kedudukan para imam mereka sampai menduduki derajat sebagaimana halnya derajat Allah, sebagaimana sudah saya terangkan dalam bantahan untuk mereka dalam risalah al-Qaul al-Mubin li maa ‘alaihi ar-Rafidhah min ad-Din al-Masyin [http://www.islamancient.com/books,item,70.html].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu saya telah memberikan nasihat kepada organisasi HAMAS beserta pimpinan mereka -semoga Allah memberikan petunjuk kepada kami dan mereka- dan saya peringatkan mereka mengenai dampak [buruk] yang akan muncul akibat memberikan posisi bagi orang-orang Rafidhah di Palestina dan akibat buruk dari menyanjung mereka, sebagaimana telah kami sampaikan dalam sebuah pelajaran yang telah didokumentasikan dan disebarkan dengan judul ‘Rasa’il ila Hamas’, di antara tindakan mereka yang keliru itu adalah kunjungan Khalid Masy’al ke Iran dan meletakkan karangan bunga di atas kubur orang yang binasa yaitu al-Khumaini, dan pernyataannya bahwa Khumaini adalah bapak ruhani yang menjiwai dakwah mereka (HAMAS) di Palestina[?!].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran Ketiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajib bagi kaum muslimin untuk menyadari ukuran diri dan kekuatan mereka. Hendaknya mereka bisa membedakan antara kondisi lemah dan kondisi kuat, dan sudah seharusnya mereka pun mengetahui hukum-hukum yang menjadi konsekuensi atasnya. Hendaknya mereka menjadi orang yang bertindak realistis, bukan menjadi tukang khayal yang gemar berandai-andai. Maka tidak dibenarkan bagi siapapun mengharuskan kaum muslimin mengikuti keputusan-keputusan yang tidak cocok dengan kondisi mereka [sekarang ini] dan kelemahan mereka; yang itu semua dibangun di atas impian persatuan dan kesatupaduan mereka [yang belum terwujud]. Akan tetapi, yang harus dilakukan adalah hendaknya kaum muslimin bertindak sesuai dengan kondisi mereka saat ini, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih perdamaian ataupun peperangan dengan mempertimbangkan kemaslahatan, yaitu mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan yang ada serta faktor-faktor lainnya. Tatkala beliau masih berada di Mekah, Allah belum mensyariatkan kepadanya jihad. Karena pada saat itu beliau sedang dalam kondisi yang lemah, sebagaimana yang telah dipaparkan oleh para pemimpin Islam, di antaranya Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Anda bisa menemukan keterangan mereka dengan jelas di dalam buku saya ‘Muhimmat fi al-Jihad’ dan dalam pelajaran yang berjudul ‘al-Jihad baina al-ghuluw wa al-Jafaa’ [http://www.islamancient.com/lectures,item,550.html]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa sering seorang muslim harus merasakan sakit akibat melayangnya nyawa kaum muslimin yang lain disebabkan kobaran semangat yang tak terkendali oleh ilmu sehingga menimbulkan kezaliman orang-orang kafir kepada kaum muslimin yang lemah justru menjadi berlipat ganda, maka jadilah mereka sebagai korban sembelihan orang-orang kafir yang sangat gemar menganiaya, dan mereka [orang kafir] itu adalah orang-orang Yahudi. Dan jadilah kaum muslimin sebagai korban akibat tindakan yang salah dari sebagian kaum muslimin, dan mereka itu adalah para pemimpin HAMAS. Saya tidak mengerti sama sekali apa yang mendorong organisasi HAMAS untuk melakukan tindakan-tindakan perlawanan secara terang-terangan kepada orang-orang Yahudi kafir terlaknat itu, padahal mereka juga mengetahui bahwa kekuatan mereka sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuatan orang-orang Yahudi. Bahkan, tindakan mereka itu justru -pada ujungnya- mengakibatkan semakin kerasnya penyiksaan kaum Yahudi kepada orang-orang yang lemah di antara kaum muslimin di Gaza. Sementara para pemimpin HAMAS bisa saja selamat karena mereka bisa membuat perlindungan di sekelilingnya untuk menyelamatkan diri. Kemudian, yang lebih aneh lagi adalah tindakan HAMAS yang tetap bersikeras meneruskan perang, sampai-sampai orang yang melihat mengira bahwa mereka memiliki kekuatan dan kemampuan yang memadai untuk menghancurkan Yahudi. Maka hal itu tidak lain justru semakin menambah sakit dan luka [pada diri kaum muslimin] akibat terjadinya berbagai pembantaian berdarah yang sangat keji [yang dilakukan oleh Yahudi, pent].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu contoh tindakan yang membuat orang tertawa sekaligus menangis adalah pernyataan HAMAS yang mendalili perbuatan mereka itu -serangan kepada Yahudi secara terang-terangan- dengan alasan terpaksa karena mereka berada sedang dalam kondisi terkepung. Sehingga hal itu mendorong mereka untuk memilih meninggalkan bahaya yang timbul akibat kepungan musuh menuju suatu bahaya yang lebih berat dan lebih mengerikan, yaitu menggabungkan antara [bahaya] pengepungan dan terjadinya pembantaian berdarah. Memang benar, menetapnya Yahudi di bumi Palestina adalah kejahatan dan kezaliman yang tidak boleh diakui sama sekali. Mereka pun harus diusir dan dibuat angkat tangan [menyerah] agar tidak lagi menjajah al-Quds. Akan tetapi, kekeliruan ini tidak boleh disembuhkan dengan kekeliruan lain yang lebih fatal yaitu dengan menyebabkan tertumpahnya darah orang-orang yang tidak bersalah dalam jumlah yang sangat banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya benar-benar mengajak kepada para pemimpin organisasi HAMAS untuk selalu bertakwa dan takut kepada Allah dan mengambil pelajaran dari para pendahulu mereka yaitu al-Ikhwan al-Muslimun (IM). Betapa banyak kerugian yang timbul akibat letupan semangat dan tindakan-tindakan membahayakan yang mereka perbuat sehingga menyebabkan melayangnya banyak nyawa sebagaimana yang dahulu mereka lakukan di daerah Hamat. Kejadian yang menimpa mereka ketika itu belum jauh berlalu dari ingatan kita. Hendaknya mereka takut kepada Allah demi terjaganya keselamatan kaum muslimin yang lemah di Gaza yang terdiri dari orang-orang tua yang sudah jompo, anak-anak yang masih menyusu. Lihatlah, sekarang darah itu sudah tertumpah, para wanita telah ternodai kehormatannya, demikian pula anak-anak telah menjadi yatim. Apa yang bisa kalian lakukan selain mengeluh dan mengadu. Lihatlah, apa yang bisa kalian harapkan dari Iran yang Syi’ah itu yang katanya siap memberikan bantuan kepada kalian kecuali sekedar melemparkan urusan [tanggung jawab] mereka kepada pihak lain dan menebarkan keragu-raguan kepada negara-negara Islam Sunni yang lainnya. Apa yang telah diperbuat oleh kaum Rafidhah (Syi’ah) di Irak berupa pembunuhan terhadap kaum Ahlus Sunnah dan menyerahkan urusan mereka kepada negara kafir Amerika merupakan bukti paling besar yang menunjukkan kekejian mereka, dan tidak mungkin kita berharap bantuan dari mereka untuk melawan kaum Yahudi dan Nasrani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan di dalam bukunya ‘Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah’ [3/377] berkata, “Banyak di antara mereka -Rafidhah/Syi’ah- justru menaruh rasa kasih sayang kepada orang-orang kafir dari dalam lubuk hatinya lebih daripada kecintaan mereka kepada kaum muslimin. Oleh sebab itulah ketika pasukan Turki keluar sedangkan orang-orang kafir datang dari arah timur kemudian membunuhi kaum muslimin dan menumpahkan darah mereka di negeri Khurasan, Irak, Syam, jazirah Arab, dan negeri yang lainnya, maka kaum Rafidhah justru memberikan bantuan kepada mereka (orang kafir) untuk membunuh kaum muslimin. Dan menteri Baghdad saat itu yang sudah ma’ruf (dikenal) yaitu Alqami dan orang-orang yang sepertinya, mereka itulah orang-orang yang paling besar perannya dalam memberikan bantuan kepada mereka untuk menghancurkan kaum muslimin. Demikian pula orang-orang Rafidhah yang dahulu tinggal di Syam, mereka itu adalah orang-orang yang paling besar perannya dalam membantu orang kafir untuk memerangi kaum muslimin. Begitu pula orang-orang Nasrani yang dahulu diperangi oleh kaum muslimin di Syam, ternyata kaum Rafidhah pun termasuk pembantu mereka yang sangat berjasa. Demikian pula tatkala Yahudi berhasil memiliki pemerintahan di Irak dan negeri yang lainnya, maka jadilah kaum Rafidhah sebagai pembantu mereka yang paling besar perannya. Mereka itu selalu memberikan loyalitasnya kepada orang-orang kafir dari kalangan orang-orang musyrik maupun Yahudi dan Nasrani. Mereka membantu orang-orang kafir itu dalam rangka memerangi kaum muslimin dan memusuhi mereka…” Selesai ucapan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kalian, wahai HAMAS. Kalian telah membuka jalan untuk kaum Rafidhah guna merusak keyakinan-keyakinan Ahlus Sunnah dan mengubahnya menjadi [aqidah] Syi’ah. Dan sebaliknya, kalian justru melarang para da’i salafi [ikut serta memperbaiki kekeliruan kalian, pent]. Bahkan, sudah terbukti kalian berani melakukan pembunuhan kepada sebagian di antara mereka (da’i salafi) dengan mengatasnamakan kemaslahatan yang diada-adakan. Barangsiapa yang ingin mendapatkan tambahan bukti dan keterangan yang lebih lengkap silakan merujuk kepada pelajaran ‘Rasa’il ila Harakati Hamas’ [masih dalam bentuk ceramah audio, belum di transkrip, pent]. Saya memohon kepada Allah agar Dia mematikan kita sebagai syuhada’ di jalan-Nya dan menyejukkan hati kita dengan hancurnya Yahudi. Saya pun memohon kepada-Nya dengan segenap kekuatan yang dimiliki-Nya demi terjaganya darah saudara-saudara kami kaum muslimin di Gaza dan di semua tempat, dan semoga Allah memberikan hidayah kepada para pemimpin HAMAS untuk meniti jalan yang lurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdul Aziz bin Rays ar-Rays&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengawas situs al-Islam al-’Atieq&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.islamancient.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permulaan tahun 1430 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diterjemahkan dari:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Durus Manhajiyah Min Ahdats Ghazah al-Filisthiniyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://islamancient.com/mod_stand,item,26.html&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerjemah: Abu Mushlih Ari Wahyudi&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8859049449550037071-9213706408914757599?l=alfirqotunnajiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/9213706408914757599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/9213706408914757599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/2009/01/pelajaran-dari-palestina.html' title='Pelajaran dari Palestina'/><author><name>YAHYA AL BUNY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00500596638645663569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SMnoh7LksdI/AAAAAAAAAAM/HWHohIDKDrg/S220/ais+ami+jenggot.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SWl76NJpcMI/AAAAAAAAAIU/AmYBFdBsjbs/s72-c/palestine+and+palestinians+cover.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071.post-695082647052612911</id><published>2009-01-02T22:25:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T22:32:39.581-08:00</updated><title type='text'>:: Yahudi Bukan Israel ::</title><content type='html'>&lt;a href="http://muslim.or.id"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sungguh sangat memprihatinkan, banyak di antara kaum muslimin sering tidak sadar dan lepas kontrol ketika berbicara. Tidak hanya terjadi pada orang awam, bisa kita katakan juga terjadi pada sebagian besar pelajar atau bahkan mereka yang merasa memiliki banyak tsaqafah islamiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali mereka lupa atau mungkin tidak tahu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فِى جَهَنَّم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sesungguhnya ada seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan murka Allah, diucapkan tanpa kontrol akan tetapi menjerumuskan dia ke neraka.” &lt;/span&gt;(HR. Al Bukhari 6478)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hafidz Ibn Hajar berkata dalam Fathul Bari ketika menjelaskan hadis ini, yang dimaksud diucapkan tanpa kontrol adalah tidak direnungkan bahayanya, tidak dipikirkan akibatnya, dan tidak diperkirakan dampak yang ditimbulkan. Hal ini semisal dengan firman Allah ketika menyebutkan tentang tuduhan terhadap Aisyah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْد اللَّه عَظِيم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka sangka itu perkara ringan, padahal itu perkara besar bagi Allah.” (QS. An-Nur: 15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, pada artikel ini -dengan memohon pertolongan kepada Allah- penulis ingin mengingatkan satu hal terkait dengan ayat dan hadis di atas, yaitu sebuah ungkapan penamaan yang begitu mendarah daging di kalangan kaum muslimin, sekali lagi tidak hanya terjadi pada orang awam namun juga terjadi pada mereka yang mengaku paham terhadap tsaqafah islamiyah. Ungkapan yang kami maksud adalah penamaan YAHUDI dengan ISRAEL. Tulisan ini banyak kami turunkan dari sebuah risalah yang ditulis oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali hafidzhahullah yang berjudul “Penamaan Negeri Yahudi yang Terkutuk dengan Israel”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak diragukan bahkan seolah telah menjadi kesepakatan dunia termasuk kaum muslimin bahwa negeri yahudi terlaknat yang menjajah Palestina bernama Israel. Bahkan mereka yang mengaku sangat membenci yahudi -sampai melakukan boikot produk-produk yang diduga menyumbangkan dana bagi yahudi- turut menamakan yahudi dengan israel. Akan tetapi sangat disayangkan tidak ada seorang pun yang mengingatkan bahaya besar penamaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui dan dicamkan dalam benak hati setiap muslim bahwa ISRAIL adalah nama lain dari seorang Nabi yang mulia, keturunan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yaitu Nabi Ya’qub ‘alaihis salam. Allah ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلًّا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ إِلَّا مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرَاةُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan.” (QS. Ali Imran: 93)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Israil yang pada ayat di atas adalah nama lain dari Nabi Ya’qub ‘alaihis salam. Dan nama ini diakui sendiri oleh orang-orang yahudi, sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhu: “Sekelompok orang yahudi mendatangi Nabi untuk menanyakan empat hal yang hanya diketahui oleh seorang nabi. Pada salah satu jawabannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Apakah kalian mengakui bahwa Israil adalah Ya’qub?” Mereka menjawab: “Ya, betul.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ya Allah, saksikanlah.” (HR. Daud At-Thayalisy 2846)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata “Israil” merupakan susunan dua kata israa dan iil yang dalam bahasa arab artinya shafwatullah (kekasih Allah). Ada juga yang mengatakan israa dalam bahasa arab artinya ‘abdun (hamba), sedangkan iil artinya Allah, sehingga Israil dalam bahasa arab artinya ‘Abdullah (hamba Allah). (lihat Tafsir At Thabari dan Al Kasyaf ketika menjelaskan tafsir surat Al Baqarah ayat 40)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah diketahui bersama bahwa Nabi Ya’qub adalah seorang nabi yang memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah ta’ala. Allah banyak memujinya di berbagai ayat al Qur’an. Jika kita mengetahui hal ini, maka dengan alasan apa nama Israil yang mulia disematkan kepada orang-orang yahudi terlaknat. Terlebih lagi ketika umat islam menggunakan nama ini dalam konteks kalimat yang negatif, diucapkan dengan disertai perasaan kebencian yang memuncak; Biadab Israil… Israil bangsat… Keparat Israil… Atau dimuat di majalah-majalah dan media massa yang dinisbahkan pada islam, bahkan dijadikan sebagai Head Line News; Israil membantai kaum muslimin… Agresi militer Israil ke Palestina… Israil penjajah dunia…. Dan seterusnya… namun sekali lagi, yang sangat fatal adalah ketika hal ini diucapkan tidak ada pengingkaran atau bahkan tidak merasa bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin perlu kita renungkan, pernahkah orang yang mengucapkan kalimat-kalimat di atas merasa bahwa dirinya telah menghina Nabi Ya’qub ‘alaihis salam? pernahkah orang-orang yang menulis kalimat ini di majalah-majalah yang berlabel islam dan mengajak kaum muslimin untuk mengobarkan jihad, merasa bahwa dirinya telah membuat tuduhan dusta kepada Nabi Ya’qub ‘alaihis salam? mengapa mereka tidak membayangkan bahwasanya bisa jadi ungkapan-ungkapan salah kaprah ini akan mendatangkan murka Allah - wal ‘iyaadzu billaah - karena isinya adalah pelecehan dan tuduhan bohong kepada Nabi Ya’qub ‘alaihis salam. Mengapa tidak disadari bahwa Nabi Ya’qub ‘alaihis salam tidak ikut serta dalam perbuatan orang-orang yahudi dan bahkan beliau berlepas diri dari perbuatan mereka yang keparat. Pernahkah mereka berfikir, apakah Nabi Israil ‘alaihis salam ridha andaikan beliau masih hidup?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al Ahzab: 58)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menyatakan, menyakiti orang mukmin biasa laki-laki maupun wanita sementara yang disakiti tidak melakukan kesalahan dianggap sebagai perbuatan dosa, bagaimana lagi jika yang disakiti adalah seorang Nabi yang mulia, tentu bisa dipastikan dosanya lebih besar dari pada sekedar menyakiti orang mukmin biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang perlu disadari oleh setiap muslim, penamaan negeri yahudi dengan Israil termasuk salah satu di antara sekian banyak konspirasi (makar) yahudi terhadap dunia. Mereka tutupi kehinaan nama asli mereka YAHUDI dengan nama Bapak mereka yang mulia Nabi Israil ‘alaihis salam. Karena bisa jadi mereka sadar bahwa nama YAHUDI telah disepakati jeleknya oleh seluruh dunia, mengingat Allah telah mencela nama ini dalam banyak ayat di Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak mengingkari bahwa orang-orang yahudi merupakan keturunan Nabi Israil ‘alaihis salam, akan tetapi ini bukan berarti diperbolehkan menamakan yahudi dengan nama yang mulia ini. Bahkan yang berhak menyandang nama dan warisan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan para nabi yang lainnya adalah kaum muslimin dan bukan yahudi yang kafir. Allah ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran: 67)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إن أولى الناس بإبراهيم للذين اتبعوه وهذا النبي والذين آمنوا والله ولي المؤمنين&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang yang paling berhak terhadap Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini, beserta orang-orang yang beriman, dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 68)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memberikan taufik kepada kita dan seluruh kaum muslimin untuk mengucapkan dan melakukan perbuatan yang dicintai dan di ridai oleh Allah ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sedikitpun kami tidak berniat menghina Nabi Ya’qub ‘alaihis salam dalam penggunaan kalimat-kalimat ini sebaliknya, yang kami maksud adalah yahudi…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali ini salah satu pertanyaan yang akan dilontarkan oleh sebagian kaum muslimin ketika menerima nasihat ini. Maka jawaban singkat yang mungkin bisa kita berikan: Justru inilah yang berbahaya, seseorang melakukan sesuatu yang salah namun dia tidak sadar kalau dirinya sedang melakukan kesalahan. Bisa jadi hal ini tercakup dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di atas. Bukankah semua pelaku perbuatan bid’ah tidak berniat buruk ketika melakukan kebid’ahannya, namun justru inilah yang menyebabkan dosa perbuatan bid’ah tingkatannya lebih besar dari melakukan dosa besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah di Mekkah, Orang-orang musyrikin Quraisy mengganti nama Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Mudzammam (manusia tercela) sebagai kebalikan dari nama asli Beliau Muhammad (manusia terpuji). Mereka gunakan nama Mudzammam ini untuk menghina dan melaknat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. misalnya mereka mengatakan; “terlaknat Mudzammam”, “terkutuk Mudzammam”, dan seterusnya. Dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak merasa dicela dan dilaknat, karena yang dicela dan dilaknat orang-orang kafir adalah “Mudzammam” bukan “Muhammad”, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ألا تعجبون كيف يصرف الله عني شتم قريش ولعنهم يشتمون مذمماً ويلعنون مذمماً وأنا محمد&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidakkah kalian heran, bagaimana Allah mengalihkan dariku celaan dan laknat orang Quraisy kepadaku, mereka mencela dan melaknat Mudzammam sedangkan aku Muhammad.” (HR. Ahmad &amp; Al Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun maksud orang Quraisy adalah mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun karena yang digunakan bukan nama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Beliau tidak menilai itu sebagai penghinaan untuknya. Dan ini dinilai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bentuk mengalihkan penghinaan terhadap dirinya. Oleh karena itu, bisa jadi orang-orang Yahudi tidak merasa terhina dan dijelek-jelekkan karena yang dicela bukan nama mereka namun nama Nabi Ya’qub ‘alaihis salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, Allah juga melarang seseorang mengucapkan sesuatu yang menjadi pemicu munculnya sesuatu yang haram. Allah melarang kaum muslimin untuk menghina sesembahan orang-orang musyrikin, karena akan menyebabkan mereka membalas penghinaan ini dengan menghina Allah ta’ala. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa ilmu.” (QS. Al An’am: 108)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala melarang kaum muslimin yang hukum asalnya boleh atau bahkan disyari’atkan - menghina sesembahan orang musyrik - karena bisa menjadi sebab orang musyrik menghina Allah subhanahu wa ta’ala. Dan kita yakin dengan seyakin-yakinnya, tidak mungkin para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang menyaksikan turunnya ayat ini memiliki niatan sedikitpun untuk menghina Allah ta’ala. Maka bisa kita bayangkan, jika ucapan yang menjadi sebab celaan terhadap kebenaran secara tidak langsung saja dilarang, bagaimana lagi jika celaan itu keluar langsung dari mulut kaum muslimin meskipun mereka tidak berniat untuk menghina Nabi Israil ‘alaihis salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma sebatas istilah, yang pentingkan esensinya… bahkan para ulama’ memiliki kaidah “Tidak perlu memperdebatkan istilah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas telah dipaparkan bahwa menamakan negeri yahudi dengan Israil merupakan celaan terhadap Nabi Israil ‘alaihis salam, baik langsung maupun tidak langsung, baik diniatkan untuk mencela maupun tidak, semuanya dihitung mencela Nabi Israil ‘alaihis salam tanpa terkecuali. Dan kaum muslimin yang sejati selayaknya tidak meremehkan setiap perbuatan dosa atau perbuatan yang mengundang dosa. Karena dengan meremahkannya akan menyebabkan perbuatan yang mungkin nilainya kecil menjadi besar. Sebagaimana dijelaskan oleh sebagian ulama bahwa di antara salah satu penyebab dosa kecil menjadi dosa besar adalah ketika pelakunya meremehkan dosa kecil tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan kita telah memahami bahwa mencela, menghina, melakukan tuduhan dusta kepada seorang Nabi adalah dosa besar. Akankah hal ini kita anggap ini biasa?! Sekali lagi, akan sangat membahayakan bagi seseorang, ketika dia mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan murka Allah, sementara dia tidak sadar. Mereka sangka itu perkara ringan, padahal itu perkara besar bagi Allah. (QS. An-Nur: 15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kaidah “Tidak perlu memperdebatkan istilah”, kita tidak mengingkari keabsahan kaidah ini mengingat ungkapan tersebut merupakan kaidah yang masyhur di kalangan para ulama’. Akan tetapi maksud kaidah ini tidaklah melegalkan penamaan Yahudi dengan Israel. Karena kaidah ini berlaku ketika makna istilah tersebut sudah diketahui tidak menyimpang, sebagaimana yang dipaparkan oleh Abu Hamid Al Ghazali dalam bukunya Al Mustashfaa fi Ilmil Ushul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah Israil untuk negeri yahudi telah menjadi konsensus (kesepakatan) dunia. Kita cuma ikut-ikutan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kaum muslimin selayaknya berusaha menjaga syi’ar-syi’ar islam, misalnya dengan belajar bahasa arab (baik lisan maupun tulisan), menghafalkan Al Qur’an, dan termasuk dalam hal ini adalah membiasakan diri untuk menggunakan istilah-istilah yang Allah gunakan dalam Al Qur’an atau dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama istilah tersebut dapat dipahami orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bentuk pemeliharaan terhadap syi’ar islam, para sahabat terutama Umar Ibn Al Khattab radhiyallahu ‘anhu sangat menekankan agar umat islam mempelajari bahasa arab. Beliau pernah mengatakan: “Pelajarilah bahasa arab, karena itu bagian dari agama kalian.” Beliau juga mengatakan: “Hati-hati kalian dengan bahasa selain bahasa arab.” Umar radhiyallahu ‘anhu membenci kaum muslimin membiasakan diri dengan berbicara selain bahasa arab tanpa ada kebutuhan, dan ini juga yang dipahami oleh para sahabat lainnya radhiyallahu ‘anhum. Mereka (para sahabat radhiyallahu ‘anhum) menganggap bahasa arab sebagai konsekuensi agama, sedangkan bahasa yang lainnya termasuk syi’ar kemunafikan. Karena itu, ketika para sahabat berhasil menaklukkan satu negeri tertentu, mereka segera mengajarkan bahasa arab kepada penduduknya meskipun penuh dengan kesulitan. (lihat Muqaddimah Iqtidla’ Shirathal Mustaqim, Syaikh Nashir al ‘Aql)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa arab, waktu sepertiga malam yang awal dinamakan ‘atamah. Orang-orang arab badui di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kebiasaan menamai shalat Isya’ dengan nama waktu pelaksanaan shalat isya’ yaitu ‘atamah. Kebiasaan ini kemudian diikuti oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum dengan menamakan shalat isya’ dengan shalat ‘atamah. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mereka melalui sabdanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لا يغلبنكم الأعراب على اسم صلاتكم فإنها العشاء إنما يدعونها العتمة لإعتامهم بالإبل لحلابها&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah kalian ikut-ikutan orang arab badui dalam menamai shalat kalian, sesungguhnya dia adalah shalat Isya’, sedangkan orang badui menamai shalat isya dengan ‘atamah karena mereka mengakhirkan memerah susu unta sampai waktu malam.” (HR. Ahmad, dinyatakan Syaikh Al Arnauth sanadnya sesuai dengan syarat Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Quthuby mengatakan: “Agar nama shalat isya’ tidak diganti dengan nama selain yang Allah berikan, dan ini adalah bimbingan untuk memilih istilah yang lebih utama bukan karena haram digunakan dan tidak pula menunjukkan bahwa penggunaan istilah ‘atamah tidak diperbolehkan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menggunakan istilah ini dalam hadisnya…” (‘Umdatul Qori Syarh Shahih Al Bukhari karya Al ‘Aini)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat dalam menjaga syi’ar islam. Sampai menjaga istilah-istilah yang diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal penggunaan istilah asing dalam penamaan shalat isya’ tidak sampai derajat haram, karena tidak mengandung makna yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dengan apa kita menamai mereka?! Kita menamai mereka sebagaimana nama yang Allah berikan dalam Al-Qur’an, YAHUDI dan bukan ISRAEL. Dan sebagaimana disampaikan di atas, hendaknya setiap muslim membiasakan diri dalam menamakan sesuatu sesuai dengan yang Allah berikan. Hendaknya kita namakan orang-orang yang mengaku pengikut Nabi Isa ‘alahis salam dengan NASRANI bukan KRISTIANI, kita namakan hari MINGGU dengan AHAD bukan MINGGU, kita namakan shalat dengan SHALAT bukan SEMBAHYANG dan seterusnya selama itu bisa dipahami oleh orang yang diajak bicara, sebagai bentuk penghormatan kita terhadap syi’ar-syi’ar agama islam. Wallaahu waliyyut taufiiq…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ammi Nur Baits&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8859049449550037071-695082647052612911?l=alfirqotunnajiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/695082647052612911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/695082647052612911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/2009/01/yahudi-bukan-israel.html' title=':: Yahudi Bukan Israel ::'/><author><name>YAHYA AL BUNY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00500596638645663569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SMnoh7LksdI/AAAAAAAAAAM/HWHohIDKDrg/S220/ais+ami+jenggot.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071.post-5989011595425974148</id><published>2008-12-24T21:21:00.000-08:00</published><updated>2008-12-24T21:26:14.900-08:00</updated><title type='text'>الأنكحة المحرمة</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SVMZQdfi3VI/AAAAAAAAAHs/_FdZdMy7Qlo/s1600-h/44722.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 259px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SVMZQdfi3VI/AAAAAAAAAHs/_FdZdMy7Qlo/s320/44722.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283594558421261650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;الأنكحة المحرمة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وأصحابه، ومن اهتدى بهداه. أما بعد:[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فإن الله جل وعلا شرع لعباده النكاح، وحرم عليهم السفاح، وحرم - أيضاً - أنكحة فاسدة كانت تعتادها الجاهلية، وبعضها شُرع في الإسلام ثم نسخ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أما النكاح الشرعي الذي هو ضد السفاح هو: النكاح الذي يكون عن رضا من المرأة، وعن واسطة الولي، وبواسطة الإعلان والشاهدين، وغير هذا من الإعلان، فهذا هو النكاح الشرعي الباقي، الذي قال الله فيه جل وعلا: وَأَنكِحُوا الْأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ[2].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال فيه النبي عليه الصلاة والسلام: ((يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج؛ فإنه أغض للبصر، وأحصن للفرج، ومن لم يستطع فعليه بالصوم؛ فإنه له وجاء))[3]، وقال عليه الصلاة والسلام: ((تزوجوا الولود الودود؛ فإني مكاثر بكم الأمم يوم القيامة))[4]، وفي لفظ: ((الأنبياء يوم القيامة)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال صلى الله عليه وسلم: ((تنكح المرأة لأربع؛ لجمالها ولمالها ولحسبها ولدينها، فاظفر بذات الدين تربت يداك))[5].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال صلى الله عليه وسلم: ((إذا جاءكم من ترضون دينه وخلقه فزوجوه، إلا تفعلوه تكن فتنة في الأرض وفساد كبير))[6]، وفي لفظ: ((فساد عريض))[7].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والأحاديث في المعنى للحث على النكاح، والترغيب فيه كثيرة.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والقرآن الكريم كذلك دل على شرعية النكاح، ورغب فيه، فقال تعالى: فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُولُواْ[8]. يعني: ألا تجوروا.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فالله سبحانه شرع لنا النكاح؛ لما فيه من إعفاف الفروج، ولما فيه من تكثير الأمة؛ فإن الأمة إذا لم يكن هناك نكاح انقرضت، ولكن من رحمة الله أن شرع النكاح، وجعل في الرجل الميل إلى المرأة، وجعل في المرأة الميل إلى الرجل، وكتب بينهما ما كتب لوجود الذرية؛ حتى يبقى هذا النسل، وتبقى هذه الأمة إلى الأمد الذي حدده الله عز وجل.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وشرع لهذه الأمة التمسك بما بعث الله به أنبياءه من عهد آدم إلى يومنا هذا؛ شرع النكاح وشرع التمسك بما خلقوا له من دين الله وعبادته سبحانه وتعالى حتى لا يزال في الأرض من يعبد الله ويتقيه، ويكثر من ذكره سبحانه ويطيع أوامره، وينتهي عن نواهيه.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وجعل لهذه الدنيا أمداً تنتهي إليه، فإذا جاء الأمد قامت القيامة، وانتهى أمر هذا العالم، وصار الناس إلى الدار الأخرى؛ وهي الجنة أو النار على حسب أعمالهم، فمن كان من أهل الإحسان في هذه الدار من أهل طاعة الله ورسوله، صار إلى دار النعيم والكرامة وإلى دار أهل الإحسان؛ وهي الجنة، ومن كان في هذه الدار من أهل الانحراف والفساد وطاعة الشيطان أو عصيان الرحمن، صار إلى دار الهوان ودار العذاب والنكال؛ وهي النار – نعوذ بالله من ذلك -.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وشرع في النكاح أموراً منها: أن تكون المرأة والرجل خاليين من الموانع، صالحين للزواج بأن يكونا مسلمين أو كافرين، أو الزوج مسلماً والمرأة كتابية - من اليهود والنصارى المحصنات - فإنه يكون النكاح هكذا؛ إما مسلمان، أو كافران، أو مسلم وكتابية محصنة من اليهود والنصارى.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فإذا اختل الأمر، صار هناك مانع: إذا كان الزوج مسلماً والمرأة غير كتابية ولا مسلمة – وثنية، مجوسية، شيوعية – لم يصح النكاح.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كذلك لابد - أيضاً - من كون المرأة خالية من الموانع؛ ليست في عدة ولا في عصمة نكاح، بل تكون خالية مطلقة أو متوفى عنها، قد انتهت من العدة، أو لم تزوج أصلاً.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثم هناك - أيضاً - موانع أخرى من القرابة والرضاعة والمصاهرة، تكون سليمة من ذلك، والرجل سليماً من ذلك، ليس بينهما ما يحرم النكاح؛ لا قرابة, مثل كونها أخته أو عمته أو خالته أو بنت أخيه أو ما أشبه ذلك - من رضاع أو من نسب - ولا كونها أيضاً محرمة بالمصاهرة؛ كأن تكون بنت زوجته المدخول بها، أو أم زوجته، أو جدتها، فلا يجوز له نكاحها.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فإذا صار الزوجين خاليين من الموانع، وتوافرت الشروط الشرعية؛ من رضا الزوجين - الزوج والزوجة – الزوج بالمرأة والمرأة بالزوج – إلا ما استثني من حال صغر المرأة، إذا زوجها أبوها في حال صغرها وهي ابنة تسع، واختار لها الزوج الصالح، فهذا يجوز إذا كان دون التسع - إذا اختار أبوها لها الزوج الصالح - كما زوّج الصديق رضي الله عنه عائشة رضي الله عنها النبي صلى الله عليه وسلم وهي صغيرة بنت ست أو سبع سنين بغير مشورتها؛ لأنها صغيرة جداً.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أما إذا بلغت تسع سنين فأكثر فإنها تستشار وتخبر، وإذنها صماتها؛ يعني سكوتها – هذا إذا كانت بكراً –، أما الثيب فلابد من نطقها، ولابد من مؤامرتها حتى تنطق، وحتى تصرح بالرضا، ولابد أيضاً من وجود الولي، ووجود الشاهدين.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فإذا توافرت الشروط - الزوج والزوجة، وما يجب في ذلك - صح النكاح، وصار نكاحاً شرعياً، بشرط أن يكون هذا النكاح للرغبة لا للتحليل، ولا مؤقتاً بوقت، وأن يتزوجها راغباً فيها، يريد الاستمتاع بها، والبقاء معها؛ ليعفها وتعفه، ولما يسر الله من أولاد، والمصالح الأخرى.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وهناك أنكحة تخالف النكاح الشرعي من ذلك: نكاح المتعة:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وهو: أن يتزوجها لمدة معينة ثم بعد ذلك يزول النكاح؛ كأن يتزوجها شهراً أو شهرين أو ثلاثة، أو ما أشبه ذلك لمدة يتفقان عليها، هذا يقال له: نكاح المتعة.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقد أبيح في الإسلام وقتا ما، ثم نسخ الله ذلك وحرمه على الأمة سبحانه وتعالى بأن جاء في الحديث الصحيح عن النبي عليه الصلاة والسلام أنه قال: ((إني كنت أذنت لكم في الاستمتاع من النساء، وأن الله قد حرم ذلك إلى يوم القيامة، فمن كان عنده منهن شيء فليخلِ سبيلها، ولا تأخذوا مما آتيتموهن شيئاً))[9].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وثبت من حديث علي رضي الله عنه وسلمة بن الأكوع، وابن مسعود، وغيرهم أن الرسول عليه الصلاة والسلام نهى عن نكاح المتعة، فاستقرت الشريعة على تحريم نكاح المتعة، وأنه محرم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وأن النكاح الشرعي، هو الذي يكون فيه الرغبة من الزوج للزوجة، ليس بينهم توقيت، بل يتزوجها على أنه راغب فيها؛ لما يرجوه وراء ذلك من العفة، والنسل، والتعاون على الخير، فهذا هو النكاح الشرعي؛ أن ينكح لرغبة فيها، ليستمتع بها، ويستعف بها، ولما يرجو من النسل والذرية، فهذا هو النكاح الشرعي الذي أباحه الله.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وتقدم بيان شروطه، وما ينبغي فيه، وجعله سبحانه وتعالى خيراً للأمة؛ فيه تعاونها، وفيه تكثير نسلها، وفيه إعفاف رجالها ونسائها، وفيه الإحسان إلى الجنسين؛ فالزوج يحسن إلى المرأة؛ بإعفافها، والإنفاق عليها، وصيانتها وحمايتها من ذئاب الرجال، إلى غير ذلك. والمرأة تساعده على دينه ودنياه، وتعفه، وتراعى مصالحه، وتعينه على نوائب الدنيا والآخرة.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وهذا النكاح الذي سمعتم - هو نكاح المتعة - قد نسخ في الإسلام، واستقر تحريمه، وكان عمر رضي الله عنه يتوعد من فعله بأن يرجمه رجم الزاني؛ لأن الله قد حرمه، واستقر تحريمه في الشريعة، ولكن لم يزل في الناس من يستبيحه – وهم الرافضة - يستبيحون نكاح المتعة، ويفعلونه، وهو مشهور في كتبهم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وذلك مما أُخذ عليهم، ومما ضلوا فيه عن سواء السبيل، فلا ينبغي لعاقل أن يغتّر بهم، بل يجب الحذر مما هم عليه من الباطل، وأن يعلم المؤمن يقيناً أن هذا النكاح باطل، وأنه مما حرمه الله، ومما استقرت الشريعة على تحريمه، وسبق لكم حديث سمرة بن معبد الجهني عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: ((إني كنت أذنت لكم في الاستمتاع من النساء، وأن الله قد حرم ذلك إلى يوم القيامة، فمن كان عنده منهن شيء فليخلِ سبيلها، ولا تأخذوا مما آتيتموهن شيئاً))[10]. خرجه مسلم في صحيحه.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هذا النص وما جاء في معناه، يبين أن هذا النسخ مستمر إلى يوم القيامة، وأنه انتهى أمر هذا النكاح، ولا يبقى له محل إباحة، بل قد نسخه الله واستمر تحريمه إلى يوم القيامة، وهو - كما تقدم - نكاح المتعة: النكاح المؤقت الذي يتفق عليه الرجل والمرأة لمدة معلومة، هذا هو نكاح المتعة.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن عاداتهم: أنه إذا مضت المدة ينتهي، ولا يحتاج إلى طلاق، ولا إلى غير ذلك. ولكن لو جعلوا فيه طلاقاً، فهو أيضاً طلاق متعة؛ لو اتفقوا على شهرين أو ثلاثة، ثم يطلقها، ثم تعتد كله نكاح متعة، فالنكاح المؤقت نكاح متعة مطلقاً سواء كان فيه طلاق، أو بمجرد انتهاء المدة ينتهي الأمر فيما بينهم، أو شرطوا فيه الطلاق أو الفسخ، كله نكاح متعة، وهو محرم بالنص، ومكان إجماع من أهل العلم، فلا يوجد بين أهل العلم خلاف فيه، بل محرم عند أهل السنة والجماعة قاطبة.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;النكاح الثاني من الأنكحة التي حرمها الله عز وجل وقد وقع فيها بعض الناس: نكاح التحليل:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وهو نكاح يفعله من حَرُمَتْ عليه زوجته بالطلاق بالطلقة الأخيرة الثالثة؛ بعض الناس لضعف إيمانه، وقلة خوفه من الله عز وجل يتفق مع شخص آخر ليتزوجها، فإذا دخل بها ووطئها فارقها؛ حتى يعود إليها زوجها الأول، وهذا هو النكاح الذي يسمى: نكاح التحليل، وقد ثبت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((أنه لعن المحلل والمحلل له))[11].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;المحلل: هو التيس المستعار، والزوج هو الذي يطلبه لتحليلها، والمحلل له هو: الزوج الأول المطلق. هذا نكاح باطل وحرام؛ إذا اتفقا عليه للتواطؤ، أو بالشرط اللفظي، أو بالكتابة، كل ذلك محرم؛ للأحاديث التي جاءت في هذا الباب عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه: ((لعن المحلل والمحلل له))، جاء في ذلك عدة أحاديث، منها:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حديث ابن مسعود وأبي هريرة وغيرهما، وفي لفظ يروى عنه عليه الصلاة والسلام أنه قال: ((ألا أنبئكم بالتيس المستعار؟)) قلنا: بلى يا رسول الله، قال: ((هو المحلل، لعن الله المحلل، والمحلل له)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سمي تيساً مستعاراً؛ لأنه جيء به للضراب، ليس زوجاً، وإنما جيء به ليدخل بها مرة، يجامعها مرة ثم يفارقها، لأن الله سبحانه وتعالى قال في المطلقة آخر الثلاثة: فَإِن طَلَّقَهَا فَلاَ تَحِلُّ لَهُ مِن بَعْدُ حَتَّىَ تَنكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ[12].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فهذا المطلق الطلقة الثالثة، لما رأى أنه لا حيلة له إلا بزوج، وهو يريدها وتريده، زين لهم الشيطان هذا العمل السيء، وهو: الاتفاق مع شخص يسمى المحلل، ويعطونه ما شاء الله من المال، وترضى به الزوجة رضاً مؤقتاً ليحللها لزوجها، فلا تنظر في حاله، ولا نسبه، ولا أهليته في الغالب؛ لأنه لا يهمهم إلا أن يدخل عليها مرة، ثم يخرج وينتهي الأمر؛ ليحللّها للزوج الأول.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وهذا من أقبح الباطل، ومن أعظم الفساد، وهو زانٍ في المعنى؛ لأنه ما تزوجها لتكون زوجة؛ لتعفه، ولتبقى لديه لتحصنه؛ ليرجو منها وجود الذرية، لا، إنما جاء تيساً مستعاراً ليحللها لمن قبله بوطء مرة واحدة، ثم يفارقها وينتهي منها، هذا هو المحلل، ونكاحه باطل، وليس بشرعي.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولا تحل للزوج الأول إذا علم هذا، فإنه يستحق أن يؤدّب ويعزر بالتعزير البليغ الذي يردعه أمثاله، وهذه الزوجة لا تحل بذلك، بل يعزر أيضاً المحلل، وهي كذلك إذا كانت راضية، كلهم يعزّرون لهذا العمل السيء؛ لأنه نكاح فاسد ولا تحل له، نكاح خبيث، نكاح منكر ومعصية؛ فوجب أن يعزر القائمون به: المحلِّل والمحللَّة والمحلَّل له أيضاً، كلهم سواء.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فالمرأة إذا كانت راضية وعالمة بهذا الشيء، فهي أيضاً تستحق التعزير والتأديب؛ لرضاها بالمعصية ومواطأتها عليها، ولو أراد أن يبقى عندها لم تحل له، ما دام نكحها بهذه النية وبهذا القصد، فإنه نكاح فاسد، ولا تحل للزوج الأول؛ لأن هذا ليس بزواج، والله قال: حَتَّىَ تَنكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ، وهذا تيس مستعار، وليس بزوج شرعي، فلا يحللها للزوج الأول.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والنكاح الثالث الفاسد أيضاً: نكاح يسمى: نكاح الشغار، ويسمى عند بعض الناس: نكاح البدل:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وهو نكاح يشترط فيه كل واحد من الوليّين نكاح الأخرى، فيقول أحدهما للآخر: زوّجني وأزوجك؛ زوجني بنتك وأزوجك بنتي، أو زوجني أختك وأزوجك أختي، أو زوج ابني وأنا أزوج ابنك، أو زوجني وأنا أزوج ابنك، أو زوج ابني وأنا أزوجك، أو أزوج أخاك، أو ما أشبه ذلك، هذا هو الشغار.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قالوا: سمي شغاراً من الخلو؛ لأنه في الغالب لا يهمهم المهر، وإنما يهمهم الاتفاق على هذا العمل، يقال: بلاد شاغرة، يعني: خلت من أهلها، ويقال: مكان شاغر: خالي، ويقال: شغر الكلب برجله: إذا رفعها ليبول، فأخلى مكانها.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقيل: سمي شغاراً من شغور الكلب برجله، المعنى كأنه يقول: لا تمسها ولا تمس رجلها، حتى أمس أو حتى أباشر رجل أختك أو بنتك أو عمتك، أو ما أشبه ذلك.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وبكل حال فهو منكر وفاسد، وإن لم يخل من المهر، وإن سمي فيه مهر؛ لما ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم: ((أنه نهى عن الشغار)) في حديث ابن عمر، ومن حديث جابر رضي الله عنه ومن حديث معاوية، ومن أحاديث أخرى في النهي عن الشغار، وفي حديث أبي هريرة: والشغار هو: (أن يقول الرجل: زوجني ابنتك وأزوجك ابنتي، أو زوجني أختك وأزوجك أختي، هذا هو الشغار).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أما ما جاء في حديث ابن عمر رضى الله عنهما بقوله: (إن الشغار هو: أن يزوج هذا هذا، وهذا هذا، وليس بينهما صداق).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هذا من كلام نافع مولى ابن عمر وليس من كلام النبي صلى الله عليه وسلم وقال جماعة: هو من كلام مالك بن أنس - الراوي عن نافع - وبكل حال فهو ليس من كلام النبي صلى الله عليه وسلم، وإنما هو من كلام من دون النبي صلى الله عليه وسلم وهو نافع مولى ابن عمر أو مالك.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال الحافظ ابن حجر رحمه الله في البلوغ: (واتفقا من وجه آخر على أن تسمية الشغار من كلام نافع، فليس من كلام النبي عليه الصلاة والسلام وقد اتفق الشيخان على أنه من تفسير نافع، وليس من كلام النبي عليه الصلاة والسلام.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وبعض الفقهاء رحمة الله عليهم أخذ بما قال نافع، وقالوا: إنه لا يكون شغاراً إلا إذا خلا من المهر، أما إذا كان فيه المهر كاملاً فليس فيه حيلة، والمهر كاملاً لهذه ولهذه، فإنه لا يكون شغاراً).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وهذا قول ضعيف ومرجوح، والصواب: أنه يكون شغاراً مطلقاً -إذا كان فيه الشغر- لظاهر الأحاديث عن النبي عليه الصلاة والسلام؛ لأنه في حديث أبي هريرة رضي الله عنه قال: والشغار: (أن يقول الرجل: زوجني أختك وأزوجك أختي، أو زوجني بنتك وأزوجك بنتي)[13]، ولم يقل وليس بينهما صداق، بل أطلق؛ ولما ثبت في المسند وسنن أبي داود بسند صحيح، عن معاوية رضي الله عنه أنه رفع إليه أمير المدينة: أن شخصين تزوجا شغاراً، وقد سميا مهراً، فكتب معاوية رضي الله عنه إلى أمير المدينة أن يفرق بينهما، وقال: هذا هو الشغار الذي نهى عنه النبي عليه الصلاة والسلام مع أنهما قد سميا مهراً.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فدل ذلك، على أن الشغار هو ما فيه مشارطة - سواء سمي فيه المهر أم لم يسم فيه المهر-، والحكمة في ذلك -والله أعلم- أنه وسيلة لظلم النساء، وإجبارهن على أزواج لا ترضاهم النساء، وسبب - أيضاً - لعدم المبالاة بمهورهن، وسبب - أيضاً - للنزاع المتواصل والخصومات الكثيرة.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فمن رحمة الله أن حرَّم الله ذلك؛ حتى لا يجبر النساء بغير حق، وحتى لا يظلمن، وحتى يسد باب النزاع والخصومات، فإنَّ الذين فعلوا هذا وقد جربوا ما فيه من الشر، فإنه تكثر بينهم النزاعات والخصومات، وإذا جرى بين هذا وزوجته شيء، وخرجت لعلة، خرجت الأخرى، أو طلب وليها بإخراجها حتى تعود هذه، وهكذا في النزاع متى ساءت الحال بين هذا وزوجته، لحقتها الأخرى؛ لأنه مشروط على هذا، وهذا مشروط عليه أن ينكح هذا هذه، وهذا هذه، فكلما جرى نزاع ساءت الحال بين الجميع.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثم الولي لا يبالي، بل يحبسها ويؤذيها، حتى يجد امرأة أخرى، ويشترطها لنفسه أو لولده أو لابن أخيه أو لأخيه، فتكون النساء حبساً مظلومات لحاجات الأولياء، ولمصالح الأولياء، ولظلم الأولياء؛ ومن أجل هذا حرم الله الشغار، ونهى عنه نبيه عليه الصلاة والسلام؛ حتى لا تظلم النساء، وحتى لا يتخذ تزويجهن للهوى والظلم، وإرضاء الأولياء، وتحصيل مقاصدهم وأهواءهم، بل على الولي أن يطلب لها الزوج المناسب –الزوج الشرعي–، ولا يعلق ذلك بأن يزوج ابن هذا أو أخ هذا أو عم هذا، وما أشبه ذلك.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فهذا هو نكاح الشغار، وهو المسمى: نكاح البدل.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والصواب: أنه لا يجوز مطلقاً، سواء كان فيه مهر أو لم يكن فيه مهر، هذا هو أرجح قولي العلماء في هذه المسألة، وهو الموافق للأحاديث الصحيحة، وهو الموافق للمعنى الذي من أجله حرم الله الشغار، الذي هو البدل، ونهى عنه النبي عليه الصلاة والسلام لما يترتب عليه من المفاسد العظيمة – وإن سمي فيه مهر–، والله المستعان، ولا حول ولا قوة إلا بالله.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أسأل الله أن يمن على المسلمين بالعافية من كل ما يغضبه.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والواجب على من يستمع مثل هذه الفائدة أن يبلغها إلى غيره؛ لأن هذا كثير عند بعض الناس، فمسألة الشغار هذه موجودة في الحاضرة والبادية، ولعله في البادية أكثر، وفي القرى، فينبغي تبليغ ذلك لمن يستطيعه الإنسان، ولاسيما في هذا الوقت؛ عند غلاء المهور صار كل واحد يحبس ابنته أو أخته، يقول: لعله يحصل لي من يزوجني أخته أو بنته، فتبقى عنده بنته إلى أن تبلغ الأربعين سنة أو الثلاثين سنة، يرجو وجود من يزوجه أو يزوج ولده، وهذا من الظلم الظاهر والمعصية الظاهرة، فيجب على الإخوان أن يبلّغوا من علموا ذلك منه، وأن يخوفوه من الله، وأن يحذّروه نقمة الله، فإن هذا ظلم للنساء. لا يجوز هذا النكاح في هذه الصفة، أمر لا يجوز أيضاً، ونسأل الله للجميع الهداية والعافية.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] محاضرة لسماحته بعنوان (الأنكحة المحرمة كالشغار والمتعة) في الجامع الكبير بالرياض.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] سورة النور الآية 32.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] أخرجه مسلم في صحيحه، برقم: 3352.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] أخرجه أبو داود في (سننه)، باب (النهي عن التزويج من لم يلد من النساء).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] أخرجه البخاري، برقم: (4802) 5/ 1958، ومسلم في صحيحه، باب (استحباب نكاح ذات الدين) برقم (1466) 2/ 1086.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] كتاب السنن، حديث رقم: (590) 1/190.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] أخرجه الترمذي في سننه، باب (ما جاء إذا جاءكم من ترضون دينه فزوجوه)، برقم: (1084)3/ 394.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] سورة النساء، الآية 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] أخرجه مسلم في صحيحه برقم: (1406) 2/ 1025.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] أخرجه مسلم في صحيحه, برقم:  (1406)  2 / 1025.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] أخرجه ابن ماجة في سننه، برقم :(1936) 1/ 623.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12] سورة البقرة، الآية 230.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13] أخرجه مسلم في صحيحه برقم: (1416)، 2/ 1035.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8859049449550037071-5989011595425974148?l=alfirqotunnajiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/5989011595425974148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/5989011595425974148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/2008/12/blog-post.html' title='الأنكحة المحرمة'/><author><name>YAHYA AL BUNY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00500596638645663569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SMnoh7LksdI/AAAAAAAAAAM/HWHohIDKDrg/S220/ais+ami+jenggot.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SVMZQdfi3VI/AAAAAAAAAHs/_FdZdMy7Qlo/s72-c/44722.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071.post-8631900361284451762</id><published>2008-12-24T21:00:00.000-08:00</published><updated>2008-12-24T21:16:43.615-08:00</updated><title type='text'>BENIH TAKFIR DALAM TUBUH UMMAT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SVMU8h450kI/AAAAAAAAAHk/v8BJ8NWFuA4/s1600-h/kafir.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 239px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SVMU8h450kI/AAAAAAAAAHk/v8BJ8NWFuA4/s320/kafir.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283589817957470786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bolehkah kita asal mengkafirkan seseorang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah menjadikan tulisan  ini,tulisan yang diberkahi, mendorong penyebaran ilmu yang murni, penyebaran Kitabullah dan Sunnah Rasulullah dan manhaj Salafush Shalih, generasi yang datang setelah Nabi, dan membawa agama ini dengan amanah, antusias dan ketegaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topik pembicaraan kami, (ialah) seputar fitnah ghuluw dalam takfir, bahayanya terhadap umat dan pengaruh destruktifnya di masyarakat lokal maupun internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi takfir, yaitu memvonnis atau mensifati seseorang dengan kekafiran, atau mensifatinya dengan hukum kafir ; baik dengan alasan yang benar ataupun tidak. Karena itu, saya tegaskan bahwa takfir merupakan hukum syar’i. Ia merupakan wewenang Allah dan RasulNya. Tidak boleh kita meniadakan atau menolaknya. Sebab, takfir merupakan hukum syar’i ; ada orang yang bisa dikafirkan (dan) ada juga yang terjerumus dalam perbuatan takfir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi masalahnya bukan pada persoalan di atas, namun terletak pada sikap ekstrim dalam takfir (mengkafirkan) dan mengeluarkan takfir itu dari kaidah yang telah ditetapkan Allah dan Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, ada orang yang boleh dikafirkan, ada juga yang tidak boleh untuk dikafirkan. Dalam permasalahan ini, Ahlus Sunnah bersikap tengah-tengah antara dua golongan. Golongan yang mengabaikan hak Allah dalam masalah takfir ini, dengan golongan ekstrim menempatkan takfir bukan pada porsinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama mengklasifikasikan kekufuran menjadi dua katagori :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama : Kufur akbar yang mengeluarkan (manusia) dari Islam.&lt;br /&gt;Kedua : kufur ashgar, tidak mengeluarkan dari Islam, meskipun diistilahkan kufur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masalah pembagian kufur ini, ada keterangan paling mewakili, yaitu yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnul Qayim dalam kitabnya yang agung Ash-Shalah. Beliau menuturkan, kufur terbagi (menjadi) dua jenis, (yaitu) kufur yang mengeluarkan dari agama. Beliau menerangkan kufur ini berlawanan dengan iman dalam semua aspek. Maksudnya, ketika ada seseorang yang melakukannya, maka imannya akan hilang. Misalnya mencaci Allah, memaki NabiNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, menyakiti Nabi, bersujud kepada kuburan dan patung, melemparkan mushaf ke tempat kotor, atau contoh-contoh serupa lainnya yang telah dipaparkan para ulama. Orang yang terjerumus dalam perbuatan-perbuatan ini dihukumi sebagai kafir. Hujjah harus ditegakkan kepadanya (artinya, ia harus diingatkan dengan hujjah,-red), sampai syarat-syarat takfir terpenuhi dan segala penghalang kekafiran hilang. Jika hujjah sudah ditegakkan kepadanya oleh orang yang mempunyai kewenangan untuk itu atau oleh wakilnya, sedangkan ia tetap menolak, maka baru divonis sebagai kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis kedua, yang tidak mengeluarkan dari agama. Namun syari’at Islam menyebutkannya sebagai tindakan kekufuran, seperti perbuatan-perbuatan maksiat. Contohnya termaktub dalam beberapa hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Mencaci orang muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kufur” [Hadits Riwayat Bukhari No. 48, Muslim No. 64]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Barangsiapa bersumpah dengan menyebut nama selain Allah, maka ia kafir atau musyrik” [Hadits Riwayat Tirmidzi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Janganlah kalian menjadi kafir sepeninggalkau, yaitu sebagian kalian membunuh yang lain” [Hadits Riwayat Bukhari No. 121. Muslim No. 65]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang orang yang meninggalkan shalat dengan sebutan kufur. Demikianpula firman Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Barangsiapa tidak berhukum dengan hukum Allah, maka ia termasuk orang-orang yang kafir” [Al-Ma’idah : 44]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah contoh-contoh kufur ashghar yang tidak mengeluarkan dari agama, dengan syarat tidak menganggapnya sebagai perbuatan yang halal. Jika meyakini perbuatan maksiat ini halal, maka ia telah keluar dari Islam, murtad dan menjadi kafir. Ini adalah istihlal qalbi (penghalalan secara hati).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya, pembicaraan kita tentang masalah ini, yaitu tentang orang-orang yang berlebihan-lebihan dalam takfir, menjadikan perbuatan yang tidak mengeluarkan dari agama, sebagai perkara yang mengeluarkan dari Islam. Dari sinilah fitnah terjadi. Dan ini merupakan fitnah pertama yang terjadi di dalam Islam, di tangan-tangan orang Khawarij yang dinyatakan oleh Nabi sebagai anjing-anjing neraka. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu itu, pembesar mereka menantang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tatkala Belaiu membagi rampasan perang di Hunain dengan memberikannya kepada orang-orang yang muallaf dan tidak memberikan kepadanya sedikitpun. Pemimpin mereka itu mengatakan : “Bersikap adillah, wahai Muhammad! Sesungguhnya pembagian yang engkau lakukan ini tidak dimaksudkan untuk mencari wajah Allah”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Celaka engkau. Siapa lagi yang akan berbuat adil kalau aku tidak berbuat adil? Sesungguhnya aku orang yang paling mengenal Allah dan paling bertawqa kepadaNya” [Hadits Riwayat Bukhari]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sikap yang ditujukan oleh laki-laki penentang Rasulullah tersebut, terlihat dengan jelas faktor-faktor yang mendorong mereka ke dalam sikaf takfir (mengkafirkan orang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]. Mereka menjadikan himpitan sosial, politik atau ekonomi sebagai sarana untuk keluar dari prinsip-prinsip pemahaman Islam dan memberontak kepada penguasa kaum Muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]. Kelancangan mereka terhadap Waliyul Amr. Kelancangan itu ditunjukkan oleh pimpinan mereka terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadits shahih dalam Musnad (disebutkan). “Suatu hari Nabi melewati orang ini dalam keadaan sujud. Maka beliau menghampiri para sahabatnya. Beliau berkata : “Siapa yang mau membunuhnya ?” Abu Bakar mengiyakan, lalu bangkit dengan pedang terhunus. Kemudian beliau menghampiri orang itu, belaiu mendapati sedang sujud. Maka beliaupun kembali (tidak membunuhnya) seraya berkata :”Ya Rasulullah, bagaimana aku membunuh yang mengucapkan laa illaha illa Allah?”. Demikian juga yang dilakukan Umar. Kemudian Ali menyanggupinya, beliau bergegas ke sana, tapi orang tersebut sudah tidak ada lagi. Kemudian. Beliau bersabda : “Seandainya ia berhasil dibunuh, tentu tidak akan ada lagi dua orang yang berselisih di antara umatku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, benih-benih takfir tumbuh dari golongan Khawarij, dan ini merupakan fitnah yang pertama kali terjadi dalam Islam, dan akan terus berlangsung sampai akhirnya Dajjal bergabung dengan pasukan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang diperintahkan Nabi pun terjadi. Fitnah Khawarij merangsek. Dan hasil pertama yang menjadi akibatnya, ialah yang dialami Khalifah ketiga Utsman Asy-Syahid yang mendapat jaminan syurga. Orang-orang Khawarij dengan provokasi dari Yahudi, memberontak kepadanya dan berhasil mengepung, dan membunuh Khalifah Utsman Radhiyallahu ‘anha. Kemudian mereka memobilisasi pasukannya untuk memberontak kepada Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu. Akan tetapi Ali memerangi, membunuh dan menghabisi mereka sampai akarnya. Sedikit pun tidak tersisa, kecuali sembilan orang saja, sebagaimana dipaparkan buku-buku sejarah. Sembilan orang ini menyebar ke seluruh penjuru dunia. Menyebar pula fitnah Khawarij bersama mereka, membawa pemikiran takfir, petumpahan darah dan pembunuhan. Sungguh benar sabda Nabi, mereka adalah duri buat Islam. Mereka tidak mengusik orang-orang kafir, tetapi justru memerangi umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, fitnah ini menghasilkan pertumpahan darah, menciderai kehormatan serta perusakan. Dan ini terjadi di negari-negeri Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fitnah ini akan berlangsung terus sebagaimana dikabarkan Nabi. Dalam hadits Ibnu Umar dalam sunan Ibnu Majah (disebutkan) : “Akan tumbuh generasi yang membaca Al-Qur’an. Ketika sebuah generasi habis, maka akan datang generasi berikutnya sampai datang di tengah-tengah mereka Dajjal”. Mereka adalah Khawarij. Setiap kali pupus satu generasi, akan tumbuh generasi baru. Demikian seterusnya hingga muncul Dajjal ditengah pasukan mereka yang dimobilisasi untuk melawan kaum muslimin. Mereka adalah para pengikut Dajjal. Dajjal yang menyebarkan kerusakan dimuka bumi, dari barat sampai timur, dari utara sampai selatan. Orang-orang Khawarij ini adalah tentara Dajjal di akhir zaman, mereka mendukung kekuasaan Dajjal dan mendukung kerusakan yang dilakukan Dajjal. Wal’iyyadzu billah tabaraka wa ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang kita lihat di lapangan. Muculnya jama’ah-jama’ah takfir dan menodongkan senjata mereka kehadapan umat Islam. Hasilnya, (ialah) pemboman, perusakan, pembunuhan dan pengusiran penduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa ini juga terjadi dihadapan anda. Lihat misalnya, apa yang terjadi beberapa tahun silam ketika muncul golongan ekstrimis di Aljazair. Mereka melakukan pembunuhan, perusakan-perusakan dan penodaan terhadap kehormatan dengan dalih Islam di bawah panji jihad, atau dalih melawan himpitan politik dan seabreg dalih besar lainnya. Sebenarnya mereka pernah bertanyan kepada para ulama. Dan ulamapun telah memberikan nasihat kepada mereka. Namun mereka menutup telinga dan tetap keras kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fitnah mereka mulai terjadi tahun 90-an hingga kini. Hasil yang diakibatkannya adalah, setengah juta orang Islam terbunuh. Setengah juta orang terbunuh hanya dalam waktu sepuluh tahun, di tangan orang yang mengaku dirinya muslim, mengaku berbuat untuk Islam dan mengaku bahwa mereka berjihad di jalan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, negeri Islam Aljazair, ketika melancarkan perang kemerdekaannya melawan penjajah Perancis selama seratus tiga puluh tahun, hanya mengorbankan satu juta syahid. Apabila korban di tangan orang Islam saja mencapai setengah juta jiwa dalam waktu sepuluh tahun, bagaimana jika fitnah ini berlangsung selama seratus tiga puluh tahun ? Berapa korban yang akan jatuh ? Maka akan menghabisi masyarakat muslim di sana!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya di Suriah, juga ada kelompok ekstrim yang memberontak dengan semboyan-semboyan membahana dan slogan-slogan besar. Maka terjadilah apa yang terjadi, pembunuhan, pengusiran penduduk, dan pengeboman. Bahkan ada sebuah kota, yaitu kota Hamah, total hancur-lebur disebabkan oleh ulah mereka, dengan menelan korban tewas empat puluh ribu jiwa dan penduduknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah ulah mereka, penyembelihan, perusakan, peledakan, dan teror terhadap masyarakat yang terusik rasa amannya. Di sana sini ada ranjau darat, bom mobil, granat dan pembunuhan-pembunhan misterius. Akan tetapi kemanapun mereka pergi, sesungguhnya Allah senantiasa mengawasi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada satu jengkal negeri kaum musliminpun yang selamat dari fitnah ini. Dan negeri ini, negeri Islam yang penduduknya paling banyak di antara negeri-negeri Islam lainnya, juga tidak selamat dari ulah mereka, dari perusakan mereka, dari pemboman mereka dan dari terror mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini, atau beberapa hari sebelumnya, juga terjadi di negara Haramain. Semoga Allah menjaganya dan menjaga seluruh negara Islam dari ulah tangan para perusak itu. Dan semoga Allah membasmi mereka. Setiap negeri kaum muslimin, senantiasa terancam dengan keberadaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, kita wajib berhati-hati terhadap bahaya pemikiran ini. Pemikiran yang secara lahir kelihatan indah, tetapi disebaliknya menyimpan kebusukan. Ada banyak sebab mengapa hal itu terjadi. Namun akan saya sebutkan secara garis besar pada tiga sebab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]. Semangat keagamaan yang ada pada para pemuda, namun disertai kebodohan terhadap syari’at dan terhadap maksud-maksud agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]. Semangat buta ini dimanfaatkan oleh para hizbiyyin dan harakiyyin, terutama yang terpengaruh pemikiran Sayyid Qutb dan Muhammad Qutb. Sesungguhnya kelompok-kelompok ghuluw dan jama’ah-jama’ah takfir lahir karena terinspirasi oleh buku-buku mereka berdua, sebagaimana pengakuan tokoh besar mereka. Kelompok-kelompok itu memanfaatkan semangat para pemuda yang bodoh ini dengan mengarahkan mereka untuk mengkafirkan para penguasanya, mengkafirkan negerinya dan mengkafirkan umatnya sehingga mereka menjadi perusak dan menjadi bencana bagi negeri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]. Ditambah lagi, ada tangan-tangan tersembunyi serta pihak-pihak yang mempunyai kaitan dengan orang-orang kafir, mengail di air keruh, ikut memanfaatkan kebodohan ini, kemudian mengarahkannya untuk mengadakan kerusakan, penghancuran dan menimbulkan kekacauan di negerinya kaum muslimin. Semua itu diatasnamakan Islam, padahal Islam berlepas diri dari itu semua. As-Salafiyah juga berlepas diri dari itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam adalah agama yang menjunjung keamanan, kesentausaan, dan ketentraman, Islam mempersatukan kata dan hubungan. Sedangkan Salafiyah adalah dakwah menuju Kitab Allah, Sunnah Rasulullah dan manhaj Salaf. Maka dakwah Salafiyah sangat memperhatikan keamanan kaum muslimin dan sangat memperhatikan keamanan negeri kaum muslimin, seperti halnya dakwah Salafiyah juga sangat memperhatikan keamanan kaum muslimin serta bersemangat untuk mempersatukan bahasa serta negeri kaum muslimin. Karena itu, kita wajib merujuk kepada ulama besar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masalah-masalah krusial, kita harus bertanya kepada ulama-ulama besar, tidak boleh bertanya kepada ulama kecil. Masalah-masalah besar hanya bisa dijawab oleh ulama-ulama besar. Dahulu ulama besar yang telah wafat seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Syaikh Ibnu Baz dan Syaikh Utsaimin pernah mengeluarkan fatwa untuk para pemuda, bahwa kegiatan-kegiatan (merusak) itu adalah tidak syar’i, tidak boleh dikerjakan oleh para pemuda harus mempejari agamanya serta berpegang teguh pada Sunnah Rasulullah. Para pemuda harus duduk disekeliling ulama supaya bahasa dan barisannya bisa bersatu. Semantara para musuh, baik dari dalam maupun dari luar tidak mampu mengusik barisan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berdoa agar Allah mempersatukan kita, menolong kita untuk menghadapi musuh, dan agar Allah menjadikan izzah terlimpah bagi Islam, kaum muslimin dan siapa saja yang membela Islam. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa untuk melakukan itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun VIII/1425H/2005M Rubrik Liputan Khusus yang diangkat dari ceramah Syaikh Abu Usamah Salim bin Ied Al-Hilali Tanggal 5 Desember 2004 di Masjid Istiqlal Jakarta]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abu Usamaha Salim bin Ied Al-Hilali&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8859049449550037071-8631900361284451762?l=alfirqotunnajiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/8631900361284451762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/8631900361284451762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/2008/12/benih-takfir-dalam-tubuh-ummat-semoga.html' title='BENIH TAKFIR DALAM TUBUH UMMAT'/><author><name>YAHYA AL BUNY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00500596638645663569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SMnoh7LksdI/AAAAAAAAAAM/HWHohIDKDrg/S220/ais+ami+jenggot.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SVMU8h450kI/AAAAAAAAAHk/v8BJ8NWFuA4/s72-c/kafir.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071.post-4495882889161286672</id><published>2008-12-19T01:03:00.000-08:00</published><updated>2009-01-22T17:26:57.662-08:00</updated><title type='text'>Profil  KH Ahmad Dahlan:</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SUtl_gY-cOI/AAAAAAAAAHc/kPOrruZASsc/s1600-h/180px-Dahlan_1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 229px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SUtl_gY-cOI/AAAAAAAAAHc/kPOrruZASsc/s320/180px-Dahlan_1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281427129722892514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Penerus Para Sunan”, Keturunan ke-12 Maulana Malik Ibrahim&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kyai Haji Ahmad Dahlan (Yogyakarta, 1 Agustus 1868 - Yogyakarta, 23 Februari 1923) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Beliau adalah putera keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. K.H. Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kasultanan Yogyakarta pada masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam silsilah ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Wali Songo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa (Kutojo dan Safwan, 1991).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan&lt;br /&gt;Nama kecil K.H. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwisy. Ia merupakan anak keempat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhanya saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Dalam silsilah ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Wali Songo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa (Kutojo dan Safwan, 1991). Adapun silsilahnya ialah Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan) bin KH. Abu Bakar bin KH. Muhammad Sulaiman bin Kyai Murtadla bin Kyai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom) bin Maulana Muhammad Fadlullah (Prapen) bin Maulana ‘Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim (Yunus Salam, 1968: 6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umur 15 tahun, beliau pergi haji dan tinggal di Mekah selama lima tahun. Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Ibnu Taimiyah, Muhammad bin abdulWahab, Muhammad Abduh, Al-Afghani dan Rasyid Ridha dan . Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, beliau berganti nama menjadi Ahmad Dahlan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1903, beliau bertolak kembali ke Mekah dan menetap selama dua tahun. Pada masa ini, beliau sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri NU, K.H. Hasyim Asyari. Pada tahun 1912, ia mendirikan Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang dari Mekkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, KH. Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah (Kutojo dan Safwan, 1991). Disamping itu KH. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. la juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Ibu Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Beliau pernah pula menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta (Yunus Salam, 1968: 9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau dimakamkan di KarangKajen, Yogyakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8859049449550037071-4495882889161286672?l=alfirqotunnajiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/4495882889161286672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/4495882889161286672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/2008/12/profil-kh-ahmad-dahlan.html' title='Profil  KH Ahmad Dahlan:'/><author><name>YAHYA AL BUNY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00500596638645663569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SMnoh7LksdI/AAAAAAAAAAM/HWHohIDKDrg/S220/ais+ami+jenggot.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SUtl_gY-cOI/AAAAAAAAAHc/kPOrruZASsc/s72-c/180px-Dahlan_1.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071.post-5832186344743939218</id><published>2008-11-11T18:12:00.000-08:00</published><updated>2008-11-11T18:25:12.036-08:00</updated><title type='text'>Kezaliman</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SRo-ONduxHI/AAAAAAAAAHU/21kNDAmM0NE/s1600-h/durra_929.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 264px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SRo-ONduxHI/AAAAAAAAAHU/21kNDAmM0NE/s320/durra_929.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267591128016667762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;. Orang shaleh selalu memanusiakan manusia dan tidak akan menzhaliminya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak diantara umat Islam yang tidak menyadari bahwa dirinya telah melakukan suatu perbuatan yang menyakiti orang lain lantas membiarkan hal itu berlalu begitu saja tanpa meminta ma’af kepadanya atas perbuatannya tersebut. Hal ini bisa disebabkan oleh ego yang terlalu tinggi, menganggap hal itu adalah sepele, kurang memahami ajaran agamanya sehingga tidak mengetahui implikasinya, dan sebagainya. Padahal sebenarnya amat berbahaya dan akan membebankannya di hari Akhirat kelak karena harus mempertanggungjawabkannya. Perbuatan tersebut tidak lain adalah kezhaliman. &lt;br /&gt;          Kezhaliman adalah sesuatu yang dibenci baik di muka bumi ini maupun di akhirat kelak dan pelakunya hanyalah mereka yang menyombongkan dirinya.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt; Banyak bentuk kezhaliman yang berlaku di dunia ini, yaitu tidak jauh dari definisinya ; “menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya”. Betapa banyak orang-orang yang seenaknya berbuat dan bertindak sewenang-wenang. Sebagai contoh: Sang suami sewenang-wenang terhadap isterinya; memperlakukannya dengan kasar, menceraikannya tanpa sebab, menelantarkannya dengan tidak memberinya nafkah baik lahir maupun batin. Sang pemimpin sewenang-wenang terhadap rakyat yang dipimpinnya; diktator, tangan besi, berhukum kepada selain hukum Allah, loyal terhadap musuh-musuh Allah, tidak menerima nasehat, korupsi dan sebagainya. Tetangga berbuat semaunya terhadap tetangganya yang lain; membuat bising telinganya dengan suara tape yang keras dan lagu-lagu yang menggila, menguping rahasia rumah tangganya, usil, membicarakan kejelekannya dari belakang, mengadu domba antar tetangga dan yang juga banyak sekali terjadi adalah mencaplok tanahnya tanpa hak, berapapun ukurannya. Dan banyak lagi gambaran-gambaran lain yang ternyata hampir semuanya dapat dikategorikan “perbuatan zhalim” karena “menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya”.&lt;br /&gt;          Oleh karena itu, pantas sekali kenapa Allah mengecam dengan keras para pelakunya dan bahkan mengharamkannya atas diri-Nya apatah makhluk-Nya. &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Dan pantas pula, ia (kezhaliman) merupakan tafsir lain dari syirik karena berakibat fatal terhadap pelakunya. &lt;br /&gt;Maka, bagi mereka yang pernah berbuat zhalim terhadap orang lain – sebab rasanya sulit mendapatkan orang yang terselamatkan darinya sebagaimana yang pernah disalahtafsirkan oleh para shahabat terkait dengan makna kezhaliman dalam ayat “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Q,.s. al-An’âm/6: 82). Mereka secara spontan, begitu ayat tersebut turun dan sebelum mengetahui makna dari ‘kezhaliman’ yang sebenarnya berkomentar: “Wahai Rasulullah! siapa gerangan diantara kita yang tidak berbuat zhalim terhadap dirinya?”. Tetapi, pemahaman ini kemudian diluruskan oleh Rasulullah dengan menyatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya yang lain: “Sesungguhnya syirik itu merupakan kezhaliman yang besar” (Q.,s. Luqmân/31: 13) – maka hendaknya mereka segera meminta ma’af kepada yang bersangkutan dan memintanya menghalalkan atas semua yang telah terjadi selagi belum berpisah tempat dan sulit bertemu kembali dengannya serta selama masih di dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya keterkaitan dalam kezhaliman terhadap sesama makhluk ini yang tidak dapat ditebus dengan taubat sekalipun. Taubat kepada Khaliq berkaitan dengan hak-hak-Nya; maka, Dia akan menerimanya bila benar-benar taubat nashuh tetapi bila terkait dengan sesama makhluq, maka hal itu terpulang kepada yang bersangkutan dan harus diselesaikan terlebih dahulu dengannya ; apakah dia mema’afkan dan menghalalkan kezhaliman yang terlah terjadi atasnya atau tidak. &lt;br /&gt;Untuk itu, umat Islam perlu mengetahui lebih lanjut apa itu kezhaliman? apa implikasinya di dunia dan akhirat? bagaimana dapat terhindarkan darinya? Perbuatan apa saja yang memiliki kaitan dan digandeng dengannya?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah, kajian hadits kali ini berusaha menyoroti permasalahan tersebut, semoga bermanfa’at.&lt;br /&gt;Naskah Hadits&lt;br /&gt;1. عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: « الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ». متّفق عليه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu ‘Umar –&lt;em&gt;radhiallaahu 'anhuma- dia berkata: Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda: “Kezhaliman adalah kegelapan (yang berlipat) di hari Kiamat”. &lt;/em&gt;(Muttafaqun ‘alaih) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللّهِ أَنّ رَسُولَ اللّهَ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «اتَّقُوا الظُّلْمَ. فَإِنّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. وَاتَّقُوا الشُّحَّ. فَإِنّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ  ». رواه مسلم&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Dari Jâbir bin ‘Abdillah bahwasanya Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda: “berhati-hatilah terhadap kezhaliman, sebab kezhaliman adalah kegelapan (yang berlipat) di hari Kiamat. Dan jauhilah kebakhilan/kekikiran karena kekikiran itu telah mencelakakan umat sebelum kamu”. &lt;/em&gt;(H.R.Muslim) &lt;br /&gt;Definisi kezhaliman (azh-Zhulm) &lt;br /&gt;Kata “azh-Zhulm” berasal dari fi’l (kata kerja) “zhalama – yazhlimu” yang berarti “Menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya”. Dalam hal ini sepadan dengan kata “al-Jawr”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga definisi yang dinukil oleh Syaikh Ibnu Rajab dari kebanyakan para ulama. Dalam hal ini, ia adalah lawan dari kata al-‘Adl (keadilan)&lt;br /&gt;Hadits diatas dan semisalnya merupakan dalil atas keharaman perbuatan zhalim dan mencakup semua bentuk kezhaliman, yang paling besarnya adalah syirik kepada Allah Ta’âla sebagaimana di dalam firman-Nya: “Sesungguhnya syirik itu merupakan kezhaliman yang besar”. &lt;br /&gt;Di dalam hadits Qudsiy, Allah Ta’âla berfirman: “Wahai hamba-hambaku! Sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman terhadap diriku dan menjadikannya diharamkan antara kalian”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat dan hadits-hadits serta atsar-atsar tentang keharaman perbuatan zhalim dan penjelasan tentang keburukannya banyak sekali.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, hadits diatas memperingatkan manusia dari perbuatan zhalim, memerintahkan mereka agar menghindari dan menjauhinya karena akibatnya amat berbahaya, yaitu ia akan menjadi kegelapan yang berlipat di hari Kiamat kelak. &lt;br /&gt;Ketika itu, kaum Mukminin berjalan dengan dipancari oleh sinar keimanan sembari berkata: “Wahai Rabb kami! Sempurnakanlah cahaya bagi kami”. Sedangkan orang-orang yang berbuat zhalim terhadap Rabb mereka dengan perbuatan syirik, terhadap diri mereka dengan perbuatan-perbuatan maksiat atau terhadap selain mereka dengan bertindak sewenang-wenang terhadap darah, harta atau kehormatan mereka; maka mereka itu akan berjalan di tengah kegelapan yang teramat sangat sehingga tidak dapat melihat arah jalan sama sekali.&lt;br /&gt;Klasifikasi Kezhaliman&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Syaikh Ibn Rajab berkata: “Kezhaliman terbagi kepada dua jenis: Pertama, kezhaliman seorang hamba terhadap diri sendiri : &lt;br /&gt;          Bentuk paling besar dan berbahaya dari jenis ini adalah syirik sebab orang yang berbuat kesyirikan menjadikan makhluk sederajat dengan Khaliq. Dengan demikian, dia telah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. &lt;br /&gt;          Jenis berikutnya adalah perbuatan-perbuatan maksiat dengan berbagai macamnya; besar maupun kecil. &lt;br /&gt;Kedua, kezhaliman yang dilakukan oleh seorang hamba terhadap orang lain, baik terkait dengan jiwa, harta atau kehormatan. &lt;br /&gt;Rasulullah  Shallallâhu 'alaihi wasallam telah bersabda ketika berkhuthbah di haji Wada’ : “Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian diharamkan atas kalian sebagaimana keharaman hari kalian ini, di bulan haram kalian ini dan di negeri (tanah) haram kalian ini”. &lt;br /&gt;Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhary dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang pernah terzhalimi oleh saudaranya, maka hendaklah memintakan penghalalan (ma’af) atasnya sebelum kebaikan-kebaikannya (kelak) akan diambil (dikurangi); Bila dia tidak memiliki kebaikan, maka kejelekan-kejelekan saudaranya tersebut akan diambil lantas dilimpahkan (diberikan) kepadanya”.&lt;br /&gt;Penyebab terjadinya&lt;br /&gt;          Ibnu al-Jauziy menyatakan: “kezhaliman mengandung dua kemaksiatan: mengambil milik orang lain tanpa hak, dan menentang Rabb dengan melanggar ajaran-Nya… Ia juga terjadi akibat kegelapan hati seseorang sebab bila hatinya dipenuhi oleh cahaya hidayah tentu akan mudah mengambil i’tibar (pelajaran)”. &lt;br /&gt;Barangkali, penyebabnya juga dapat dikembalikan kepada definisinya sendiri, yaitu tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dan hal ini terjadi akibat kurangnya pemahaman terhadap ajaran agama sehingga tidak mengetahui bahwa :&lt;br /&gt;Hal itu amat dilarang bahkan diharamkan &lt;br /&gt;Ketidakadilan akan menyebabkan adanya pihak yang terzhalimi &lt;br /&gt;Orang yang memiliki sifat sombong dan angkuh akan menyepelekan dan merendahkan orang lain serta tidak peduli dengan hak atau perasaannya &lt;br /&gt;Orang yang memiliki sifat serakah selalu merasa tidak puas dengan apa yang dimilikinya sehingga membuatnya lupa diri dan mengambil sesuatu yang bukan haknya &lt;br /&gt;Orang yang memiliki sifat iri dan dengki selalu bercita-cita agar kenikmatan yang dirasakan oleh orang lain segera berakhir atau mencari celah-celah bagaimana menjatuhkan harga diri orang yang didengkinya tersebut dengan cara apapun &lt;br /&gt;Terapinya&lt;br /&gt;Diantara terapinya –wallâhu a’lam- adalah: &lt;br /&gt;Mencari sebab hidayah sehingga hatinya tidak gelap lagi dan mudah mengambil pelajaran &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui bahaya dan akibat dari perbuatan tersebut baik di dunia maupun di akhirat dengan belajar ilmu agama &lt;br /&gt;Meminta ma’af dan penghalalan kepada orang yang bersangkutan selagi masih hidup, bila hal ini tidak menimbulkan akibat yang lebih fatal seperti dia akan lebih marah dan tidak pernah mau menerima, dst. Maka sebagai gantinya, menurut ulama, adalah dengan mendoakan kebaikan untuknya &lt;br /&gt;Membaca riwayat-riwayat hidup dari orang-orang yang berbuat zhalim sebagai pelajaran dan i’tibar sebab kebanyakan kisah-kisah, terutama di dalam al-Qur’an yang harus kita ambil pelajarannya adalah mereka yang berbuat zhalim, baik terhadap dirinya sendiri atau terhadap orang lain. &lt;br /&gt;Kikir/Bakhil &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits tersebut (hadits kedua) memberikan peringatan terhadap perbuatan kikir dan bakhil karena merupakan sebab binasanya umat-umat terdahulu. Ketamakan terhadap harta menggiring mereka bertindak sewenang-wenang terhadap harta orang lain sehingga terjadilah banyak peperangan dan fitnah yang berakibat kebinasaan mereka dan penghalalan terhadap isteri-isteri mereka. Kebinasaan seperti ini baru mereka alami di dunia .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi di akhirat dimana tindakan sewenang-wenang terhadap harta orang lain, terhadap isteri-isterinya dan menumpahkan darahnya merupakan kezhaliman yang paling besar dan dosa yang teramat besar. Perbuatan-perbuatan maksiat inilah yang merupakan sebab kebinasaan di akhirat dan mendapat azab neraka.&lt;br /&gt;Diantara Nash-Nash Yang Mencelanya&lt;br /&gt;            Banyak sekali nash-nash yang mencela dan mengecam perbuatan kikir/bakhil, diantaranya: &lt;br /&gt;1.Firman Allah Ta’âla: “Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (Q,.s.al-Hasyr/59: 9) &lt;br /&gt;2.Firman Allah Ta’âla : “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q,.s. Âli ‘Imrân/03: 180)] &lt;br /&gt;3.Firman Allah Ta’âla : “Dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri…”. (Q,.s. Muhammad/47: 38) &lt;br /&gt;4.Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnad dan Imam at-Turmuzy di dalam kitabnya dari hadits Abu Bakar bahwasanya Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda: “Tidak masuk surga seorang yang bakhil”. &lt;br /&gt;5.Hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Turmuzy dan an-Nasâ-iy dari hadits Abu Dzar bahwasanya Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah membenci tiga (orang): (1) orang yang sudah tua tetapi berzina, (2) orang yang bakhil/kikir yang selalu menyebut-nyebut pemberiannya, (3)  dan orang yang musbil (memanjangkan pakaiannya hingga melewati mata kaki) yang sombong”. &lt;br /&gt;Penyebab timbulnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat Bakhil merupakan penyakit yang disebabkan oleh dua hal:&lt;br /&gt;Pertama, cinta terhadap hawa nafsu yang sarananya adalah harta. &lt;br /&gt;Kedua, cinta terhadap harta yang diakibatkan oleh hawa nafsu, kemudian hawa nafsu dan semua hajatnya tersebut terlupakan sehingga harta itu sendiri yang menjadi kekasih yang dicintainya. &lt;br /&gt;Terapinya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terapi yang dapat memadamkan hawa nafsu tersebut diantaranya: &lt;br /&gt;Merasa puas dengan hidup yang serba sedikit &lt;br /&gt;Bersabar dan mengetahui secara yakin bahwasanya Allah Ta’âla adalah Maha Pemberi rizki &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merenungi akibat dari perbuatan bakhil di dunia sebab tentu ada penyakit-penyakit yang sudah mengakar pada diri penghimpun harta sehingga tidak peduli dengan apapun yang terjadi terhadap dirinya. &lt;br /&gt;Klasifikasi Prilaku Manusia Di Dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prilaku manusia di dunia ini terdiri dari tiga klasifikasi: &lt;br /&gt;1.Boros &lt;br /&gt;2.Taqshîr (Mengurang-ngurangi) alias Bakhil &lt;br /&gt;3.Ekonomis (berhemat/sedang-sedang saja) &lt;br /&gt;Klasifikasi pertama dan kedua merupakan prilaku tercela sedangkan klasifikasi ketiga adalah prilaku terpuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klasifikasi pertama, Boros (isrâf) adalah tindakan yang berlebih-lebihan di dalam membelanjakan harta baik yang bersifat dibolehkan ataupun yang bersifat diharamkan; ini semua adalah keborosan yang amat dibenci.&lt;br /&gt;Klasifikasi kedua, Taqshîr (mengurang-ngurangi) alias bakhil; orang yang bersifat seperti ini suka mengurang-ngurangi pengeluaran baik yang bersifat wajib ataupun yang dianjurkan yang sesungguhnya sesuai dengan tuntutan ‘murû-ah’ (harga diri).&lt;br /&gt;Klasifikasi ketiga, ekonomis dan sistematis; orang yang bersifat seperti ini di dalam membelanjakan harta yang bersifat wajib yang terkait dengan hak-hak Allah dan makhluk melakukannya dengan sebaik-baiknya; apakah itu pengeluaran-pengeluaran biasa ataupun utang piutang yang wajib. Demikian pula, melakukan dengan sebaik-baiknya pengeluaran yang bersifat dianjurkan yang sesuai dengan tuntutan ‘murû-ah’ (harga diri). Allah Ta’âla berfirman: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian”. (Q,s.al-Furqân/25: 67)&lt;br /&gt;Inilah yang merupakan salah satu kriteria dari sifat-sifat yang dimiliki oleh ‘Ibâd ar-Rahmân (hamba-hamba Allah).&lt;br /&gt;Wallahu a’lam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/strong&gt;: &lt;br /&gt;1.‘Abdul Bâqy, Muhammad Fuâd, al-Mu’jam al-Mufahris Li Alfâzh al-Qur’ân al-Karîm &lt;br /&gt;2.Mausû’ah al-Hadîts asy-Syarîf (CD) &lt;br /&gt;3.al-Bassâm, ‘Abdullâh bin ‘Abdurrahmân, Taudlîh al-Ahkâm Min Bulûgh al-Marâm, (Mekkah al-Mukarramah: Maktabah wa mathba’ah an-Nahdlah al-Hadîtsah, 1414 H), Cet. II &lt;br /&gt;4.ad-Dimasyqiy, al-Imâm al-Hâfizh al-Faqîh, Zainuddîn, Abi al-Faraj, ‘Abdurrahmân bin Syihâbuddîn al-Baghdâdiy, Ibnu Rajab, Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikam fî Syarh Khamsîna Hadîtsan Min Jawâmi’ al-Kalim, (Beirut: Muassasah ar-Risâlah, 1412 H), Cet. III, Juz. II &lt;br /&gt;5.ar-Râziy, Muhammad bin Abi Bakr bin ‘Abdul Qâdir, Mukhtâr ash-Shihâh, (Lebanon: al-Markaz al-‘Arabiy Li ats-Tsaqâfah wa al-‘Ulûm, tth) &lt;br /&gt;6.ad-Dimasyqiy, Abu al-Fidâ’, Ismâ’il bin Katsîr al-Qurasyiy, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, (Riyadl: Maktabah Dâr as-Salâm, 1414 H), Cet. I, Juz. VII &lt;br /&gt;7.al-Jazâ-iry, Abu Bakar, Jâbir, asy-Syaikh, Minhâj al-Muslim, (Madinah: Maktabah al-‘Ulûm wa al-Hikam, 1419 H), Cet. VI&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8859049449550037071-5832186344743939218?l=alfirqotunnajiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/5832186344743939218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/5832186344743939218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/2008/11/kezaliman.html' title='Kezaliman'/><author><name>YAHYA AL BUNY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00500596638645663569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SMnoh7LksdI/AAAAAAAAAAM/HWHohIDKDrg/S220/ais+ami+jenggot.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SRo-ONduxHI/AAAAAAAAAHU/21kNDAmM0NE/s72-c/durra_929.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071.post-4665077368472612837</id><published>2008-10-31T00:28:00.000-07:00</published><updated>2008-10-31T00:34:01.328-07:00</updated><title type='text'>Negara Negara G-8 Bertanggung Jawab Atas Kerusakan Dunia</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SQq0qEKzVSI/AAAAAAAAAG0/R-hVl1Dvm04/s1600-h/02e.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 201px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SQq0qEKzVSI/AAAAAAAAAG0/R-hVl1Dvm04/s320/02e.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5263217749302400290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Din: Negara Negara G-8 Bertanggung Jawab Atas Kerusakan Dunia     Rabu, 02 Juli 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sapporo-Kerusakan yang melanda dunia dewasa ini ditandai oleh kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan kerusakan lingkungan, pemanasan global, perubahan iklim, perang  dan lain-lain tidak terlepas dari ulah negara-negara maju termasuk yang tergabung dalam G-8 . Oleh karena itu, negara-negara maju khususnya G-8 harus menunjukkan tanggung jawab dalam mengatasi kerusakan dunia tersebut. Demikian ditegaskan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin pada World Religious Leader Summit yang diadakan  di Sapporo, Jepang 2-3 Juli 2008, menyongsong G-8 Hokkaido Toyako Summit 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Din Syamsuddin yang juga Presiden Kehormatan World Conference Religion for Peace  (WCRP), berbagai manifestasi kerusakan dunia tadi adalah buah dari sistem dunia, baik ekonomi atau politik yang eksploitatif dan hanya menguntungkan kelompok tertentu . Sistem ekonomi kapitalistik, apalagi pada paham neoliberalisme, umpamanya, telah menciptakan kesenjangan antara pihak kaya dan pihak miskin yang semakin lebar. Sebagai akibatnya yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin, seperti ditandai oleh tingginya angka kemiskinan dan pengangguran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Investasi kerusakan ini, lanjut Din, harus segera diganti dengan investasi kesejahteraan yang lebih nyata bagi kemanusiaan. Untuk itu Din mengusulkan adanya revisi pada system dunia khususnya sistem ekonomi dunia kearah yang lebih merata dan berkeadilan. Memang kita tidak bisa meninggalkan sistem ekonomi untuk pertumbuhan, tapi kita tidak bisa mengabaikan pentingnya pemerataan dan keadilan. Maka diperlukan sistem dan pendekatan pembangunan ekonomi “tengahan” yang memadukan pertumbuhan dan pemerataan. Dalam kaitan ini, lanjut Din, penerapan agenda Millenium Development Goals (MDGs) yang teleh menjadi komitmen Negara-negara maju untuk menyediakan anggaran bagi pengentasan kemiskinan dunia perlu mengambil bentuk “pemberian kail” daripada “pembagian ikan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terakhir dapat dilakukan dengan pendirian universitas universitas murah bagi kaum miskin, persebaran industri padat karya di Negara-negara miskin, atau penerapan jaring pengaman sosial yang partisipatoris. Tapi jauh lebih penting, lanjut Din, adalah adanya kesadaran di kalangan pemimpin dan rakyat Negara-negara bahwa kerusakan dunia yang terjadi adalah akibat ulah mereka, maka mereka harus bertanggungjawab untuk ikut menanggulangi kerusakan dunia itu. (arif)&lt;a href="http://muhammadiyah.or.id"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8859049449550037071-4665077368472612837?l=alfirqotunnajiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/4665077368472612837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/4665077368472612837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/2008/10/negara-negara-g-8-bertanggung-jawab.html' title='Negara Negara G-8 Bertanggung Jawab Atas Kerusakan Dunia'/><author><name>YAHYA AL BUNY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00500596638645663569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SMnoh7LksdI/AAAAAAAAAAM/HWHohIDKDrg/S220/ais+ami+jenggot.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SQq0qEKzVSI/AAAAAAAAAG0/R-hVl1Dvm04/s72-c/02e.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071.post-2745965159538128212</id><published>2008-10-17T02:33:00.000-07:00</published><updated>2008-10-17T02:36:28.556-07:00</updated><title type='text'>Hikmah Pengharaman Alkohol : Dampaknya Terhadap Jantung</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SPhcVsOvyvI/AAAAAAAAAGs/1DgHqO3cqe8/s1600-h/miras.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SPhcVsOvyvI/AAAAAAAAAGs/1DgHqO3cqe8/s320/miras.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5258054092675074802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hikmah Pengharaman Alkohol : Dampaknya Terhadap Jantung&lt;br /&gt;Dr. Sath-han Ahmad (United State of America)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ٍSudah menjadi sesuatu yang diketahui umum, yaitu adanya dampak yang sangat kentara dari alkohol terhadap otak dan kerja hati (liver), kecuali apabila hal itu digunakan untuk tujuan-tujuan sosial atau untuk medis. Ada sebuah pemahaman yang menyatakan bahwa penggunaan alkohol dalam jumlah kecil tidak berdampak pada toksin atau mempengaruhi anggota tubuh lainnya sehingga tidak boleh melarang penggunaan alkohol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, aku melaksanakan penelitian ini untuk memastikan ada-tidaknya dampak yang signifikan terhadap jantung bagi manusia. Penelitian juga aku lakukan terhadap zat aditif "khomer" bagi responden. Tes percobaan adalah 6 jenis alkohol dengan kandungan 43% saya berikan kepada orang biasa yang sehat yang berusia 23 - 30 tahun selama 2 jam, bagi kelompok pertama, dan 1 jam bagi kelompok kedua. Dan ternyata, kerja jantung jadi berdebar kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap kelompok pertama, setelah berselang 60 menit (1 jam), kandungan al-kohol menjadi + 74 mcm/ml ada penambahan selama pemompaan darah 90 - 96 mili kedua. Dan penambahan waktu kepastian 44 - 52, bertambah persentase keduanya dari 0,299 sampai 323. Dan mulai menurun setelah 2 jam pertama padahal jumlah alkohol dalam darah bertambah sampai 111 mg dengan peningkatan yang sangat cepat/drastis (pada kelompok kedua) dan terjadi dis-fungsi organ perut bagian kiri setelah 30 menit. Hal ini terjadi ketika keadaan alkohol dalam darah mencapai 50 mg/100ml.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pada kelompok ketiga. Kami melakukan studi komparasional terhadap 5 orang yang aku beri saccharine dan terjadi penurunan pada tiga hal tersebut pada setiap orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, penggunaan alkohol dengan dosis "kecil/atau tidak seberapa" akan menyebabkan terjadinya disfungsi organ secara berkala; dan pada orang-orang biasa bila tidak berkala. Dan untuk menganalisis kerja jantung pada pada saat diberi zat aditif tersebut di atas, maka 3 orang yang sudah kecanduan khomer, kami melakukan studi komparasinya dengan kelompok orang-orang biasa yang sehat. Berdasarkan hipotesis : Ada perbedaan yang jelas pada keadaan dan gejala-gejala jantung, maka diketahui bahwasanya ditemukan keadaan yang sangat jelas pada setiap responden tentang disfungsi organ perut bagian kiri, baik besar atau pun kecil. Dan disfungsi ini lebih jelas lagi pada orang yang sedang sakit yang relatif lebih lama pada lama-tidaknya kerja jantung. Pada 12 pasien tidak mengetahui penyebab pembengkakan jantung, sebab ukuran/volume organ perut bagian kiri dan volume darah dan terbuang berbeda lebih jelas dibandingkan pada responden orang biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada 11 orang yang menderita sakit tambahan, tidak mengetahui pembengkakan jantung dengan perbedaan yang jelas, yaitu adanya penambahan atau pengurangan volume pompa darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 18 pasien, mengetahui adanya pembengkakan jantung tanpa diserta gejala, terjadi penurunan atau dis-fungsi kerja pompa jantung secara jelas dan disertai penurunan volume dan darah yang terbuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hal tersebut, penggunaan alkohol (sebagai zat aditif) adalah kritis secara terus-menerus terhadap jantung. Hal ini diawali dengan berdebarnya detak jantung dan sampai pada tahapan berikutnya, sakit; penurunan stamina tubuh pada kerja pompa darah, kemudian pembengkakan jantung, munculnya dis-fungsi jantung. Dan informasi yang diperoleh dari percobaan terhadap sejumlah anjing menguatkan data kami ini, dimana kami telah memberi makan 7 anjing tersebut secara paralel 5 kebutuhan anjing tersebut akan energi panas melalui alkohol selama 18 bulan. Maka, terjadilah dis-fungsi/penurunan yang sangat jelas pada jumlah yang terbuang dari organ perut bagian kiri, dan pada kekuatan tulang biseps. Adapun pembengkakan pada organ perut dan inflamasi ataupun perubahan pada keduanya, maka hal itu tidak terjadi, dan terjadinya penurunan potassium dengan adanya catatan pada biseps jantung anjing (64, dimana sebelumnya 72).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hal tersebut, pengunaan alkohol dengan dosis apapun dan dalam kondisi apapun bukan hanya mempengaruhi aqidah saja, bahkan berdampak kepada jantung dengan dampak yang sangat berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya hukum pengharaman di dalam Islam adalah sesuatu yang sudah dogmatis dan terbatas yang tidak ada porsi sedikitpun untuk meragukannya atau mengingkarinya. Sikap Islam terhadap penggunaannya minuman beralkohol dalam dosis kecil adalah sangat jelas yang tidak perlu penjelasan tambahan, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits Rasulullah. Adapun orang-orang kafir dan kalangan pendosa, mereka mengikuti kaidah-kaidah mereka dari aspek kemanusiaan dan medik untuk melegalkan penggunaan alkohol dalam dosis rendah ... . Maka mereka akhirnya menyangka bahwa dosis rendah tidak akan berdampak secara signifikan, tidak jadi haram, dan tidak membahayakan tubuh. Dari hal ini pun akhirnya dimungkinkan penggunaan alkohol dalam dosis sedang untuk tujuan-tujuan medik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, dipandang perlu bahwa kita dalam setiap moment selalu mengedepankan ilmu dan dalil untuk memuaskan mereka-mereka yang tidak yakin dengan asas komitmen dalam kita bertahkim dengan hukum ilahi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.muhammadiyah-tabligh.or.id"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8859049449550037071-2745965159538128212?l=alfirqotunnajiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/2745965159538128212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/2745965159538128212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/2008/10/hikmah-pengharaman-alkohol-dampaknya.html' title='Hikmah Pengharaman Alkohol : Dampaknya Terhadap Jantung'/><author><name>YAHYA AL BUNY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00500596638645663569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SMnoh7LksdI/AAAAAAAAAAM/HWHohIDKDrg/S220/ais+ami+jenggot.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SPhcVsOvyvI/AAAAAAAAAGs/1DgHqO3cqe8/s72-c/miras.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071.post-1991800764354931621</id><published>2008-10-17T02:24:00.000-07:00</published><updated>2008-10-17T02:52:27.946-07:00</updated><title type='text'>Sejarah Suram Ikhwanul Muslimin</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SPhbYVsJbGI/AAAAAAAAAGk/RgyA5H2gPtw/s1600-h/Muslim_Brotherhood_Emblem.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SPhbYVsJbGI/AAAAAAAAAGk/RgyA5H2gPtw/s320/Muslim_Brotherhood_Emblem.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5258053038652353634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran dan buku tokoh-tokoh mereka, semacam Hasan Al-Banna, Sayyid Quthub, Said Hawwa, Fathi Yakan, Yusuf Al-Qardhawi, At-Turabi tersebar luas dengan berbagai bahasa, sehingga sempat mewar-nai gerakan-gerakan dakwah di berbagai negara.&lt;br /&gt;Ikhwanul Muslimin, gerakan ini tidak bisa lepas dari sosok pendirinya, Hasan Al-Banna. Dialah gerakan Ikhwanul Muslimin dan Ikhwanul Muslimin adalah dia. Karismanya benar-benar tertanam di hati pengikut dan simpatisannya, yang kemudian senantiasa mengabadikan gagasan dan pemikiran Al-Banna di medan dakwah sepeninggalnya.&lt;br /&gt;Untuk mengetahui lebih dekat hakikat gerakan ini, mari kita simak sejarah singkat Hasan Al-Banna dan berdirinya gerakan Ikhwanul Muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelahirannya&lt;br /&gt;Hasan Al-Banna dilahirkan pada tahun 1906 M, di sebuah desa bernama Al-Mahmudiyyah, yang masuk wilayah Al-Buhairah. Ayahnya seorang yang cukup terkenal dan memiliki sejumlah peninggalan ilmiah seperti Al-Fathurrabbani Fi Tartib Musnad Al-Imam Ahmad Asy-Syaibani, beliau adalah Ahmad bin Abdurrahman Al-Banna yang lebih dikenal dengan As-Sa’ati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikannya&lt;br /&gt;Ia mulai pendidikannya di Madrasah Ar-Rasyad Ad-Diniyyah dengan menghafal Al-Qur`an dan sebagian hadits-hadits Nabi serta dasar-dasar ilmu bahasa Arab, di bawah bimbingan Asy-Syaikh Zahran seo-rang pengikut tarekat shufi Al-Hashafiyyah. Al-Banna benar-benar terkesan dengan sifat-sifat gurunya yang mendidik, sehingga ketika Asy-Syaikh Zahran menyerahkan kepemim-pinan Madrasah itu kepada orang lain, Hasan Al-Banna pun ikut meninggalkan madrasah.&lt;br /&gt;Selanjutnya ia masuk ke Madrasah I’dadiyyah di Mahmudiyyah, setelah berjanji kepada ayahnya untuk menyelesaikan hafalan Al-Qur`an-nya di rumah. Tahun ketiga di madrasah ini adalah awal perke-nalannya dengan gerakan-gerakan dakwah melalui sebuah organisasi, Jum’iyyatul Akhlaq Al-Adabiyyah, yang dibentuk oleh guru matematika di madrasah tersebut. Bahkan Al-Banna sendiri terpilih sebagai ketuanya. Aktivitasnya terus berlanjut hingga ia bergabung dengan organisasi Man’ul Muharramat.&lt;br /&gt;Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di Madrasah Al-Mu’allimin Al-Ula di kota Damanhur. Di sinilah ia berkenalan dengan tarekat shufi Al-Hashafiyyah. Ia terkagum-kagum dengan majelis-majelis dzikir dan lantunan nasyid yang didendangkan secara bersamaan oleh pengikut tarekat tersebut. Lebih tercengang lagi ketika ia dapati bahwa di antara pengikut tarekat tersebut ada guru lamanya yang ia kagumi, Asy-Syaikh Zahran. Akhirnya Al-Banna bergabung dengan tarekat tersebut. Sehingga ia pun aktif dan rutin mengamalkan dzikir-dzikir Ar-Ruzuqiyyah pagi dan petang hari. Tak ketinggalan, acara maulud Nabipun rutin ia ikuti: “…Dan kami pergi bersama-sama di setiap malam ke masjid Sayyidah Zainab, lalu melakukan shalat ‘Isya di sana. Kemudian kami keluar dari masjid dan membuat barisan-barisan. Pimpinan umum Al-Ustadz Hasan Al-Banna maju dan melantunkan sebuah nasyid dari nasyid-nasyid maulud Nabi, dan kamipun mengikutinya secara bersamaan dengan suara yang nyaring, membuat orang melihat kami,” ujar Mahmud Abdul Halim dalam bukunya. (Al-Ikhwanul Muslimun Ahdats Shana’at Tarikh, 1/109)&lt;br /&gt;Di antara aktivitas selama bergabung dengan tarekat ini ialah pergi bersama teman-teman se-tarekat ke kuburan, untuk meng-ingatkan mereka tentang kematian dan hisab (perhitungan amal). Mereka duduk di depan kuburan yang masih terbuka, bahkan salah seorang mereka terkadang masuk ke liang kubur tersebut dan berbaring di dalamnya agar lebih menghayati hakekat kematian nanti.&lt;br /&gt;Al-Banna terus bergabung dengan tarekat tersebut sampai pada akhirnya ia berbai’at kepada syaikh tarekat saat itu yaitu Asy-Syaikh Basyuni Al-’Abd. Jabir Rizq mengatakan: “…(Hasan Al-Banna) sangat berkeinginan mengambil ajaran tarekat itu, sampai-sampai ia meningkat dari sekedar simpatisan ke pengikut yang berbai’at.” Sepeninggal Basyuni, Al-Banna berbai’at kepada Asy-Syaikh Abdul Wahhab Al-Hashafi, pengganti pendiri tarekat tersebut. Ia diberi ijazah wirid-wirid tarekat tersebut. Dengan bangga Al-Banna mengungkapkan: “Dan saya berteman dengan saudara-saudara dari tarekat Al-Hashafiyyah di Damanhur. Saya rutin mengikuti acara al-hadhrah di Masjid Taubah setiap malam… Sayyid Abdul Wahhab-pun datang, dialah yang memberikan ijazah di kelompok tarekat Hashafiyyah Syadziliyyah, dan saya menda-pat ajaran tarekat ini darinya. Ia juga mem-beri saya wirid dan amalan tarekat itu.”&lt;br /&gt;Karena faktor tertentu, akhirnya kelompok tarekat ini mendirikan sebuah organisasi, bernama Jum’iyyah Al-Hashafiyyah Al-Khairiyyah yang diketuai oleh teman lamanya, Ahmad As-Sukkari. Sementara Hasan Al-Banna menjadi sekretarisnya. Al-Banna mengatakan: “Di saat-saat ini, nampak pada kami untuk mendirikan organisasi perbaikan yaitu Al-Jum’iyyah Al-Hashafiyyah Al-Khairiyyah, dan aku terpilih sebagai sekretarisnya… Lalu dalam perjuangan ini, aku menggantikannya dengan organisasi Ikhwanul Muslimin setelah itu.”&lt;br /&gt;Al-Banna menghabiskan waktunya di madrasah Al-Mu’allimin dari tahun 1920-1923 M. Di sela-sela masa itu, ia juga banyak membaca majalah Al-Manar yang diterbitkan oleh Muhammad Rasyid Ridha, salah seorang tokoh gerakan Ishlahiyyah yang banyak dipengaruhi pemikiran Mu’ta-zilah. Di sisi lain, iapun suka mendatangi Asy-Syaikh Muhibbuddin Al-Khathib di perpustakaan salafinya.&lt;br /&gt;Al-Banna, ketika ingin melanjutkan pendidikannya ke Darul Ulum, sempat bimbang antara melanjutkan atau menekuni dakwah dan amal. Ini dikarenakan interaksinya dengan buku Ihya‘ Ulumuddin. Namun bermodalkan nasehat dari salah seorang gurunya, ia mantap untuk melanjutkan pendidikan.&lt;br /&gt;Ia akhirnya memutuskan melanjutkan pendidikannya di Darul Ulum. Di sini, ia sangat giat membentuk jamaah-jamaah dakwah, sehingga di tengah-tengah aktivitasnya tercetus dalam benaknya, ide untuk menjalin hubungan dengan orang-orang yang duduk di warung-warung kopi dan di desa-desa terpencil untuk mendakwahi mereka. Pada akhirnya Al-Banna lulus dari Darul Ulum pada tahun 1927 M.&lt;br /&gt;Usai pendidikannya di Darul Ulum, ia diangkat menjadi guru di daerah Al-Isma’iliyyah. Iapun mengajar di sekolah dasar selama 19 tahun. Sebelumnya, ia datang ke daerah itu pada tanggal 19 September 1927 dan tinggal di sana selama 40 hari untuk mempelajari seluk-beluk lingkungan tersebut. Ternyata, ia dapati banyak terjadi perselisihan di antara masyarakat, sementara ia berkehendak agar dapat berkomunikasi, bergaul dengan semua pihak, dan mempersatukannya. Usai berpikir panjang, akhirnya ia memutuskan untuk menjauh dari semua kelompok yang ada dan berkonsentrasi mendakwahi mereka yang berada di warung-warung kopi. Lambat laun dakwahnya-pun tersebar dan semakin bertambah jumlah pengikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembentukan Gerakan Ikhwanul Muslimin&lt;br /&gt;Pada bulan Dzulqa’dah 1347 H yang bertepatan dengan Maret 1928, enam orang dari pengikutnya mendatangi rumahnya, membai’atnya demi beramal untuk Islam dan sama-sama bersumpah untuk menjadikan hidup mereka untuk dakwah dan jihad. Dengan itu muncullah tunas pertama gerakan Ikhwanul Muslimin. Selang empat tahun, dakwahnya meluas, sehingga ia pindah ke ibukota Kairo, bersama markas besar Ikhwanul Muslimin. Dengan bergulirnya waktu, jangkauan dakwah semakin lebar. Kini saatnya bagi Al-Banna untuk mengajak anggotanya melakukan jihad amali. Dengan situasi yang ada saat itu, ia membentuk pasukan khusus untuk melindungi jamaahnya. Pada tahun 1942 M, Hasan Al-Banna menetapkan untuk mencalonkan dirinya dalam pemilihan umum, tapi ia mencabutnya setelah maju, karena ada ancaman dari Musthafa Al-Basya, yang waktu itu menjabat sebagai pimpinan Al-Wizarah (Perdana Menteri, ed.). Dua tahun kemudian, ia mencalonkan diri kembali, namun Inggris memanipulasi hasil pemilihan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wafatnya&lt;br /&gt;Pada tahun 1949 M, Al-Banna mendapat undangan gelap untuk hadir di kantor pusat organisasi Jum’iyyatusy Syubban Al-Muslimin beberapa saat sebelum maghrib. Ketika ia hendak naik taksi bersama Abdul Karim Manshur, tiba-tiba lampu penerang jalan tersebut dipadamkan. Bersamaan dengan itu peluru-peluru beterbangan mengarah ke tubuhnya. Ia sempat dievakuasi dengan ambulans. Namun karena pendarahan yang hebat, ajal menjemputnya. Dengan itu, tertutuplah lembaran kehidupannya.&lt;br /&gt;Demikian sejarah ringkas Hasan Al-Banna bersama gerakan dakwah yang ia dirikan. Pembaca mungkin berbeda-beda dalam menanggapi sejarah tersebut, sesuai dengan sudut pandang yang digunakan. Namun bila kita melihatnya dengan kacamata syar’i, menimbangnya dengan timbangan Ahlus Sunnah, maka kita akan mendapatinya sebagai sejarah yang suram. Mengapa? Karena kita melihat, ternyata gerakan tersebut lahir dari sebuah sosok yang berlatar belakang aliran shufi Hashafi dengan berbagai kegiatan bid’ahnya, seperti bai’at kepada syaikh tarekat dan kepada Al-Banna sendiri sebagai pimpinan gerakan, amalan wirid-wirid Ruzuqiyyah yang diada-adakan, dzikir berjamaah, maulud Nabi, ziarah-ziarah kubur dengan cara bid’ah sampai pada praktek politik praktis di atas asas demokrasi. Gurunyapun campur aduk, dari syaikh tarekat, seorang yang terpengaruh madzhab Mu’tazilah, dan seorang yang berakidah salafi.&lt;br /&gt;Warna-warni sosok pendiri tersebut sangat berpengaruh dalam menentukan corak gerakan tersebut, sehingga warnanyapun tidak jelas, buram. Tidak seperti Ash-Shirathul Mustaqim yang Nabi n katakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تَرَكْتُكُمْ عَلىَ مِثْلِ الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tinggalkan kalian di atas yang putih bersih, malamnya seperti siangnya.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Abi ‘Ashim, Al-Hakim, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah no. 33)&lt;br /&gt;Untuk melihat lebih dekat dan jelas buktinya mari kita simak pembahasan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan Umum terhadap Gerakan Ikhwanul Muslimin&lt;br /&gt;Sekilas, dari sejarah singkat Hasan Al-Banna tampak jati diri gerakan yang didirikannya. Namun itu tidak cukup untuk mengungkap lebih gamblang. Untuk itu perlu kami nukilkan di sini beberapa kesimpulan yang didasari oleh komentar Al-Banna sendiri atau tokoh-tokoh gerakan ini atau simpatisannya.&lt;br /&gt;Pertama: Menggabung Kelompok-kelompok Bid’ah&lt;br /&gt;Tentu pembaca tahu, bahwa bid’ah tercela secara mutlak dalam agama:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua bid’ah itu sesat.” (HR. Muslim, Kitabul Jum’ah, no. 2002)&lt;br /&gt;Kata-kata ini senantiasa Nabi n ucapkan dalam pembukaan khutbahnya. Bahkan Nabi n juga katakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثاً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah melaknati orang yang melindungi bid’ah.” (HR. Muslim, Kitabul Adhahi, Bab Tahrim Adz-Dzabh Lighairillah, no. 5096) &lt;br /&gt;Yakni ridha terhadapnya dan tidak mengingkarinya. Dan banyak lagi hadits yang lain. Tapi anehnya, Al-Banna justru menaungi kelompok-kelompok bid’ah sebagaimana dia sendiri ungkapkan: “Sesungguhnya dakwah Ikhwanul Muslimin adalah dakwah salafiyyah… tarekat sunniyah… hakekat shufiyyah…dan badan politik…” (Majmu’ah Rasa`il, hal. 122)&lt;br /&gt;Ini menggambarkan usaha untuk mencampur antara al-haq dan al-bathil. Dan ini adalah cara yang batil. Jika memang dakwahnya adalah salafiyyah yang sesungguhnya –dan itulah kebenaran– tidak mungkin dipadukan dengan shufiyyah dengan berbagai bid’ahnya dan praktek politik praktis yang diimpor dari Barat.&lt;br /&gt;Karena prinsip ini, maka realita membuktikan bahwa: “Ratusan ribu manusia telah bergabung dengan kelompok Ikhwanul Muslimin. Mereka dari kelompok yang bermacam-macam, paham yang berbeda-beda. Di antara mereka ada sekelompok Shufi yang menyangka bahwa kelompok ini adalah Shufi gaya baru…,” demikian ungkap Muhammad Quthub dalam bukunya Waqi’una Al-Mu’ashir (hal. 405).&lt;br /&gt;Bahkan dengan kelompok Syi’ah-pun berpelukan. Itu terbukti dengan usaha Al-Banna untuk menyatukan antara Sunnah dengan Syi’ah, dan tak sedikit anggota gerakan yang beraliran Syi’ah. Umar At-Tilmisani, murid Al-Banna sekaligus pimpinan umum ketiga gerakan ini, mengungkapkan: “Pada tahun empat-puluhan seingat saya, As-Sayyid Al-Qummi, dan ia berpaham Syi’ah, singgah sebagai tamu Ikhwanul Muslimin di markas besarnya. Dan saat itu Al-Imam Asy-Syahid (Al-Banna) berusaha dengan serius untuk mendekatkan antar berbagai paham, sehing-ga musuh tidak menjadikan perpecahan paham sebagai celah, yang dari situ mereka robek-robek persatuan muslimin. Dan kami suatu hari bertanya kepadanya, sejauh mana perbedaan antara Ahlus Sunnah dengan Syi’ah, maka ia pun melarang untuk masuk dalam permasalahan semacam ini… Kemudian mengatakan: ‘Ketahuilah bahwa Sunnah dan Syi’ah adalah muslimin, kalimat La ilaha illallah Muhammad Rasulullah menyatukan mereka, dan inilah pokok aqidah. Sunnah dan Syi’ah dalam hal itu sama dan sama-sama bersih. Adapun perbedaan antara keduanya adalah pada perkara-perkara yang mungkin bisa didekatkan.” (Dzikrayat la Mudzakkirat, karya At-Tilmisani, hal. 249-250)&lt;br /&gt;Benarkah dua kelompok itu sama dan bersih dalam dua kalimat syahadat? Tidakkah Al-Banna tahu, bahwa di antara kelompok Syi’ah ada yang menuhankan ‘Ali bin Abi Thalib? Tidakkah dia tahu bahwa Syi’ah menuhankan imam-imam mereka, dengan menganggap mereka mengetahui perkara-perkara ghaib? Tidakkah dia tahu bahwa di antara Syi’ah ada yang meyakini bahwa Malaikat Jibril keliru menyampaikan risalah –mestinya kepada Ali, bukan kepada Nabi n–? Seandainya hanya ini saja (penyimpangan) yang dimiliki Syi’ah, mungkinkah didekatkan antara keduanya? Lebih-lebih dengan segudang kekafiran dan bid’ah Syi’ah.&lt;br /&gt;Kedua: Lemahnya Al-Wala` dan Al-Bara`&lt;br /&gt;Pembaca, tentu anda tahu bahwa Al-Wala` (loyalitas kepada kebenaran) dan Al-Bara` (antipati terhadap kebatilan) merupakan prinsip penting dalam agama kita, Islam.&lt;br /&gt;Abu ‘Utsman Ash-Shabuni (wafat 449 H) mengatakan: “Dengan itu, (Ahlus Sunnah) seluruhnya bersepakat untuk merendahkan dan menghinakan ahli bid’ah, dan menjauhkan serta menjauhi mereka, dan tidak berteman dan bergaul dengan mereka, serta mendekatkan diri kepada Allah dengan menjauhi mereka.” (‘Aqidatussalaf Ashabil Hadits, hal. 123, no. 175)&lt;br /&gt;Tapi prinsip ini menjadi luntur dan benar-benar luntur dalam manhaj gerakan Ikhwanul Muslimin. Itu terbukti dari penjelasan di atas. Juga sambutan hangatnya terhadap pimpinan aliran Al-Marghiniyyah, sebuah aliran wihdatul wujud yang menganggap Allah menjadi satu dengan makhluk (lihat Qafilatul Ikhwan Al-Muslimin, 1/259, karya As-Sisi). Lebih dari itu –dan anda boleh kaget– Al-Banna mengatakan: “Maka saya tetapkan bahwa permusuhan kita dengan Yahudi bukan permusuhan karena agama. Karena Al-Qur`an menganjurkan untuk bersahabat dengan mereka. Dan Islam adalah syariat kemanusiaan sebelum syariat kesukuan. Allah-pun telah memuji mereka dan menjadikan kesepakatan antara kita dengan mereka… dan ketika Allah ingin menyinggung masalah Yahudi, Allah menyinggung mereka dari sisi ekonomi, firman-Nya….” (Al-Ikhwanul Al-Muslimun Ahdats Shana’at Tarikh, 1/409 dinukil dari Al-Maurid, hal. 163-164)&lt;br /&gt;Apa yang pantas kita katakan wahai pembaca? Barangkali tepat kita katakan di sini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَفَتُؤْمِنُوْنَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُوْنَ بِبَعْضٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al-Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain?” (Al-Baqarah: 85)&lt;br /&gt;Ke mana hafalan Al-Qur`an-nya? Siapapun yang membaca pasti tahu bahwa Allah telah mengkafirkan Yahudi, mereka membunuh para nabi, mencela Allah, tidak mau beriman kepada Nabi Muhammad n, dan beberapa kali berusaha membunuh Nabi n. Apakah ini semua tidak pantas menimbulkan permusuhan antara muslimin dengan Yahudi dalam pandangannya?&lt;br /&gt;Bukti lain tentang lemahnya Al-Wala` dan Al-Bara`, bahwa sebagian penasehatnya adalah Nashrani. Menurut pengakuan Yusuf Al-Qardhawi, katanya: “Saya tumbuh di sebuah lingkungan yang berkorban untuk Islam. Madrasah ini, yang memimpinnya adalah seorang yang mempunyai ciri khas keseimbangan dalam pemikiran, gerakan, dan hubungannya. Itulah dia Hasan Al-Banna. Orang ini sendiri adalah umat dari sisi ini, di mana dia bisa bergaul dengan semua manusia, sampai-sampai sebagian penasehatnya adalah orang-orang Qibthi –yakni suku bangsa di Mesir yang beragama Nashrani– dan ia masukkan mereka ke dalam departemen politiknya…” (Al-Islam wal Gharb, ma’a Yusuf Al-Qardhawi, hal. 72, dinukil dari Dhalalat Al-Qardhawi, hal. 4)&lt;br /&gt;Padahal Allah k berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُوْنِكُمْ لاَ يَأْلُوْنَكُمْ خَبَالاً وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُوْرُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ اْلآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُوْنَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (Ali ‘Imran: 118)&lt;br /&gt;Ketiga: Tidak Perhatian terhadap Aqidah&lt;br /&gt;Pembaca, aqidah adalah hidup matinya seorang muslim. Bagi muslim sejati, yang berharga menjadi murah demi membela aqidah. Aqidah adalah segala-galanya, tidak bisa main-main, tidak bisa coba-coba. Tapi tidak demikian adanya dengan kelompok yang kita bicarakan ini. Itu terbukti dari keterangan di atas, ditambah keadaan Al-Banna sendiri yang tidak beraqidah salaf dalam mengimani Asma`ul Husna dan sifat-sifat Allah. Salah jalan, ia terangkan aqidah salaf tapi ternyata itu aqidah khalaf (yang datang belakangan dan menyelisihi salaf). Ungkapnya: “Adapun Salaf, mereka mengatakan: Kami beriman dengan ayat-ayat dan hadits-hadits sebagaimana datangnya, dan kami serahkan keterangan tentang maksudnya kepada Allah tabaraka wa ta’ala, sehingga mereka menetapkan sifat Al-Yad (tangan) dan Al-’Ain (mata)… Semua itu dengan makna yang tidak kita ketahui, dan kita serahkan kepada Allah pengetahuan tentang ilmunya…” (Majmu’ Rasa`il, karya Al-Banna, hal. 292, 324)&lt;br /&gt;Tauhid Al-Asma` dan Sifat, adalah salah satu dari tiga unsur penting dalam ilmu-ilmu tentang Allah k. Intinya adalah mengimani nama-nama Allah k dan sifat-sifat-Nya sebagaimana Allah k sebutkan dalam Al-Qur`an atau Nabi n sebutkan dalam hadits yang shahih.&lt;br /&gt;Aqidah Ahlussunnah dalam hal ini tergambar dalam jawaban Imam kota Madinah saat itu, Al-Imam Malik bin Anas Al-Ashbuhi t, ketika ditanya oleh seseorang: “Allah naik di atas ‘Arsy-Nya, bagaimana di atas itu?” Dengan bercucuran keringat karena kaget, beliau menjawab: “Naik di atas itu diketahui maknanya. Caranya tidak diketahui. Iman dengannya adalah wajib. Dan bertanya tentang itu adalah bid’ah!”&lt;br /&gt;Ucapan Al-Imam Malik ini minimalnya mengandung empat hal:&lt;br /&gt;1. Naik di atas itu diketahui maknanya: Demikian pula nama, sifat dan perbuatan Allah yang lain seperti, murka, cinta, melihat, dan sebagainya. Semuanya diketahui maknanya, dan semua itu dengan bahasa Arab yang bisa dimengerti.&lt;br /&gt;2. Tapi caranya tidak diketahui: yakni kaifiyyah, cara dan seperti apa tidaklah diketahui, karena Allah k tidak memberi-tahukan perincian tentang hal ini. Demikian pula sifat-sifat yang lain.&lt;br /&gt;3. Iman dengannya adalah wajib: karena Allah memberitakannya dalam Al-Qur`an dan Nabi n mengabarkan dalam haditsnya yang shahih.&lt;br /&gt;4. Dan bertanya tentang itu adalah bid’ah: yakni bertanya tentang tata caranya dan seperti apa sifat-sifat tersebut adalah bid’ah, tidak pernah dilakukan oleh generasi awal. Mereka beriman apa adanya, karena Allah k tidak pernah memberitakan perincian tata caranya. Berbeda dengan ahli bid’ah yang melakukan takyif yakni mereka-reka kaifiyyah sifat tersebut, atau bertanya untuk mencari tahu dengan pertanyaan: Bagaimana?&lt;br /&gt;Dengan penjelasan di atas, maka ucapan Hasan Al-Banna: …”Semua itu dengan makna yang tidak kita ketahui, dan kita serahkan kepada Allah pengetahuan tentang ilmunya”, adalah ucapan yang menyelisihi kebenaran. Dan ini tentu bukan manhaj salaf. Bahkan ini adalah manhaj Ahluttafwidh atau Al-Mufawwidhah, yang menganggap ayat dan hadits tentang sifat-sifat Allah itu bagaikan huruf muqaththa’ah, yakni huruf-huruf di awal surat seperti alif lam mim, yang tidak diketahui maknanya.&lt;br /&gt;Madzhab ini sangat berbahaya, yang konsekuensinya adalah menganggap Nabi n dan para shahabatnya bodoh, karena mereka tidak mengetahui makna ayat-ayat itu. Oleh karenanya, Ibnu Taimiyyah t mengatakan bahwa: “Al-Mufawwidhah termasuk sejahat-jahat ahli bid’ah.” (lihat Dar`u Ta’arudhil ‘Aql wan Naql karya Ibnu Taimiyyah, 1/201-205, dinukil dari Al-Ajwibah Al-Mufidah, hal. 71)&lt;br /&gt;Bukti lain, ia hadir di salah satu sarang kesyirikan terbesar di Mesir yaitu kuburan Sayyidah Zainab, lalu memberikan wejangan di sana, tetapi sama sekali tidak menyinggung kesyirikan-kesyirikan di sekitar kuburan itu (lihat buku Qafilatul Ikhwan, 1/192). Jika anda heran, maka akan lebih heran lagi ketika dia mengatakan: “Dan berdoa apabila diiringi dengan tawassul kepada Allah k dengan perantara seseorang dari makhluk-Nya, adalah perbedaan pendapat yang sifatnya furu’ (cabang) dalam hal tata cara berdoa dan bukan termasuk perkara aqidah.” (Majmu’ Rasa`il karya Al-Banna, hal. 270)&lt;br /&gt;Pembaca, jika anda mengikuti kajian-kajian majalah kesayangan ini, pada dua edisi sebelumnya dalam Rubrik Aqidah akan anda dapati pembahasan tentang tawassul. Tawassul (menjadikan sesuatu sebagai perantara untuk menyampaikan doa kepada Allah) telah dibahas panjang lebar oleh ulama dan sangat erat kaitannya dengan aqidah. Di antara tawassul itu ada yang sampai kepada derajat syirik akbar, adapula yang bid’ah. Dari sisi ini, bisa pembaca bandingkan antara nilai aqidah menurut para ulama dan menurut Hasan Al-Banna.&lt;br /&gt;Keempat: Menganggap Sepele Bid’ah dalam Agama&lt;br /&gt;Sekilas telah anda ketahui tentang bahaya bid’ah yang Nabi n katakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;شَرُّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan.” (HR. Muslim, Kitabul Jum’ah, no. 2002)&lt;br /&gt;Oleh karenanya, Nabi n berpesan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jauhi oleh kalian perkara-perkara baru (yakni dalam agama) karena semua bid’ah itu sesat, dan semua kesesatan di neraka.” (Shahih, HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)&lt;br /&gt;Namun berbeda keadaannya dengan gerakan Ikhwanul Muslimin, sebagaimana anda baca dalam sejarah ringkas Al-Banna. Berbagai macam bid’ah ia kumpulkan, kelompok-kelompok bid’ah ia rangkul, acara bid’ah ia datangi seperti maulud Nabi dan dzikir bersama dengan satu suara, bahkan sebagian bacaannya mengandung aqidah wihdatul wujud. Tentu itu bukan secara kebetulan, terbukti dengan penegasannya: “Dan bid’ah idhafiyyah, tarkiyyah, dan iltizam pada ibadah-ibadah yang bersifat mutlak adalah perbedaan fiqih, yang masing-masing punya pendapat dalam masalah itu…” (Majmu’ Rasa`il karya Al-Banna, hal. 270)&lt;br /&gt;Ia hanya anggap bid’ah-bid’ah itu layaknya perbedaan fiqih biasa. Coba bandingkan dengan wasiat Nabi n di atas. Oleh karenanya, muncul kaidah mereka yang sangat populer: “Kita saling membantu pada perkara yang kita sepakati, dan saling mamaklumi pada apa yang kita perselisihkan.” Pada prakteknya, mereka saling memaklumi dengan Syi’ah, Shufi yang ekstrim, bahkan Yahudi dan Nashrani, apalagi ahli bid’ah yang belum sederajat dengan mereka.&lt;br /&gt;Sedikit penjelasan terhadap ucapan Al-Banna, bid’ah idhafiyyah adalah sebuah amalan yang pada asalnya disyariatkan, tapi dalam pelaksanaannya ditambah-tambah dengan sesuatu yang bid’ah. Termasuk di dalamnya yaitu sebuah ibadah yang mutlak, artinya tidak terkait dengan waktu, jumlah, tata cara, atau tempat tertentu. Tetapi dalam pelaksanaannya, seseorang mengaitkan dengan tata cara tertentu dan iltizam (terus-menerus) dengannya. Contoh dzikir dengan ucapan La ilaha Illallah, dalam sebuah hadits dianjurkan secara mutlak, tapi ada orang yang membatasi dengan jumlah tertentu (500 kali, misalnya) dan beriltizam dengannya.&lt;br /&gt;Bid’ah tarkiyyah, adalah mening-galkan sesuatu yang Allah halalkan atau mubahkan dengan niat ber-taqarrub, mendekatkan diri dan beribadah kepada Allah dengan itu. Contohnya adalah orang yang tidak mau menikah dengan tujuan semacam itu, seperti yang dilakukan pendeta Nashrani dan sebagian muslimin yang mencontoh mereka. (lihat Mukhtashar Al-I’tsham, hal. 11 dan 72)&lt;br /&gt;Kelima: Bai’at Bid’ah&lt;br /&gt;Bai’at adalah sebuah ibadah. Layaknya ibadah yang lain, tidak bisa dibenarkan kecuali dengan dua syarat: ikhlas dan sesuai dengan ajaran Nabi n. Dalam sejarah Nabi dan para shahabatnya, bahkan para imam Ahlus Sunnah setelah mereka, mereka tidak pernah memberikan bai’at kepada selain khalifah, imam, atau penguasa muslim. Maka, sebagaimana dikatakan Sa’id bin Jubair –seorang tabi’in–: “Sesuatu yang tidak diketahui oleh para Ahli Badr (shahabat yang ikut Perang Badr), maka hal itu bukan bagian dari agama.” (Al-Fatawa, 4/5 dinukil dari Hukmul Intima`, hal. 165). Al-Imam Malik mengatakan: “Sesuatu yang di masa shahabat bukan sebagai agama, maka hari ini juga bukan sebagai agama.” (Al-Fatawa, 4/5 dinukil dari Hukmul Intima`, hal. 165)&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan ditanya tentang bai’at, beliau menjawab: “Bai’at tidak diberikan kecuali kepada waliyyul amr (penguasa) kaum muslimin. Adapun bai’at-bai’at yang ada ini adalah bid’ah, dan merupakan akibat dari adanya ikhtilaf (perselisihan). Yang wajib dilakukan oleh kaum muslimin yang berada di satu negara atau satu kerajaan, hendaknya bai’at mereka hanya satu dan untuk satu pimpinan…” (Fiqh As-Siyasah As-Syar’iyyah hal. 281 dan lihat Al-Maurid Al-’Adzb Az-Zulal, karya An-Najmi hal. 214). Lebih rinci tentang hukum bai’at, silakan anda buka-buka kembali Asy-Syariah edisi-edisi sebelumnya.&lt;br /&gt;Sementara, Hasan Al-Banna sendiri berbai’at kepada syaikh tarekat shufi. Dan ketika mendirikan gerakan ini, ia dibai’at oleh enam tunas gerakan ini, bahkan Al-Banna menjadikan bai’at sebagai unsur penting manhaj gerakan Ikhwanul Muslimin. Dia katakan: “Wahai saudara-saudara yang jujur, rukun bai’at kita ada sepuluh, hafalkanlah: 1. Paham, 2. Ikhlas, 3. Amal, 4. Jihad, 5. Pengorbanan, 6. Taat, 7. Kokoh, 8. Konsentrasi, 9. Persaudaraan, 10. Percaya.” (Majmu’ Rasa`il, karya Al-Banna, hal. 268)&lt;br /&gt;Untuk mengkaji kritis secara tuntas point-point itu tentu butuh berlembar-lembar kertas. Namun cukup untuk mengetahui batilnya, bahwa rukun-rukun bai’at ini berdiri di atas asas bai’at yang salah. Sebagai tambahan, tahukah anda apa yang dimaksud ketaatan pada point keenam? Silahkan anda simak penuturan Al-Banna: “…Dan pada periode kedua yaitu periode takwin (menyusun kekuatan), aturan dakwah dalam periode ini adalah keshufian yang murni dari sisi rohani dan militer murni dari sisi amal. Dan selalu, motto dua sisi ini adalah ‘komando’ dan ‘taat’ tanpa ragu, bimbang, bertanya, segan.” (Risalah Ta’lim, karya Al-Banna, hal. 274)&lt;br /&gt;Yakni taat komando secara mutlak, bagaikan mayat di hadapan yang memandikan. Sedangkan Nabi n saja, dalam bai’at yang sah mensyaratkan ketaatan dengan dua syarat:&lt;br /&gt;1. Pada perkara yang sesuai syariat.&lt;br /&gt;2. Sebatas kemampuan.&lt;br /&gt;(lihat Al-Maurid Al-’Adzb Az-Zulal, karya An-Najmi hal. 217)&lt;br /&gt;Tahukah pula anda, apa yang dimaksud dengan paham pada point pertama? Mari kita simak penuturan sang imam ini: “Hanyalah yang saya maukan dengan ‘paham’ ini, adalah engkau harus yakin bahwa pemikiran kami adalah Islami dan benar, dan agar engkau memahami Islam sebagaimana kami memahaminya dalam batas 20 prinsip yang kami ringkas seringkas-ringkasnya.” (Majmu’ Rasa`il, karya Al-Banna, hal. 356)&lt;br /&gt;Pembaca, haruskah seseorang berbai’at untuk membenarkan pemikiran Al-Banna yang sedemikian rupa, seperti anda baca? Haruskah kita memahami Islam seperti dia pahami, hanya berkutat pada 20 prinsip yang ia buat, itu pun bila prinsip-prinsip itu benar?&lt;br /&gt;Anehnya juga, ketika menyebutkan 38 kewajiban muslim berkaitan dengan bai’at tersebut, salah satunya adalah: “Jangan berlebih-lebihan minum kopi, teh dan minuman-minuman sejenis yang membuat susah tidur.” (Majmu’ Rasa`il, karya Al-Banna, hal. 277, dinukil dari Haqiqatud Da’wah, karya Al-Hushayyin, hal. 80), namun dia tidak menyinggung masalah pembenahan aqidah.&lt;br /&gt;Pembaca yang saya muliakan, dari penjelasan di atas tentu anda merasakan, bagaimana sosok Hasan Al-Banna begitu mewarnai corak gerakan yang ia dirikan. Sekaligus anda dapat mengetahui betapa jauhnya gerakan ini dari Ash-Shirathul Mustaqim, jalan yang digariskan Nabi n dan kita diperintahkan menelusurinya serta berhati-hati dari selainnya. Lebih-lebih, gerakan ini juga, tidak kurang-kurangnya memuji musuh-musuh Allah seperti, Al-Khomeini, dan tokoh-tokoh Syi’ah yang lain, Al-Marghini tokoh wihdatul wujud, memusuhi Muwahhidin, melakukan pembunuhan-pembunuhan kepada aparatur negara yang dianggap merugikan dengan cara yang tidak syar’i, berdemo, melakukan kudeta tanpa melalui prosedur syar’i, nasyid ala shufi dan sandiwara. Dan betapa pengikutnya berlebihan dalam menyanjung Al-Banna sampai menjulukinya Asy-Syahid (yang mati syahid), dan dengan yakin salah satu di antara mereka mengatakan: “Bahwa ia (yakni Hasan Al-Banna) hidup di sisi Rabbnya dan mendapat rizki di sana.” (lihat Al-Maurid Al-’Adzb Az-Zulal, karya An-Najmi hal. 206, 165, 208, 226, 229, 117, 228)&lt;br /&gt;Padahal, Al-Imam Al-Bukhari menyebutkan sebuah bab dalam bukunya Shahih Al-Bukhari berjudul: “Tidak boleh dikatakan bahwa fulan adalah syahid”, lalu beliau sebutkan dalilnya. Beliau juga menyebutkan hadits dalam bab lain: “…Bahwa Ummul ‘Ala berkata: ‘Utsman bin Mazh’un dapat bagian di rumah kami (setelah diundi), maka ketika ia sakit kami mera-watnya. Tatkala wafat, aku katakan: ‘Persaksianku atas dirimu wahai Abu Sa`ib ('Utsman bin Mazh’un) bahwa Allah telah memuliakanmu’. Maka Nabi n mengatakan: ‘Darimana engkau tahu bahwa Allah telah memuliakannya?’ Saya katakan: ‘Ayah dan ibuku tebusanmu, wahai Rasulullah. Demi Allah, saya tidak tahu.’ Maka Nabi n mengatakan: ‘Sesungguhnya aku, demi Allah, dan aku ini adalah utusan Allah, aku tidak tahu apa yang akan Allah perlakukan kepadaku dan kepada kalian’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari)&lt;br /&gt;Wahai saudaraku, sadarlah dan ambillah pelajaran....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;a href="http:///.majalahsyariah.com"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8859049449550037071-1991800764354931621?l=alfirqotunnajiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/1991800764354931621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/1991800764354931621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/2008/10/sejarah-suram-ikhwanul-muslimin.html' title='Sejarah Suram Ikhwanul Muslimin'/><author><name>YAHYA AL BUNY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00500596638645663569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SMnoh7LksdI/AAAAAAAAAAM/HWHohIDKDrg/S220/ais+ami+jenggot.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SPhbYVsJbGI/AAAAAAAAAGk/RgyA5H2gPtw/s72-c/Muslim_Brotherhood_Emblem.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071.post-1616404723258283972</id><published>2008-10-07T16:35:00.000-07:00</published><updated>2008-10-07T17:52:53.380-07:00</updated><title type='text'>KULTUS LASKAR PELANGI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SOv038ymAzI/AAAAAAAAAGc/_VwOuMqukxo/s1600-h/Laskar_pelangi_sampul.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SOv038ymAzI/AAAAAAAAAGc/_VwOuMqukxo/s320/Laskar_pelangi_sampul.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5254562632306131762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Laskar pelagi, nama ini sangat popular dalam masyrakat terutama para pecinta novel di Indonesia. Novel karya Andrea Hirata ini mampu menguasai pasaran Novel indonesia dan menyandang best of the best seler. Penggemarnya pun tak hanya sekali membaca novel tersebut kadang di baca hingga 3 atau 4 kali hingga hafal betul jalan cerita dan mozaik-mozaiknya. Sayapun telah menyelesaikan berkali-kali bahkan 3 dari tetraloginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembanganya Novel ini telah menarik hati seorang sineas muda Riri Reza dan Mira Lesmana dari miles production untuk di buatkan Film laskar pelagi. Dengan rencana tersebut semua penggemar seolah bersorak gembira menyambut di produksinya Film Laskar pelagi begitu jua dengan saya. Dan nama Andrea Hirata makin berkibar-kibar dan di kagumi oleh pecinta Laskar pelangi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangga  25 septembar 2009 bertepatan dengan tanggal 25 Ramadhan 1429 H film ini mulai di putar di bioskop di seluruh Indonesia. Penonton pun berduyun-duyun mendatangi biokop terdekat. Di jogjakarta film ini hanya di putar di satu bioskop hingga mengkibatkan tumpukan penonton yang mengantri membeli tiket masuk. Sungguh perjuangan yang berat untuk mendapatkan tiket masuk lascar pelangi. Hampir mirip antrian  zakat di jawa timur tapi bedanya antrian tiket ini diruang ber AC,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini saya berfikir apakah mereka juga sesemangat itu jika mendatangi masjid untuk sholat berjama’ah. Apakah mereka sesemangat ini saat akan berangkat Ikhtikaf  atau pun mendatangi majelis Ilmu. Apakah semangat kita membaca buku-buku hadist dan buku karya ulama-ulama  juga sama dengan gairah membaca Novel karya Andrea Hirata atau Habiburahman Elzarazy dan novelnya juga meledak denga filnya Ayat-ayat cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya  kawatir ada kultus baru pada Andrea Hirata, saat kita kaos-kaos bergambar Andrea banyak beredar di masyarakat. Jiwa  komersil pun tumbuh dari para pedagang di sekitar laskar pelagi. Dan jiwa suka mengkultuskan tekoh juag berkembang dalam masyarakat terutama pecinta laskar pelangi, kadang remaja pun lebih mengenal tokoh-tokoh seperti kucai, Mahar, Lintang, pak Harpan , bu Muslimah dan lain-lain. Kita seolah Lupa pada nama Ulama-ulama seperti para Imam Mazhab dan ulama lain. Bahban anak muda Muslim pun belum tentu hafal nama sahabat Nabi seperti Abu Bakar , Ustman, Umar bin Khatab, Ali bin Abi thalib, abu Dzar dan lian sebagainya apa lagi ulama salafus sholeh seperti Hasan Al Bashri, ibnu umar, Ibnu Abbas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya juga suka pada Novel Laskar pelagi ini karena banyak mengandung Nilai-nilai agama yang di contohkan oleh guru-guru SD Muhammadiyah Gantong belitung dan semangat Pak Harpan bu Muslimah dan sahabat mereka yang selalu membantu sekolah dan gurunya. Juga semangat spara murid  untuk meraih Ilmu guna mengangkat drajat mereka. Tapi yang saya khawatirkan adalah kultus  pecinta Laskar pelangi yang kini selalu meenceritakan dan membicarakn dan kadang berkorban untuk bisa nontong film LP tersebut bahkan hingga nonton berkli-kali. Kemudian nanti akan muncul pengidolaan terhadap tokoh-tokohnya.. cukuplah bagi kita bahwa Nabi Muhammad Rasulullah sebagan ushwah Hasanah.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;hualloh hu'alam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8859049449550037071-1616404723258283972?l=alfirqotunnajiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/1616404723258283972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/1616404723258283972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/2008/10/kultus-laskar-pelangi.html' title='KULTUS LASKAR PELANGI'/><author><name>YAHYA AL BUNY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00500596638645663569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SMnoh7LksdI/AAAAAAAAAAM/HWHohIDKDrg/S220/ais+ami+jenggot.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SOv038ymAzI/AAAAAAAAAGc/_VwOuMqukxo/s72-c/Laskar_pelangi_sampul.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071.post-527017253379663363</id><published>2008-10-04T20:20:00.000-07:00</published><updated>2008-10-04T20:23:12.909-07:00</updated><title type='text'>Adab Penuntut Ilmu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SOgy7wVbZBI/AAAAAAAAAGE/I7aJGIOvv7U/s1600-h/quran5xj1eu4.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SOgy7wVbZBI/AAAAAAAAAGE/I7aJGIOvv7U/s320/quran5xj1eu4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5253504967496131602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Adab-Adab Penuntut Ilmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kategori: Akhlaq dan Nasehat, Manhaj Salaf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Rasulullah, amma ba’du.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang budiman, menuntut ilmu agama adalah sebuah tugas yang sangat mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka Allah akan pahamkan dia dalam hal agamanya.” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu sudah semestinya kita berupaya sebaik-baiknya dalam menimba ilmu yang mulia ini. Nah, untuk bisa meraih apa yang kita idam-idamkan ini tentunya ada adab-adab yang harus diperhatikan agar ilmu yang kita peroleh membuahkan barakah, menebarkan rahmah dan bukannya malah menebarkan fitnah atau justru menyulut api hizbiyah. Wallaahul musta’aan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADAB PERTAMA : Mengikhlaskan Niat untuk Allah ‘azza wa jalla&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu dengan menujukan aktivitas menuntut ilmu yang dilakukannya untuk mengharapkan wajah Allah dan negeri akhirat, sebab Allah telah mendorong dan memotivasi untuk itu. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Maka ketahuilah, sesungguhnya tidak ada sesembahan yang hak selain Allah dan minta ampunlah atas dosa-dosamu.” (QS. Muhammad: 19). Pujian terhadap para ulama di dalam al-Qur’an juga sudah sangat ma’ruf. Apabila Allah memuji atau memerintahkan sesuatu maka sesuatu itu bernilai ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu maka kita harus mengikhlaskan diri dalam menuntut ilmu hanya untuk Allah, yaitu dengan meniatkan dalam menuntut ilmu dalam rangka mengharapkan wajah Allah ‘azza wa jalla. Apabila dalam menuntut ilmu seseorang mengharapkan untuk memperoleh persaksian/gelar demi mencari kedudukan dunia atau jabatan maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Barang siapa yang menuntut ilmu yang seharusnya hanya ditujukan untuk mencari wajah Allah ‘azza wa jalla tetapi dia justru berniat untuk meraih bagian kehidupan dunia maka dia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” yakni tidak bisa mencium aromanya, ini adalah ancaman yang sangat keras. Akan tetapi apabila seseorang yang menuntut ilmu memiliki niat memperoleh persaksian/ijazah/gelar sebagai sarana agar bisa memberikan manfaat kepada orang-orang dengan mengajarkan ilmu, pengajian dan sebagainya, maka niatnya bagus dan tidak bermasalah, karena ini adalah niat yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADAB KEDUA : Bertujuan untuk Mengangkat Kebodohan Diri Sendiri dan Orang Lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berniat dalam menuntut ilmu demi mengangkat kebodohan dari dirinya sendiri dan dari orang lain. Sebab pada asalnya manusia itu bodoh, dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Allah lah yang telah mengeluarkan kalian dari perut-perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan kemudian Allah ciptakan bagi kalian pendengaran, penglihatan dan hati supaya kalian bersyukur.” (QS. An Nahl: 78). Demikian pula niatkanlah untuk mengangkat kebodohan dari umat, hal itu bisa dilakukan dengan pengajaran melalui berbagai macam sarana, supaya orang-orang bisa memetik manfaat dari ilmu yang kau miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADAB KETIGA : Bermaksud Membela Syariat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu dalam menuntut ilmu itu engkau berniat untuk membela syariat, sebab kitab-kitab yang ada tidak mungkin bisa membela syariat (dengan sendirinya). Tidak ada yang bisa membela syariat kecuali si pembawa syariat. Seandainya ada seorang ahlul bid’ah datang ke perpustakaan yang penuh berisi kitab-kitab syariat yang jumlahnya sulit untuk dihitung lantas dia berbicara melontarkan kebid’ahannya dan menyatakannya dengan lantang, saya kira tidak ada sebuah kitab pun yang bisa membantahnya. Akan tetapi apabila dia berbicara dengan kebid’ahannya di sisi orang yang berilmu demi menyatakannya maka si penuntut ilmu itu akan bisa membantahnya dan menolak perkataannya dengan dalil al-Qur’an dan as-Sunnah. Oleh sebab itu saya katakan: Salah satu hal yang harus senantiasa dipelihara di dalam hati oleh penuntut ilmu adalah niat untuk membela syariat. Manusia kini sangat membutuhkan keberadaan para ulama, supaya mereka bisa membantah tipu daya para ahli bid’ah serta seluruh musuh Allah ‘azza wa jalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADAB KEEMPAT : Berlapang Dada Dalam Masalah Khilaf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya dia berlapang dada ketika menghadapi masalah-masalah khilaf yang bersumber dari hasil ijtihad. Sebab perselisihan yang ada di antara para ulama itu bisa jadi terjadi dalam perkara yang tidak boleh untuk berijtihad, maka kalau seperti ini maka perkaranya jelas. Yang demikian itu tidak ada seorang pun yang menyelisihinya diberikan uzur. Dan bisa juga perselisihan terjadi dalam permasalahan yang boleh berijtihad di dalamnya, maka yang seperti ini orang yang menyelisihi kebenaran diberikan uzur. Dan perkataan anda tidak bisa menjadi argumen untuk menjatuhkan orang yang berbeda pendapat dengan anda dalam masalah itu, seandainya kita berpendapat demikian niscaya kita pun akan katakan bahwa perkataannya adalah argumen yang bisa menjatuhkan anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya maksud di sini adalah perselisihan yang terjadi pada perkara-perkara yang diperbolehkan bagi akal untuk berijtihad di dalamnya dan manusia boleh berselisih tentangnya. Adapun orang yang menyelisihi jalan salaf seperti dalam permasalahan akidah maka dalam hal ini tidak ada seorang pun yang diperbolehkan untuk menyelisihi salafush shalih, akan tetapi pada permasalahan lain yang termasuk medan pikiran, tidaklah pantas menjadikan khilaf semacam ini sebagai alasan untuk mencela orang lain atau menjadikannya sebagai penyebab permusuhan dan kebencian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka menjadi kewajiban para penuntut ilmu untuk tetap memelihara persaudaraan meskipun mereka berselisih dalam sebagian permasalahan furu’iyyah (cabang), hendaknya yang satu mengajak saudaranya untuk berdiskusi dengan baik dengan didasari kehendak untuk mencari wajah Allah dan demi memperoleh ilmu, dengan cara inilah akan tercapai hubungan baik dan sikap keras dan kasar yang ada pada sebagian orang akan bisa lenyap, bahkan terkadang terjadi pertengkaran dan permusuhan di antara mereka. Keadaan seperti ini tentu saja membuat gembira musuh-musuh Islam, sedangkan perselisihan yang ada di antara umat ini merupakan penyebab bahaya yang sangat besar, Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian berselisih yang akan menceraiberaikan dan membuat kekuatan kalian melemah. Dan bersabarlah sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. al-Anfaal: 46)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADAB KELIMA : Beramal Dengan Ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu hendaknya penuntut ilmu mengamalkan ilmu yang dimilikinya, baik itu akidah, ibadah, akhlaq, adab, maupun muamalah. Sebab amal inilah buah ilmu dan hasil yang dipetik dari ilmu, seorang yang mengemban ilmu adalah ibarat orang yang membawa senjatanya, bisa jadi senjatanya itu dipakai untuk membela dirinya atau justru untuk membinasakannya. Oleh karenanya terdapat sebuah hadits yang sah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “al-Qur’an adalah hujjah untukmu atau untuk menjatuhkanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADAB KEENAM : Berdakwah di Jalan Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu dengan menjadi seorang yang menyeru kepada agama Allah ‘azza wa jalla, dia berdakwah pada setiap kesempatan, di masjid, di pertemuan-pertemuan, di pasar-pasar, serta dalam segala kesempatan. Perhatikanlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau setelah diangkat menjadi Nabi dan Rasul tidaklah hanya duduk-duduk saja di rumahnya, akan tetapi beliau mendakwahi manusia dan bergerak ke sana kemari. Saya tidak menghendaki adanya seorang penuntut ilmu yang hanya menjadi penyalin tulisan yang ada di buku-buku, namun yang saya inginkan adalah mereka menjadi orang-orang yang berilmu dan sekaligus mengamalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADAB KETUJUH : Bersikap Bijaksana (Hikmah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu dengan menghiasi dirinya dengan kebijaksanaan, di mana Allah berfirman yang artinya, “Hikmah itu diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan barang siapa yang diberi hikmah sungguh telah diberi kebaikan yang sangat banyak.” (QS. al-Baqarah: 269). Yang dimaksud hikmah ialah seorang penuntut ilmu menjadi pembimbing orang lain dengan akhlaknya dan dengan dakwahnya mengajak orang mengikuti ajaran agama Allah ‘azza wa jalla, hendaknya dia berbicara dengan setiap orang sesuai dengan keadaannya. Apabila kita tempuh cara ini niscaya akan tercapai kebaikan yang banyak, sebagaimana yang difirmankan Tuhan kita ‘azza wa jalla yang artinya, “Dan barang siapa yang diberikan hikmah sungguh telah diberi kebaikan yang amat banyak.” Seorang yang bijak (Hakiim) adalah yang dapat menempatkan segala sesuatu sesuai kedudukannya masing-masing. Maka sudah selayaknya, bahkan menjadi kewajiban bagi para penuntut ilmu untuk bersikap hikmah di dalam dakwahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala menyebutkan tingkatan-tingkatan dakwah di dalam firman-Nya yang artinya, “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. an-Nahl: 125). Dan Allah ta’ala telah menyebutkan tingkatan dakwah yang keempat dalam mendebat Ahli kitab dalam firman-Nya, “Dan janganlah kamu mendebat ahlu kitab kecuali dengan cara yang lebih baik kecuali kepada orang-orang zhalim diantara mereka.” (QS. al-’Ankabuut: 46). Maka hendaknya penuntut ilmu memilih cara dakwah yang lebih mudah diterima oleh pemahaman orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADAB KEDELAPAN : Penuntut Ilmu Harus Bersabar Dalam Menuntut Ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu hendaknya dia sabar dalam belajar, tidak terputus di tengah jalan dan merasa bosan, tetapi hendaknya di terus konsisten belajar sesuai kemampuannya dan bersabar dalam meraih ilmu, tidak cepat jemu karena apabila seseorang telah merasa jemu maka dia akan putus asa dan meninggalkan belajar. Akan tetapi apabila dia sanggup menahan diri untuk tetap belajar ilmu niscaya dia akan meraih pahala orang-orang yang sabar; ini dari satu sisi, dan dari sisi lain dia juga akan mendapatkan hasil yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADAB KESEMBILAN : Menghormati Ulama dan Memosisikan Mereka Sesuai Kedudukannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah menjadi kewajiban bagi para penuntut ilmu untuk menghormati para ulama dan memosisikan mereka sesuai kedudukannya, dan melapangkan dada-dada mereka dalam menghadapi perselisihan yang ada di antara para ulama dan selain mereka, dan hendaknya hal itu dihadapinya dengan penuh toleransi di dalam keyakinan mereka bagi orang yang telah berusaha menempuh jalan (kebenaran) tapi keliru, ini catatan yang penting sekali, sebab ada sebagian orang yang sengaja mencari-cari kesalahan orang lain dalam rangka melontarkan tuduhan yang tak pantas kepada mereka, dan demi menebarkan keraguan di hati orang-orang dengan cela yang telah mereka dengar, ini termasuk kesalahan yang terbesar. Apabila menggunjing orang awam saja termasuk dosa besar maka menggunjing orang berilmu lebih besar dan lebih berat dosanya, karena dengan menggunjing orang yang berilmu akan menimbulkan bahaya yang tidak hanya mengenai diri orang alim itu sendiri, akan tetapi mengenai dirinya dan juga ilmu syar’i yang dibawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan apabila orang-orang telah menjauh dari orang alim itu atau harga diri mereka telah jatuh di mata mereka maka ucapannya pun ikut gugur. Apabila dia menyampaikan kebenaran dan menunjukkan kepadanya maka akibat gunjingan orang ini terhadap orang alim itu akan menjadi penghalang orang-orang untuk bisa menerima ilmu syar’i yang disampaikannya, dan hal ini bahayanya sangat besar dan mengerikan. Saya katakan, hendaknya para pemuda memahami perselisihan-perselisihan yang ada di antara para ulama itu dengan anggapan mereka berniat baik dan disebabkan ijtihad mereka dan memberikan toleransi bagi mereka atas kekeliruan yang mereka lakukan, dan hal itu tidaklah menghalanginya untuk berdiskusi dengan mereka dalam masalah yang mereka yakini bahwa para ulama itu telah keliru, supaya mereka menjelaskan apakah kekeliruan itu bersumber dari mereka ataukah dari orang yang menganggap mereka salah ?! Karena terkadang tergambar dalam pikiran seseorang bahwa perkataan orang alim itu telah keliru, kemudian setelah diskusi ternyata tampak jelas baginya bahwa dia benar. Dan demikianlah sifat manusia, “Semua anak Adam pasti pernah salah dan sebaik-baik orang yang salah adalah yang senantiasa bertaubat”. Adapun merasa senang dengan ketergelinciran seorang ulama dan justru menyebar-nyebarkannya di tengah-tengah manusia sehingga menimbulkan perpecah belahan maka hal ini bukanlah termasuk jalan Salaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADAB KESEPULUH : Berpegang Teguh Dengan Al Kitab dan As Sunnah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajib bagi penuntut ilmu untuk memiliki semangat penuh guna meraih ilmu dan mempelajarinya dari pokok-pokoknya, yaitu perkara-perkara yang tidak akan tercapai kebahagiaan kecuali dengannya, perkara-perkara itu adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Al-Qur’an Al-Karim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu wajib bagi penuntut ilmu untuk bersemangat dalam membacanya, menghafalkannya, memahaminya serta mengamalkannya karena al-Qur’an itulah tali Allah yang kuat, dan ia adalah landasan seluruh ilmu. Para salaf dahulu sangat bersemangat dalam mempelajarinya, dan diceritakan bahwasanya terjadi berbagai kejadian yang menakjubkan pada mereka yang menunjukkan begitu besar semangat mereka dalam menelaah al-Qur’an. Dan sebuah kenyataan yang patut disayangkan adalah adanya sebagian penuntut ilmu yang tidak mau menghafalkan al-Qur’an, bahkan sebagian di antara mereka tidak bisa membaca al-Qur’an dengan baik, ini merupakan kekeliruan yang besar dalam hal metode menuntut ilmu. Karena itulah saya senantiasa mengulang-ulangi bahwa seharusnya penuntut ilmu bersemangat dalam menghafalkan al-Qur’an, mengamalkannya serta mendakwahkannya, dan untuk bisa memahaminya dengan pemahaman yang selaras dengan pemahaman salafush shalih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. As Sunnah yang shahihah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia merupakan sumber kedua dari sumber syariat Islam, dialah penjelas al-Qur’an al Karim, maka menjadi kewajiban penuntut ilmu untuk menggabungkan antara keduanya dan bersemangat dalam mendalami keduanya. Penuntut ilmu sudah semestinya menghafalkan as-Sunnah, baik dengan cara menghafal nash-nash hadits atau dengan mempelajari sanad-sanad dan matan-matannya, membedakan yang shahih dengan yang lemah, menjaga as-Sunnah juga dengan membelanya serta membantah syubhat-syubhat yang dilontarkan Ahlu bid’ah guna menentang as-Sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADAB KESEBELAS : Meneliti Kebenaran Berita yang Tersebar dan Bersikap Sabar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu adab terpenting yang harus dimiliki oleh penuntut ilmu adalah tatsabbut (meneliti kebenaran berita), dia harus meneliti kebenaran berita-berita yang disampaikan kepadanya serta mengecek efek hukum yang muncul karena berita tersebut. Di sana ada perbedaan antara tsabaat dan tatsabbut, keduanya adalah dua hal yang berlainan walaupun memiliki lafazh yang mirip tapi maknanya berbeda. Ats tsabaat artinya bersabar, tabah dan tidak merasa bosan dan putus asa. Sehingga tidak semestinya dia mengambil sebagian pembahasan dari sebuah kitab atau suatu bagian dari cabang ilmu lantas ditinggalkannya begitu saja. Sebab tindakan semacam ini akan membahayakan bagi penuntut ilmu serta membuang-buang waktunya tanpa faedah. Dan cara seperti ini tidak akan membuahkan ilmu. Seandainya dia mendapatkan ilmu, maka yang diperolehnya adalah kumpulan permasalahan saja dan bukan pokok dan landasan pemahaman. Contoh orang yang hanya sibuk mengumpulkan permasalahan itu seperti perilaku orang yang sibuk mencari berita dari berbagai surat kabar dari satu koran ke koran yang lain. Karena pada hakikatnya perkara terpenting yang harus dilakukan adalah ta’shil (pemantapan pondasi, ilmu ushul) dan pengokohannya serta kesabaran untuk mempelajarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perantara nama-nama-Mu yang terindah dan sifat-sifat-Mu yang tertinggi ya Allah, ampunilah dosa-dosa hamba. Begitu banyak nikmat telah hamba sia-siakan. Umur, kesempatan, waktu luang, kesehatan dan keamanan. Semuanya telah Engkau curahkan, namun aku selalu lalai dan tidak pandai mensyukuri pemberian-Mu. Ya Allah bimbinglah hamba-Mu ini, untuk meraih kebahagiaan pada hari di mana tidak ada lagi hari sesudahnya, ketika kematian telah disembelih di antara surga dan neraka. Ketika para penduduk surga semakin bergembira dan para penghuni neraka bertambah sedih dan merana. Ya Allah, limpahkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, dan lindungilah kami dari ilmu yang tidak bermanfaat. Ya Allah, kami mohon kepada-Mu hidayah, ketakwaan, terjaganya kehormatan dan kecukupan. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyinaa Muhammad, walhamdulillaahi Rabbil ‘alamiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adab-adab ini disadur dari Thiibul Kalim al-Muntaqa Min Kitaab al-’Ilm Li Ibni Utsaimin karya Abu Juwairiyah oleh Abu Mushlih Ari Wahyudi&lt;br /&gt;disadur dari http://muslim.or.id/ tanpa perubahan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8859049449550037071-527017253379663363?l=alfirqotunnajiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/527017253379663363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/527017253379663363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/2008/10/adab-penuntut-ilmu.html' title='Adab Penuntut Ilmu'/><author><name>YAHYA AL BUNY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00500596638645663569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SMnoh7LksdI/AAAAAAAAAAM/HWHohIDKDrg/S220/ais+ami+jenggot.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SOgy7wVbZBI/AAAAAAAAAGE/I7aJGIOvv7U/s72-c/quran5xj1eu4.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071.post-2933849542765727128</id><published>2008-09-28T16:42:00.000-07:00</published><updated>2008-09-28T17:09:30.384-07:00</updated><title type='text'>Al Qiyamah</title><content type='html'>&lt;object width="320" height="266" class="BLOG_video_class" id="BLOG_video-ea29eabfe1e24d88" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/get_player"&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF"&gt;&lt;param name="allowfullscreen" value="true"&gt;&lt;param name="flashvars" value="flvurl=http://v14.nonxt4.googlevideo.com/videoplayback?id%3Dea29eabfe1e24d88%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1331490096%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D27377BC3333DF37625A31D9035A0BC16493340C1.7C203AE3B8FF6B0C2D70281BBD4E651BF3E6FAA5%26key%3Dck1&amp;amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3Dea29eabfe1e24d88%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3DYMmQR94jg-6z0k2gY355AbMDdo0&amp;amp;autoplay=0&amp;amp;ps=blogger"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/get_player" type="application/x-shockwave-flash"width="320" height="266" bgcolor="#FFFFFF"flashvars="flvurl=http://v14.nonxt4.googlevideo.com/videoplayback?id%3Dea29eabfe1e24d88%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1331490096%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D27377BC3333DF37625A31D9035A0BC16493340C1.7C203AE3B8FF6B0C2D70281BBD4E651BF3E6FAA5%26key%3Dck1&amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3Dea29eabfe1e24d88%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3DYMmQR94jg-6z0k2gY355AbMDdo0&amp;autoplay=0&amp;ps=blogger"allowFullScreen="true" /&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;Terjemah surat al Qiyamah &lt;br /&gt;1  Aku bersumpah demi hari kiamat,&lt;br /&gt;2.  Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)[1530].&lt;br /&gt;3.  Apakah manusia mengira, bahwa kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?&lt;br /&gt;4.  Bukan demikian, Sebenarnya kami Kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.&lt;br /&gt;5.  Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus.&lt;br /&gt;6.  Ia berkata: "Bilakah hari kiamat itu?"&lt;br /&gt;7.  Maka apabila mata terbelalak (ketakutan),&lt;br /&gt;8.  Dan apabila bulan Telah hilang cahayanya,&lt;br /&gt;9.  Dan matahari dan bulan dikumpulkan,&lt;br /&gt;10.  Pada hari itu manusia berkata: "Ke mana tempat berlari?"&lt;br /&gt;11.  Sekali-kali tidak! tidak ada tempat berlindung!&lt;br /&gt;12.  Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali.&lt;br /&gt;13.  Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang Telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.&lt;br /&gt;14.  Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri[1531],&lt;br /&gt;15.  Meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.&lt;br /&gt;16.  Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran Karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya[1532].&lt;br /&gt;17.  Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.&lt;br /&gt;18.  Apabila kami Telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu.&lt;br /&gt;19.  Kemudian, Sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya.&lt;br /&gt;20.  Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia,&lt;br /&gt;21.  Dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.&lt;br /&gt;22.  Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri.&lt;br /&gt;23.  Kepada Tuhannyalah mereka Melihat.&lt;br /&gt;24.  Dan Wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram,&lt;br /&gt;25.  Mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat.&lt;br /&gt;26.  Sekali-kali jangan. apabila nafas (seseorang) Telah (mendesak) sampai ke kerongkongan,&lt;br /&gt;27.  Dan dikatakan (kepadanya): "Siapakah yang dapat menyembuhkan?",&lt;br /&gt;28.  Dan dia yakin bahwa Sesungguhnya Itulah waktu perpisahan (dengan dunia),&lt;br /&gt;29.  Dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan)[1533],&lt;br /&gt;30.  Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau.&lt;br /&gt;31.  Dan ia tidak mau membenarkan (rasul dan Al Quran) dan tidak mau mengerjakan shalat,&lt;br /&gt;32.  Tetapi ia mendustakan (rasul) Dam berpaling (dari kebenaran),&lt;br /&gt;33.  Kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong).&lt;br /&gt;34.  Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu,&lt;br /&gt;35.  Kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu[1534].&lt;br /&gt;36.  Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?&lt;br /&gt;37.  Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim),&lt;br /&gt;38.  Kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya,&lt;br /&gt;39.  Lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan.&lt;br /&gt;40.  Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1530]  Maksudnya: bila ia berbuat kebaikan ia juga menyesal Kenapa ia tidak berbuat lebih banyak, apalagi kalau ia berbuat kejahatan.&lt;br /&gt;[1531]  maksudnya ayat Ini ialah, bahwa anggota-anggota badan manusia menjadi saksi terhadap pekerjaan yang Telah mereka lakukan seperti tersebut dalam surat Nur ayat 24.&lt;br /&gt;[1532]  Maksudnya: nabi Muhammad s.a.w. dilarang oleh Allah menirukan bacaan Jibril a.s. kalimat demi kalimat, sebelum Jibril a.s. selesai membacakannya, agar dapat nabi Muhammad s.a.w. menghafal dan memahami betul-betul ayat yang diturunkan itu.&lt;br /&gt;[1533]  Karena hebatnya penderitaan di saat akan mati dan ketakutan akan meninggalkan dunia dan menghadapi akhirat.&lt;br /&gt;[1534]  kutukan terhadap orang kafir Ini diulang-ulang sampai empat kali: pertama di saat ia akan mati, kedua ketika ia dalam kubur, ketiga pada waktu hari berbangkit dan keempat dalam neraka jahannam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8859049449550037071-2933849542765727128?l=alfirqotunnajiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='video/mp4' href='http://www.blogger.com/video-play.mp4?contentId=ea29eabfe1e24d88&amp;type=video%2Fmp4' length='0'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/2933849542765727128'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8859049449550037071/posts/default/2933849542765727128'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfirqotunnajiyah.blogspot.com/2008/09/al-qiyamah.html' title='Al Qiyamah'/><author><name>YAHYA AL BUNY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00500596638645663569</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SMnoh7LksdI/AAAAAAAAAAM/HWHohIDKDrg/S220/ais+ami+jenggot.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8859049449550037071.post-192553423418674888</id><published>2008-09-23T06:49:00.000-07:00</published><updated>2008-09-23T06:56:22.411-07:00</updated><title type='text'>PENYAKIT YANG MENIMPA PEREMPUAN TIDAK BERJILBAB</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SNj048rQJrI/AAAAAAAAAF0/qVY-Iv-Wu74/s1600-h/Aisyah.jpg"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_Kyqh_M66EwE/SNj048rQJrI/AAAAAAAAAF0/qVY-Iv-Wu74/s400/Aisyah.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_52
